
*****
"Vin kapan-kapan main kerumah lagi yah....." ucap Mey blak-blakan. Membuat Cinta yang mendengar nya terbelalak.
"Cihh...dasar gak tahu malu, masa iya ngajakin cowok main kerumah" gumam Cinta. Sembari menatap Mey dengan rasa geli dan tak percaya. Dia sempat berpikiran jika Vindra sering main ke rumah wanita itu.
"Baiklah kapan-kapan, kalau ada waktu.....sudah lampu hijau gue duluan yah, bye" ucap Vindra sebelum kembali menancap gas.
Brum...brum...brum
Motor Vindra melaju kembali, meninggalkan jauhmobil Mey dibelakang sana.
Mey menatap diam kepergian Vindra yang semakin menghilang didepan sana. Dadanya kembali berdebar hebat setelah bertemu Vindra. Dia pun tersenyum miring, sembari menutup kembali kaca mobilnya.
"Hatiku kembali berdebar bertemu lagi denganmu Vin,kali ini aku akan membuatmu menjadi miliku lagi" ucap Mey tersenyum, kemudian mulai menancap gas.
.
.
.
Vindra melirik sepion kanan nya yang menampakan jelas wajah Cinta. Vindra tersenyum pasif saat mendapati Cinta yang memasang wajah masam.
"Eehhmm...." dehem Vindra.
Cinta melirik sepion tersebut, kemudian kembali menghadap kedepan. Saat ini dia tidak ingin meladeni Vindra, jadi dia memilih untuk diam. Sedangkan Vindra merasa diacuhkan, dia pun bertanya....
"Mau sarapan apa? Kita beli dulu sebelum kerumah ku?" tanya Vindra.
"Sudah kenyang...." sahut Cinta singkat dengan muka cuek nya.
"Kenyang makan apa? Makan angin hahaha" Vindra tertawa lepas, berharap Cinta ikut tertawa. Tapi sia-sia Cinta hanya diam tak merespon.
"Yasudah kalau gak mau....." ucap Vindra lagi.
"Iya..." lagi-lagi Cinta menjawab singkat dan padat. Membuat Vindra sedikit kesal.
Dia pun kembali melajukan motornya menuju rumah tanpa singgah kemana-mana. Karna Cinta tidak ingin membeli apapun untuk sarapan.
Sesampainya didepan rumah Vindra. Pak Joko langsung membukakan pagar untuk motor Vindra masuk. Dia geleng-geleng kepala, melihat majikan nya itu benar-benar serius dengan perkataan nya sebelum pergi. Vindra kbali membawa wanita cantik kerumah nya.
Setelah terparkir rapi motor Vindra. Cinta pun turun dari motor dan berusaha membuka helm yang dia pakai. Dengan wajah yang cemberut dan manyun. Tidak membuat kecantikan nya luntur. Malah membuat nya menggemaskan, ingin sekali rasanya Vindra mencubit hidung mancungnya itu.
"Santai aja, gak usah marah-marah gitu!! Entar rusak lagi helm ku" ucap Vindra menggoda Cinta. Dia pun langsung menarik tangan Cinta hingga mendekat padanya.
__ADS_1
Cinta masih diam tak berkata, bahkan wajah nya masih datar tak ingin menatap Vindra.
Cklek....
Vindra berhasil membantu Cinta melepaskan helm yang menempel dikepalanya. Kemudian dia merapikan rambut Cinta yang berantakan akibat helm.
Deg...deg...deg
Jantung Vindra tiba-tiba berdetak tak karuan. Dia langsung memalingkan wajah nya. Menghirup udara banyak-banyak, seakan lehernya tercekik susah untuk bernafas.
"Kenapa?" tanya Cinta.
"Nggak apa-apa kok, ayo masuk" jawab Vindra gugup, kini wajah nya memerah.
Vindra pun mengajak Cinta masuk kedalam rumah nya. Didalam mereka sudah disambut oleh Bi Wulan. Dengan ramah nya Bi Wulan menyapa Cinta. Cinta tersenyum dengan manisnya menanggapi Bi Wulan.
"Sudah cantik, lembut pula....Den Vindra beruntung sekali" gumam Bi Wulan dalam hati. Dia begitu kagum akan sosok Cinta yang bahkan ramah kepada seorang pembantu sepertinya.
"Bi...bikinin Vindra jus mangga yah dua, bawain ke ruang baca" ucap Vindra.
"Baik Den, nanti Bibi bawakan kesana" jawab Bi Wulan dengan sigap, sembari berlalu kedapur.
"Ayo...." Vindra meraih tangan Cinta, menggandengnya keruang baca. Tempat dimana mereka akan belajar bersama.
Wajah Cinta memerah, saat Vindra menggandeng tangan nya. Ada perasaan aneh didalam dirinya, yang dia sendiri pun tidak mengerti.
"Duduk disini, kalau mau baca buku pilih aja disana....aku mau ke kamar dulu" ucap Vindra.
"Iya...." jawab Cinta.
Vindra pun meninggalkan Cinta sendiri diruangan tersebut. Dia hendak mengambil sesuatu didalam kamarnya.
Sepeninggal Vindra, Cinta tidak langsung duduk. Dia memilih mencari sebuah buku untuk menjadi teman belajarnya. Dikelilinginya satu ruangan itu, mencari-cari buku yang cocok. Sampai pada akhirnya Cinta menemukan sebuah buku sejarah favoritenya.
"Buku ini, seperti punyaku....siapa yang membacanya? gak mungkin kan cowok songong itu, gak yakin deh" Cinta menggeleng-geleng kepala nya sendiri. Sangat tak percaya jika buku itu adalah milik Vindra.
Dia pun mulai membuka buku tersebut, dari halaman ke halaman. Tiba-tiba saja terjatuh sebuah foto dari selipan halaman buku itu. Cinta langsung memungut foto tersebut dari lantai.
Saat dia membalikan foto tersebut, seketika matanya membulat dan mulai berkaca. Melihat seseorang yang ada didalam foto itu. Nampak Vindra dan Andra yang saling merangkul, tertawa bersama terlihat sangat bahagia.
Air matanya pun menetes membasahi secarik foto itu. Air mata yang hendak ditahan nya tapi tak sanggup. "Rindu? Pasti lah aku sangat merindukanmu Andra.....tak bisa kah kita bertemu untuk terakhir kali lagi" Batin Cinta.
Saat itu juga dia sadar jika buku yang dia pegang adalah milik Andra. Mereka berdua memiliki selera baca yang sama. Yaitu mengenai sejarah....
Tok...tok...tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Cinta, cepat-cepat ia langsung mengusap air matanya itu. Lalu berbalik melihat siapa yang datang.
"Permisi Non, ini bibi bawakan minuman nya" Bi Wulan berjalan masuk sembari membawa nampan berisi dua gelas jus mangga.
"Makasih bi, taroh aja dimeja" ucap Cinta tersenyum.
Bi Wulan pun menaruh minuman tersebut diatas meja. Kemudian berlalu pergi dari ruangan itu. Saat Bi Wulan keluar dari pintu, tak sengaja ia berpapasan dengan Vindra.
Vindra pun masuk kedalam ruang baca tersebut, dan menghampiri Cinta. "Sedang apa?" Vindra berdiri tepat dibelakang Cinta.
"Cuman baca buku aja...." ucap Cinta sembari memperlihatkan buku yang ada digenggaman nya.
Vindra melirik buku tersebut, dia tahu jika buku itu milik Andra dan didalam nya terdapat photo mereka berdua. Vindra menatap lekat wajah Cinta, membuat Cinta sedikit risih.
Dia pun memalingkan wajah nya dan hendak melangkah menjauh. Tetapi tangan nya ditahan oleh Vindra. Vindra memegang kedua pundak Cinta, kemudian menyibakan rambutnya gadis itu kebelakang.
"Apaan sih..." Cinta berusaha melepaskan tangan Vindra dipundak nya. Cinta tidak sadar jika masih terdapat sedikit air mata dipipi kanan nya.
"Kalau nangis itu jelek tau..." Vindra mengusap lembut air mata itu. Membuat Cinta terkejut dan langsung berpaling.
"Siapa juga yang nangis, sok tau banget" ucap Cinta berusaha menutupi jejak tangis nya.
Cinta pun duduk dikursi yang telah disediakan itu, disusul oleh Vindra yang duduk disebelah nya. Cinta menatap Vindra yang sedang sibuk dengan buku didepan nya.
"Sejak kapan dia pakai kaca mata?" gumam Cinta.
Dia heran sejak kapan Vindra memakai kaca mata. Apa sejak tadi, tapi Cinta saja yang tidak memperhatikan nya. "Kenapa pake kaca mata?" Cinta pun bertanya karna penasaran.
Vindra menoleh kearah Cinta, lalu tersenyum menyeringai. Kemudian bergaya sok gagah, dengan menurunkan kaca matanya. "Kenapa memangnya? Ganteng yah...."
Vindra mengedipkan matanya sebelah, membuat Cinta bergidik ngeri. "Dasar yah, ditanyain serius malah jawab nya gak jelas" Cinta memutar bola matanya malas.
"Hahaha.....Mataku minus, makanya jika belajar aku pake kaca mata" jelas Vindra. Kemudian dia kembali membaca buku dihadapan nya itu.
"Ooh......" ucap Cinta, sembari meminum jus yang tadi dibawakan Bi Wulan.
.
.
.
Ravindra🖤🖤
__ADS_1