
Di dalam keramaian pesta. Semua orang sibuk dengan urusannya, tidak membedakan yang mana teman dan lawan. Membuat sebuah pertemanan atau perlawanan. Semuanya berbaur disana, tanpa memandang bulu. Sehingga mereka tidak memperhatikan apa yang terjadi disana, tempatnya tidak jauh dari pintu masuk.
"Kenapa kalian begitu terkejut, jangan bilang jika kalian tidak tahu," kata Geralderd dengan seringai di wajahnya.
"Dan kau Edgar, sebagai ketua Eagle. Kau bahkan tidak tahu. Hahaha. Kasihan sekali," lanjut Geralderd, dengan tatapan yang masih mengejek. Dia melirik ke arah Joshua yang berada tidak jauh dari mereka.
"Kenapa? Bukankah kamu sudah keluar dari dunia mafia, Joshua. Apa kamu ingin berjuang dengan sepupu mu ini? Lagi?" Kata Geralderd sambil berjalan mendekat pada Joshua, "Kalian memang cukup kuat jika seperti dulu, tapi apa itu mungkin setelah apa yang terjadi? Aku yakin tidak."
Geralderd sempat melirik ke arah Jane, terbentuk senyum aneh di wajahnya. Dengan langkah lebar dia kembali ke hadapan Rossi, mengulurkan tangannya.
"Ingin minum denganku?"
"Kau?! Menjauh darinya!
Edgar melayangkan pukulannya pada Geralderd, namun pukulan itu mendarat di udara. Geralderd dengan cepat menghindarinya. Dia sudah tau jika pria itu tidak akan bisa menahan emosinya.
"Hei. Hei. Tenanglah. Ini tempat ku, jangan buat keributan. Aku sudah mempersiapkan pesta ini sebaik mungkin. Baiklah aku akan membiarkan kalian bersenang-senang sebelum aku memulai pertunjukkan ku," ucap Geralderd sambil berjalan pergi meninggalkan mereka. Hilang dari dalam kerumunan.
Di luar gedung pesta. Sebuah mobil hitam, baru saja terparkir di antara deretan mobil lainnya. Seorang pria dan wanita keluar dari mobil itu. Jeck dan Gaby.
"Kenapa aku harus pergi denganmu. Sungguh menjengkelkan," kata Gaby sambil memperbaiki dandanannya.
"Kamu pikir aku ingin pergi denganmu. Jika bukan karena Edgar aku tidak akan mau pergi dengan nenek sihir seperti mu." Jeck membalas ucapan wanita itu dengan nada kesal.
"Kau! Kamu bilang aku apa? Nenek sihir?" Kata Gaby dengan melototkan mata pada Jeck. "Kau?!"
Jeck langsung menghindar dari ayunan tas yang akan mengenai wajah tampannya.
"Hei. Jaga sikapmu, kamu pikir ini di rumahmu. Ada banyak orang disini. Jangan membuatku malu."
"Apa? Aku membuatmu malu. Beraninya kau bicara seperti itu. Aku akan memukulmu!"
"Berhenti bertingkah denganku." Jeck menjadi sok keren, dan ya itu berhasil. Bisa membungkam mulut Gaby yang cerewet itu, "Lagi pula, kemana nenek yang satu lagi? Apa dia tidak datang?" Jeck mengubah pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Siapa maksudmu? Clara?" Gaby berdiri dengan tenang di samping Jeck. Tidak ingin ada keributan lagi, "Setahuku dia berangkat dari New York ke sini beberapa hari yang lalu, aku yakin dia akan datang. Aku belum sempat bertemu dengannya. Kenapa? Apa Edgar menyuruhmu untuk menanyai ku?"
"Hahaha. Tidak mungkin, untuk apa aku menanyaimu. Aku hanya ingin mengubah topik pembicaraan denganmu. Mendengar ocehanmu sangat menjengkelkan." Jeck berjalan pergi darinya, menuju ke pintu masuk pesta.
"Hei." Gaby menyusulnya dengan kesal. "Dasar para pria tidak bisa menghargai wanita, dia bahkan pergi duluan meninggalkan ku," gumamnya.
Di dalam gedung, tepatnya di acara pesta. Mata Jeck langsung tertuju pada Edgar dan Rossi. Dia melihat keduanya berada dalam atmosfer yang aneh.
"Hei." Sapa Jeck sambil menepuk bahu Edgar. Namun tidak ada jawaban dari Edgar, dia hanya diam, "Hei. Ada apa dengan kalian, kenapa aku merasa panas di sini."
Rossi tahu apa yang terjadi, dia memang harus menjelaskan. Tapi bukankah itu tidak adil, Edgar juga tidak mengatakan apapun padanya. Egois.
"Edgar…" Rossi memanggil pria itu lirih.
"Apa kamu masih tidak ingin mengatakan apapun padaku? Ikut aku." Edgar menarik Rossi keluar dari keramaian. Dia meninggalkan Jeck yang menjadi patung disana, diabaikan. Tiba-tiba Gaby muncul mendekat ke Jeck dengan segelas anggur di tangannya.
"Kasian sekali. Kamu bahkan diabaikan," ucapnya sebelum meneguk habis anggur di dalam gelasnya.
Edgar tahu setiap sudut bangunan itu, jadi dia tidak akan tersesat. Mereka sampai di balkon. Pemandangan malam kota memang sangat indah. Terlihat dari balkon itu.
"Kenapa?" Ucap Edgar sambil melepaskan genggaman tangan Rossi. "Apa kamu masih meragukan ku?"
"Tidak. Aku tidak meragukanmu. Aku hanya tidak ingin membahas hal itu, tapi kamu bahkan juga tidak mengatakan apapun mengenai itu. Geng Eagle?" Kata Rossi membela diri.
"Rossi." Edgar menatap Rossi dan memeluknya. "Kamu tahu dunia apa yang sedang kamu datangi sekarang?"
"Ya. Aku tahu, tapi aku ingin. Jadi apa kamu tidak ingin mendukungku? Aku sudah berusaha keras untuk ini."
"Aku tidak akan melarang keputusanmu. Dan Mr Hans pasti sudah memutuskan semuanya. Mulai sekarang aku akan selalu ada bersamamu. Jadi jangan sembunyikan apapun dariku dan tetaplah di sampingku." Edgar perlahan melepas pelukannya dan mengecup kening Rossi.
"Terima Kasih," kata Rossi dengan senyum manis di wajahnya.
Tiba tiba ada suara yang masuk di antara mereka. Seorang wanita. Dia muncul dari balik dinding dengan gaun hitam berkilauan beberapa mutiara di permukaannya. Wanita itu berjalan mendekat pada Rossi dan Edgar.
__ADS_1
"Sungguh cinta yang manis. Hai Julian, lama kita tidak bertemu."
'Dia menyapa Edgar dengan panggilan itu. Siapa wanita ini?' pikir Rossi.
"Apa kamu kekasih barunya? Aku Clara, Clara Adeliano," ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Rossi.
"Rossi. Rossi Alexandra." Mereka berjabat tangan, tapi terlihat jelas dari mata mereka. Ada keberatan hati untuk bersentuhan. Mereka hanya berjabatan tangan sebentar. Terasa ada duri antara tangan mereka.
"Julian. Ku pikir setelah kamu menolakku, kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Tapi dia, adik yang mengambil kekasih kakaknya. Oh sungguh Olivia yang malang." Clara menyeringai.
"Clara. Jangan menggangguku, pergilah dari sini. Selagi aku masih baik padamu." Edgar menarik Rossi menempel padanya.
"Hahaha. Tidak usah seperti itu, aku datang kesini hanya ingin berkenalan dengan kekasih barumu. Dan juga seorang ketua dari salah satu geng disini. Wajar bukan aku menyapanya." Clara menyunggingkan senyumnya, dia menatap aneh pada Rossi.
"Terimakasih, sudah menyapaku." Rossi tersenyum manis. Sangat palsu, "Tapi bisakah kamu mengenalkan statusmu. Kalian berdua tampak akrab."
"Aku? Oh aku bukan siapa-siapa. Kamu bisa menanyakannya pada pria yang berdiri di sampingmu. Ku pikir dia lebih baik dalam memperkenalkan seseorang." Clara menatap Edgar dengan nakal sebelum berlalu pergi.
"Lanjutkan. Aku tidak akan mengganggu kalian, hanya ingin menyapa." Dia melangkah pergi, tapi tiba-tiba langkah kakinya terhenti di ujung balkon.
"Oh ya. Senang bertemu lagi denganmu Julian." Dia melirik tajam pada Rossi. 'Wanita itu. Dia berani mengambilmu dariku. Aku Clara Adeliano, nona muda dari keluarga Adeliano, orang berpengaruh disini. Tidak akan membiarkan siapapun lagi berada di dekatmu selain aku' gumam Clara.
Tidak lama bayangan tubuh Clara menghilang dari hadapan mereka. Rossi menjauh dari Edgar, memberi jarak di antara mereka.
"Ada apa sayang. Kamu cemburu padanya?" Edgar merangkul Rossi lembut. Dan mendaratkan bibirnya di bibir Rossi. Tidak lama.
"Aku pastikan. Dia bukan siapa-siapa bagiku."
"Hmmm.." Rossi hanya bergumam singkat untuk membalasnya. Namun sebenarnya yang ada di benak Rossi bukan itu, bukan siapa itu Clara ataupun hubungannya dengan Edgar. Tapi perkataan wanita itu. Membuat Rossi berpikir
'aku sudah mengambil segalanya darinya. Kehidupan. Kebebasan. Bahkan cintanya. Apa aku layak di panggil adik olehnya? Atau dia akan memaafkanku. Aku ingin sekali mendengar jawaban darinya.'
--***
__ADS_1