
Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak Vindra dari belakang. Membuat dirinya terkejut, dan langsung berbalik. Ternyata itu Rohan Ketua OSIS disekolah nya....
Rohan langsung menjabat tangan Vindra, dan menatapnya dengan penuh arti. Vindra mengkerutkan dahinya, merasa aneh dengan sikap Rohan. Dia langsung melepaskan tangan Rohan.....
" Apa-apaan ini.... " Vindra sedikit kesal, karna menganggap Rohan lewat batas. Berani memegang tangan nya...
" Tenang men....gak usah emosi gitu " ucap Rohan mencoba santai.
" Gak usah bertele-tele ada apa? kenapa tiba-tiba menjabat tangan ku seperti itu...cihh jijik " ucap Vindra begitu ketus nya.
" Wesss...santai.....gw hanya mau mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Andra. Kita semua merasa begitu kehilangan sosok yang begitu baik hati seperti Andra..... " sahut Rohan, sembari menyampaikan bela sungkawanya.
Sontak Vindra terkejut bukan main, kenapa Rohan bisa tahu mengenai Andra. Apa Tasya yang menyebarkan nya? tidak mungkin, karna dia sudah memberi tahu Tasya untuk tutup mulut. Jadi siapa? "
" Siapa yang memberi tahu mu? " Vindra mencengkram lengan kiri Rohan, menatapnya dengan tajam.
" Apasih men, santai aja!! Lagian sudah tersebar satu sekolah tahu kok.... " Jawab Rohan lagi.
" APA? " Vindra melepaskan cengkraman nya. Kemudian menggeleng tak percaya.
" Siapa yang menyebarkan nya? Andra maafkan aku " gumam Vindra didalam hatinya.
" Kamu yang sabar men....kalau begitu gw cabut duluan "
Rohan menepuk bahu kiri Vindra, lalu berlalu meninggalkan Vindra yang masih terpaku diam. Dia benar-benar tak habis fikir. Siapa yang menyebarkan berita kematian Andra satu sekolah....
Deg....
Vindra pun tersadar dari lamunan nya. Ada hal yang lebih fatal dari itu. Dia langsung berlari memasuki gedung sekolah lagi. Menuju kelas Cinta...
Saat sudah berada disana Vindra tidak juga menemukan sosok Cinta. Dia bertanya kesana kemari tentang keberadaan gadis itu. Satu sekolah sudah dia telusuri tapi tak kunjung menemukan nya...
Sampai pada akhirnya ada siswi yang mengatakan, jika dia melihat Cinta berlari keluar dari gerbang sekolah. Dengan menangis tersedu-sedu. Seketika itu juga rasanya hati Vindra perih seperti tersayat-sayat. Dia yakin jika Cinta pasti sudah mendengar kabar mengenai Andra.
Dia pasti begitu terpukul dengan kebenaran ini. Pastinya semua pertanyaan-pertanyaan bersarang dibenak Cinta. Vindra takut Cinta melakukan hal-hal yang buruk, atau dia jatuh pingsan seperti waktu itu lagi. Karna meNgetahui orang yang dicintai nya meninggal dan tidak akan kembali untuk selamanya lagi....
*****
...POV CINTA...
Saat itu Cinta sedang bersiap-siap merapikan barang-barang nya masuk kedalam tas. Dia ingin segera pulang dan belajar sebelum sore tiba. Karna dia harus bekerja lagi sorenya.....
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja Cinta tidak sengaja mendengar percakapan teman sekelasnya. Mereka membicarakan hal yang begitu aneh ditelinga Cinta.
" Eh loe tau gak Andra, kabarnya dia sudah meninggal tiga hari yang lalu "
" Iya...iya gw juga dengar tuh gosip "
" Beneran gak itu? "
" Katanya beneran tau, dia meninggal karna sakit!! "
" Masa sih....kasian banget yah "
" Iya katanya juga dia sempat koma beberapa hari disingapore setelah itu meninggal nya juga disana "
Semua siswa dan siswi dikelas Cinta, tak luput satupun. Membicarakan kabar kematian Andra....
Deg....
Seperti tersambar petir disiang bolong, Cinta terduduk dikursinya kembali. Sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing. Semua perkataan-perkataan teman-teman nya itu, berputar-putar dikepala Cinta....
Tanpa sadar air matanya menetes, membasahi wajah cantiknya. Dia terisak sendiri, tapi dengan mulut yang ditutup oleh tangan nya. Agar isakan nya terdengar....
Dengan cepat Cinta menggapai tas nya, kemudian berlari keluar dari dalam kelas. Dengan grasah grusuh dia menabrak setiap orang yang ada didepan nya.
Semua pandangan mata tertuju padanya, bagaimana tidak jika dia berlari dengan menangis tersedu-sedu. Serasa langit ini runtuh Cinta tidak memperdulikan lagi pendapat orang tentang nya.
Yang kini dia rasakan begitu perih dihatinya, Andra lelaki yang dia cintai telah pergi meninggalkan dirinya selamanya. Betapa terpukul Cinta saat ini....
Dia terus berlari menyusuri jalanan dengan terus menangis. Sesekali Cinta mengusap air matanya dengan punggung tangan nya. Entah kemana langkah kaki membawanya....
Sampai pada akhirnya dia berhenti didepan sebuah rumah yang besar dan mewah. Gerbang hitam yang tinggi berada tepat didepan nya. Cinta juga kaget saat mengetahui langkah kaki membawanya ketempat yang tidak seharusnya dia datangi.
Rumah mewah bak istana itu adalah rumah Andra. Rumah lelaki yang ia cintai, tapi kenapa dia malah pergi kesana. Cinta berbalik hendak pergi, tetapi langkah kaki nya terasa berat. Hatinya sama sekali tidak tenang, jika belum mendapat kepastian yang jelas mengenai Andra. Cinta berdiam diri agak lama, bimbang dengan pilihan nya. Haruskah dia masuk atau tidak?
Sedetik kemudian tiba-tiba gerbang hitam yang tinggi itu terbuka lebar. Nampak sebuah mobil mewah berwarna hitam hendak keluar dari rumah itu. Mobil itu mengklakson dengan begitu nyaring. Mengisyaratkan Cinta untuk meminggir....
Cinta terkejut dan langsung menoleh kearah mobil tersebut. Matanya membulat sempurna, saat melihat kedalam mobil tersebut. Di dalam nya ada Angga dan juga Dewi.
Mereka berdua juga sangat terkejut melihat Cinta. Apa yang dilakukan gadis itu didepan rumah mereka? Terlebih dengan keadaan menangis terisak. Seperti biasanya Dewi selalu geram jika melihat sosok Cinta.
" Dasar wanita ja**ng untuk apa dia kesini? " Bathin Dewi.
__ADS_1
Dewi pun keluar dari mobil nya, lalu menghampiri Cinta yang masih terpaku. Dengan hati yang geram dan tatapan membenci Dewi langsung menampar pipi kiri Cinta.
Plak....
Saking kuat nya tamparan dari Dewi, Cinta sampai tersentak mundur kebelakang. Kemudian Cinta menatap Dewi kembali, sembari memegang pipi nya yang terasa panas akibat tamparan keras.
" Mau apa kamu kesini? dasar pela**r tidak tau malu pergi dari sini, ngotor-ngotorin rumah saya aja "
Dewi menghina Cinta tidak tanggung-tanggung, suara nya yang nyaring dan lantang. Membuat tetangga-tetangga nya keluar menontoni mereka. Cinta hanya tertunduk takut.
Dewi melihat sekeliling nya lalu tersenyum miring kearah Cinta. Dia sengaja ingin mempernalukan gadis itu didepan semua orang.
" Pergi kamu.... " Dewi kembali mendorong tubuh Cinta hingga terjatuh ke tanah.
Kemudian Dewi hendak melangkah kembali kemobil, Tapi tangan nya ditahan oleh Cinta....
" Tante tolong, katakan jika itu semua tidak benar.....Andra masih hidup kan tante pliss....hiks hiks hiks " Ucap Cinta dengan berani.
Deg....
Dewi semakin geram, hatinya panas terbakar. Mendengar nama anak kesayangan nya, keluar dari mulut busuk Cinta. Dewi pun kembali melayangkan tangan nya di pipi Cinta. Cinta tersentak mendapat tamparan kedua kalinya, terlebih tatapan Dewi lebih sangar lagi....
" Tutup mulut busuk mu itu, jangan pernah menyebutkan nama Andra lagi. Tidak ada hubungan nya dengan mu " ucap Dewi kasar.
" Tapi itu semua gak benar kan tante...Andra masih hidup kan hiks hiks "
" Pergi dari sini atau tidak aku akan memanggil keamanan untuk mengusirmu "
" Cinta gak bakal pergi kalau Tante gak kasih tau yang sebenarnya.... "
Dewi semakin emosi, dengan Cinta yang bersikeras tidak mau pergi. Tangan nya mengepal erat, tatapan nya seperti ingin membunuh. Dewi pun kembali mendekati Cinta, tapi langkah nya terhenti. Saat sang suami menarik tangan nya...
" Sudah mah, gak usah perdulikan dia! kita akan terlambat nanti...ayo " ucap Angga, sembari menarik Dewi kemobil.
Dewi mengangguk setuju, dan langsung masuk kedalam mobil. Angga pun mulai menyalakan mesin mobilnya, lalu mulai menjalan kan mobilnya.
Cinta yang berada didepan mobil tersebut, dengan cepat meminggir. Tapi belum sempat dia menyingkir, sepion mobil Angga menghantam keras lengan kanan nya. Membuat Cinta jatuh tersungkur ke tanah.....
Telapak tangan dan lutut nya berdarah akibat tersentak ditanah. Terlebih lengan kanan nya yang terasa sakit sekali akibat benturan sepion mobil tadi. Orang-orang yang melihat nya, tidak ada sama sekali niat untuk menolong nya. Malah berbisik-bisik menggosipkan Cinta.
.
__ADS_1
.
TBC