
Di perjalanan.
Langit menampakkan warna jingga kemerahan, cahaya itu memancar dari balik awan. Sarah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan aspal berpagar besi putih di pinggirannya. Dari luar jendela mobil tampak seorang wanita duduk menyandar di bangku belakang.
Dia sangat fokus menatap layar ponselnya, terdapat sebuah foto. Itu adalah hasil dari pemotretannya dengan Edgar waktu itu. Rossi tersenyum, wajahnya memerah melihat sebuah foto yang memperlihatkan dia dan Edgar berciuman. Rossi menyentuh bibirnya.
"Apa yang kamu lihat rossi, sampai begitu bahagia," tanya Sarah setelah lama melihat Rossi dari spion depan mobil yang senyum-senyum sendiri.
"Tidak ada kok, hanya melihat foto saja," jawab Rossi mematikan ponselnya.
Tatapan Rossi tertuju pada pasir pantai yang diterjang pasang surut air laut. Terdengar deburan ombak menghantam bebatuan yang tertumpuk di seberang jalan.
Mereka sampai di jalanan kota. Dilihat dari sudut manapun, kota itu dipenuhi bangunan tinggi dengan sedikit pepohonan di depannya. Mobilnya berhenti di perempatan jalan. Lampu merah.
"Oh ya Rossi, aku lupa menanyakannya tadi pagi. Jadi saat kamu bangun, kamu menyebut nama Julian beberapa kali. Siapa dia?" Tanya Sarah memutarkan tubuhnya menghadap ke Rossi penasaran.
"Julian? Aku tidak tahu, bahkan aku tidak ingat pernah menyebut nama itu," jawab Rossi kebingungan.
"Benarkah. Apa aku salah dengar kali ya," lanjut Sarah dan kembali menghadap ke depan.
Rossi mengangkat bahunya menandakan dia tidak tahu dan sedikit bingung. Namun nama itu terdengar familiar baginya. 'Rasanya aku seperti mengenal nama itu,' pikirnya.
Mobil itu berhenti di depan gerbang yang terbuka berhiaskan bunga yang menjalar di sudutnya. Sebuah mobil hitam menghalangi mereka.
"Ada apa Sarah, kenapa berhenti?" Tanya Rossi mendekat pada Sarah.
"Ada mobil di depan," jawab Sarah sambil membunyikan klakson mobilnya.
Mobil itu tidak bergerak sedikitpun. Sehingga membuat Sarah dan Rossi turun dari mobil mereka. Sarah mendekat pada mobil itu, melihat ke dalam dari balik kaca hitam yang mengkilap. Tidak ada siapapun disana.
"Siapa?" Tanya Rossi berjalan menjauh dari mobilnya.
"Entah lah, tidak ada siapa pun. Sudah lah, lebih baik kamu masuk duluan. Aku akan mengambil barang barang mu," kata Sarah.
"Baiklah."
Rossi melangkahkan kakinya ke atas tangga pendek 4 tingkat menuju pintu masuk. Langkahnya terhenti melihat sesosok pria dengan setelan jas lengkap dan rapi tengah duduk menikmati minumannya. Rossi menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Rossi dengan raut tak suka.
"Tentu saja menjemputmu."
Edgar meletakkan kembali secangkir teh hangat yang diberikan oleh Bi Lana.
"Menjemput ku?" Rossi bertanya bingung.
"Ya. Cepatlah ganti bajumu."
"Tapi bagaimana kamu bisa datang kesini?" Lanjut Rossi.
__ADS_1
Edgar menatapnya tajam. Rossi mengerti maksud tatapan itu, dia pun menyerah untuk berdebat dan lanjut berjalan ke lantai atas. Ia menghentakkan kakinya kesal pada setiap anak tangga yang di pijaknya. Rossi menggerutu tidak jelas.
Sampai di kamarnya. Tercium bau semerbak bunga Lyla memenuhi ruangan itu. 'Pasti Bi Lana yang menaruh bunga itu'. Bisik Rossi melihat bunga yang masih segar tersusun rapi di samping jendelanya.
Di lantai bawah.
Edgar melihat sekitarnya, mencari sesuatu.
'Kenapa tidak ada foto keluarganya disini,' bisik Edgar penasaran.
Ia merasa sudah menunggu cukup lama, walaupun sebenarnya itu lebih kurang baru 10 menit berlalu. Ia menaiki lantai atas ingin menghampiri Rossi.
Dia mendengar suara berdecit dari satu ruangan yang berada disampingnya. Dia membukanya, baunya sangat jelas. Itu adalah bau bunga Lyla.
"Apa dia anak kecil, banyak boneka disini."
Edgar berdiri di depan lemari kaca yang berisikan banyak boneka. Tak lama kemudian keluar seorang wanita dari kamar mandi. Dia hanya memakai handuk.
"Aaaaa. A-apa yang kamu lakukan."
Rossi berteriak histeris, dia menyilangkan tangannya di depan dada putih mulus yang berada di balik handuk.
"Apa yang kamu teriakkan. Bukankah aku sudah melihat semuanya, haaa bukan. Aku bahkan sudah menyentuhnya. Bukankah begitu sayang?" Edgar tersenyum nakal berjalan mendekati Rossi.
"Hei. Ini rumah ku. Kamu tidak berhak berkeliaran ke sana kemari sesukamu. Keluar dari kamarku."
Rossi berjalan mundur.
"Kamu mengusirku sayang."
Edgar menunduk, mendekatkan wajahnya pada Rossi. Langsung mencium bibir merah muda Rossi, Edgar melahap nya.
Rossi berusaha mendorong tubuh pria itu, dia kesulitan bernafas. Namun Edgar tetap meneruskan kegiatannya. Wajah Rossi menjadi sangat merah saat tangan Edgar menyentuh pahanya.
Edgar melepaskan ciumannya. Menarik Rossi dan mendorongnya ke tempat tidur. Ia menarik handuk yang menutupi tubuh Rossi begitu cepat. Sehingga Rossi tak di tutupi apa pun. Edgar meneruskan kembali kegiatannya. Mendaratkan bibirnya di bibir Rossi sedangkan jarinya menjelajahi setiap lekuk tubuh wanita itu.
Rossi menjadi panas, nafasnya memburu dia merasa geli. Kegiatan Edgar masih berlanjut, tangannya mendarat di salah satu bukit kembar yang sudah memanggil nya sedari tadi.
Tok. tok. tok.
Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka.
"Ck. Mengganggu saja."
Edgar bangkit dari atas tubuh Rossi dengan kesal. Rossi berusaha menenangkan dirinya, mengatur nafasnya kembali. Ia langsung mengambil handuk yang berada di lantai dan bergegas membuka pintu.
"Nona. Apa terjadi sesuatu?" Tanya seorang wanita di depan pintu.
"Ti-tidak Bi. tadi hanya ada kecoa," jawab Rossi berbohong.
__ADS_1
"Apa saya perlu masuk nona?" Tanya Bi Lana lagi. Ia bergegas dari halaman belakang karena mendengar teriakan Rossi.
"Tidak perlu Bi, nanti saja. Aku sedang berganti pakaian," lanjut Rossi.
"Hmm.. baiklah," jawab Bi Lana sedikit tak percaya. Rossi menutup pintu dan Bi Lana pun kembali turun ke bawah.
Rossi berbalik arah, bersandar di depan pintu menghembuskan nafas lega. Dia ingin memarahi Edgar, tapi pria itu sudah tidak ada dalam penglihatannya.
"Kemana dia," ucap Rossi sambil mencarinya di sekitar sana. Bahkan di kamar mandi, namun tetap tidak ada.
Di depan pintu masuk.
"Baiklah." Sarah mematikan panggilannya.
Saat Rossi berjalan memasuki rumah, ponsel Sarah berdering dan itu adalah panggilan masuk dari "Kak Jorge". Dia adalah kakak Sarah sekaligus merupakan kaki tangan ayah Rossi.
Sarah kembali sibuk mengangkat barangnya. Dan teralihkan oleh sesuatu, dari kejauhan dia melihat ada bayangan di balik pohon kecil tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menjadi siaga, bersiap untuk mengambil senjata yang berada di dalam tasnya. Pria itu semakin mendekat.
"Tuan Edgar."
Sarah terkejut melihat pria itu sebelum kemudian menunduk hormat padanya.
"Aku akan menunggunya di mobil."
Pria itu berkata singkat sambil berjalan menuju mobil.
Sarah yang masih terpaku dengan tubuhnya tak menjawab sedangkan pria itu sudah berada di dalam mobilnya. Ia memasuki pintu rumah itu dalam keadaan kebingungan. Terlihat secangkir teh di atas meja tamu, menandakan memang ada seseorang yang datang.
Sarah langsung bergegas ke kamar Rossi.
"Rossi. Ada kekasih barumu dibawah. Apa kalian ingin pergi?"
Sarah meletakkan barang barang itu di atas tempat tidur.
"Hah? di bawah?"
Rossi bertanya heran sambil memakaikan anting bulat di telinganya.
"Ya, aku bertemu dengannya di pintu masuk tadi dan dia dari arah samping rumah," lanjut sarah menjelaskan.
Ia terlihat terburu-buru, Sarah menatapnya curiga. Rossi tersenyum padanya sebelum kemudian melambaikan tangan pada Sarah.
"Byee.."
Rossi menghilang dari balik pintu.
"Tunggu-"
Suara Sarah terhenti. 'Aih. Nanti saja lah,' batinnya.
__ADS_1
Rossi melangkah menuruni tangga dengan senyum bahagia, mengenakan dress kuning pucat dengan kalung dan anting serasi yang membuatnya tampak sempurna.
--***