Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.60


__ADS_3

Rossi kembali terbangun tanpa ada siapapun yang menyambutnya. Edgar sudah tidak ada disana, Rossi sudah terbiasa dengan itu. Menghilang.


Olahraga itu penting, namun olahraga yang berlebihan di malam hari itu tidak baik. Tubuh Rossi serasa mati rasa, Edgar sangat menyiksanya. Wanita itu harus melakukan peregangan dulu sebelum bangun dari tempat tidur.


Dia melangkah begitu santai tanpa busana ke kamar mandi. Merendamkan tubuh nya di bathtub. Pikirannya begitu tenang, tidak ada lagi yang akan dia risaukan. Edgar sudah memutuskan untuk bersamanya.


Dan sekarang Rossi hanya harus menjalani kisah percintaan nya dengan Edgar. Entah itu cerita yang berakhir bahagia atau sebaliknya.


Rossi selesai dengan tubuhnya, dia memakai setelan kasual. Baju kaos oversize yang dilengkapi dengan celana pendek. Menampakkan betapa putih dan mulusnya kaki yang dia miliki. Dari paha hingga ujung kakinya.


Rambutnya masih basah, Rossi berjalan ke arah meja yang berada di sudut di ruangan itu. Namun bukan pengering rambut yang diambilnya tapi kotak kecil yang dia temukan saat itu. Yang belum sempat melihat isinya, entah apa yang berada di dalam kotak indah itu.


"Ini kotak itu, kenapa bisa ada di atas meja," batin Rossi bingung. Dia sudah cukup lama mencari saat itu, tidak menemukannya. Dan sekarang kotak itu berada di tempat yang mudah ditemukan, bagaimana bisa?


Prang. Duk. Duk


Suara berisik dari bawah, Rossi tidak sempat melihat apa isi kotak tersebut. Dia sudah penasaran dengan suara yang cukup mengagetkan itu. Dengan rambutnya yang masih basah, belum sempat di keringkan nya. Dia turun ke lantai bawah dan langsung saja mengikat rambutnya sembarangan.


Para pelayan berkumpul tak jauh dari dapur, mereka terlihat sangat cemas. Edgar sibuk di dapur, dia seperti memasak sesuatu. Keluar asap dari teflon yang berada di atas kompor.


Melihat hal itu, Rossi bergegas menghampiri Edgar dan mematikan kompor itu dengan cepat. Gosong, entah apa itu yang berada disana.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Tanya Rossi penasaran.


"Memasak," jawab Edgar terlihat begitu percaya diri.


"Hah? Masak? Aku tidak ada melihatmu memasak apapun, kamu hanya menjadikannya seperti arang. Memangnya kamu ingin memasak apa?


"Nasi goreng," jawab Edgar terlihat profesional.


"Lalu?"


"Tidak ada, hanya itu saja."


"Hanya nasi goreng saja? Edgar… huh. Sudah lah, biar aku yang memasak. Kamu tunggu saja di meja makan."


"Tidak. Aku akan selesai sebentar lagi," ucap pria itu sambil memecahkan telur di atas mangkuk.


Rossi tersenyum lebar melihat telur itu yang ditekan kuat oleh Edgar. Membuat kulitnya ikut masuk ke dalam mangkok.


"Sebentar lagi apanya, kamu hanya akan menghancurkan dapur ini."


"Kamu berani meremehkan ku, aku bisa. Tunggu--"


"Shutt." Rossi menutup mulut Edgar dengan ujung jarinya. "Sayang, menurutlah."

__ADS_1


Melihat tatapan Rossi padanya. Edgar menyerah, dia mengakui kekalahannya. Ego nya sudah dihipnotis oleh Rossi. Edgar merunduk dan berbisik di telinga Rossi.


"Baiklah, aku akan menunggumu di ruang kerjaku," ucap Edgar melirik pada dua bukit yang belahannya tampak dari atas baju itu.


"Apa yang kau lihat?" Rossi dengan cepat menyilangkan kedua tangannya.


Edgar pergi dari sana dengan senyum senang. Dia berada pada tingkat mood yang baik.


Rossi menghela nafas panjang melihat betapa berantakannya dapur itu. Entah apa saja yang sudah dilakukan pria itu. Rossi lanjut memasak, Bi Yoona dan para pelayan yang lain ikut membantunya. Mereka membereskan kembali perabotan dapur pada tempatnya.


Bi Yona membantu Rossi menyiapkan bahan-bahan nya.


"BI Yon, kenapa tidak ada yang membantunya. Dia sudah hampir meledakkan dapur ini," canda Rossi pada wanita berumur yang berada di sampingnya.


"Maaf nona, tuan muda tidak ingin kami bantu. Dia menatap dengan tatapan yang menyeramkan, saya saja tidak berani membantahnya, apalagi yang lain nona. Tuan muda juga dengan percaya diri mengatakan jika dia ingin membuat sesuatu untuk nona." Bi Yona menjelaskan.


Rossi tersenyum bahagia mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Bi Yona padanya.


"Kekanakan," ucapnya dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.


Tak butuh waktu lama, tercium bau harum dari nasi goreng yang dimasak oleh Rossi. Begitu penuh dengan cinta. Bumbu yang sangat khas dan spesial.


Rossi membawa sepiring nasi goreng dan segelas jus ke lantai atas, ruang kerja Edgar. Pintu nya tak dikunci, tak juga tertutup. Sudah menjadi kebiasaan pria itu tidak menutup pintu.


Wangi nasi goreng memenuhi ruangan itu, menusuk ke hidung Edgar. Membuatnya berpaling dari pekerjaannya. Rossi tiba di sampingnya, dia sudah meletakkan sarapan untuk Edgar di atas meja.


"Suapi aku," pinta Edgar manja pada Rossi. Dia menatap Rossi dengan mata berbinar seperti anjing kecil. Sungguh tidak cocok dengan badannya yang kekar itu.


"Manja," Rossi tersenyum pasrah. Lagi pula tidak ada salahnya menyuapi pria besar itu. Edgar puas trik manjanya berhasil. Dan dia kembali pada pekerjaannya.


Saat nasi goreng itu bersisa setengah lagi, Rossi teringat akan kotak yang dia lihat sebelumnya dan langsung saja menanyakannya pada Edgar.


"Oh ya, aku melihat kotak kecil indah di kamarmu. Apakah itu sesuatu yang istimewa?"


"Kotak? Kotak yang mana? Aku tidak ingat ada kotak yang istimewa di kamarku," jawab Edgar tanpa menatap Rossi balik.


"Itu--, ah tunggu sebentar. Biar aku ambil."


Rossi bergegas keluar dari sana dan pergi ke kamar tidur. Dia mengambil kotak itu, tapi tidak membukanya. Rossi kembali ke ruang kerja Edgar dengan membawa kotak kecil itu di tangannya.


"Wah, kamu makan dengan lahap ya."


Nasi goreng itu sudah habis, Edgar menghabiskannya dalam waktu sesingkat itu. Entah karena memang sangat enak atau karena Rossi yang membuatnya.


Edgar hanya tertawa kecil tidak membalas, hingga Rossi meletakkan kotak kecil itu di atas meja. Ekspresi wajahnya langsung berubah, dan kegiatannya berhenti sejenak.

__ADS_1


"Kotak ini yang ku maksud," ucap Rossi.


Edgar langsung berdiri, dia mengambil kotak itu dan memberikannya pada Rossi.


"Bukalah," ucapnya.


Dengan hati-hati, Rossi membuka kotak itu. Terpapar sebuah cincin bermata Ruby yang sangat sempurna.


"Wah, ini sangat cantik."


Rossi mengambil cincin itu dari kotaknya, memakaikannya di jari manisnya. Begitu indah.


"Suka?"


"Ya. Sangat suka."


Rossi melepaskan cincin itu dan memperhatikan dengan seksama setiap sudutnya. Tak lama ekspresi wajahnya pun ikut berubah, dia menemukan ukiran huruf O di dalam cincin itu.


"Apa ini--,"


Dengan cepat Edgar memeluk tubuh Rossi, sangat erat.


"Aku tidak pernah bermaksud untuk menyimpannya, ku pikir kotak itu sudah hilang. Ternyata ada di kamarku. Jangan salah paham denganku."


Edgar menarik kepala Rossi menghadap padanya.


"Itu masa lalu." Edgar mengecup lembut bibir Rossi.


Rossi masih belum berkata apapun, dia hanya menatap ke mata Edgar. Dia seperti merasakan ada luka di mata itu. Luka masa lalu. Rossi memeluknya kembali.


"Aku percaya padamu."


Mereka kembali berciuman, sementara layar monitor masih menyala. Ada seorang pria di layar itu, dia dengan fokus menyaksikan percintaan dua insan tersebut.


Ternyata Edgar tanpa sengaja sudah menekan tombol untuk menghubungi Carel. Dia memang hendak menghubunginya untuk menanyakan perihal sesuatu.


Untung saja Carel tidak langsung bersuara saat panggilan itu terhubung, dia juga baru bangun. Dan pertunjukkan itu yang membuat nya tersadar penuh.


Dia merasa diabaikan, setelah dihubungi malah menjadi nyamuk.


"Uh-huk. Hrrmmm."


Batuk Carel menyadarkan keduanya. Edgar menyerngit tak suka dan langsung mengakhiri panggilan itu. Kembali memadu kasih dengan wanitanya.


--***

__ADS_1


__ADS_2