
"SIALAN....." Vindra berteriak sambil menendang bak sampah yang ada di sebelah nya.
"VINDRA KAMU MEMANG BRENGSEK....kenapa kamu harus membawa-bawa Andra....maafkan aku Ndra" Vindra memaki dirinya sendiri, sembari mengacak rambut nya.
"Bisa-bisa nya kamu menyatakan cinta kepada seorang gadis seperti itu, bodoh-bodoh kau sangat bodoh Vindra...." Terus menerus menyalahkan diri sendiri.
"Sekarang aku yakin Cinta pasti sangat sedih, tapi kenapa aku malah membiarkan nya sendiri.....wanita selalu seperti itu, jika ia berkata ingin sendiri itu artinya dia butuh seseorang untuk menemaninya...." Vindra pun berlari mengejar Cinta.
Ia baru tersadar jika wanita selalu saja seperti itu. Apa yang dia ucapkan selalu berbanding terbalik dengan apa yang dia harap kan. Karena itu sekarang Vindra hendak menyusul Cinta. Ia tidak mau gadis itu menangis sendiri tanpa pundak seseorang untuk menemaninya.
Seketika langkah Vindra terhenti.
Ia melihat Cinta sedang duduk di bangku taman belakang. Menangis tersedu-sedu.
Sakit sungguh sakit hati Vindra melihat gadis yang ia sukai itu menangis. Apa lagi penyebab nya adalah dia. Tanpa disadari oleh Vindra, air matanya ikut menetes. Seakan bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Cinta saat itu.
Vindra mengerutkan dahi dan menajamkan tatapan matanya. Ketika melihat ada seorang pria yang berjalan mendekat ke arah Cinta.
"Ini untuk menyeka air matamu, sayang sekali seorang gadis cantik menangis di tempat seperti ini...." Ucap pria itu tersenyum ramah kepada Cinta.
__ADS_1
"Pak Elang?" Lirih Cinta ketika mendapati sosok Elang yang ternyata ikut duduk di sebelah nya. Sambil memberikan sapu tangan kepadanya.
"Hahaha.....aku terlalu muda untuk di panggil bapak, kau bisa memanggilku apa saja selain bapak" Elang tertawa renyah.
"Makasih kak...." Dengan gugup dan ragu-ragu Cinta menerima sapu tangan tersebut. Lalu menyeka air matanya yang sudah membasahi wajah cantik nya.
Disisi lain.
Vindra nampak begitu geram. Ia menghapus air mata dengan kasar nya dengan tangan yang mengepal. Tidak tahan dengan pemandangan tersebut yang membuat hati nya panas. Vindra pun berbalik badan dan pergi dari tempat tersebut.
Karena emosi Vindra membiarkan Cinta bersama dengan Elang saat itu. "Untuk apa aku menyusul nya, jika ada pria lain yang menemani nya" geram Vindra.
"Vindra...." Sapa seorang wanita sembari menarik tangan Vindra yang berjalan lurus melewatinya.
"Lepaskan aku...." Vindra menepis tangan wanita itu dengan kasar.
"Maaf, aku tidak bermaksud....." Lirih wanita itu pelan sambil memegangi tangan nya yang sakit akibat tepisan keras dari tangan Vindra.
Vindra seketika tersadar. "Mey....maafkan aku, aku tadi sedang emosi....maaf" ucap Vindra merasa bersalah.
__ADS_1
Mey mengangguk sembari tersenyum. "Tidak apa-apa Vin...."
Vindra menatap tangan Mey yang merah akibat luapan emosi nya tadi. Untung saja dia tersadar, jika tidak mungkin dia akan meluapkan semua emosi nya kepada Mey.
"Kamu mau kemana? Kok buru-buru? Kamu sedang marah?" Mey bertanya pada Vindra cemas.
"Aku mau kembali ke kelas, aku tidak apa-apa kok gak usah khawatir" jawab Vindra tersenyum singkat.
"....aku pergi dulu" lanjutnya hendak melangkah pergi.
Tapi lagi-lagi Mey menahan nya. " Tunggu Vin...."
"Ada apa lagi Mey?" Tanya Vindra menoleh.
"Ada yang mau aku omongin ke kamu....." Ucap Mey dengan raut wajah ragu-ragu takut di Vindra menolak berbicara dengan nya.
Vindra menghela nafas panjang. Awalnya dia menatap arah belakang tempat tadi dia melihat Cinta dan Elang. Habis itu menatap kembali wajah Mey.
"Baiklah...." Akhirnya Vindra setuju. Mey menghela nafas lega. Ia pun mengajak Vindra untuk bicara di belakang ruangan perpustakaan.
__ADS_1
TBC.