
Tiga hari setelah kepergian Andra, kini telah memasuki hari sabtu. Selama tiga hari ini juga Vindra kembali, uring-uringan malas untuk masuk sekolah.....
Tok..tok..tok
Audy mengetuk pintu kamar Vindra. Merasa tidak mendapat jawaban dari Vindra. Audy pun langsung masuk kedalam kamar anak nya itu....
Kamar Vindra sangat gelap karna gorden jendela yang masih tertutup. Tiada celah untuk cahaya matahari masuk....
Audy menggelengkan kepalanya, melihat putranya itu yang masih berkutat diatas tempat tidur. Bahkan kedatangan Audy tidak membuat Vindra bergeming. Dia masih enggan untuk menampakan wajah nya, dibalik bantal yang menutupi sebagian wajah Vindra.
Audy pun membuka satu persatu gorden jendela kamar Vindra. Cahaya matahari pun bisa masuk dengan leluasa. Menerangi setiap sudut kamar Vindra.
Melihat sang anak yang seperti itu, membuat hati Audy sedih. Pasti sangat berat untuk Vindra saat ini. Dia harus kehilangan sahabat karib nya. Tumbuh bersama dengan begitu banyak kenangan yang tidak bisa dilupa begitu saja....
Audy duduk tepat disebelah Vindra tidur. Dia mengelus lembut kepala Vindra. Kemudian menarik bantal yang menutupi sebagian wajah putranya itu.
Kini wajah sendu Vindra yang tertidur nyenyak nampak sangat jelas. Audy pun menggoyang-goyangkan tubuh sang anak perlahan, agar terbangun.
" Vin....Vin....bangun sayang berangkat sekolah yah, tadi kepala sekolah menelpon mamah...katanya ada try out senin nanti, jadi kamu harus hadir hari ini untuk mengambil kartu peserta ujian mu " ucap Audy panjang lebar.
Sembari ia terus menggoyang-goyangkan tubuh Vindra perlahan. Sesekali Audy juga menepuk-nepuk pipi anak nya itu pelan....
Vindra menggeliat merenggangkan tubuh dan mengerjapkan matanya. Sambil mengucek-ucek mata Vindra beranjak duduk. Audy menyentuh wajah Vindra dengan kedua tangan nya. Lalu menatap sang anak dengan tersenyum....
" Kamu harus kuat sayang, Andra pasti sedih jika melihatmu seperti ini.....dan kamu juga seharusnya bersyukur karna Andra tidak akan merasa kesakitan lagi!! " ucap Audy mencoba meyakinkan Vindra.
Vindra hanya diam, dia malah memalingkan wajah nya kearah lain. Menahan air mata yang hendak keluar tanpa izin nya. Vindra menarik nafas dalam-dalam kemudian melempar senyuman kepada Audy sang mamah.
" Vindra baik-baik aja Mah, mamah gak usah khawatirkan Vindra...." ucap Vindra sembari tersenyum lebar.
Audy pun membalas senyuman sang anak dengan kecupan hangat dikening Vindra. Meskipun dia tahu jika senyuman yang ditebarkan Vindra, tidak setulus hatinya. Karna hati Vindra masih dalam keadaan berduka....
Audy pun meninggalkan Vindra sendiri dikamarnya, untuk bersiap pergi ke sekolah. Tak lupa dia untuk menutup pintu kembali....
Sepeninggal Audy, Vindra menoleh kearah nakas yang berada disamping tempat tidurnya. Air mata yang ditahan nya tadi, kini menetes seketika. Tapi langsung disekanya, Saat melihat bingkai foto diatas nakas itu. Foto nya bersama Andra saat berada di Newyork, sebelum mereka terpisah untuk pertama kalinya. Tapi sekarang mereka kembali terpisah, bahkan untuk selamanya....
Seperti mimpi yang terjadi satu malam saat dia tertidur. Dan berakhir saat dia terbangun dipagi hari. Lebih baik jika seperti itu, tapi tidak. Ini semua adalah kenyataan yang harus dia terima dengan hati ikhlas.
__ADS_1
Mungkin Allah lebih sayang pada Andra, karna itu dia memanggil Andra lebih cepat. Menyembuhkan penyakitnya, dan menghilangkan semua rasa sakit. Yang pernah dirasakan Andra saat masih hidupnya....
" Tenanglah disana bro....aku akan selalu berdoa untuk mu dan menepati janji terakhir yang aku buat padamu " ucap Vindra tersenyum menatap foto itu.
Vindra ingat jika dia memiliki janji yang harus ditepati oleh nya. Janji yang dia ucap saat terakhir kali Andra jatuh pingsan dan tidak pernah bangun sampai akhir hidupnya.....
Vindra beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai mandi, dia bersiap-siap mengenakan seragam sekolah nya. Kemudian turun kebawah untuk sarapan....
Vindra tidak menghabiskan sarapan nya, dan langsung bergegas berangkat kesekolah. Dengan mengendarai motornya....
.
.
.
Sampailah Vindra diparkiran motor sekolah, tempat biasa dia memarkirkan motornya. Dia membuka helm, sembari mengacak-acak rambutnya yang lepek akibat helm tadi....
Saat Vindra berbalik badan, tak sengaja ia melihat sosok Cinta. Yang tengah berjalan memasuki gerbang sekolah. Entah kenapa Cinta terlihat begitu cantik saat ini dimata Vindra. Dia sama sekali tidak berkedip memandangi gadis itu.
" Kenapa dia terlihat begitu cantik hari ini? apa karna efek berapa hari tidak bertemu...hahaha " gumam Vindra.
Cinta pun juga tidak sengaja menoleh kearah Vindra, kemudian melemparkan senyuman indah dipagi hari untuk lelaki songong itu.
Deg...deg...deg
Seketika itu juga jantung Vindra berdetak tidak karuan, Glek dia menelan salivanya sendiri. Tubuhnya seperti ada magnet yang membuat dia hendak berlari mendekati Cinta. Saat itu juga, tapi saat hendak melangkah tiba-tiba...
Datanglah Tasya dari arah depan, langsung memeluk Vindra dengan erat. Sontak Vindra terkejut menerima pelukan dari Tasya. Begitu pun Cinta, melihat sosok Tasya yang datang-datang memeluk Vindra. Cinta langsung menunduk dan berjalan cepat memasuki gedung sekolah. Tidak ingin mengganggu keduanya....
Sedangkan Vindra, dia langsung mendorong tubuh Tasya menjauh. Tasya menatap Vindra dengan sendu, air matanya membasahi wajah cantiknya. Vindra terkejut bukan main, kenapa Tasya menangis.
" Kenapa kamu menangis? " tanya Vindra, mengerukan dahinya.
" Vin aku turut berduka cita atas kepergian And.....mmhhh "
Belum selesai Tasya berucap, Vindra langsung menarik tangan Tasya dan membungkam mulutnya. Tasya meronta-ronta, Vindra pun melepaskan bungkaman tangan nya.
__ADS_1
" Apaan sih Vin.... "
" Dasar yah kamu tuh, kalau mau ngomong gak usah disini!! Aku sudah janji tidak akan menyebarkan berita kematian Andra disekolah...."
" Yah maaf...aku kan gak tau Vin, aku juga sedih banget pas tahu!! Kaya gak nyangka aja, teman kita yang setiap hari ketemu sekarang udah gak ada...hiks hiks "
" Ya aku tahu, tapi gak usah lebay kaya gini juga Sya....aku gak suka pake peluk-peluk segala "
" Maaf.... "
" Sudahlah, minggir aku mau lewat "
Vindra meninggal kan Tasya, dengan perasaan kesal nya terhadap tingkah Tasya. Yang dianggapnya terlalu berlebihan.
Dulu Vindra memang tidak masalah dengan tingkah lebay sekaligus manja dari Tasya. Saat mereka masih pacaran Tasya memang selalu bersikap seperti itu. Dikit-dikit peluk Vindra didepan umum, cium pipinya, bahkan merengek seperti anak kecil. Vindra masih bisa menahan diri...
Tapi sekarang beda, Tasya bukan lah pacar nya lagi. Jadi dengan sikap Tasya yang seperti itu, membuat Vindra sangat muak menghadapinya. Sangat tidak dewasa fikir Vindra....
Vindra menyusuri lorong sekolah menuju kelas nya. Tetapi dengan mata yang terus berputar-putar memandang sekeliling. Mencari-cari sosok Cinta, yang menghilang saat ada Tasya tadi...
" Agghh....kemana lagi tuh anak, pasti gara-gara ada Tasya tadi!! Cinta jadi menghindar... " gerutu Vindra sembari menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Bel masuk jam pertama pun berbunyi. Semua siswa dan siswi bergegas masuk kedalam kelas masing-masing. Begitu pun Vindra....
*****
Jam 10.00 pagi WIB....
Semua siswa dan siswi kelas 12, berkumpul dilapangan sekolah. Untuk pembagian ruangan dan kartu peserta ujian. Tapi tidak dengan Vindra, dia hanya duduk dibangku depan kelas nya. Berkumpul dibawah sinar matahari yang terik, tentu saja bukan Vindra namanya. Jika dia ikut ditengah-tengah kumpulan itu.
Vindra terlihat gusar sendiri, matanya masih mencari-cari sosok Cinta. Tapi tidak juga menemukan nya, mau mendekat tapi malas. Hanya duduk saja disitu, pasti tidak akan bisa menemukan Cinta....
Dia begitu bingung....
Sampai akhirnya Vindra mengalah, dia tetap duduk didepan kelas nya. Dan menunggu hingga waktu pulang untuk bertemu dengan Cinta.
Tak berselang lama, setelah pembagian kartu peserta ujian. Siswa-siswi kelas 12 dipulangkan lebih awal.....
__ADS_1
Kini Vindra berada diparkiran, menunggu Cinta sambil bersandar dimotornya. Rasanya sudah tidak sabar dia ingin bertemu Cinta. Tetapi Cinta tak kunjung muncul, sudah hampir 10 menit dia menunggu.