
Terdengar samar suara tembakan dari luar rumah. Rossi segera menghampiri sumber suara itu. Di belakang rumah. Terdapat sebuah lapangan tembak yang di tutupi oleh dinding pembatas dengan taman bunga mawar. Sarah berada disana. Dia memegang senapan di tangannya. Fokus pada sasaran yang berada di seberang.
Dor.
Satu peluru di keluarkan dari senapan itu. Tepat sasaran.
"Sarah. Apa kamu sedang sibuk?" Rossi berjalan mendekat padanya. Ya dengan banyak kebingungan di kepalanya. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Rossi. Tentu saja," Sarah meletakkan senapannya di atas meja yang terletak tidak jauh dari tempat dia berdiri. "Ayo kita ke sebelah saja, lebih nyaman ngobrol disana."
Langkah kaki mereka memasuki taman bunga yang berbau semerbak harum mawar. Wangi itu memenuhi setiap aliran angin yang melayang di udara. Ada sebuah ayunan disana. Tampak sangat indah dengan dikelilingi bunga mawar merah.
Sarah mengajak Rossi untuk duduk santai di ayunan itu. Sambil menggoyangkannya pelan.
"Baiklah. Apa yang ingin kamu bicarakan Rossi. Kamu bisa menanyakan banyak hal, selama aku punya hak untuk membahasnya."
"Sarah. Kapan kamu pertama kali kesini? Sepertinya kamu sangat kenal dengan tempat ini. Bahkan aku saja tidak terlalu ingat. Banyak yang berubah disini," Rossi menunduk murung.
"Aku.. kapan ya, mungkin sekitar umurku 14 tahun. Kakak ku yang membawaku kesini," Sarah menggerakkan pelan ayunannya. "Bahkan saat itu ada kakakmu disini."
"Kakak? Tunggu Sarah maksudmu aku punya kakak?" Rossi langsung menatap Sarah dengan kebingungan yang semakin menjadi jadi.
"Ya. Aku bahkan sering berlatih menembak dengannya di tempat ini. Rossi jangan bilang kamu melupakan kakak mu."
"Tidak Sarah. Aku tidak punya seorang kakak. Sungguh. Aku semakin tidak mengerti sekarang."
"Rossi. Apa yang kamu katakan. Olivia. Olivia Alexandra, bukankah dia kakakmu? Dia sendiri juga mengatakan bahwa kamu adiknya. Ya saat itu kita memang tidak bisa berkomunikasi. Aku hanya melihatmu dari kejauhan. Sambil menemani kakak mu yang setiap hari mengunjungimu," Sarah menjelaskan.
"Aku? Sarah jangan bercanda. Aku tidak punya kakak. Dan aku tidak ingat ada yang sering mengunjungi ku. Kapan?"
"Tentu saja kamu tidak tahu baby. Kamu saat itu masih koma dan--," Sarah keceplosan, bagaimana mungkin dia bisa mengatakannya. Dia seharusnya tidak membahas itu dengan Rossi.
"Apa maksudmu Sarah. Tolong jelaskan. Jangan berhenti seperti itu." Rossi memohon. Dia butuh penjelasan. Agar semua pertanyaan yang selama bersemayam dalam benaknya bisa terjawab. Dan kakaknya. Siapa? Tidak mungkin.
__ADS_1
"Huh. Sudah lah. Aku lelah berbohong padamu Rossi ku. Baiklah kamu harus mendengarkan ku dengan baik. Oke?"
Hampir dua jam Sarah menjelaskannya pada Rossi. Berawal dari kedatangannya ke rumah itu sampai apapun yang dia ketahui dengan kakaknya. Karena dia selalu berlatih dengan Olivia di rumah itu.
"Jadi aku memang punya kakak. Hmm.. aku bahkan tidak tahu," kata rossi.
Satu per satu pertanyaannya mulai terjawab. Foto wanita yang dia lihat tadi adalah kakaknya. Tapi bagaimana bisa? Dia adalah putri satu satunya pemilik rumah itu.
"Rossi berhenti bercanda. Bagaimana mungkin sejak kamu kecil tidak pernah bertemu dengan kakakmu," Sarah menaikkan alis nya tak percaya.
"Ah semua nya membuatku pusing. Aku tidak tahu apa pun Sarah. Sungguh. Jika aku tahu aku tidak akan bertanya padamu," Rossi merasa sedikit lega. Dia tidak murung lagi. "Tapi bukankah aku koma. Lalu cerita yang selama ini kamu sampaikan kepadaku?"
"Ha ya. Itu.. itu cerita kakakmu. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya mengatakan apa yang ku ingat. Hehe," Sarah menggaruk kepalanya.
"Sarah.. Ah sudah lah. Aku tidak akan memikirkan cerita itu, setidaknya aku tahu bagaimana kehidupan kakak ku," Rossi mengayunkan ayunannya lambat. "Tapi dimana kakak ku sekarang? Aku tidak melihatnya disini. Dan tadi aku tidak sengaja masuk ke kamarnya. Sangat rapi. Bahkan seperti tidak ditempati siapa pun."
"Hmm.. kalau soal itu, mungkin kamu sebaiknya bertanya pada ibu mu nanti. Ingat hanya pada ibumu, jangan ayahmu."
"Tidak ada lagi pertanyaan."
Sarah bangkit dari kursi ayunan bertiang merah dengan rantai yang sedikit berkarat. "Sambil menunggu orang tua mu kembali. Ingin menembak dengan ku? Kau pasti menyukainya."
Berjam jam berlalu mereka sibuk menembak dengan senyuman yang tak henti berada di wajah mereka. Sangat bahagia. Menembak itu membuat mereka seperti berada dalam permainan. Bermain dengan senjata yang bisa membunuh nya itu. Pasti menyenangkan.
Rossi dan Sarah berbaring di rumput. Mereka lelah, langit begitu kelam. Awannya berwarna gelap. Mendung.
"Sarah. Jika kakak ku ada disini. Apa dia akan senang melihatku?" Rossi bertanya tanpa melihat lawan bicaranya. Hanya menatap lurus ke langit.
"Ya. Pasti. Dia pasti sangat senang. Dia selalu menunggumu bangun. Kau tau Rossi. Selama kamu koma di kamarmu, dia tak pernah absen ke sana. Setiap hari menunggu dan menunggu."
"Benarkah. Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya." Rossi tersenyum membayangkan bagaimana senyum kakaknya itu.
Mereka beristirahat sejenak. Memejamkan mata sambil menikmati hembusan angin yang menghampiri tubuh mereka.
__ADS_1
"Nona. Nona muda. Ada seorang pria yang membuat keributan di depan. Dia mencari tuan besar. Sementara beliau belum pulang nona," seorang pelayan wanita berdiri di dekat Rossi dengan nafas nya yang tidak beraturan.
"Apa?" Rossi dan Sarah langsung bangkit berdiri dan bergegas meninggalkan lapangan tembak itu.
Di depan pintu masuk.
"Aku hanya ingin bertemu dengan mr.hans.. kenapa kalian tidak membiarkan aku masuk. Dia mengenalku," Edgar memaksa masuk.
Rossi dan Sarah bergegas ke pintu. Para penjaga yang berada di pintu awalnya enggan untuk membuka.
"Kenapa kalian tidak membiarkan dia masuk? Bukankah dia tamu ayah?" Rossi menyapu sedikit keringat yang masih bersemayam di pelipisnya. Menembak itu ketegangan. Butuh tenaga khusus memainkannya.
"Maaf nona. Tuan besar sudah berpesan untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke rumah ini selama beliau tidak berada di rumah," satu penjaga memberikan kejelasan.
"Tapi bukankah ada aku disini. Biarkan lah dia masuk. Suruh saja dia menunggu ayah di dalam. Mungkin dia ada hal mendesak."
Dengan penuh keraguan dalam hati mereka. Dua penjaga itu terpaksa membuka pintu. Mereka pikir yang Rossi katakan itu ada benarnya. Sudah ada nona muda di rumah itu. Dia punya kekuasaan.
Pintu terbuka lebar.
Edgar berhenti bicara. Matanya tertuju pada seorang wanita yang berdiri di seberang pembatas lantai pintu.
"Rossi."
"Edgar?"
Dengan cepat Edgar langsung memeluk Rossi. Sangat erat. Membuat semua orang disana tertegun heran, kecuali Sarah.
"Rossi. Kenapa kamu bisa ada disini. Aku sudah mencarimu kemana mana. Syukurlah sekarang aku dapat menemukanmu. Kenapa? Kenapa kamu pergi dari ku."
Edgar melepaskan pelukannya dan kedua tangannya berada di kepala Rossi. Membelai nya lembut, mengelap keringat di pelipis Rossi dengan tangan besarnya.
--***
__ADS_1