Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.51


__ADS_3

Di kediaman Alexandra.


Begitu Hans tiba, Rahel langsung menyambutnya dengan penuh kasih sayang dan membawa suaminya ke kamar mereka. Sementara itu Rossi dan Sarah duduk santai di ruang tamu.


"Rossi, ingin bermain satu match?" ajak Sarah sambil mengeluarkan ponselnya.


"Hah?" Rossi menaikkan satu alisnya.


"Ayolah, sudah beberapa hari ini aku tidak bermain. Jadi temani aku, oke?" Sarah melempar ponsel Rossi padanya. "Ayo login."


Rossi tidak menolak, lagipula dia juga tidak ada kegiatan yang harus di urusnya. Masalah insiden kemarin malam sudah dibersihkan, jadi hanya akan menghadiri pertemuan nanti sore untuk langkah selanjutnya.


Di sela permainan, Rossi menanyakan perihal pertunangannya dengan Joshua.


"Sarah, apa sebaiknya aku bertunangan dengan Joshua?"


"Apa? Kenapa tiba-tiba sekali? Lalu bagaimana dengan kekasihmu? Apa hubungan kalian sudah berakhir? Begitu cepat."


"Ih kamu, aku kan meminta pendapatmu," ucap Rossi kesal.


"Aku setuju saja, selama dia bisa menjagamu dan ya, perasaan itu penting. Memangnya kamu sudah memantapkan hati untuk bertunangan dengan Joshua?" balas Sarah.


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu, kalau begitu aku akan mengatakan pada ayah jika aku akan bertunangan dengan Joshua dan menetapkan tanggalnya."


"Aku tidak setuju."


Tiba-tiba terdengar suara dari pintu masuk, pintu itu terbuka lebar. Seorang pria masuk dengan begitu memukau. Dengan wajah tampannya, tubuh nya yang tinggi. Dia melangkah masuk dengan begitu arogan, tak lupa juga kacamata hitam bertengger di atas hidung mancungnya.


Sontak pria itu membuat Sarah dan Rossi menghentikan permainannya, game over.


[Defeat] tertulis di layar ponsel mereka.


"Kamu? Kamu yang semalam ada di sana kan?" Tanya Rossi bangkit dari sofa itu dan berjalan mendekat pada pria yang tak jauh dari sana.


"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini? Dan bagaimana kamu masuk dengan mudah nya ke rumah ini? Apa di luar tidak ada penjaga?" Tanya Rossi panjang lebar.


"Apa yang kamu katakan, siapa yang akan menjawab semua pertanyaan yang kamu ajukan itu? Tidak penting," pria itu melepas kacamatanya dan berjalan melewati Rossi, dia pergi menaiki tangga.


"Hah? Apa? Dia melewatiku, Sarah?! Kamu tidak melihat pria yang baru saja masuk? Kenapa kamu tidak menahannya?"


Sarah hanya duduk santai dan tidak menghentikan pria yang berjalan menaiki tangga. Dia malah memulai game nya satu match lagi.


"Rossi tenanglah, dia tidak berbahaya. Hanya saja akan membuat beberapa wanita berada dalam bahaya jika bersamanya, playboy sepertinya tidak berbahaya untukmu," jelas Sarah.

__ADS_1


"Tunggu.. jadi kamu mengenalnya?"


Rossi berjalan mendekat pada Sarah dan duduk di sampingnya. Mengambil ponsel yang sedang berada di hadapan Sarah, permainannya akan segera di mulai.


"Hei Rossi, permainan sudah mulai. Kenapa kau menggangguku?" Ucap Sarah kesal.


"Aku tidak akan memberikannya kepadamu sebelum kamu mengatakan semuanya padaku," pinta Rossi tegas.


"Oke. Oke, tapi kembalikan dulu. Aku akan mengatakannya sambil bermain," jawab Sarah.


"Oke."


Selama Sarah bercerita dengan Rossi, pria itu sudah berada di depan kamar Hans dan Rahel.


Tok. Tok. Tok


Dia mengetuk pintu mewah itu, Rahel yang mendengarnya hanya bersorak untuk mengizinkan orang yang mengetuk pintunya itu masuk. Seketika dia bangun dari tepi tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu. Pria itu.


"Zeck? Kamu kembali? Kenapa tidak memberikan kabar padaku jika kamu akan pulang," ucap Rahel memeluknya.


"Aku ingin memberikan kejutan untuk mu, jika aku katakan. Itu tidak seru bukan, bibi cantikku?"


"Huh kamu, cantik apanya. Sudah keriput seperti ini," balas Rahel. Zeck tersenyum manis pada Rahel.


Hans yang melihat mereka berdua, geleng-geleng kepala dengan sikap manis Zeck pada istrinya.


"Hei. Bocah, apa kamu sudah kehabisan wanita untuk dirayu? Bahkan istriku pun tidak tertinggal," ejek Hans padanya.


"Paman, aku datang baik baik kesini. Tapi kamu malah menyambut ku tidak senang, aku akan sedih," balas Zeck sok kecewa.


"Berhentilah bermain dan sibuk menantikan waktu pembalasan dendam mu itu, sudah berapa umurmu sekarang ini. Masih saja bermain dan tidak memilih istri."


"Oh paman, kamu meremehkanku. Aku akan membawanya nanti malam kesini, dan mengenalkannya secara resmi pada kalian semua," jawab Zeck percaya diri.


"Terserah kamu saja. Bagaimana? Apa kamu sudah menyusun rencana nya?" Tanya Hans serius.


"Ya. Aku sudah tahu dimana dia berada, dan aku berencana untuk menyerangnya langsung."


"Haha. Apa itu rencananya? Kamu menjadi berpikir pendek, kesampingkan emosimu. Berpikirlah dengan jernih, jangan seperti anak kecil yang mainan nya diambil."


"Tentu saja tidak, aku sudah memikirkan rencananya. Tapi aku sudah tidak tahan lagi paman, bertahun-tahun aku menantikan ini. Untuk membalasnya dengan tanganku sendiri."


"Bersabarlah. Aku ingin kamu ikut bergabung rapat nanti sore, dan jaga putri ku."

__ADS_1


"Putri mu? Apa kamu yakin membiarkannya untuk terlibat?"


"Aku sudah memutuskan, tidak mungkin aku menarik kembali keputusan yang ku buat. Lagi pula aku yakin dengan kemampuannya, jadi jaga dia," kata Hans menatap Zeck tanpa berkedip.


Melihat keyakinan dari pamannya, Zeck menghela nafas panjang.


"Baiklah. Tapi jika dia terluka, aku tidak akan mengizinkannya terlibat lagi."


"Ya."


Di tempat lain, Rahel dan Rossi berada di dapur. Setelah keluar dari kamarnya, Rahel menarik Rossi ke dapur untuk membantunya.


"Ibu. Kenapa harus kamu yang memasak, kan ada pelayan yang akan bekerja. Jika seperti ini, untuk apa membayar mereka," ucap Rossi tidak suka dengan kesibukan ibunya.


"Rossi. Kamu tidak boleh seperti itu, kita harus membuat sesuatu yang spesial untuknya," balas Rahel.


Sebelumnya Rossi sudah mendengar sedikit penjelasan dari Sarah mengenai Zeck.


"Oh ya ibu, apa Zeck yang di atas itu kak Zeck yang itu?" Tanya Rossi berhati-hati.


"Haha. Putri ku memang suka bercanda, memangnya Zeck yang mana lagi sayang."


"Hah? Ibu aku serius, jadi dia lelaki yang sering menggangguku saat kecil itu?"


"Ya. Dia putra kakak ayahmu, kamu mengingatnya?" Lanjut Rahel sambil memasukkan beberapa sayuran ke dalam panci yang airnya sudah mendidih.


"Bagaimana mungkin aku tidak mengingatnya ibu, dia sering menggangguku. Tak kusangka, dia tumbuh menjadi seorang pria. Kupikir dia hanya akan menjadi lelaki nakal yang sering mengusik gadis kecil," ledek Rossi.


"Hush sayang, tidak boleh seperti itu. Sekarang potong itu dengan baik."


Tak lama waktu berlalu, Zeck sudah selesai berbincang dengan Hans. Dan melihat bibinya dan Rossi sibuk di dapur.


"Bibi, kenapa kamu menjadi repot seperti ini," ucapnya mendekat pada Rahel.


"Aku tidak repot, lagi pula sudah lama kamu tidak merasakan makanan buatanku," balas Rahel.


"Yah. Bibiku memang yang terbaik, tapi apa pelayan yang bersamamu ini bisa membantu? Dia hanya akan menghancurkan talenan itu dengan pisau," ucapnya melihat pada Rossi yang memotong udara di atas talenan dengan pisau di tangannya. Membuatnya terlihat jelas jika Rossi sedang kesal.


Rahel hanya tersenyum mendengarnya.


"Kamu?! Kamu menyebalkan, ibu ini sudah hampir selesai. Aku ingin mandi dulu, biarkan saja pria di sampingmu itu yang membereskan perabot kotornya nanti," kata Rossi sebelum bergegas pergi dari sana.


--***

__ADS_1


__ADS_2