Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.12


__ADS_3

Angin pantai berhembus begitu kencang, diiringi deburan ombak yang bolak balik menghampiri pasir pantai. Di atas jalan beraspal berhias pohon dan bebatuan di sepanjang tepi nya, Edgar melajukan mobil nya sambil menurunkan kaca mobil itu.


Dari luar jendelanya terlihat ia memakai kacamata hitam yang sudah dimodifikasi, sehingga bisa berkomunikasi lebih cepat dengan itu.


Pip. pip.


Panggilannya terhubung.


"Apa ada informasi terbaru?" Tanya Edgar.


"Ya tuan, ada telepon dari kediaman Mike memberikan kabar jika dia akan berkunjung ke mansion anda nanti malam. Dan dia juga berpesan bahwa dia ingin bertemu dengan nona Rossi."


Seorang pria menjawab dari seberang panggilan.


"Oke. Tetap pada rencana, dan jangan sampai ada secuil kotoran pun yang terlewatkan," lanjut Edgar.


"Baik tuan."


Panggilannya berakhir.


Edgar melajukan mobilnya dengan cepat, dia sampai di mansion lebih awal dari perkiraannya.


Pukul 11.04


Sebuah mobil hitam mengkilap terparkir di depan mansion. Seorang pria keluar dari dalamnya, begitu angkuh.


"Dimana dia?"


Edgar melempar kunci mobil nya pada pria yang telah berdiri di depan pintu menyambutnya.


"Nona Rossi masih di kamar tuan. Sepertinya dia masih tidur."


Willy menjawab tepat setelah pertanyaan itu ditujukan padanya.


"Tidur?"


Edgar menaikkan alisnya. Dia malah tersenyum, sontak membuat semua orang yang berada disana terkejut.


'Hanya mendengar itu saja, dia tersenyum,' bisik Bi Yona.


Pintu terbuka.


Edgar masuk ke kamarnya, terlihat seorang wanita yang tengah tidur sambil memeluk erat sebuah boneka beruang berwarna merah muda. Ia menghampirinya.


"Dasar pemalas..-- Entah kapan aku bisa melihat dia tidur seperti ini."


Edgar membelai lembut pipi Rossi yang tertutup beberapa helai rambut. Ia menusuk pipi kenyal itu dengan ujung jarinya.


Rossi mulai terbangun, matanya terbuka perlahan. Dia melihat Edgar yang duduk di samping boneka itu, namun ia malah tidak memperdulikannya dan kembali memeluk erat boneka itu dan berpura pura tidur.


Edgar menyadari bahwa Rossi sudah bangun, dia tertawa kecil. Menarik selimut itu dan membuangnya ke lantai. Rossi langsung terbangun, terpampang tubuh Rossi yang tidak mengenakan apapun. Edgar mengeluarkan seringai nakal di bibirnya.

__ADS_1


"Kamu bahkan tidak mengenakan apa pun dan malah memeluk boneka itu."


Edgar menatap tajam kearah boneka besar di samping Rossi.


"Kembalikan. Aku masih ingin tidur."


Rossi menjadi tidak waspada sejak bertemu Edgar. Dia menerima kehadiran pria itu begitu saja, seakan dia sudah mengenalnya lama.


Edgar kesal melihatnya.


'Beraninya dia membantahku,' batin Edgar.


Dia menarik boneka besar itu dan melemparnya entah kemana. Dan menindih tubuh Rossi yang terbaring di tempat tidur.


"Sayang.. kamu tidak pernah memelukku seperti itu bahkan dengan telanjang seperti ini."


Edgar melonggarkan dasinya.


"Kamu. Kamu-- apa yang kamu lakukan?"


Rossi memberontak mendorong tubuh Edgar dari atasnya.


Edgar membuka bajunya, ia mulai melahap Rossi dimulai dari bibir mungilnya. Gerakannya sangat agresif.


"Dass sum. ni sing boong." Rossi mengigau tidak jelas. (Dasar mesum. Ini siang bolong).


Dia terus memberontak, tapi Edgar malah membuatnya menjadi bergairah. Dia menelusuri setiap lekuk tubuh wanita itu dengan bibirnya. Menggigit kecil setiap kulit yang dilalui nya. Tangan Edgar mulai bermain di antara kedua pahanya, membuatnya merasa geli dan menggelinjang, wajah Rossi memerah.


Edgar tersenyum puas melihat Rossi yang sudah lemas dan wajahnya yang memerah. Dia menghentikan kegiatannya, tak meneruskannya ke tahap yang lebih intim.


"Bangunlah, aku akan menunggumu dibawah," ujar Edgar.


Dia bangkit dari tubuh Rossi, memakai kembali kemejanya dan langsung berjalan keluar meninggalkan Rossi. Sedangkan Rossi masih terbaring lemas karena permainan pria itu.


Satu setengah jam berlalu, Rossi berjalan menuruni anak tangga dengan mengenakan baju casual berwarna biru yang dipilihnya sendiri di dalam lemari Edgar.


Edgar masih sibuk dengan komputernya, bahkan minuman yang dihidangkan untuknya tidak berkurang sedikitpun.


Rossi menghampirinya. Namun hanya berdiri di belakangnya tidak berani mengganggu pria itu. Namun Edgar menyadari kehadirannya, aroma tubuh Rossi tercium olehnya. Sangat khas.


"Kemari lah," perintah Edgar sembari masih sibuk dengan komputernya.


Rossi berjalan mendekat, berhenti di samping kursi Edgar. Namun pria itu tak lagi berkata apa pun, dia hanya sibuk dengan pekerjaannya. Rossi merasa canggung dan berniat untuk pergi. Tapi tiba-tiba Edgar menarik tangan Rossi dan membuat wanita itu duduk di pangkuannya.


Edgar mencium bibir Rossi.


"Manis."


Edgar tersenyum puas melepas ciumannya.


Rossi langsung berdiri tegak, menutup bibirnya. Edgar tertawa melihat tingkahnya.

__ADS_1


"Pergilah ke dapur. Buatkan aku kopi yang baru, yang ini tidak enak."


Edgar mencibir kecewa dan menggeser secangkir kopi yang sudah sedari tadi berada disana.


Rossi mengambil cangkir itu dan berlalu pergi menuju ke dapur. Dia memperhatikan gelas itu dengan seksama, isinya masih penuh. Tak berkurang sedikitpun.


'Tidak enak? Padahal dia belum menyentuhnya,' batin Rossi kesal.


Rossi kembali dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Namun meja itu sudah bersih, tak ada lagi komputer yang menyala, termasuk semua berkas yang berserakan di sana menghilang. Edgar pun tak terlihat.


Tiba-tiba Rossi merasakan sesuatu yang hangat di pinggangnya. Edgar memeluknya dari belakang. Ia menyandarkan dagunya ke bahu Rossi.


"Apa? Ini kopimu," ujar Rossi melepas pelukan itu dan memberikan secangkir kopi pada Edgar.


Edgar memasang ekspresi datar. Ia mengambil kopi itu dari tangan rossi dan meletakkannya di atas meja.


Rossi menatap lama pada cangkir putih berisi kopi yang masih hangat. Ia kecewa. Melihat kekecewaan yang terpasang di wajah wanitanya, Edgar kembali mengambil kopi itu dan meminumnya habis.


Edgar menarik Rossi keluar dan mendorongnya masuk ke dalam mobil. Rossi terus menanyakan kemana tujuan dari mobil itu namun Edgar tak menjawabnya, dia hanya fokus pada jalanan yang berada di depannya.


Di depan toko pakaian.


"Kenapa berhenti disini?"


Rossi melihat dari balik kaca mobil sebuah toko pakaian busana terkenal di kota itu.


"Turun," perintah Edgar.


Rossi masih bingung dan tak bergerak sedikitpun. Sehingga Edgar keluar dan membukakan pintu mobil menuntut wanitanya masuk ke dalam toko.


"Selamat datang di toko kami, apa ada pakaian khusus yang anda inginkan?" Tanya seorang karyawati ramah pada Edgar dan Rossi.


"Perlihatkan semua pakaian yang cocok dengannya."


Edgar berlalu meninggalkan Rossi dan wanita itu.


"Baik. Silahkan nona."


Dia menuntut Rossi ke kamar ganti.


Setelah beberapa saat.


Ganti. Ganti. Ganti. Ganti. xxx


Setiap kali Rossi keluar dari ruang ganti bertirai merah marun, Edgar hanya mengatakan kata "Ganti" tanpa berpikir panjang. Itu membuat Rossi kesal, dan dia memakai kembali pakaian yang pertama kali ia kenakan.


"Ya. Yang ini saja," ujar Edgar tanpa tahu bahwa itu adalah pakaian yang pertama kali dikenakan oleh Rossi.


Sontak perkataan itu membuat dua orang yang sibuk dari tadi menganga. Sudah banyak baju yang tertumpuk di pojok ruangan itu.


'Yang ini apanya, dia memang tidak memperhatikanku sejak awal,' pikir Rossi kesal.

__ADS_1


--***


__ADS_2