Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.37


__ADS_3

Aéroport Paris-Charles de Gaulle, Paris, Perancis.


Sudah hampir subuh. Bandara besar dengan luas sekitar 32 kilometer persegi. Tidak banyak orang disana. Petugas bandara yang pasti ada, pendatang yang baru sampai dan orang yang menunggu. Menantikan kedatangan seseorang.


Seorang pria berjalan ke pintu keluar dengan di iringi beberapa orang di belakangnya. Dia sedang menelepon. Edgar Julian Stevenson.


"Apa? Dia tidak ada di sana?" Tanya Edgar dengan memperbesar volume bicaranya. Sehingga membuat beberapa orang di sekitar melirik padanya.


"Yap. Tidak ada, dia pergi ke Paris. Apa kamu tidak tau? Kupikir kalian akan pergi bersama ke pesta itu," kata Carel sedikit heran dari seberang telepon.


"Oh. Aku tidak pergi bersamanya, mr.hans tidak akan memperbolehkan aku membawanya."


"Apa ini mengenai Olivia lagi?" Tanya Carel.


"Ya. Aku masih belum bisa membuktikannya. Tapi apa yang dilakukan wanita itu di sini?"


"Apa kau tidak waras. Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri. Bukankah kalian sepasang kekasih," ucap Carel dengan nada sedikit mengejek.


"Apa kau ingin mati? Kirim alamat dia tinggal sekarang." Edgar mematikan panggilan itu.


"Apa dia menganggapku angin lalu saja? Dia bahkan tidak mengabari ku apa pun. Lihat saja, bagaimana aku akan menghukummu nanti."


Edgar memasuki mobil yang berada di depan bandara. Mobil putih yang sudah berada disana sejak beberapa jam yang lalu.


Ting!


Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk.


[Carel: 1 pesan baru]


"Ini.. Apa aku harus kesini." Edgar cukup banyak berpikir. Isi pesan itulah yang membuatnya harus berpikir panjang. Tempat yang tertulis dalam pesan itu adalah villa Olivia dan cukup banyak kenangan disana.


[Carel: Villa Montorgueil. Aku tidak perlu memberikan alamat lengkapnya bukan?]


[Edgar: Y]

__ADS_1


[Carel: Apa kau begitu tidak tahu terimakasih\=_\=]


[Edgar: Read✔️✔️]


Edgar melempar ponsel itu ke sampingnya. Dan terdiam sejenak. Diamnya membuat suasana di dalam mobil itu menjadi menakutkan. Sopirnya menjadi berkeringat dingin. Kenapa tuannya hanya diam tanpa ekspresi seperti itu. Dia berpikir seperti itu.


"Villa Montorgueil," ujar Edgar tanpa melirik ke sopir itu.


Dengan cepat dia keluar dari pekarangan bandara besar dan luas itu. Tak lama mobil itu beranjak dari sana, sebuah mobil biru gelap berhenti tepat di tempat mobil sebelumnya parkir.


Seorang wanita keluar dari mobil itu. Dia berdandan rapi dan ya tetap memperlihatkan aura cantiknya. Wajar saja, dia seorang model. Dia tidak sabar untuk menjemput seseorang. Pria?


"Jane. Apa yang kamu lakukan disini." Joshua keluar dari pintu besar bandara itu dengan diikuti oleh seorang wanita, sekretaris nya.


"Aku? Tentu saja menjemputmu," ucap Jane dengan senyum manis di wajahnya.


"Ah. Aku sudah bilang tidak usah jemput aku ke bandara. Kenapa kamu sangat keras kepala." Joshua terlihat sedikit kesal. Dia tidak ingin menyakiti wanita itu. Atau pun memberikan harapan palsu.


"Hmmm.." Jane hanya membalasnya dengan tersenyum.


"Baiklah." Joshua tidak mungkin menolak jemputan itu, wanita itu sudah rela menjemputnya selarut ini. Bukan, bahkan hampir subuh.


"Hah. Aku ingin kamu tenang disana." Edgar menatap ke luar jendela. Langit dipenuhi oleh taburan bintang. Sangat indah.


Tak lama kemudian, mobil putih itu berhenti di depan sebuah villa. Edgar tidak turun, dia cukup lama berada di dalam mobilnya. Menatap ke arah pintu itu. Terbayang di matanya, Olivia menyambut kedatangannya saat itu. Olivia langsung menciumnya. Dan senyum wanita itu, masih teringat dengan jelas di kepalanya.


"Tuan.. kita sudah sampai," kata sopir yang berada di bangku depan mobil, dia dengan kegugupan yang menjalari seluruh tubuhnya berusaha untuk mengeluarkan suaranya. Perkataannya membuyarkan kenangan Edgar.


"Ya. Aku tau," kata Edgar singkat.


Sopir itu hendak keluar untuk membukakan pintu tuannya. Namun Edgar dengan cepat menyuruhnya kembali duduk tenang disana. Dan tidak melakukan apa pun. Dia hanya bisa mematung dan tak bergerak sedikitpun.


"Aku bisa membukanya sendiri." Edgar bersandar ke bangku nya. Dia berusaha menenangkan pikirannya.


Tak lama kemudian, dia melihat ke arah lantai atas, seharusnya itu kamar Olivia. Dia tau itu. Rossi pasti tidur disana, karena hanya ada satu kamar di villa itu. Kamar itu gelap, menandakan pemiliknya sedang beristirahat.

__ADS_1


Edgar keluar dari mobilnya, bersandar di sana. Dia mengambil sebatang rokok dari kotak yang berada di sakunya. Tepat sebelum Edgar menghidupkan rokok dengan pemantik di tangannya. Kegiatannya terhenti saat seorang wanita membuka pintu, dia hanya memakai piyama tipis berwarna merah muda.


Wajah itu tidak asing. Edgar mengenalnya. Itu Rossi. Dia belum tidur, atau memang tidak tidur?


Sebelumnya di lantai atas.


Rossi dan Sarah cukup lama mengobrol tentang Olivia, hal itu membuat Sarah menjadi cepat mengantuk dan tertidur. Dia bahkan tidak sempat bermain game sebelum tidur. Tapi Rossi tidak mengantuk, dia malah ingin mendengar lebih cerita lagi dari Sarah.


Rossi sudah berusaha untuk tidur, ya tapi setiap dia memejamkan matanya. Bayangan itu selalu muncul. Mengganggu pikirannya.


"Sepertinya aku butuh air untuk menenangkan pikiranku." Rossi berjalan ke bawah tanpa menghidupkan lampu. Langkahnya diterangi oleh cahaya rembulan yang bersinar terang. Bulan purnama.


Tanpa sengaja, dia melihat cahaya di luar. Terlihat dari lampu sorot yang masih menyala, sebuah mobil. Rossi mengintip dari balik tirai. Dia sempat terkejut, seorang pria yang dia kenal. Bukan, tapi seseorang yang dia tunggu. Terlintas di benaknya, 'Kenapa Edgar bisa ada di sana. Dan untuk apa?'


"Dia ingin menemuiku?" Dengan perasaan bahagia, Rossi membuka pintu itu. Namun sekejap perasaan itu berubah setelah melihat dengan jelas wajah Edgar.


'Bukan. Dia kesini bukan untukku,' batin Rossi. Dia perlahan menutup pintu itu kembali. Tapi Edgar sangat cepat, dia bahkan sempat untuk menahan pintu itu agar tidak tertutup.


"Hah. Mengagetkan saja." Rossi melangkah mundur. Tiba-tiba pintu itu di tahan sesuatu. Tangan Edgar menahannya.


Dengan cepat Edgar masuk, mendorong tubuh Rossi bersandar ke pintu dan menutup pintu dengan rapat. Mata mereka mulai bertatapan. Cukup lama hingga Edgar memegang lembut dagu Rossi dan sedikit mengangkatnya.


"Kelinci kecil ku. Apa kamu ingin menghindari ku? Atau ingin pergi dari ku." Edgar mempertajam tatapannya. Sangat mengintimidasi.


"Apa yang kamu bicarakan. Aku tidak menghindar darimu. Aku hanya.. hanya--" Rossi sempat berpikir panjang, dia tidak mungkin memberitahu Edgar mengenai pesta itu.


Edgar menaikkan alisnya curiga. "Ha iya. Aku akan debut disini beberapa hari lagi. Model. Kamu tau bukan?"


Edgar masih menatapnya seakan mengetahui jika Rossi menyembunyikan sesuatu darinya. Namun akhirnya Edgar berusaha mempercayai wanitanya.


'Dia tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari ku. Lagi pula apa yang akan disembunyikannya,' pikir Edgar.


"Lalu bagaimana aku harus menghukummu?" Edgar menyeringai nakal.


Rossi sudah tahu apa yang akan terjadi setelah senyuman itu. Tanpa jawaban dari Rossi, Edgar langsung mencium nya, sangat dalam. Membuat Rossi kesulitan mengatur nafasnya. Edgar mengangkat satu kaki Rossi hingga pinggulnya. Tangannya cukup lama berada di paha mulus Rossi. Rossi hanya mengikuti gerakan Edgar. Dia menikmatinya.

__ADS_1


Edgar mengangkat tubuh Rossi, dengan masih menghadap padanya dan mulut mereka masih tertaut. Ciuman mereka bahkan belum lepas. Mereka pindah ke sofa yang berada tidak jauh dari pintu itu. Mereka cukup lama hanya bermain-main, tapi tidak sampai melakukannya lagi. Matahari sudah hampir terbit. Rossi tidak ingin Sarah tiba tiba muncul dan melihat mereka bercinta disana.


--***


__ADS_2