
Di kediaman Hans.
Matahari sudah hampir tenggelam, Rossi dan Sarah akhirnya pulang. Tidak seperti biasanya, tidak ada yang menyambut mereka. Kemana semua orang? Cuti. Pemilik rumah besar itu memberikan cuti pada para pelayannya.
Tiba tiba dari lantai atas terlihat seorang pria yang melangkah menuruni tangga bersama dengan seorang wanita. Mereka terlihat begitu manis. Bergandengan. Dan tersenyum bahagia. Hans dan Rahel.
"Sayang. Kamu sudah pulang?" Rahel melepaskan tangannya dari Hans dan melangkah perlahan menghampiri Rossi dan Sarah.
"Ya ibu. Maaf aku tidak menelponmu kemarin, dan mengenai Joshua aku--."
"Tidak apa. Joshua memberi kabar bahwa dia tidak bisa pergi denganmu kemarin karena urusan mendadak," ucap Rahel menjelaskan.
Rossi menatap Sarah, dia merasa lega. Rossi takut jika Joshua mengatakan sesuatu pada ayah dan ibunya. Rahel menarik Rossi berjalan ke arah ayahnya yang masih berdiri di tangga terakhir.
"Rossi. Kamu sudah cukup bersenang senang bukan, sekarang ikut lah denganku." Hans menaikkan alisnya pertanda ada sesuatu yang harus mereka bahas.
"Hans. Dia baru saja kembali, dia butuh istirahat." Rahel menahan putrinya. Memegang erat tangan Rossi agar tidak ikut bersama ayahnya.
"Ibu, aku tidak apa-apa. Aku dan ayah hanya ingin mengobrol saja." Rossi membela diri dan melepaskan tangannya dari genggaman Rahel perlahan. Melihat dari tatapan ayahnya, pasti terjadi sesuatu atau akan ada sesuatu.
"Hmm.. baiklah. Aku akan membuatkan sesuatu untuk kalian. Mengobrol lah." Rahel akhirnya membiarkan Rossi ikut bersama ayahnya dan beranjak menarik Sarah ke dapur. "Sarah bantu aku ya."
Sarah mengangguk. Sedangkan Hans dan Rossi menaiki tangga ke lantai atas, tepat di ruangan ayahnya.
Masih sama. Banyak komputer yang menyala, dengan tulisan program yang tidak dimengerti oleh Rossi. Rossi hanya merapatkan bibirnya dan duduk di sofa empuk yang berada di sana. Sementara Hans mengambil sesuatu dari laci mejanya. Sebuah undangan pesta.
"Pesta minum teh? Ayah?" Rossi menyerngitkan keningnya bingung setelah membaca undangan itu. Undangannya memang mewah, cukup berkilau untuk sebuah kertas. Apa mungkin terdapat sedikit taburan emas atau semacamnya.
"Bukan. Ini bukan pesta yang seperti itu. Kamu ingat geng tiger yang ku katakan tempo hari, itu dia, Geralderd. Dia pemimpinnya, yang mengadakan pesta. Pesta minum teh, itu hanya basa basi dan memperhalus sebutannya. Disana bukan untuk pesta minum, dansa, musik atau hal lain. Banyak kelicikan disana, tempat menjatuhkan satu sama lain dan tempat mencari relasi."
"Hmm. Cukup rumit. Lalu ayah. Apa kita akan menghadirinya?" Rossi kembali membaca undangan itu dengan seksama. Mencari apakah ada sesuatu.
"Ya tentu saja. Tapi bukan aku, hanya kamu. Lagi pula kamu ada debut pertama mu di Paris bukan? Waktu nya tidak berjarak terlalu jauh. Jadi tinggallah di sana beberapa hari," Hans bersandar di kursinya. "Biarkan Sarah pergi bersamamu tapi untuk ke pesta itu pergilah bersama Joshua."
__ADS_1
Pintu terbuka. Seorang wanita masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring cemilan, kue kering berbentuk hati.
"Kenapa kalian diam. Apa aku mengganggu atau kalian membicarakan ku." Langkahnya terhenti, ketika dia merasakan keheningan disana.
"Oh tidak ibu. Tadi ayah hanya baru selesai berkata. Lalu ibu masuk, jadi aku belum sempat menjawab." Rossi tersenyum, mengatakan kebenarannya.
"Hmm begitu. Baguslah, makan lah. Aku masih ingin membuat sesuatu." Rahel mengedipkan mata nakalnya pada Hans. Sepertinya sesuatu yang istimewa untuk suaminya.
Hans memasang raut wajah tak mengerti, namun tak lama setelah itu dia tersenyum. Dengan keyakinan dan nalurinya sebagai suami, pasti istrinya itu menyiapkan makanan kesukaannya. Eskrim. Ya dia suka es krim rasa mint.
"Ayah?" Rossi menyapa ayahnya yang tiba tiba saja tersenyum. Menyadarkan ayahnya.
"Oh ya. Sampai dimana kita." Hans mengambil teh hangat itu dari wadahnya.
"Aih ayah. Kamu bilang aku akan pergi dengan Joshua. Kenapa harus dengannya, aku bisa kesana dengan Sarah bukan?" Rossi ragu jika dia pergi dengan Joshua, dia bahkan baru mengenalnya. Dan Edgar, jika dia tahu nanti. Mereka pasti akan bertengkar lagi. 'Tapi apakah ada Edgar disana?' pikir Rossi.
"Tidak Rossi. Pesta minum teh, setiap orang yang diundang harus membawa pasangannya. Itu peraturan nya."
"Hmm baiklah." Rossi memakan kue itu, sangat enak. Masakan ibu selalu menjadi yang terlezat.
"Ada apa?" Hans melihat putrinya tengah memikirkan sesuatu. Terlihat jelas dari raut wajah Rossi.
"Tidak ada." Rossi dengan cepat memasang wajah santai yang kemudian diiringi senyum manis di wajahnya.
Di tempat lain, tidak jauh dari sana.
Kediaman Stevenson.
Di ruang kerja Jerome, Edgar dan ayahnya terlihat sedang meributkan sesuatu.
"Ayah. Kenapa kamu meminta Gaby untuk menemaniku. Aku bisa pergi dengan wanitaku. Kenapa harus dia?"
"Oh wanita mu? Apa kamu sudah menemukannya?"
__ADS_1
"Ya sudah. Dia putrinya Mr Hans." Edgar memelankan suaranya. Bukan kecewa, hanya saja dia merasa sedikit sedih.
"Apa? Bagaimana mungkin, dia hanya memiliki satu orang putri." Jerome menyerngitkan keningnya bingung.
"Ah ceritanya panjang. Aku juga tidak tahu detailnya, tapi intinya sekarang aku akan pergi dengan wanita ku, bukan yang lain. Apalagi wanita itu." Edgar bangkit dari kursinya dan hendak pergi dari ruangan itu. Tapi langkahnya terhenti.
"Kau pikir bisa membawa putrinya? Apa dia akan membiarkan putrinya pergi dengan seorang pembunuh?"
"Ayah!? Aku sudah menjelaskan apa yang terjadi. Aku tidak mungkin membunuh Olivia." Edgar berteriak pada Jerome. Suaranya menggema di dalam ruangan itu.
"Ya aku percaya padamu. Tapi Hans, apa dia mempercayai itu. Dia hanya akan percaya dengan apa yang dilihatnya. Julian apa kamu masih belum bisa mendapatkan bukti?"
"Berhenti memanggilku dengan nama itu. Aku akan mendapatkan bukti segera." Edgar mengepalkan tangannya.
"Terserah kamu saja. Tapi kamu harus tetap pergi bersama Gaby ke pesta itu. Karena tidak mungkin pergi dengan wanita mu bukan? Ingat! Ini bukan hanya pesta."
"Ya. Aku mengerti."
Edgar meninggalkan ruangan itu dengan hawa panas dari tubuhnya. 'Aku akan membuktikannya dan membawa wanitaku kembali dalam pelukanku secepatnya.'
Jerome mendongak kan kepalanya ke atas dan bersandar di kursi empuknya.
"Ku harap memang begitu. Dapatkan bukti itu segera dan kesalahpahaman ini bisa berakhir," ucap Jerome ke langit-langit ruangan itu.
Takdir. Dia tidak pernah memihak kepada siapapun. Terkadang menghancurkan harapan seseorang.
"Jo.. Apa ini, kamu akan bertunangan. Kamu bahkan baru tahu berita mengenai Olivia. Dan sekarang kamu ingin bertunangan." Jane masuk ke ruangan Joshua tanpa izin. Itu sudah biasa.
"Jane. Apa maksudmu? Apa aku harus meminta pendapatmu dengan apa pun yang akan ku lakukan?"
"Apa.. Joshua, kenapa kamu masih tidak mengerti. Aku- aku menyukaimu sejak lama. Dan aku hanya bisa menyimpannya karena kamu menyukai Olivia. Apa kamu--."
"Jane, mengertilah. Kamu juga sudah tahu sejak awal. Aku hanya menganggap kita dekat sebagai teman. Karena kamu sahabat Olivia. Jadi berhenti lah mengharapkan balasan dariku. Sampai kapan pun aku hanya akan menyukai dan mencintai Olivia. Dan pertunangan ini, hanya bagian kecil dari rencana ku. Jangan lagi menyakiti perasaanmu seperti ini," ucap Joshua sambil berjalan melewati Jane.
__ADS_1
Joshua meninggalkan Jane di ruangan itu. Angin bertiup dari jendela yang terbuka, mengibas tirainya kesana kemari. Jane terduduk lemas di tengah tengah ruangan itu.
--***