
Menjadi pewaris sebuah geng mafia, geng Lion. Geng mafia yang sangat berpengaruh. Bagaimana mungkin bisa dipimpin oleh seorang pemula? Cukup lucu. Kenapa tidak? Semua nya bisa menjadi apapun yang dia mau saat dia mampu untuk itu.
Rossi Alexandra. Sudah hampir setengah bulan, dia selalu berlatih dan memantapkan keterampilannya dalam menembak, menjaga diri, pertahanan. Semuanya. Dia berusaha sangat keras, dia harus menjadi pewaris geng Lion. Harus.
"Rossi. Minumlah dulu jika kamu tidak ingin makan." Sarah keluar dari dalam rumah membawa sebotol minuman di tangannya. Memberikan botol itu pada Rossi yang terlihat kelelahan namun enggan untuk beristirahat. "Nih. Kamu sudah berusaha sangat keras."
"Terimakasih." Rossi meneguk habis air yang berada dalam botol itu hanya dalam satu tegukan. Kosong.
Dua Minggu yang lalu. Di pekuburan.
Setelah cukup lama Edgar berjongkok disana. Memandangi nisan itu. Dia akhirnya tersadar. Alasan dia berada di sana bukan untuk menyesali kejadian tiga tahun yang lalu. Bukan juga untuk menangisi seseorang. Tapi dia disana untuk bertemu Rossi. Mengikuti nya untuk bisa kembali membuatnya dalam pelukan pria itu. Bukan untuk Olivia. Tapi-- dimana Rossi?
Itu sudah terlambat. Rossi sudah tidak ada disana. Di sekelilingnya kosong. Sepi. Tidak ada seorang pun. Dimana wanitanya. Apa dia tidak sadar akan hal itu? Dia sudah melewatkan nya. Menjadikan wanita itu seakan tidak ada.
Dengan cepat Edgar berlari ke ujung pekuburan itu. Tidak ada lagi mobil yang sebelumnya terparkir disana, hanya ada motor yang dinaiki nya sebelum itu yang berada tidak jauh dari sana. Di bawah pohon besar yang merunduk. 'Sial'.
Hampir 5 hari berlalu. Edgar hanya memandangi rumah besar kediaman Hans yang berada tidak jauh dari rumahnya. Dia tidak ingin ke sana, kehadirannya disana hanya akan memperumit keadaan. Tapi Dia berharap bisa bertemu Rossi. Bukan. Melihatnya saja itu sudah cukup.
Selama itu Rossi tidak pernah keluar dari rumah itu. Bayangan nya saja tidak tampak. Apa dia masih disana?
Dia sibuk. Sangat sibuk. Waktu yang dimilikinya hanya sebentar. 1 bulan. Itu singkat bagi keseriusan seseorang.
Dari balik jendela kaca besar yang berada di kamarnya. Edgar berdiri dan memandangi rumah besar yang dikelilingi taman bunga. Sangat indah jika di lihat. Namun bukan itu tujuannya. Rossi. Dia ingin melihat wanita itu.
Drrttt..
Ponsel Edgar bergetar di dalam saku celananya. Itu menghentikan lamunannya. "Ayah" Tertulis di layar ponsel itu. Dengan sedikit berat hati, Edgar menjawab panggilan itu.
Duar! Dia langsung dimaki.
"Apa kau sudah tidak waras!?" Jerome menaikkan suaranya. "Apa yang kau lakukan disana. Ingat posisimu. Banyak hal yang harus diselesaikan, masalah di dalam markas saja belum bisa kamu atasi. Malah mengurus wanita mu." Sungguh naif.
__ADS_1
"Huh." Edgar menghela nafasnya. Ya dia punya geng mafia yang harus diurusnya. Semua urusan terkait 'eagle' adalah tanggung jawabnya sebagai ketua. Calon ketua. Peresmiannya belum sah. Dia belum memenuhi satu syarat. Pasangan. Dia tidak punya.
"Cepat kembali sekarang. Atau kau tau apa yang akan terjadi," Jerome mulai melunakkan suaranya. "Tidak. Lebih baik tetap di sana saja. Kita akan berkumpul di markas utama. Aku akan kembali ke Italia besok."
"Ya," jawab Edgar sambil menyisir rambutnya di sela jari nya. Ah. Sangat eksotis jika dibayangkan. Dengan wajah tampan itu.
"Oh ya. Tanyakan pada ibumu. Apa dia ingin ku bawakan sesuatu?" Jerome kembali bertanya.
"Apa? Heh pak tua. Kamu bisa menanyakannya sendiri pada istrimu. Itu bukan urusanku," Edgar langsung mematikan panggilannya.
"Dia pikir aku ini apa? Penyampai pesan?" Kekanakan.
Edgar pergi ke kamar mandi untuk menyejukkan dirinya sambil menenangkan pikirannya.
"Untuk saat ini. Aku tidak akan memikirkannya dulu. Dia aman disana dan tidak akan terluka. Aku percaya itu. Tetaplah disana. Dan tunggu aku. Kelinci kecil." Edgar bergumam di bawah desiran air yang membasahi diri nya dari atas sampai bawah. Membuat kaca pembatas kamar mandi itu berembun.
Menunggu. Hal yang tidak pasti. Waktu yang tidak jelas untuk dimengerti. Apa saat dia kembali padanya. Wanita itu menjadi--. Entah kelinci kecil yang imut? Atau-- sebaliknya?
Lantai atas tepatnya di balkon belakang. Yang berada cukup strategis untuk menampakkan kegiatan di bawahnya. Sebuah lapangan tembak yang dikelilingi taman bunga mawar. Sebuah meja dan sepasang kursi berada di atas sana. Dengan dua cangkir teh hangat berwadah yang berada di atasnya.
"Sayang. Kamu lihat. Putri kita sangat mewarisi kemampuanku, dia bahkan hampir setara dengan Olivia hanya memakan waktu sekitar hampir 3 Minggu saja." Hans tersenyum melihat ke bawah.
Beberapa tembakan di lepaskan. Semua nya tepat sasaran, sangat gesit.
"Huh. Ya. Kurasa begitu, tapi Hans.. Aku masih berat hati untuk membiarkannya memasuki lingkaran itu. Aku takut--."
"Istriku. Tenang saja, putri kita akan baik baik saja. Dan aku juga sudah memilihkan calon pendamping nya nanti." Hans terlihat senang dengan seringai di wajahnya.
"Benarkah? Siapa? Apa dia--," Rahel terpikir mengenai Edgar. Apa suami kesayangannya sudah berdamai dengan pemuda itu. Karena hanya dia yang sangat berpengaruh dalam dunia mafia. Dipastikan Rossi akan baik baik saja. Tapi bagaimana dengan Olivia dulu? Belum tentu.
"Oh. Dia sudah tidak bergelut di dunia mafia. Tapi ya sekarang dia menjadi pebisnis yang hebat. Seorang mantan mafia, bukankah dia akan pantas bersanding bersama Rossi?" Hans mendekat pada Rahel, "kamu juga mengenalnya."
__ADS_1
Hans tak lupa mengecup pipi istri kesayangan nya itu. Rahel merasa heran. Dia bahkan tidak terpikir seorang pemuda pun. Siapa?
Dua hari kemudian.
Rossi hari itu tidak berlatih. Dia hanya disuruh beristirahat sejenak dari kerja kerasnya. Cuti latihan. Dan malah disuruh berdandan dengan cantik. Akan ada tamu yang datang. Mungkinkah Seorang pria?
"Sarah. Apa yang terjadi. Siapa yang datang?" Rossi menepiskan tangan Sarah yang sedang memberikan riasan di wajahnya.
"Entahlah. Aku juga tidak bertanya tadi." Sarah melanjutkan menghias wajah putih bersih itu. "Mungkin seorang pria?"
"Pria? Apa Ed--".. Ucapan Rossi terhenti. Dalam pikirannya, "-gar. Tidak. Tidak mungkin dia kesini, untuk apa. Lagi pula dia tidak akan datang menemuiku lagi. Dia hanya ingin tahu mengetahui kekasih nya. Kakak."
"Siapa baby? Apa kamu mengenalnya?" Sarah menjadi penasaran. Dia menghentikan kegiatan tangannya di wajah Rossi.
"Tidak. Aku tidak mengenalnya. Bahkan aku tidak tahu kalau akan kedatangan tamu hari ini."
Tak lama waktu berselang. Rossi di suruh untuk ke bawah. Tamunya sudah datang. Yang membuat dia dan ibunya penasaran.
Dengan dres merah muda, berhiaskan perhiasan mungil tak mencolok yang cocok dengan kulitnya. Riasan tipis yang membuat aura natural tetap berada pada nya. Rossi perlahan melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga. Cantik dan elegan.
Seorang pria berada di bawah. Ya memang tampan. Tapi bukan Edgar. Sedikit kekecewaan di hati Rossi.
Mereka bertatapan. Pria itu tersenyum. Mungkin bagi wanita lain senyuman itu menyetrum mereka, tapi tidak bagi Rossi. Di hati nya masih ada seorang pria.
Pria itu mengulurkan tangannya "Joshua." Dan dia kembali tersenyum.
"Rossi," jawab Rossi dengan senyum manis di wajahnya.
"Ah ya. Mungkin kalian bisa mengobrol di taman. Itu akan lebih nyaman," Hans mendorong kedua nya untuk pergi bersama.
Dengan sedikit canggung. Mereka berjalan berdua ke arah taman di pandu oleh seorang pelayan pria.
__ADS_1
--***