
Waktu berlalu begitu cepat, rasanya pertemuan itu baru berjalan beberapa menit. Tapi sudah hampir dua jam berlalu. Untuk mendapatkan rencana yang sempurna,memang butuh waktu yang ekstra. Apa lagi Edgar sesekali membuyarkan fokus Rossi dalam menyampaikan rencananya. Setelah cukup lama berdebat untuk menghasilkan rencana yang matang, akhirnya pertemuan berakhir.
"Kita akan melancarkan rencananya besok, jadi semuanya harus mengatur anggotanya di setiap posisi," kata Rossi sebelum pertemuan berakhir.
"Baik," semuanya menjawab kecuali Edgar. Dia hanya tersenyum manis menatap ke arah Rossi. Sejak awal matanya memang tidak pernah beralih dari Rossi.
Semua orang sudah bubar, Rossi juga ikut berdiri dan ingin beranjak pergi. Namun dengan cepat Edgar menahan tangan Rossi dan menggenggamnya erat. Langkah Rossi tertahan, menjadikan hanya tersisa mereka saja disana.
"Tunggulah disini beberapa menit, sekitar dua menit. Aku akan menunggu di depan," ucap Edgar mengecup kening Rossi dan berlalu pergi, "ingat, dua menit."
"Dua menit? Apa yang akan dia lakukan?" Pikir Rossi heran.
Dua menit lewat dua puluh empat detik, Rossi keluar dari ruangan itu dan melangkah pergi ke pintu keluar. Langkah terhenti di ambang pintu, Edgar berdiri di samping mobilnya dan terdapat buket bunga mawar besar di tangannya.
Keduanya sama-sama melangkah, Edgar berjalan mendekat dan Rossi juga perlahan melangkah ke ujung teras.
"Ini jawabanku," ucap Edgar sambil memberikan buket itu pada Rossi.
"Kamu--,"
Edgar langsung mencium Rossi, sedangkan bunga besar itu hanya terdiam di genggaman Edgar. Rossi belum mengambilnya. Tubuh mereka dihujani ratusan kelopak mawar dari atas, Jeck dan anggotanya berada di balkon atas dan menaburkan kelopak indah itu.
"Kamu tidak usah bertanya lagi, aku tidak akan membuatmu menunggu lama," Edgar tersenyum hangat pada Rossi.
Rossi juga tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, hatinya berdegup begitu kencang.
"Terimakasih, untuk tidak membuatku menunggu begitu lama dan juga memilihku. Tapi apakah ekspresi mu harus sedatar itu saat memberikan bunga, kamu terlihat seperti akan membunuhku jika aku mengambilnya," lanjut Rossi membuyarkan kecanggungan dirinya.
"Aku tidak akan berani untuk membunuh ketua geng lion," ejek Edgar padanya.
Kelopak bunga masih jatuh menghampiri mereka, Edgar menggendong Rossi dalam dekapannya. Begitu juga bunga besar itu, sedikit mengganggu jarak di antara mereka. Tatapan Rossi tertuju pada dua pria yang berada di balkon, Rossi mengenal salah satunya. Itu Jeck.
Di balik kepala Edgar, Rossi melihat Jeck melambaikan tangan padanya. Dia terlihat begitu bersemangat, Rossi tertawa kecil melihatnya.
"Kenapa kamu tertawa seperti itu," tanya Edgar heran.
"Tidak, tidak ada," jawab Rossi tersenyum manja pada Edgar.
"Kamu menggodaku?"
__ADS_1
"Siapa yang berani menggodamu? Mana ada wanita yang dengan bodohnya mendekati dan merayu tuan pemarah seperti mu."
"Ya, hanya wanita bodoh. Aku pernah bertemu dengannya di kota S, dia bahkan tidak takut sedikitpun saat merayuku. Naik dalam pangkuanku dan memberikan dirinya padaku."
"Kamu?!"
Edgar tertawa puas melihat wajah Rossi yang memerah. Edgar mendudukkan Rossi di bangku depan mobilnya, tepat di sebelahnya. Dengan cepat mobil Edgar melaju di jalanan. Dia terlihat tidak sabar, dan Rossi tetap saja memeluk buket besar itu dengan erat.
Jantung nya masih berdegup kencang. Dia bahagia, tidak memikirkan lagi kejadian yang lalu.
'aku hanya harus hidup dengan baik dan bahagia, kakak menginginkan itu bukan. Dan kebahagiaan ku ada padanya,' batin Rossi sambil melirik ke arah Edgar.
Di kediaman Alexandra.
Hans berdiri di depan jendela dan dengan raut wajah tidak senang, dia menghubungi seseorang.
Tut. Tut
Panggilan terhubung.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak pergi ke pertemuan itu, dan malah mementingkan urusan wanita lagi. Kau bertingkah lagi Zeck, jika seperti ini aku tidak akan membiarkan mu ikut terlibat," ucap Hans dengan nada yang cukup tinggi.
"Kau bocah, berani melawanku."
"Ah sudah lah, aku sibuk. Cepat sembuh paman, bye."
Panggilan berakhir.
Di seberang telepon, seorang pria menghentikan mobil sport hitam miliknya di depan mansion mewah, dia memberikan kunci mobil itu pada seorang pria yang menyambutnya. Dan berlalu masuk ke dalam bangunan besar itu.
"Annyeong," Zeck melambaikan tangannya pada seorang pria yang duduk di ruang tamu. Itu Joshua.
Melihat pemilik bangunan mewah itu datang, Joshua langsung berdiri dan berjalan mendekat padanya.
"Dimana dia?" Tanya Joshua langsung pada tujuan nya berada disana.
"Haha. Duduklah, aku tidak suka jika tamuku begitu terburu-buru seperti ini," ucap Zeck dengan santai melewati Joshua dan duduk di sofa. Joshua menarik nafas panjang dan berusaha menahan amarahnya.
Mereka duduk berhadapan, secangkir teh hangat masih penuh berada di hadapan Joshua. Dia tidak meminumnya sedikitpun. Tak lama muncul seorang pelayan yang menyuguhkan teh hangat pada Zeck.
__ADS_1
"Aku tidak ingin minum, dan sepertinya tamu ku juga tidak akan minum. Jadi bawa saja kembali dan juga bawa teh yang sudah dingin itu," ucap Zeck pada pelayan itu.
"Dimana dia?" Tanya Joshua lagi.
"Dia? Maksudmu calon istriku?"
"Apa? Calon istri? Apa yang kamu bicarakan, bagaimana mungkin dia menjadi calon istrimu."
"Oh kenapa tidak mungkin? Dia cantik, bertalenta dan juga lembut. Sudahlah, aku tidak perlu menjelaskan apapun pada mu bukan. Jadi kembali lagi ke topik awal kenapa kamu mencari calon istriku?"
"Aku-- aku ada urusan yang belum selesai dengan nya."
"Hmmm begitu. Dia memang ada di sini, tapi sejak kamu datang. Dia tidak turun dan menemui mu, apa kamu masih ingin bertemu dengannya?"
Joshua hanya terdiam. Pertanyaan itu cukup ampuh untuk membungkam mulutnya.
"Baiklah, aku akan memberikan waktu untuk kalian bicara. Mungkin kalimat perpisahan," lanjut Zeck.
Zeck menyuruh pelayannya untuk membawa Jane turun dan menemui Joshua. Tak lama pelayan itu kembali bersama Jane, melihat Jane muncul Joshua langsung berdiri dan ingin menghampiri Jane. Namun langkahnya terhenti saat Zeck lebih dulu berada di dekat Jane.
"Bicaralah dengan cepat sayang, aku tidak suka menunggu," ucap Zeck sebelum dia mengecup kening Jane dan berlalu pergi.
Joshua yang melihat perlakuan Zeck pada Jane, tanpa sadar dia mengepalkan tangannya tidak suka. Namun dengan cepat juga pikirannya bekerja.
'Apa yang aku lakukan, kenapa aku seperti ini,' pikir Joshua melemaskan kembali kepalan tangannya.
Tepat saat itu juga, ponsel Joshua berdering. Itu panggilan dari Rossi, Joshua awalnya cukup ragu untuk menjawab panggilan itu. Tapi melihat Jane yang masih berdiri saja di tempat semula, membuat Joshua menjawab panggilan itu.
"Rossi, ada apa kamu tiba-tiba menghubungi ku?"
"Oh tidak, aku hanya butuh bantuan mu. Apakah kita bisa bertemu?"
"Hmmm, ya bisa. Tapi maukah kamu menungguku setengah jam lagi?"
"Ya tentu."
"Oke."
Joshua mengakhiri panggilan itu.
__ADS_1
--***