Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.26


__ADS_3

Hujan turun begitu deras. Awan hitam yang awalnya hanya berkumpul mulai memeras airnya ke bawah. Sangat banyak. Bahkan membuat suasananya menjadi begitu kelam.


Sebuah mobil masih melaju di bawah guyuran hujan melintasi jalanan kota. Ada tiga orang didalamnya. Satu orang mengemudi dan dua orang lagi tengah serius membicarakan sesuatu.


"Hans. Apa kita tidak akan memberitahukan nya pada Rossi? Ku rasa dia perlu tahu mengenai ini." Rahel menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Hans.


"Ya. Aku juga berpikir begitu. Tapi sayang. Dia bahkan tidak akan tahu mengenai Olivia. Jadi ku pikir biarkanlah itu berlalu." Hans memegangi tangan istrinya dengan lembut. Membelainya.


"Tidak mungkin seperti itu Hans. Jantung yang ada padanya adalah jantung Olivia. Bagaimana mungkin kita tidak akan memberitahukan hal ini padanya," Rahel menarik kembali kepalanya dari bahu Hans. "Lagi pula. Mustahil jika Rossi tidak akan menemukan jejak keberadaan Olivia di rumah itu."


"Bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa kita mengangkat Olivia sebagai kakaknya di saat dia sedang terbaring koma. Aku takut itu akan membuat dia sedih." Hans merangkul istrinya dan membuatnya berada dalam dekapannya.


Tak lama waktu berselang mobil itu terparkir di depan rumah mewah kediaman Hans. Dengan payung hitam yang melindungi mereka dari air hujan yang masih turun dengan derasnya.


Langkah mereka terhenti di ambang pintu. Melihat seorang pria terlihat begitu mesra dengan anaknya di hadapan mereka. Hans mengernyit penasaran dengan pria itu. Seakan dia mengenalnya.


"Ayah. Ibu. Kalian sudah pulang." Rossi menyapa kedua orang tua nya. Membuat Edgar juga berbalik melihat ke arah mereka.


"Kau?!" Teriak Hans marah.


Buk.


Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Edgar. Membuat darah mengalir di bawah hidungnya. Sontak pukulan itu membuat semua orang terkejut. Termasuk Rossi.


"A-ayah apa yang-- kamu baik baik saja?" Rossi langsung menarik wajah Edgar menghadap padanya. Edgar meyakinkan Rossi agar tidak cemas padanya. Dia baik baik saja, pukulan itu tidak berarti apa apa baginya. Dibandingkan dengan kemarahan Hans, itu masih belum seberapa.


"Hans. Apa yang kamu lakukan. Tahan emosimu." Rahel berjalan mendekat pada suaminya dan menahan tubuh Hans sekuat tenaga nya.


"Rossi kembali ke kamarmu." Dengan nada tinggi Hans berteriak pada putrinya.


"Tapi ayah--," Rossi tidak ingin meninggalkan Edgar disana. Dia terluka.


"Sarah. Tolong bawa Rossi ke kamar nya," pinta Rahel.

__ADS_1


Dengan menggunakan sedikit tenaga, Sarah berhasil membawa Rossi untuk kembali ke kamarnya di lantai atas. Walaupun langkah Rossi sempat terus terhenti selama dia melangkah di anak tangga. Dia mengkhawatirkan kekasihnya. Edgar.


"Sarah. Apa yang terjadi. Ayah-- dia sangat marah pada Edgar." Rossi terduduk di atas tempat tidurnya, "apa kamu tahu sesuatu?"


"Tidak. Aku tidak tahu apa pun mengenai ini. Bahkan aku tidak pernah tahu jika Edgar mengenal ayahmu. Sungguh." Sarah berkata dengan raut wajah yang serius. Meyakinkan.


"Pasti ada sesuatu..," gumam Rossi. "Ya Olivia. Mungkin ini tentang dia." Rossi berjalan keluar dari kamar itu.


"Rossi kembali. Kamu tidak boleh ke bawah." Sarah menyusulnya. Ternyata Rossi tidak ke bawah. Dia hanya pergi ke kamar yang berada di sebelahnya.


"Tidak tidak. Tidak mungkin mereka adalah orang yang sama." Rossi mengacak acak laci yang berada di dalam meja di samping tempat tidur. "Tidak mungkin."


Di antara tumpukan majalah, terselip sebuah foto. Rossi langsung mengambil nya. Foto yang sama dengan yang di lihat nya hari itu di mansion Edgar. Air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Olivia adalah kekasihnya, wanita yang dia cari selama ini. Dan dia rindukan." Rossi melemah. Tubuhnya terduduk di lantai.


"Rossi. Apa yang terjadi. Kenapa kamu menangis." Sarah berusaha mengangkat tubuh Rossi ke atas tempat tidur.


Tak. Tak.


"Sayang. Jangan takut, ayahmu hanya emosi sejenak." Rahel menenangkannya, dia berpikir Rossi menangis karena ayahnya. Sarah mengundurkan diri untuk membiarkannya ibu dan anak itu bisa berdua. Menutup pintu.


Tanpa sadar, Rossi meremuk erat foto yang dia pegang.


"Ibu. Apa aku memang punya seorang kakak?" Tanya Rossi lirih, "bukankah hanya aku?"


"Hmm.. Sayang sebenarnya kamu memang punya kakak, tapi lebih tepatnya---," Rahel sedikit ragu untuk mengatakannya "--kakak angkat mu."


"Lalu kenapa? Kapan? Apa ayah dan ibu tidak menyayangi aku sehingga mengangkat seorang anak lagi?" Rossi masih menangis. Dia menjadi emosional. Rahel memeluknya dan mulai menjelaskan semuanya pada Rossi.


Setelah lama Rahel berusaha menjelaskan nya. Rossi perlahan mengerti dan tidak salah paham. Rossi sekarang tahu kenapa dia bisa bangun dari koma nya selama 17 tahun.


"Ibu.. Kenapa kakak memberikan jantung nya padaku. Itu berarti dia sekarang--," Rossi terdiam.

__ADS_1


"Sayang. Kakakmu sangat sayang padamu. Dia sendiri yang meminta agar jantung nya di berikan untukmu. Dia menyayangimu." Rahel mempererat pelukannya. Menenangkan Rossi. Karena dia tidak mungkin memberitahukan insiden yang terjadi 3 tahun yang lalu.


'Tidak. Ini tidak boleh. Aku tidak hanya mengambil jantungnya. Aku- Aku bahkan juga mengambil kekasihnya,' pikir Rossi. 'Tidak boleh.'


Dengan cepat Rossi melepaskan dirinya dari pelukan Rahel. Berlari ke kamarnya. Mengunci dirinya di dalam sana.


Tangis Rossi semakin kuat, dia tak henti memukul dadanya.


"Kenapa. Kenapa. Jadi semua bayangan yang muncul selama ini.. itu--."


Tak jauh dari kediaman Hans. Sebuah rumah mewah berdiri kokoh dengan begitu indah. Besar dan menakjubkan. Namun tidak ada taman bunga. Arsitektur nya di penuhi dengan beton indah yang di pahat. Dan begitu juga dengan banyak nya hiasan pekarangan yang begitu elegan.


Pintu rumah itu terbuka.


"Edgar. Apa yang terjadi, kamu basah kuyup dan ini--." Artya Venantrio. Ibunda Edgar, "Wajahmu terluka." Dia memegangi wajah putra nya dengan sedikit cemas. Walaupun itu hanya luka kecil.


"Aku tidak apa-apa." Edgar menepiskan tangan wanita itu dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas. Melewati ibunya.


"Dia.. masih saja keras kepala," ucap Artya yang hanya melihat kepergian putranya menjauh darinya.


Sebelumnya di kediaman Hans.


"Mr. Hans tolong dengarkan penjelasan saya. Mengenai Olivia. Saat itu--."


"Aku tidak butuh penjelasanmu. Aku bahkan bisa mencari kebenarannya sendiri." Hans berkacak pinggang dan berusaha menahan kepalan tangannya agar tidak memukul Edgar lagi. "Sekarang keluar dari rumah ku. Jika kau berani kembali kesini, yang keluar dari sini adalah jasad mu."


Dengan emosi Hans yang membara saat itu. Mustahil jika Edgar masih bertekad berada disana. Edgar bisa saja mengirimkan surel atau semacamnya, namun dia tidak punya bukti apa pun atas kesalahpahaman itu. Wajar jika Hans bisa menyimpulkan nya sendiri. Dan berasumsi apa yang terjadi pada Olivia, semua nya disebabkan oleh Edgar.


Dengan berbaring di tempat tidur. Edgar menutup matanya dengan lengan besarnya.


"Rossi. Kenapa dia bisa ada disana, apa hubungannya dengan Olivia. Apa mungkin Rossi itu Olivia. Tidak. Tidak mungkin, aku pasti tahu jika dia Olivia. Namun perasaan ini. Setiap berada di dekatnya, aku merasakan kehadirannya."


Edgar tak henti berpikir. Dia harus mendapatkan kejelasan.

__ADS_1


--***


__ADS_2