
Wanita itu berdiri di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi kamar nya. Menatap sendu wajah nya sendiri. Setetes air bening mengalir di pipi nya yang langsung dia usap dengan cepat.
"Cinta? Aku bahkan belum bisa melupakan cara dia memanggil namaku," lirih nya dengan wajah sedikit tertekuk menahan tangis.
"Bagaimana aku bisa melupakan mu, Vin? Maafkan aku, tapi aku sudah bukan Cinta yang km kenal...aku adalah Zahra..."
"... dan yang lebih penting sekarang aku adalah seorang istri dan ibu dari seorang gadis kecil yang cantik."
Dikata akhir nya dia tersenyum mengingat raut wajah putri ter cantiknya yang dia beri nama Cinta Airish Mahendra. Marga sang suami yang begitu jelas di belakang nama sang anak, Mahendra.
Keluarga Mahendra, keluarga terpandang yang memiliki perusahan migas terbesar. Pertambangan, Perminyakan, bahkan sekarang mereka sedang terjun kedalam bisnis properti.
Sekarang dia bukan lagi Cinta tapi dia adalah Zahra. Zahra Adisty Mahendra, desainer interior di perusahaan kecil miliknya. Perusahaan yang dia bangun dari tabungan nya selama tiga tahun setelah memutuskan menikah dengan Reyvin sang suami tujuh tahun yang lalu.
Gletak!!!
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka dengan keras. Sontak Zahra menoleh kearah pintu. Dan mendapati suaminya Reyvin berdiri didepan pintu kamar mandi. Menatapnya dengan wajah merah dan mata sayu, lalu ia tersenyum tipis.
"Sayang, kamu kok belum tidur?"
Reyvin berjalan gontai lalu memeluk Zahra dengan tubuhnya yang lemas. Zahra sedikit tersentak karena harus menanggung tubuh Reyvin yang sedikit berat.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu bahkan belum pulang?"
Zahra mendorong tubuh Reyvin perlahan agar dia melepaskan pelukan nya. Reyvin tersenyum dan membelai wajah Zahra lalu mengecup bibirnya.
"Sayang, kenapa cemberut seharusnya kamu tidur saja duluan... heheh, " ucap Reyvin dengan nada bergurau.
"Lepaskan aku, mulutmu bau minuman...mandi sana aku mau tidur, " pekik Zahra yg kesal dengan tingkah Reyvin.
Ia pun segera meninggalkan Reyvin sendiri di dalam kamar mandi.
Zahra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. memiringkan tubuhnya menghadap balkon kamar nya. Sejenak dia termenung, mengingat kejadian tadi siang yang sangat tidak di sangka-sangka.
"Dia menemukanku," lirihnya pelan.
__ADS_1
"Siapa? Siapa yang menemukanmu?" sahut Reyvin yang tiba-tiba sudah berbaring di belakang dan memeluknya.
Zahra tersentak kaget dan sedikit kikuk harus menjawab apa. Tidka mungkin kan dia jujur kepada Reyvin tentang kejadian siang tadi jika dia bertemu Vindra mantan pacar nya waktu di SMA.
"Bu-bukan siapa-siapa..."
"Kenapa kamu jadi terbata-bata?" Reyvin jadi curiga.
"Jangan mengalihkan, seharusnya aku yang bertanya...kamu dari mana? Kenapa setiap malam kamu mabuk dan pulang larut kaya gini?" ucap Zahra mengalihkan pembicaraan Reyvin.
Reyvin menghela nafas dan beralih terlentang menatap langit-langit kamar. Setelah mandi dan membersihkan diri, mabuk nya sudah mulai hilang.
"Huft.... bukan urusan mu, Zahra. Tidurlah, ini sudah sangat larut, " jawab Reyvin malas.
Zahra kesal dan langsung berbalik menatap Reyvin dengan sengit. "Kenapa itu bukan urusan ku? Aku ini istrimu!"
Zahra sudah tidak bisa menahan amarah nya. Dia bangun dan duduk di hadapan Reyvin. Pria itu menatap nya dengan wajah biasa.
"Rey, kalau memang kamu sudah gak punya perasaan dan gak mau lagi sama aku, kita cerai saja! Aku muak dengan tingkah mu yang begini setiap malam nya!!"
"Perasaan? Kamu bicara soal perasaan dengan ku? Kamu tanya pada dirimu sendiri, selama ini apakah pernah sedikit pun kamu punya perasaan padaku?" bisik Reyvin dengan nada mengancam di telinga Zahra.
Zahra terdiam dengan perkataan Reyvin yang seperti belati menusuk ke jantungnya. yang membuat dia tercekat tidak bisa menjawab.
"Tidak pernah, tidak pernah Ra. Kamu selalu menutup hatimu buat aku, dan pernikahan ini..." Reyvin terkekeh dan merentangkan tangan nya menatap seisi kamar itu dengan hinaan.
"Pernikahan ini berjalan dengan rasa hambar selama tujuh tahun! DAN ITU SEMUA KARENA KAMU!" Reyvin mencengkeram kembali lengan Zahra.
Zahra menatap wajah Reyvin yang sudah memerah karena amarah. "Rey, lepaskan sakit, " ringisnya pelan.
"Dari awal kamu disini sebagai pengisi buat aku, Zahra. Aku menikahi mu atas keinginanku dan atas hutang keluargamu, jadi semua keputusan ada padaku, kamu tidka bisa seenaknya mau pergi! Ingat itu!"
"Gila kamu, Rey. Lepaskan aku!" Zahra menepis tangan Reyvin lalu beranjak dari tempat tidur.
Zahra meninggalkan Reyvun dan keluar dari kamar dengan menutup pintu dengan keras. Di dalam kamar Reyvin mengusap wajah pias nya setelah menatap kepergian Zahra. Dia sangat kesal dengan sikap Zahra hingga mengeluarkan kata-kata tersebut. Walaupun sebenarnya dia tidak mau kata-kata itu keluar dari mulutnya bahkan didengar langsung oleh Zahra.
__ADS_1
Setelah bertengkar dengan Reyvin, Zahra mendatangi kamar Cinta sang anak. Dia membuka perlahan pintu kamar nya agar tidak menyebabkan bising yang didengar oleh Cinta dan membangunkan tidur nyenyak nya
Zahra merebahkan tubuhnya disebelah Cinta dan memeluk nya dengan hangat. Air matanya mengalir begitu saja. Zahra tidak bisa menahan tangisan nya.
"Dari mana aku tidak memiliki perasaan untuknya. Aku bahkan sudah mulai membuka hati dan mencoba menerima pernikahan ini...walaupun demi Cinta tapi aku juga sudah mulai membiasakan hati buta kamu Reyvin...tapi kata-kata mu malam ini membuat ku kembali sadar akan siapa diriku dan bagaimana bisa takdir membuat kita bersama...." batin nya ikut menangis.
Zahra mengusap lembut kepala Cinta yang tertidur pulas. Lalu mengecup pucuk kepala nya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan bunda, sayang.. "
***
Pagi harinya.
Zahra tengah menyiapkan bekal makan siang untuk Cinta di atas meja makan. Zahra melirik kearah Reyvin yang berjalan ke arah meja makan sambil membenarkan jas kerjanya.
"Aku ada kerjaan di luar kota, mungkin untuk beberapa hari tidak bisa pulang, " ucap Reyvin mengawali percakapan.
"Iya, " jawab Zahra singkat.
Reyvin menatap ekspresi wajah Zahra yang datar dan dingin. "Dia masih marah ternyata," gumam nya pelan.
"Ayah.... bunda... good morning," sapa Cinta yang berlari ke arah Reyvin.
Reyvin memeluk Cinta dan memangku di pahanya. "Cantik sekali anak ayah, wangi lagi...ayo sarapan dulu, " ucap Reyvin.
"Cinta sudah terlambat ayah, bunda ayo berangkat... " ajak Cinta yang langsung menarik tangan Zahra pergi.
Zahra dan Reyvin saling menatap beberapa detik lalu kembali memalingkan wajah masing-masing.
"Dia bahkan tidak melarangku pergi, yasudah lah aku tidak perduli, " gumam Reyvin tidak tahu menahu.
Drrt...drrt...drrt...
Ponsel nya di atas meja bergetar, segera ia menerima panggilan masuk tersebut.
"Hmm, iya sayang aku tidak lupa...hari ini kita jadi berangkat ke bali, " ucap nya tersenyum sambil menyantap sarapan nya.
__ADS_1
To be continued. . .