
Ruangan yang sangat mewah, sebuah panggung memanjang dengan dikelilingi oleh beberapa meja. Debut Rossi kali ini menghadirkan banyak model terkenal lainnya, dan tentunya hanya ada satu bintang. Rossi Alexandra.
Di ruang rias, mereka yang akan berada di panggung nantinya sibuk dengan menata kecantikan mereka di depan cermin yang dihiasi beberapa lampu kuning. Semuanya terlihat ceria, kecuali satu orang.
"Apa yang kamu pikirkan? Karena dia tidak menghubungimu?" Tanya Sarah sambil menata rambut Rossi.
"Hmmm.. entahlah, aku hanya kecewa saja. Dia tidak mendatangiku bahkan juga tidak menghubungiku," jawab Rossi sambil melihat ke layar ponselnya.
"Tenang saja, mungkin dia akan datang. Lagi pula ayahmu juga akan datang melihatmu," lanjut Sarah. Dia tidak ingin sahabatnya itu menjadi sedih hanya karena seorang pria. Yang datang lalu menghilang sesukanya.
"Benarkah? Apa ibu juga datang?," Rossi bertanya dengan bersemangat, memutar badannya berhadapan dengan Sarah.
"Hei. Hei, santai saja. Kamu bisa menghancurkan karyaku, duduk saja dengan tenang disini. Ayahmu hanya sendiri, mungkin ibumu mengurus sesuatu atau semacamnya. Dan acaranya akan dimulai, bersiaplah untuk kembali ke duniamu baby," Sarah sempat tersenyum sebelum pergi meninggalkannya.
Rossi memang merasa senang jika ayahnya datang, namun dia masih tidak henti mengecek layar ponselnya. Menunggu seseorang untuk menelepon ataupun mengirimkan pesan padanya.
"Dia tidak akan datang," gumam Rossi.
Di panggung acara, sudah banyak tamu yang datang. Dari yang muda, hingga yang tua pun hadir disana.
Waktu nya bintang utama memasuki altar panjang yang akan menyinari ruangan itu. Rossi berjalan disana dengan begitu energik, bahkan tidak ada sedikit kesedihan pun terlihat pada dirinya. Sangat berbeda dengan di ruang rias. Langkahnya selalu di sambut oleh flash kamera yang tak henti memotretnya.
Para tamu berbisik-bisik kagum melihatnya.
"Wah, auranya sangat kuat. Aku yakin dia sangat tepat sebagai ambassador produk ku," gumam salah satunya.
"Aku akan mengontraknya," gumam yang lain.
"Bagaimanapun caranya, dia akan berada dalam perusahaan ku. Walaupun harganya sangat mahal, itu akan sebanding."
"Wow. Nona ini akan cocok menjadi model apapun, aku akan menawarkan diri untuk menjadi fotografer pribadinya," batin seorang pria yang berdiri tak jauh dari panggung itu, dengan kamera di tangannya.
__ADS_1
Di lantai atas, di balik kaca besar pembatas yang tirainya sudah di buka. Seorang pria tampan yang duduk dengan begitu angkuh nya di sofa mewah berwarna merah. Dia sangat menikmati minuman di tangannya. Dan juga dua wanita yang tak henti membelai di kanan dan kirinya.
Dia melihat ke lantai bawah tempat acara itu berlangsung, tiba-tiba dia tersenyum.
"Aura yang terpancar dari dirinya memang kuat, tapi dimataku dia terlihat menyedihkan, bukankah begitu sayang ku?," katanya sebelum mencium seorang wanita yang berada di sebelah kanannya.
Wanita itu tidak menjawab, dia sedang menikmati ciuman pria tampan itu. Sangat menikmatinya.
"Tutup tirainya, aku ingin bersenang-senang dengan dua wanita cantik malam ini," ucap pria itu tersenyum nakal pada wanita yang berada di sebelah kirinya.
Waktu berlalu begitu cepat, para model sudah selesai dengan panggung mereka. Dan berbaur dalam keramaian para tamu. Tapi tidak dengan Rossi, setelah bertemu dengan ayahnya di ruang acara itu. Dia hanya menunggu di lantai atas sambil menikmati segelas anggur di tangannya. Menunggu seseorang yang tak dilihatnya saat acara berlangsung.
"Kenapa tidak minum di bawah saja, mungkin kamu bisa mendapatkan penawaran yang bagus," ucap Sarah yang berada di sampingnya.
"Aku malas saja berada disana, tidak ada yang menyenangkan, lagi pula cepat atau lambat aku akan mendapatkannya" kata Rossi sambil menggoyangkan anggur yang berada dalam gelasnya.
"Ah, terserah kamu saja. Aku ingin ke bawah sebentar. Dan jangan minum terlalu banyak, aku akan kembali," Sarah pergi dengan cepat dari ruangan itu.
"Apa semuanya sudah mengambil posisi?," bisik Sarah pada alat kecil yang baru di pasang di telinganya.
"Sudah, tapi sepertinya kita harus menambah orang." Ucap Vito dari seberang alat itu.
"Tentu saja, kamu bisa menghubungi beberapa orang yang berada di sekitar villa Montorgueil."
"Cepat lah ke posisimu," lanjut Vito.
"Ya."
Tak lama Sarah pergi dari sana, seseorang mengetuk pintu ruangan Rossi berada. Tanpa curiga siapa itu, Rossi mengizinkannya masuk. Seorang wanita menunduk padanya.
"Maaf mengganggu anda nona Rossi, tuan kami ingin bertemu dengan anda," ucapnya dari ambang pintu.
__ADS_1
"Suruh saja dia pergi, aku tidak ingin diganggu oleh siapapun," Rossi menghabiskan langsung satu gelas anggur yang berada di tangannya, tanpa melirik ke arah lawan bicaranya.
"Kamu berani mengusirku kelinci kecil?" Ucap seorang pria yang berjalan masuk mendekat padanya. Suara itu sontak membuat Rossi mengalihkan pandangan untuk melihatnya.
"Edgar, apa yang--," Rossi tidak menyelesaikan kalimatnya. Edgar sudah dengan cepat datang dan mencium bibirnya.
"Tentu saja ingin bertemu dengan model kesayanganku," ucap Edgar tersenyum nakal setelah melepas ciumannya, tak berselang beberapa detik dia kembali mencium Rossi. Dia mendorong tubuh Rossi untuk berbaring di sofa itu dan menindih wanita nya.
Melihat situasi yang terjadi, wanita yang berdiri di ambang pintu langsung undur diri dan menutup pintu itu pelan.
"Apa yang baru saja kulihat, baru beberapa saat yang lalu tuan muda marah besar dan sekarang dia terlihat sangat bahagia seperti itu. Nona Rossi memang bisa meluluhkan hatinya," batin wanita itu.
"Siapa yang model kesayangan mu, aku sudah memutuskan kontrak dengan perusahaan yang kau beli di kota S. Dan sekarang aku juga tidak ingin--."
Edgar sangat agresif, dia mencium Rossi lagi. Tidak ingin mendengar pendapat apapun dari Rossi. Jujur saja, Edgar memang merindukan wanita nya. Entah itu sebuah perasaan atau hanya sekedar memenuhi kebutuhan.
"Setelah ini aku akan menjadikan kamu satu satunya model ku, akan kulihat sampai kapan kamu akan menolaknya," Edgar tersenyum puas di atas tubuh Rossi. Dia kembali mencium Rossi, bahkan beberapa kali menelusuri leher jenjang wanitanya. Tangannya juga ikut andil dalam permainannya.
Dor.
Suara tembakan menghentikan kegiatan mereka, Edgar dengan segera bangkit dari atas tubuh Rossi. Dengan cepat dia sudah berada di depan jendela besar yang memperlihatkan keadaan di ruang acara. Seseorang tertembak, itu Hans Alexandra.
Rossi menyusul Edgar, dia juga ingin tahu apa yang terjadi di bawah. Semua tamu terdengar ribut.
Matanya masih berfungsi dengan jelas, itu ayahnya. Orang yang tertembak, tanpa menghiraukan keberadaan Edgar. Rossi langsung berlari keluar dari ruangan itu. Dia masuk ke dalam lift dengan begitu tergesa-gesa, dan sebelum pintu tertutup tangan seseorang menahannya. Itu Edgar.
Edgar dengan cepat menyusul Rossi, mereka di dalam lift bersama.
"Edgar, apa kamu tau apa yang terjadi?" Tanya Rossi cemas.
"Lebih baik kita tidak membahasnya dulu," jawab Edgar dengan wajahnya yang sangat serius.
__ADS_1
--***