
Sudah tiga hari berlalu. Rossi masih berada di kamarnya, tidak ingin makan dan minum. Ruangan itu selalu berantakan setiap pagi hari. Rossi sering berdiam diri sambil memeluk lututnya, kadang di pojok kamar itu, terkadang bersandar di pintu bahkan di lantai kamar mandi. Dia hidup tapi seperti tak bernyawa. Tatapannya kosong.
Hari ke empat. Seperti biasa dua pelayan pergi ke kamar nya di pagi hari untuk membersihkan kamarnya. Namun salah satunya pelayan baru.
"Kamu tau. Aku sudah tiga hari membersihkan kamar nona muda. Sangat berantakan, bahkan barang mahal pun pecah. Duh, aku jadi sayang saat memungut nya di lantai. Apa jangan jangan nona muda sudah tidak waras yah atau ada kelainan--"
"Hush jaga ucapan mu. Kamu bisa mati berucap sembarangan seperti itu. Sudah lah. Ayo kita bereskan kamar nona muda."
Tok. Tok. Tok
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Rossi beberapa kali dan meminta izin untuk masuk. Biasanya tidak ada yang menyahut. Tak disangka tiba tiba hari ini ada yang menyahuti ucapan pelayan itu dari balik pintu.
Pintu terbuka.
"Kenapa hanya berdiri. Ayo masuk," ajak seorang pelayan pada temannya yang tiba tiba saja terdiam.
Ruangan itu sangat rapi. Sangat bersih. Bahkan sama seperti terakhir kali dibersihkan, seperti tidak disentuh sama sekali. Tidak ada yang pecah. Tidak ada yang rusak. Semuanya masih utuh dan tertata rapi.
Seorang wanita keluar dari kamar mandi. Sangat cantik. Wangi. Dia sedang membuka balutan handuk di kepalanya dan berniat untuk mengeringkan rambutnya.
'Apanya yang berantakan. Semua nya rapi dan bersih,' ucap seorang pelayan menyipitkan matanya tertuju kepada wanita yang tengah termenung di sampingnya.
"Ada apa?" Rossi bertanya heran. Karena setelah masuk mereka hanya berdiri dan tidak melakukan apapun.
"Tidak nona. Kami berniat untuk bersih bersih saja."
"Oh. Ya sudah. Lanjutkan. Tapi setelah nanti selesai tolong panggilkan Sarah kemari." Rossi tersenyum ramah. Mereka belum pernah melihat senyum semanis itu.
"Baik nona." Mereka merasa lega. Jadi tidak ada hal buruk yang perlu dilaporkan pada nyonya besar. Ibu Rossi.
Di tangga. Sarah berniat ke kamar Rossi membawa sepaket sarapan. Ada udang, kesukaan Rossi.
"Semoga saja dia mau makan sekarang." Dua pelayan terlihat sudah selesai dengan pekerjaan mereka. Bersiap untuk pergi memanggil Sarah. Namun sarah sudah berada di ambang pintu.
Dua pelayan itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Sarah terkejut melihat Rossi berada di depan cermin dengan begitu bahagia. Tak seperti sebelumnya. Suram.
"Rossi. Kamu--" Sarah segera menghampiri Rossi setelah menaruh nampan berisi makanan itu di atas meja. Langsung memeluk Rossi dengan erat.
"Ku pikir. Aku tidak akan melihat senyum itu lagi."
__ADS_1
"Sarah. Apa yang kamu bicarakan. Aku baik baik saja," jawab Rossi meletakkan pengering rambutnya di atas meja.
Sarah menaikkan alisnya heran. Begitu cepat, padahal pada hari sebelumnya Rossi berbeda jauh dari sekarang. Tapi ya sudah. Sarah menjadi tenang.
"Hmm harum nya. Sarah apa kamu membawa udang kesini." Rossi beranjak dari duduknya, melepaskan pelukan Sarah dan bergegas ke sumber bau itu. "Enak nya." Rossi memakan udang yang berada di dalam mangkok.
"Rossi duduklah. Kenapa kamu makan seperti itu." Sarah mendekat padanya.
"Tidak. Tidak. Aku ingin sarapan di luar, kamu temani aku ya." Rossi berjalan pergi dengan hanya memakai piyama tipis di tubuhnya. Keluar dari kamar itu.
"Rossi." Sarah menyusulnya.
Sebuah lemari besar di kamar Olivia.
Banyak jenis pakaian disana. Dress, kemeja, rok, celana, semua nya ada. Bahkan ada beberapa senjata 'kecil'
"Sarah. Bagaimana jika aku memakai ini? Apa cocok dengan ku?" Rossi memaparkan satu set pakaian bercelana jeans pada Sarah.
"Hah? Ya?" Sarah merasa heran. 'Kenapa Rossi ingin memakai pakaian Olivia. Di kamar nya sudah ada pakaian baru. Dan jeans?' pikirnya.
Tak lama kemudian. Rossi keluar dari ruang ganti. Pas. Ukurannya sama dengan Olivia, hanya saja terlihat sedikit sempit di atasnya. Ukuran dada mereka berbeda.
"Tidak. Aku ingin memakai ini" Rossi bersikeras untuk memakainya.
"Rossi ayolah. Di lemari mu ada yang mirip dengan itu, dan ukurannya pas di tubuhmu apalagi ukuran dadamu itu--"
Rossi menyipitkan matanya pada Sarah. Ya memang sedikit tidak nyaman. Dadanya sedikit sesak memakai itu.
"Hmm. Baiklah." Rossi kembali ke kamarnya.
Sarah memilihkan baju untuknya.
"Kamu memang tidak bisa berganti baju tanpa aku ya," ucap Sarah sambil memberikan sebuah bra dan kemeja putih pada Rossi.
Wih. Seperti orang yang baru, selama ini Rossi tidak pernah ingin memakai celana jeans. Dia lebih suka memakai dres atau jika ingin memakai bawahannya dia memilih mengenakan rok atau celana pendek.
"Jadi apa yang membuatmu berubah dalam waktu semalam saja. Kau tau Rossi. Kamu itu sudah membuat ku kehilangan," kata Sarah. Kemudian merentangkan kedua tangannya "Sini peluk aku."
"Apa sih. Lebay. Aku hanya ingin menenangkan diri saja." Rossi menjauh darinya. Berjalan ke tempat tidur dan mengambil sepasang sepatu yang sudah disiapkan oleh Sarah untuknya. "Ayo. Aku lapar."
__ADS_1
Rossi keluar dari kamarnya. Dengan penampilan yang baru, tentunya aura dirinya yang baru. Sarah hanya kebingungan dengan sikap Rossi itu. Tapi itu membuatnya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Di ambang pintu.
"Sayang. Rossi. Kamu ingin kemana?" Dengan langkah kecil namun cepat, Rahel menghampiri Rossi dan menghentikannya. Dua pelayan itu pasti sudah memberikan laporan mereka.
"Aku ingin pergi dengan Sarah, Bu. Aku lapar, sambil jalan jalan dengannya," jawab Rossi tersenyum manja pada ibunya.
Rahel sedikit heran melihat tingkah Rossi yang seperti itu. Sangat berubah. Matanya beralih menatap Sarah. Apa yang terjadi dengan putrinya. Sarah hanya mengangguk untuk meyakinkan Rahel bahwa Rossi baik baik saja.
"Hmmm. Baiklah. Hati hati di jalan, dan tetaplah berada di dekat Sarah oke?" Rahel mengecup kedua pipi putrinya sebelum mengizinkan dia pergi.
Rossi mengangguk dan menarik Sarah agar cepat pergi dari sana.
Di jalanan pagi.
Rossi menikmati pemandangan pagi di kota yang sudah lama tidak dia lalui. Tidak seperti sebelumnya, sisi kota itu banyak berubah. Namun orang orang masih ramai berjalan di trotoar. Hanya itu yang tidak berubah.
"Rossi. Kamu ingin makan apa?" Tanya Sarah dengan melirik singkat pada rossi, lalu fokus kembali ke jalan yang berada di depannya. Pertanyaan itu menghentikan lamunan Rossi.
"Ha. Aku-- aku ingin pergi ke tempat Olivia. Apa kamu bisa mengantarku?"
Sarah langsung menginjak rem mobilnya. Sontak membuatnya berhenti mendadak.
"Rossi. Apa maksudmu? Bukankah kamu ingin sarapan?" Sarah menghadapkan tubuhnya ke samping. Tepat ke arah Rossi.
"Jika aku beritahu aku ingin kesana. Kamu tidak akan mau pergi dengan ku bukan?" Rossi menatap mata Sarah. Dan matanya perlahan mulai berkaca-kaca. Kemana keceriaan yang tadi pagi di lihat Sarah. "Please."
Rossi memohon pada Sarah untuk mengantarnya. Sarah tidak tega melihat Rossi yang seperti itu. Hatinya luluh. "Baiklah." Sarah melajukan mobilnya kembali.
Sebelumnya saat malam hari.
Rossi mengeluarkan banyak keringat dingin. Dia bermimpi. Namun tidak lagi bermimpi buruk seperti sebelumnya. Yang selalu menyalahkan dirinya sendiri.
Seseorang memeluknya. Terasa nyata, sangat hangat. Itu-- Olivia.
"Tetaplah hidup seperti sebelumnya. Aku ada bersamamu." Dia berbisik pada Rossi sebelum melepaskan pelukan itu. Lalu berlalu pergi dengan senyum di wajahnya. Bergabung dengan kumpulan awan putih. Lalu menghilang.
"Tunggu." Rossi terbangun. Hanya sinar redup dari cahaya rembulan yang menyinari setengah kamarnya.
__ADS_1
--***