
Angin berhembus mengisi udara di atas ratusan pekuburan, dedaunan kering pun terkadang mengikuti kemana arah angin itu berhembus. Bahkan beberapa diantaranya mengenai tubuh seorang pria yang sedang berjongkok di samping sebuah nisan yang terlihat memiliki arti penting baginya.
"Aku berjanji padamu, aku akan menjaganya mulai detik ini. Jadi kamu harus tenang disana," kata Edgar sambil mengelus nisan itu.
"Apa kamu tau, dia tumbuh menjadi wanita yang sama kuat nya sepertimu. Dia juga manis, ya aku akan berusaha untuk tidak menyakitinya dan tidak akan membiarkan dia terluka sedikitpun. Aku berjanji padamu."
Edgar meletakkan buket bunga putih di sana, dan tatapannya masih tertuju tepat di nisan itu. Tak beralih sedikitpun.
"Apa kau sudah selesai?" Ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul entah darimana. Berdiri tepat di sampingnya.
"Joshua. Apa yang kau lakukan disini? Cukup menyenangkan bukan menguping pembicaraan orang lain." Edgar masih berjongkok disana, tak melihat pada orang yang datang menghampiri nya.
"Ah, kau dengan cepat mengenaliku.. Aku disini? Untuk apa lagi aku disini, aku ingin mengunjunginya." Joshua ikut berjongkok di samping Edgar. Dia meletakkan buket bunga mawar biru di makam itu.
"Biru?" Tanya Edgar heran.
"Aku tidak sempat memberikannya saat itu, jadi kupikir sekarang pun masih bisa," jawab Joshua.
Tatapannya mereka terlihat sedih, terlihat jelas hati mereka terluka melihat nisan itu.
"Dugaan ku benar bukan, kau memang tidak mencintainya." Joshua membuyarkan suara angin yang menghampiri mereka.
"Apa yang kau bicarakan?" Edgar mengalihkan pandangannya dari nisan itu, menghadap lurus ke depan.
"Jangan berbohong padaku, walaupun sekarang aku masih membencimu karena tidak bisa menjaganya tapi mengingat sudah berapa lama kita bersama. Aku pasti tahu bagaimana cara kau mencintai seseorang, aku peringatkan kepadamu. Dia seorang wanita, dan kau bisa saja dengan sangat pedih menyakiti nya," Joshua menyandarkan tangannya di bahu Edgar.
"Aku tidak akan menyakitinya, sedikitpun tidak pernah terlintas di benakku untuk membuatnya terluka. Lagi pula aku merasa nyaman berada didekatnya, itu akan membuatku cepat mencintainya bukan?"
"Hahaha. Dasar bodoh, kau nyaman hanya karena dia terlihat mirip dengan Olivia. Dan kau juga tidak akan bisa mencintainya selama dihatimu masih ada Olivia. Dulu aku sudah melepaskan Olivia untukmu bukan, dan sekarang kau juga harus bisa melepaskannya," ucap Joshua bangkit dari sana.
"Oh ya. Asal kau tau, dia mencintaimu. Kau pasti juga menyadarinya. Aku akan memastikan, saat kau lengah sedikit saja. Aku bisa berubah pikiran untuk membuatnya menjadi milikku, seutuhnya," lanjut Joshua sebelum berjalan pergi dari sana.
__ADS_1
Edgar terdiam mematung disana, hatinya merasakan gejolak aneh membisikkan padanya jika dia tidak boleh melepaskan Rossi pada siapapun. Dia tidak rela. Dia tidak akan membiarkan nya.
"Apa yang dia pikirkan, bagaimana mungkin aku tidak bisa mencintainya. Dia--," Edgar teringat senyum Rossi padanya. "--Dia istimewa."
Beberapa saat berlalu, Edgar mengemudikan mobilnya berniat untuk mengunjungi kediaman Hans Alexandra, ayah Rossi.
Namun setiba disana, Mr Hans tidak ingin bertemu dengannya. Dan tidak mengizinkan dia untuk memasuki rumah itu selangkah pun.
"(Aku sudah bilang padamu, jika aku akan menemuimu saat debut putri ku selesai. Apa kau tidak bisa mendengarnya dengan baik?) Itulah yang tuan besar sampaikan, maaf kamu tetap tidak bisa masuk," kata seorang pria dengan tegas padanya di depan rumah itu.
Edgar terpaksa pergi meninggalkan rumah besar itu dan meneruskan mobilnya kembali. Tak jauh disana, dia berhenti di depan rumahnya, Kediaman Stevenson.
Ruang kerja Jerome Stevenson.
"Kau sangat lama, lamban," ucap Jerome saat Edgar memasuki ruangannya. "Ah, sudah lah. Karena kau sudah disini. Kita mulai saja, kau pasti sudah mendengarnya jadi Jeck. Pamanmu, Mike membuat keributan beberapa saat yang lalu dan tiba-tiba dia mengundurkan diri dari geng eagle dan tidak akan mengganggu posisi mu lagi."
"Ya. Aku sudah mendengarnya, ini pasti hanya permainannya saja. Jeck juga sudah menyelidiki nya, dia punya penyokong yang sepertinya cukup kuat. Namun kita tidak bisa mengakses atau pun menemukan orang itu. Pasti ada seseorang, apa ayah tahu siapa yang bisa menarik Mike yang gila itu," jawab Edgar sambil duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Menurutku, kita harus bisa menemukannya dulu. Atau setidaknya mengetahui siapa orang itu," kata Edgar kembali serius.
"Damian, Damian DeVille' Stevenson. Aku curiga, ini adalah dia."
"Hah? Ayahnya Joshua? Itu tidak mungkin, dia sudah lama meninggal. Bagaimana mungkin orang yang sudah tiada tiba tiba muncul dan melakukan pemberontakan, ayah?" Edgar berkata seolah tak percaya. Ya memang benar seseorang yang sudah tiada, mana bisa melakukannya.
"Tidak, saat itu. Kita berhasil menyelamatkan Joshua sebelum mobil itu meledak. Dan saat diselidiki, hanya ada dua mayat di sana. Setelah di autopsi dia bukan Damian, hanya ibunya dan sopir mereka. Karena tidak ingin Joshua mencari cari keberadaan ayahnya. Kami hanya bisa mengatakan padanya jika Damian meninggal disana," Jerome menjelaskan.
"Kenapa tidak membiarkan dia untuk bersama ayahnya? Kupikir itu akan lebih baik, dia tidak akan merasa kesepian," suara Edgar perlahan melemah. Dia teringat kebersamaannya bersama Joshua sejak kecil. Joshua bukankah orang yang seperti sekarang, dulu dia sangat penyendiri.
"Aku tidak akan membiarkannya," ketus Jerome bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah jendela kaca besar yang ada disana. Memperlihatkan pemandangan taman elegan kediamannya.
"Damian bukan pemimpin yang baik, jika aku membiarkan Joshua bersama dengannya. Aku yakin dia akan menjadikan Joshua sebagai bonekanya dan memperalat nya untuk tujuan busuknya. Dan untung saja, Joshua tidak sepertinya. Dia tidak tertarik pada dunia mafia, mirip dengan ibunya. Rosemary," lanjut Jerome.
__ADS_1
"Hmmm. Baiklah, aku akan berusaha untuk menyelidikinya. Bahkan hal kecil pun aku tidak akan melewatkannya," jawab Edgar.
"Itu lebih baik. Tapi apa kamu sudah bertemu dengan Hans?" Tanya Jerome.
"Belum," jawab Edgar sambil menaikkan pendek bahunya.
"Kita akan butuh relasi geng lion dalam urusan ini, dia pasti akan segera mendiskusikannya denganmu. Dia masih tidak ingin jika putrinya ikut andil dalam masalah ini, jadi jangan memberitahu apapun padanya," pinta Jerome.
"Ya."
Paris, Prancis.
Rossi dan Sarah hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang sebelum debut Rossi beberapa hari lagi. Mereka cukup banyak menghabiskan waktu diluar, ayah Rossi juga tidak menghubunginya. Hal itu membuat Rossi merasa tidak ada masalah apapun, namun tidak berlangsung lama. Dia merasakan ada sesuatu.
"Sarah, apa kamu tidak merasa jika akhir akhir ini ada yang mengikuti kita?" Tanya Rossi melihat dari balik tirai kamarnya ke luar.
"Ya. Aku juga merasa begitu, sepertinya ada mata mata di sekitar sini. Aku tidak menerima berita apa pun dari markas, apa markas juga tidak ada menghubungimu?" Tanya Sarah sambil memeriksa kembali ponselnya.
"Tidak. Terakhir kali aku meminta mereka untuk mengirim beberapa informasi kepadaku, dan setelah aku menerimanya. Mereka tidak mengatakan apapun."
"Informasi? Tentang apa?" Tanya Sarah mendekat pada Rossi yang masih berdiri di depan jendela bertirai itu.
"Bukan hal yang penting, hanya mengenai-- ya kamu tahu lah kan siapa," jawab Rossi berjalan mendekat ke tempat tidur, menjauh dari Sarah.
"Ih. Kirain sesuatu, pasti kekasihmu itu bukan," ledek Sarah padanya.
"Bukan, bukan sepenuhnya tentang dia. Hanya saja aku ingin tahu situasi apa yang aku hadapi sekarang ini," Rossi membaringkan tubuhnya di tempat tidur, menatap ke langit-langit kamar itu.
'Seseorang yang diharapkan atau yang mengharapkan,' gumam nya.
--***
__ADS_1