
Cinta. Sebuah kata yang membawa manusia berada dalam kebahagiaan maupun kesedihan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan, selalu menyakitkan. Tapi apa ada awal yang baru?
Kembali memulai, melupakan cinta lama. Memang tidak mudah dan butuh waktu. Itu berlaku bagi semua orang, tak membedakan jenis kelaminnya. Wanita maupun pria.
Tengah malam, Joshua masih terbangun. Dia tidak bisa tidur, pikirannya berlarian kesana-kemari. Sangat kacau.
Di balkon lantai atas kediaman Stevenson, Joshua duduk di tembok beton yang melingkar mengelilingi balkon itu. Balkon yang cukup tinggi, mungkin jika terjatuh dari sana paling ringan adalah patah tulang.
Tembok bercat kuning yang terlihat begitu kokoh. Dia memandangi langit, tak ada bintang yang muncul.
Ting.
Sebuah pesan baru masuk ke ponsel yang berada di sampingnya. Itu pesan dari Jane, dengan cepat Joshua membuka pesan itu.
Sebuah foto seorang wanita terlihat di layar. Itu Jane. Dia tampak tidur dengan nyenyak. Rambutnya terurai panjang, begitu ringan dan sangat halus. Tubuh Jane membelakangi kamera itu. Namun Joshua yakin jika itu Jane.
Ting. Ting. Ting
Tiga pesan lagi dari nomor yang sama, Jane.
[Jane: Terimakasih sudah menyia-nyiakan wanita semanis dia]
[Jane: Dia bermain dengan baik, sangat mempesona. Aku sangat puas dengannya]
[Jane: Tubuhnya begitu indah, bahkan aku tidak bisa melupakan setiap lekuk tubuhnya]
Itu pasti bukan Jane yang mengirimnya, melainkan Zeck. Pria yang mengaku jika Jane adalah calon istrinya pada Joshua. Walaupun sebenarnya Zeck tidak akan menyentuh Jane apalagi menidurinya. Dia hanya ingin memprovokasi Joshua.
Setelah membaca pesan itu, Joshua menjadi tidak fokus dan duduknya menjadi tidak seimbang. Dia terjatuh.
Hap.
Tiba-tiba seseorang menggenggam tangan Joshua, menahannya agar tidak jatuh. Seorang pria, sangat familiar. Itu Edgar.
Dengan kekuatan lengan kekarnya, Edgar menarik Joshua ke atas dalam satu tarikan saja. Joshua berhasil diselamatkan, untungnya dia tidak akan mengalami patah tulang. Cukup sudah dia merasakan patah hati.
"Apa yang kau lakukan? Ingin bunuh diri? Jika aku terlambat sedetik saja, kamu akan tergeletak di bawah dengan begitu mengenaskan," kata Edgar kesal.
"Seharusnya kau tidak datang," balas Joshua sambil berdiri dengan seimbang.
"Gila. Apa yang sedang mengganggumu?"
"Bukan apa-apa, tapi apa yang kau lakukan disini? Tidak bersama dengannya?" Tanya Joshua.
"Tidak, mr.hans menyuruhnya pulang. Jadi aku hanya bisa menurut," jawab Edgar kecewa.
"Huh. Apa yang kau risaukan, lagipula dia sudah menjadi milikmu."
"Ya. Ada apa denganmu hari ini, kau terlihat seperti sudah kehilangan sesuatu. Oh ya, kenapa kamu mencari mansion Zeck?"
"Kamu mengenalnya?"
"Ya tentu saja, dia rekan bisnisku. Lalu bagaimana dengan Jane? Apa kamu sudah menemukannya?"
"Ya sudah. Maaf aku sudah menyalahkan mu terkait kematian olivia, aku juga mendapat kebenaran lain disana. Jane akan menikah dengan pria itu," lanjut Joshua.
"Menikah? Dengan Zeck? Bagaimana mungkin pria yang gila wanita itu akan menikah," kata Edgar tak percaya dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
Joshua menatap Edgar tajam, menantikan kelanjutan perkataan nya.
"Kau tau apa artinya, kenapa aku harus menjawab pertanyaan bodoh itu," jawab Edgar santai.
Mendengar itu Joshua berbalik arah dan mulai melangkah. Namun tepat di perbatasan balkon, langkahnya terhenti saat mendengar pertanyaan Edgar.
"Kenapa? Sudah menyesal?" Tanya Edgar padanya.
Joshua sempat mematung sekejap sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan Edgar.
"Aku ingin istirahat," jawab nya singkat dan berlalu pergi.
Edgar menyeringai kecil melihat tingkah Joshua. Dia menatap ke arah kediaman Alexandra.
"Jika aku membuatmu menunggu lama, apa aku juga akan kehilangan dirimu," ucapnya mengingat Rossi.
Di kamarnya, Joshua kembali berpikir. Sejak awal dia memang tidak bisa berhenti memikirkan Jane. Dia melihat lagi foto yang dikirimkan ke ponselnya, menatap wanita itu.
"Jika dia pria yang seperti itu, untuk apa dia menjadikanmu calon istrinya," pikir Joshua.
***
Matahari mulai muncul dari balik bukit, memancarkan cahayanya perlahan. Rossi bangun pagi sekali, dia sudah mulai berolahraga. Sendirian. Dia sudah tidak sabar untuk melancarkan rencana malam hari nanti, dia menjadi begitu bersemangat.
Seiring waktu berlalu, semua orang mulai terbangun dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Tepat pukul sembilan pagi, mobil sport hitam terparkir di pekarangan kediaman Alexandra. Mobil itu membawa dua orang, Zeck dan Jane. Mereka berdua disambut baik oleh setiap orang yang mereka temui.
Tepat saat itu, Rossi sedang menembak bersama Sarah di halaman belakang. Mereka terlihat begitu serius dan fokus menembak. Hingga Zeck muncul dan mengacaukan konsentrasi mereka.
Rossi dan Sarah terdiam sejenak melihat dua orang itu.
'Bukankah Jane dengan Joshua', inilah yang mereka berdua pikirkan.
"Oh Zeck, kamu sudah datang."
Rahel tiba-tiba muncul di belakangnya, ia bergegas berjalan mendekat pada Zeck dan Jane.
"Dan siapa wanita di sampingmu?" Tanya Rahel pada Zeck.
"Dia calon istriku," jawab Zeck santai sambil mengecup kening Jane.
"Hah?" Kata Rossi dan Sarah serentak.
"Jadi dia yang membuatmu pergi terburu-buru kemarin?" Tanya Rossi yang berjalan mendekat padanya.
Jane tidak tahu ingin berkata apa, dia merasa canggung. Zeck tidak mengatakan apapun sebelum pergi terkait kemana dan bertemu siapa.
"Hai kak Jane," sapa Rossi berusaha membuat Jane terasa nyaman disana.
"Hai Rossi," balas Jane.
"Kalian saling kenal, itu bagus. Rossi bawalah dia bermain, aku ada urusan dengan ayahmu," ucap Zeck melepaskan Jane darinya.
"Oke."
__ADS_1
Rossi menarik Jane pergi bersamanya, Sarah dan Rossi mengajarkan cara menembak pada Jane. Mereka bertiga terlihat begitu akur.
Sementara itu, Rahel pergi bersama Zeck menemui Hans Alexandra. Diperjalanan, Rahel tak henti menasehati Zeck.
"Dia cantik. Kamu harus melepaskan para wanitamu yang tidak jelas itu," kata Rahel.
"Iya bibi."
"Dan juga perlakukan dia dengan baik, dia sepertinya seorang wanita yang lembut dan sangat rapuh."
"Iya iya. Aku tau."
"Oh ya, cepatlah menentukan tanggalnya. Aku sudah tidak sabar untuk menggendong cucu."
"Iya bibi ku yang bawel, aku pasti tidak akan mengecewakanmu," jawab Zeck.
Mereka tiba di depan ruangan Hans, Zeck masuk kesana sedangkan Rahel berbalik arah dan berjalan pergi. Dia tidak ingin ikut campur dalam dunia mafia.
Terlihat di ruangan itu, Hans sedang sibuk dengan komputernya. Tapi Zeck tidak ingin menunggu.
"Paman, apa maksudmu membiarkan dia terlibat dalam rencana ini?" Tanya Zeck langsung tanpa menyapa terlebih dahulu.
"Masuk tanpa permisi, meninggikan nada bicaramu. Apa kamu sudah lupa tatakrama?"
"Huh. Paman Hans yang bijaksana, bisakah kita berbincang sebentar," lanjut Zeck.
"Hmm. Ada apa?" Tanya Hans menghentikan kegiatannya.
"Kenapa Joshua ikut terlibat dalam rencana, bagaimana jika dia berpindah memihak pada ayahnya. Apa kamu tidak memikirkan hal itu?"
"Oh itu, bukan aku yang mengaturnya. Bukankah kamu sudah memberikan wewenang pada Rossi, tanyakan saja padanya. Lagi pula putriku sudah berpikir panjang sebelum memutuskan, aku percaya dengan keputusan nya dan juga Joshua. Dia tidak akan berpaling."
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"
"Kamu meragukan ku?"
"Huh. Baiklah, aku tidak akan memprotes itu lagi. Tapi jika dia berpaling, aku yang akan menghabisinya dengan tanganku sendiri."
"Ya tentu, terserah kamu saja."
Hans kembali sibuk dengan komputernya. Dan Zeck mulai tenang dan duduk di sofa.
"Oh ya paman, aku dengar Rossi akan bertunangan dengan Joshua. Aku tidak setuju."
"Apa maksudmu?"
"Ya itu, aku tidak setuju. Lagi pula Rossi punya kekasih. Bagaimana mungkin dia bertunangan dengan Joshua, jika paman masih ingin mereka bertunangan. Aku akan mengacaukannya," ucap Zeck serius.
"Bocah. Kau berani mengancamku? Dan kekasih yang kamu maksud itu apakah Edgar?"
"Ya."
Hans sempat terdiam sejenak, otak nya mulai berpikir panjang sebelum mengutarakan kalimat lagi.
"Baiklah. Jika terkait masalah itu urus saja olehmu, selama itu bisa membuat putriku bahagia," lanjut Hans.
"Oke. Bye bye paman."
__ADS_1
Zeck meninggalkan ruangan itu dengan mood yang baik.
--***