
Hari pertunangan Zeck dan Jane.
Di kamar, Jane ditemani oleh Rossi dan Sarah untuk bersiap. Namun setelah selesai merias dan mengatur gaun Jane, Sarah izin pergi karena ingin melakukan beberapa urusan.
Mengenai pertunangan ini, awalnya Hans ingin agar pertunangan tersebut dilakukan di kediamannya. Kediaman Alexandra. Tapi Zeck menolak. Dia ingin melangsungkan nya di mansion nya, tempat dia pertama kali bertemu dengan Jane.
Jane menjadi begitu mempesona dengan gaun biru cemerlang yang dihiasi oleh beberapa glitter cantik. Riasannya pun senada dengan gaun tersebut, Sarah memang ahli dalam masalah pakaian dan riasan. Bagaimana tidak, dia lulusan terbaik saat menyelesaikan kuliahnya.
Di samping Jane yang duduk manis, Rossi berdiri dengan gaun merah muda di sampingnya. Dia terlihat bahagia, berbeda dengan Jane yang masih gugup.
"Kak Jane, kamu kenapa? Ingat Joshua yah?" Tanya Rossi berniat agar Jane bisa melepaskan pikiran yang mengganggunya.
"Hmmm.. ya mungkin bisa dibilang seperti itu, Rossi. Aku minta maaf…"
"Maaf? Kenapa kak Jane? Kenapa kamu tiba-tiba meminta maaf padaku? Seingatku kamu tidak pernah membuat salah padaku, tapi jika Zeck yang mengucapkannya aku pasti tau. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu kak Jane?"
"Ya. Kamu tahu Rossi, aku sangat mencintai Joshua. Bahkan saat dia memutuskan untuk bertunangan denganmu, sempat terlintas di benakku untuk mendapatkannya dengan segala cara. Bahkan hampir saja aku gegabah untuk menyakitimu saat itu."
"Kak Jane, tidak usah dipikirkan. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu, aku tahu bagaimana rasanya saat kita jatuh cinta tapi orang itu tidak membalas nya seperti yang kita inginkan."
"Kamu benar Rossi, kita wanita memang tidak boleh terlalu berharap saat jatuh cinta."
"Kak Jane, sudah lah. Kamu tidak boleh memikirkan Joshua lagi, sudah ada Zeck yang akan menjadi pasanganmu. Masa depanmu."
Rossi menenangkan Jane. Dia tahu apa yang dirasakan Jane, dia juga melihat bagaimana hancurnya wanita itu saat di Paris. Tepat saat dia menangis tersedu-sedu dan Joshua tidak peduli sedikitpun. Itu pasti sangat menyakitkan.
"Terimakasih Rossi."
Jane menghela nafas panjang, Rossi menyadari jika Jane butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Rossi meninggalkan wanita itu sendirian dan pergi ke lokasi pesta. Ke tempat Edgar dan para tamu berada.
"Ya Rossi benar, aku hanya harus melupakannya dan memulai hidup baru dengan Zeck." Jane meyakinkan dirinya sendiri yang terpantul di cermin.
Tuk. Tuk. Tuk.
__ADS_1
Terdengar ketukan dari pintu balkon kamar itu. Pintu berlapiskan kaca yang tertutup tirai putih bersih. Ada seseorang di luar. Jane mendekat ke pintu itu dan membuka kuncinya.
Pintu terbuka, Jane mematung melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu terlihat putus asa, Joshua. Tanpa berbicara sedikitpun, dia menarik Jane dalam pelukannya.
"Jane maafkan aku,.." ucap Joshua lirih.
"Jo, kenapa kamu disini. Dan bagaimana kamu bisa naik ke atas?" Tanya Jane.
"Itu tidak penting, kita harus segera pergi dari sini. Pesawatnya akan berangkat sebentar lagi, jadi ayo," ajak Joshua sambil menariknya pergi menuruni balkon itu dengan bantuan tali. Namun Jane berhenti, dia menahan Joshua. Tak mengikuti langkah pria itu.
"Jane, ada apa? Kenapa kamu berhenti? Apa kamu--"
"Ya. Aku tidak ingin pergi, aku ingin tetap disini. Memulai hidup yang baru bersama Zeck."
"Jane…"
Plok. Plok. Plok.
"Haha. Ternyata penyakit itu menurun kepadamu, ayah dan anak sama saja. Mengambil milik orang lain seenaknya. Memang ya, buah itu tak pernah jatuh jauh dari pohonnya."
Buk.
Zeck memukul Joshua sangat keras, membuat hidung nya langsung berdarah. Joshua tumbang, dia terjatuh. Zeck meraih Joshua dan memukulnya habis-habisan yang membuat pria itu tidak bisa melawan sedikitpun.
"Zeck. Hentikan, Zeck lepaskan dia.. kamu bisa membunuhnya." Jane berusaha menahannya. Tapi tidak bisa, tenaganya sangat lemah untuk menghentikan kemarahan Zeck pada Joshua.
'Bagaimana ini, Joshua bisa mati jika terus dipukuli oleh Zeck. Edgar, ya Edgar. Aku harus menemuinya.' pikir Jane.
Dengan susah payah Jane berlari keluar dari ruangan itu karena gaun yang dia kenakan. Untung saja Edgar berada tak jauh dari ruangan itu. Dia bersama dengan Rossi, memang hendak ke kamar tersebut.
"Edgar tolong, tolong Joshua. Zeck, dia tidak henti memukulinya," ucap Jane terburu-buru.
Dengan cepat Edgar bergegas ke ruangan itu. Zeck masih memukuli Joshua. Dengan sekuat tenaga nya, Edgar berhasil menarik Zeck dari atas tubuh Joshua yang sudah tidak berdaya namun untungnya masih sadar.
__ADS_1
"Zeck tenanglah, kamu bisa membunuhnya," kata Edgar.
Edgar menopang Joshua di bahunya. Ingin membawanya pergi secepat nya dari tempat itu.
Tepat saat Joshua melihat ke arah Jane, dengan cepat Zeck menarik Jane dan langsung ******* bibir Jane habis. Sangat dalam, dia tidak menghiraukan pemberontakan yang dilakukan Jane. Tenaga Jane begitu lemah, tidak bisa mendorong pria yang sedang berada dalam kemarahan itu.
"Lihat baik-baik, dia wanitaku. Milikku," kata Zeck masih emosi.
Joshua tidak ada tenaga untuk menjawab, dan pikirannya pun juga dipenuhi kebingungan dengan maksud Zeck yang mengatakan jika dia sama dengan ayahnya. Memangnya apa yang sudah dilakukan ayahnya, hingga Zeck bisa seperti itu padanya.
Edgar pergi bersama dengan Joshua meninggalkan mansion mewah itu. Pertunangannya dibatalkan, Zeck juga pergi entah kemana. Rossi menemani Jane disana.
Di perjalanan menuju bandara.
Edgar mengemudi mobil dengan kecepatan rendah, sedangkan Joshua duduk lemas di bangku belakang yang ditemani oleh Vegan di sampingnya. Dia mengobati wajah Joshua yang babak belur itu.
"Baru kali ini aku melihatmu babak belur seperti ini, apa kamu kesana memang ingin memberikan nyawamu?" ujar Vegan saat mengoleskan obat di wajah tampan Joshua.
"Ssshhh," Joshua menahan perih, dia tidak menjawab perkataan Vegan.
"Dia memang sudah tidak waras, tiba-tiba datang seperti itu dan ingin membawa tunangan orang lain. Siapa juga yang tidak marah jika wanitanya di ambil oleh orang lain. Dan juga entah ada apa dengannya, dia bahkan tidak menghindar atau pun melawan."
"Dia seperti ini karena Jane? " Tanya Vegan.
"Ya. Siapa lagi, dia mana punya wanita lain. Hanya ada satu wanita yang selalu ada disampingnya selama ini bukan?" Balas Edgar.
"Ya hanya Jane wanita di dekatnya, aish. Aku tidak menyangka kamu bisa bertindak sebodoh ini hanya karena seorang wanita. Cinta, kata itu ternyata menyeramkan," kata Vegan serius.
Malam itu juga, Joshua berangkat dari Italia kembali ke los Angeles sendirian. Beralih dari pemikirannya mengenai Olivia, dia lebih memikirkan kata-kata Zeck sebelum naik ke pesawat.
'Aku tidak akan mengganggumu lagi, ini semua memang salahku. Tapi, apa maksud perkataan pria itu?' batin Joshua saat sudah berada di dalam pesawat.
--***
__ADS_1