
Argyle Luxury Apartment.
Sebuah apartemen mewah bertingkat, yang menjulang tinggi dengan bentuk arsitektur bangunan yang unik dan menarik. Setiap orang yang memasukinya akan dimanjakan dengan pemandangan estetik dan modern.
Di kolam renang.
Seorang pria dengan santainya menikmati minumannya di dalam air. Ia duduk di salah satu bangku yang berada di dalam air itu, menenggelamkan separo dari tubuhnya di air.
"Bagaimana? Kapan dia akan melangsungkan pernikahannya?" Kata pria itu, "Ha bukan. Itu masih pertunangan."
"Mengenai itu, belum ada kepastiannya tuan. Tidak ada berita mengenai pertunangan mereka di muat. Dan menurut mata mata kita yang berada di kediaman tuan Edgar. Ada insiden yang terjadi disana."
Seorang wanita yang muncul dari balik bayangan bangunan dan berjalan mendekat pada pria itu.
Ada seorang mata mata yang dikirimkan oleh pria itu di kediaman Edgar. Untuk mengawasi dan melaporkan apa yang dilakukan dan terjadi di dekat Edgar. Sebenarnya Edgar mengetahui ada mata mata di dalam kelompoknya, tapi dia tidak bertindak. Karena dia tahu itu adalah suruhan seseorang yang dikenalnya, yang pasti tidak akan mengancam nyawanya.
"Oh ya? Apakah menarik untuk ku dengar?" Dia bertanya penasaran, "Jika membosankan lebih baik aku tidak mendengarnya."
Dengan ragu wanita itu mulai menjelaskan insiden yang terjadi pada Edgar di air mancur dan pria itu mulai tertarik dan mendengarkannya dengan seksama.
"Hahaha. Jadi dia bertingkah konyol lagi. Dasar brengsek itu, tidak pernah berubah." Ia keluar dari dalam air.
Dua wanita menyambutnya dengan memakaikan handuk putih di tubuh pria itu.
"Oh ya. Atur saja keberangkatan ku ke sana lebih cepat, mungkin dalam Minggu ini."
Dia berjalan masuk dengan senyum licik di wajahnya.
***
Edgar perlahan membuka matanya.
"Ah kepalaku." Edgar merasakan nyeri di kepalanya.
Ia melihat bayangan seseorang di lantai, bayangan itu berasal dari balkon. Dengan cepat, pandangan matanya berpindah dan terpusat pada wanita yang berdiri dengan kaki telanjang di balkon, rambut nya sedikit berantakan. dia mengenakan baju hangat di tubuhnya.
"Rossi,.." bisik Edgar pelan.
Di tangan mungil itu, Rossi masih memegang erat foto Olivia. Dia berusaha menenangkan dadanya yang menyakitinya dari dalam. Rossi memeluk pelan dadanya berharap rasa sakit itu hilang darinya.
"Sayang. Apa yang kamu lakukan disini." Edgar memeluk Rossi dari belakang.
__ADS_1
"Edgar. Kamu sudah bangun." Rossi terkejut, seketika sakit itu sudah pergi darinya.
"Ya. Apa kamu akan tetap berada di sini." Edgar menyelipkan tangannya ke dalam baju hangat itu. Rossi memang tidak mengenakan apa pun di dalamnya.
"Hei. Apa yang kamu lakukan. Ini masih pagi." Rossi menggeser tangan Edgar pelan untuk melepaskannya, "Apa ini kekasihmu?"
Rossi memperlihat kan foto yang sedari tadi berada di tangannya di depan wajah Edgar.
"Dari mana kamu mendapatkannya?" Edgar dengan cepat mengambil foto itu, meremukkannya dalam kepalan tangannya.
"Aku hanya menemukannya. Kenapa kamu menghancurkannya, aku kan hanya bertanya padamu," ketus Rossi sedikit kesal. "Lagi pula dia cantik."
"Berhentilah membahasnya. Mulai sekarang kamu adalah kekasihku satu satunya dan hanya akan menjadi satu satunya. Paham?" Edgar membuang gumpalan kertas itu entah kemana dan menatap Rossi dengan penuh keyakinan.
"Hmm. Benarkah? Aku masih tidak percaya padamu." Rossi mengalihkan pandangannya dari Edgar. Menatap ke celah pintu yang terbuka.
Jeck dan seorang pria yang belum pernah dilihat Rossi mengintip mereka.
"Apa kamu punya mata mata pribadi?" Ejek Rossi pada Edgar sambil memberikan kode mata pada pria itu memberitahu bahwa ada yang mengintip mereka di celah pintu.
Edgar mengernyit padanya. Dengan cepat matanya menatap tajam ke arah pintu. Dua pria pengintip itu sadar bahwa mereka sudah ketahuan, menutup cepat pintu itu dan berlari sekencang mungkin pergi menjauh dari ruangan itu.
"Jadi. Apakah kamu akan terus berdiri disini. Memperlihatkan kaki mulus mu itu pada orang lain?" Edgar menarik Rossi melekat pada tubuhnya.
"Dasar bodoh. Kamu yakin hanya ada aku yang melihatmu?" Lanjut Edgar.
"Yap. Siapa lagi?"
Edgar menarik Rossi masuk dalam pelukannya, tubuh wanita itu sangat ringan bagi Edgar. Seperti bulu. Dengan mudah dia mengangkatnya. Dia menarik tirai balkon dan membuat tirai itu menggulung keduanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Rossi heran melihat tingkah Edgar. Pria itu hanya tersenyum nakal.
Edgar mencium Rossi dalam balutan tirai putih dengan sinar matahari yang masuk melalui lubang yang terdapat di tirai itu.
Rossi tidak lagi menolak ciuman Edgar, dia sudah merasa nyaman berada dalam dekapan pria itu.
Pukul 11.00
Edgar dan Rossi pergi bersama ke kantor. Sarah sudah menunggu Rossi disana, ia langsung disibukkan dengan pemotretannya. Sedangkan Edgar disibukkan dengan dokumen dan berkas yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan perusahaan yang dia duduki saat ini.
"Tuan. Sepertinya Anda harus mengurus sendiri perusahaan yang berada di Paris. Jika tidak bertindak cepat maka perusahaan itu bisa jatuh ke tangan tuan Josh--." Sekretaris nya menjelaskan.
__ADS_1
"Ya. Kamu benar. Urus keberangkatan ku secepatnya." Perintah Edgar padanya, "Dan jangan lupa setelah aku kembali atur pertunangan ku dengan Rossi."
"Baik tuan."
Edgar sebenarnya tidak ingin kembali ke Paris, terlalu banyak kenangan disana. Jika mungkin, dia berharap tidak akan menginjakkan kakinya lagi di kota itu. Tapi bisnisnya tetap harus dijalankan nya disana.
"Olivia. Ku harap dengan keputusan ku untuk menyerah padamu dan menikah dengan Rossi." Ucap nya, "Adalah keputusan yang tepat."
Edgar tidak lagi berniat untuk memanfaatkan Rossi dalam rencananya, dia sudah menjadikan Rossi sebagai wanitanya.
Di bandara.
"Tuan. Apa kita benar benar tidak akan memberi tahu keberangkatan mu pada nona Rossi?" Ucap Willy berjalan di belakang Edgar.
"Tidak. Beri tahu saja padanya untuk menungguku. Dan ya jangan lupa untuk menjaganya." Kata Edgar, "Jika sampai dia terluka, kalian tau akibatnya kan."
"Ya tuan. Saya akan menjaga nona Rossi," jawab Willy menunduk hormat padanya.
"Oh ya. Suruh Jeck untuk menyusul ku secepatnya."
"Baik tuan."
Edgar berjalan menjauh dari Willy, hingga dia tak terlihat lagi dari pandangan pria itu.
Sudah dua hari berlalu sejak Rossi tidak lagi bertemu dengan Edgar. Dia juga tidak mendengar kabar apa pun.
Di perjalanan dalam mobil.
"Aku merindukannya," ujar Rossi pada Sarah.
"Siapa?" Tanya Sarah bingung.
"Ya dia.. Itu loh.. Ya dia lah pokok nya."
"Hilih. Langsung aja lah bilang rindu sama Edgar, susah kali," ejek Sarah padanya.
Rossi malah cemberut, matanya tertuju pada pepohonan di tepi jalan.
"Baiklah. Biar aku temani kamu ke tempatnya," bujuk Sarah
"Sungguh!?" Rossi menatap Sarah dengan penuh harap, Sarah mengangguk.
__ADS_1
Raut wajah Rossi langsung berubah ceria.
--***