
Sampailah Vindra di depan sebuah toko kayu abadi. Tempat dimana Cinta memberitahukan lokasinya. Dari dalam mobil Vindra mengedarkan pandangan nya menyapu toko-toko yang ada di sebrang tempat mobil nya sekarang berada.
Di tengah hujan deras jujur saja Vindra tidak bisa melihat dengan jelas orang-orang yang berdiri di depan warung kecil tersebut.
Saat tangan nya menyentuh gagang pintu mobil. Vindra terdiam mengingat hujan begitu deras. Bisa saja dia akan terkena demam lagi. Tetapi Vindra membuang jauh-jauh perasaan ragu-ragu nya. Demi untuk Cinta apapun akan dia lakukan. Vindra oun turun dari mobil dengan kerudung jaket ia pakai untuk menutupi kepala nya dari rintikan hujan.
Vindra berlari menyebrang jalan ke warung kecil tersebut. Vindra menoleh kiri kanan yang dia cari-cari tidak ada. Cinta kekasih nya tidak ada di tempat tersebut. Tidak menunggu lama Vindra langsung menghubungi kembali ponsel Cinta. Tiga kali berturut-turut tapi Cinta tidak juga menjawab nya.
Vindra semakin gusar dan panik ia bertanya kepada pemilik warung tapi jawaban nya tidak tahu. Kemana Cinta pergi? Vindra semakin kebingungan.
Vindra mengusap wajah nya yang basah terkena air hujan. Dalam sekejap Vindra sudah menggigil, seluruh tubuh nya gemetaran. "Dimana kamu Cinta?" Gumam nya dengan bibir yang bergetar.
"Maaf mas, tadi saya dengar mas nya sedang mencari mba yang tadi ada disini?" Ucap seorang lelaki paruh baya kepada Vindra.
Sontak Vindra terkejut. "Apa mas tahu keberadaan nya? Kemana dia pergi?" Tanya Vindra antusias.
"Tadi saya lihat mba nya pergi bersama dua orang pria ke arah sana, sempat sih saya teriaki karena hujan sangat deras saya kasihan liat mba nya kehujanan....."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu saya akan mencari nya ke sana....terima kasih untuk informasinya mas..." Ucap Vindra menyalimi tangan lelaki paruh baya itu.
Vindra pun segera bergegas menyusuri deras nya hujan ke arah tempat yang di tunjuk lelaki paruh baya tadi. Langkah Vindra semakin lebar dia mencari-cari Cinta hingga ke pelosok-pelosok pertokoan. Tapi tidak ada juga tanda-tanda adanya Cinta.
Vindra semakin frustasi, dia menendang tong sampah yang berada di sebelah kaki kirinya. "Akhhh.....Cinta kemana lagi aku harus mencari mu? Sayang kamu dimana, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu...." Vindra tertunduk.
Kepalanya pusing Vindra berpegangan di tembok pertokoan. Tapi tiba-tiba saja terdengar suara jeritan dari seorang gadis. "Lepaskan aku, awwh....tolong aku, tolong" teriak gadis itu.
__ADS_1
Vindra terdiam mendengar suara tersebut. Dia merasa sangat familiar, benar saja. Suara itu adalah suara Cinta yang sedang meminta tolong. Vindra menghela nafas kasar. Ia pun meraih sebuah kayu. Membawanya menuju sumber dari suara Cinta yabg meminta tolong.
"Woi.....lepasin cewek gw!!!" Teriak Vindra dari kejauhan. Geram sekali rasanya. Sampai-sampai dingin nya air hujan tidak lagi dia rasakan. Karena isi kepalanya semua menjadi panas.
Melihat sang kekasih yang sedang diganggu hendak di lecehkan. Vindra kalap mata dia langsung menghampiri dua pria itu. Kemudian menghajar nya menggunakan kayu tersebut.
Memukul, menendang, hingga menginjak-injak nya. Vindra tidak mau berhenti, kecuali saat itu Cinta tidak memeluk nya. Mungkin kedua pria itu bisa mati di tangan Vindra.
"Vindra....Vindra, sayang sudah jangan teruskan kamu bisa membunuh mereka...." Cinta memeluk Vindra dengan erat. Menahan tangan lelaki itu yang bergetar geram masih ingin memukul.
Vindra terdiam dan tersadar. Dia pun merenggangkan pelukan Cinta. Ia meraih wajah sang kekasih menggunakan kedua tangan nya. Vindra menatap lekat wajah Cinta yang berlinangan air mata.
"Sayang, kamu gak kenapa-kenapa kan? Apa mereka sudah berbuat sesuatu padamu?" Vindra nampak sangat cemas melihat Cinta menangis, air matanya juga ikut menetes. Cinta pun menggelengkan kepala nya.
"Maafkan aku yang membuatmu menunggu lama, maafkan aku Cinta...." Vindra kembali mendekap Cinta kedalam dekapan nya. Mereka berdua sama-sama menangis sambil berpelukan di tengah hujan.
Mereka pun kembali ke resort saat itu juga. Vindra merangkul Cinta yang jalan nya terseok-seok. Akibat terjatuh ketika berusaha kabur dari para lelaki bajingan tadi.
"Mau kemana Vin?" Tanya Cinta sembari menghentikan langkah kaki nya. Menatap heran ke arah Vindra.
"Huusstt, diam aja gak usah banyak tanya dan menolak...." Vindra menutup mulut Cinta menggunakan telunjuk nya. Ia terus merangkul Cinta menuju meja receptionis. Kemudian dia memesan sebuah kamar VIP.
"Aku gak mungkin se-tega itu untuk membiarkan mu tidur di tenda merasakan dingin nya udara malam sayang....tidur lah bersama ku di dalam kamar" ucap Vindra tersenyum tipis setelah receptionis memberikan kunci kamar padanya.
Seketika mata Cinta membulat, wajah nya juga memerah seperti kepiting rebus. "Apa-apaan itu? Bagaimana bisa kita tidur di kamar yang sama?" Cinta tersipu malu.
__ADS_1
"Kenapa? Bukan kah kita juga pernah tidur sekamar waktu di kamar kost mu" Vindra tidak mau kalah.
"Iya tapi itu kan, itu kan udah lama beda sama sekarang" Cinta terbata-bata merasa sangat malu.
"Kenapa wajah mu merah seperti itu sayang?" Vindra mendekatkan wajah nya dengan wajah Cinta. Membuat gadis itu semakin gugup. Jantung nya berdebar dengan sangat cepat.
"Enggak kok, siapa bilang? Perasaan mu saja itu" elak Cinta tersenyum getir. "Tapi awas saja jika kamu berbuat macam-macam padaku..."
Vindra tergelak mendengar perkataan Cinta yang dia anggap sangat lucu. "Aku tidak akan melakukan macam-macam padamu sayang, cukup satu macam saja kok..." Vindra tersenyum miring dan menyeringai sangat licik.
"Apaan sih, dasar mesum" Cinta menyiku perut Vindra. "Awwh sakit sayang...." Vindra meringis.
Kini mereka sudah berada di depan pintu sebuah kamar VIP no.3598. Setelah Vindra membuka pintu kamar itu, mereka berdua pun segera masuk ke dalam. Sambil berangkulan berjalan perlahan.
Tetapi tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Tak lain adalah Mey dan Elang.
Mey mengepalkan tangan nya, melihat Vindra dan Cinta yang semakin hari semakin manis dan romantis. Membuat dirinya geram dan tidak terima tentunya. Mey memukul pelan dinding yang berada di depan nya. Tempat ia bersembunyi bersama Elang mengawasi Cinta dan Vindra sedari tadi.
"Aku sangat membencimu Cinta, awas saja pokoknya aku tidak akan membiarkan kamu dan Vindra bersatu, tidak akan pernah" geram Mey.
"Hahaha..." Elang tertawa pelan. Kemudian dia melingkarkan tangan nya di pinggul Mey. Membuat wanita itu terhimpit dengan tubuh nya.
"Untuk apa kamu susah payah membuat mereka pisah, mereka berdua tidak akan bisa terpisahkan lagi.....sebaiknya kamu mundur Cantik, kan masih ada aku, bagaimana jika kita pergi bermain-main bersama di kamarku..." Elang menyeringai. Seringaian nya itu malah membuat wajah tampan nya semakin menawan. Mey menelan salivanya.
"Apaan sih, lepaskan aku...." Mey mendorong tubuh Elang menjauh kemudian berlalu pergi meninggalkan pria tampan itu sendiri. Elang malah tertawa renyah menanggapi sikap sombong Mey.
__ADS_1
TBC.
Note : Jangan lupa like dan komentar dong😁 dari tadi author udah up banyak tapi yang komentar cuman dikit...pada kemanaan sih readers setia Vindra dan Cinta?💪🏻💪🏻 Pengen minta semangat nya boleh dong☺️☺️