
Beberapa jam kemudian, sampailah mereka semua di sebuah resort yang akan menjadi tempat mereka camping. Karena sudah di sediakan tempat lapang yang di kelilingi pohon-pohon Pinus. Tempat tersebut sengaja dibuat untuk acara perpisahan seperti ini. Sudah banyak sekolah-sekolah yang menyewa untuk acara seperti itu di sana.
Nampak semua murid-murid berkumpul di depan resort itu untuk mendengarkan arahan selanjutnya dari kepala sekolah. Setelah mendengar arahan dari kepala sekolah. Mereka semua langsung berhamburan memasuki pintu masuk resort menuju tempat yang sudah di tentukan. Raut kagum dan senang dari wajah mereka nampak jelas. Kagum terhadap indah nya tempat tersebut.
Brum...Brum...Brum.
Mobil Vindra memasuki lahan parkir yang telah di sediakan. Sepanjang perjalanan Cinta terlelap dia entah apa yang membuatnya begitu kelelahan.
Vindra sendiri heran. Mengapa kekasih nya itu terlelap sangat nyenyak seperti orang yang tidak tidur semalaman. Tapi Vindra tidak ingin bertanya apalagi mengganggu tidur Cinta. Dia memilih diam dan memfokuskan diri untuk menyetir.
"Cinta....Cinta....Sayang bangun, kita sudah sampai" Vindra mencubit-cubit pipi Cinta untuk membangunkan nya.
"Hmmm...." Cinta menggeliat merentangkan tangan nya, untuk merenggangkan otot nya. Lalu mengucek matanya. "Sudah sampai? Maaf yah aku ketiduran...."
"Gak apa-apa kok....ayo turun" ajak Vindra sembari tersenyum.
Mereka berdua pun sama-sama turun dari mobil.
"Sini aku rapikan dulu, masa cewek cantik bentuk nya seperti ini?" Vindra merapikan rambut Cinta yang berantakan, lalu mengusap matanya yang bengkak akibat tertidur.
Cinta tersenyum mendapat perlakuan manis itu dari Vindra. Tetapi entah kenapa seketika raut wajah nya berubah sedih. "Jaket mu mana? Dipakai biar gak dingin...."
"Siap Tuan putri...." Vindra hormat sambil tersenyum cerah. Kemudian kembali mengambil jaket nya di dalam mobil lalu mengenakan nya.
"Ayo masuk sayang....." Vindra meraih tangan Cinta. Menggandengnya dengan jari-jari yang saling bertautan.
"Wah....indah nya" Cinta berdecak kagum ketika baru memasuki resort tersebut.
Suasana sejuk nan indah. Sekeliling nya terdapat hutan dan sawah-sawah yang semuanya berwarna hijau. Sangat berbeda dengan suasana di Jakarta yang hanya di kelilingi gedung-gedung perkantoran dan apartemen yang tinggi-tinggi.
"Jangan bilang kamu belum pernah kesini?" Tanya Vindra sembari menyipitkan matanya menatap Cinta.
Cinta menggelengkan kepala nya yang artinya tidak pernah. "Aku di Jakarta hanyalah seorang perantauan....yang mendapat beasiswa untuk sekolah di sekolah terbaik kita, bahkan hanya daerah-daerah tertentu saja yang aku tahu di sana...."
__ADS_1
"Perantauan? Jadi dimana kota aslimu? Tempat keluarga mu berada....." Tanya Vindra lagi semakin penasaran. Mereka berdua masih berdiri di ambang pintu masuk.
"Kamu sudah tahu Vin, aku tidak memiliki orang tua dan aku hanya memiliki seorang nenek saja yang berada di kota Ba---" ucapan Cinta terhenti.
"Vindra, ayo masuk sebentar lagi ada arahan dari kepala sekolah, mengenai pembagian grup" ucap Mey memotong perkataan Cinta yang tiba-tiba ada di sebelah Vindra.
Vindra menghela nafas berat tanpa menghiraukan Mey, dia pun menggandeng Cinta masuk ke dalam resort menuju tempat semua nya berkumpul.
"Sialan kamu Vindra....." Gumam Mey memaki Vindra. Menatap tidak suka ke arah Vindra dan Cinta yang berjalan di hadapan nya.
Sesampainya di tempat semua murid berkumpul. Kepala sekolah langsung memberikan arahan tentang pembagian kelompok grup.
"Saya tidak setuju pak....." Ucap Vindra dengan raut wajah kesal sembari mengangkat tangan nya.
"Ada apa Ravindra? Kenapa kamu tidak setuju? Apa kamu tidak suka di beri tugas untuk mencari kayu bakar? Atau kamu mau bergabung dengan grup ibu Mey, bertanggung jawab untuk memasak?" Bapak kepala sekolah tergelak dengan di iringi gelak tawa dari murid-murid lain.
"Saya tidak setuju jika dipisahkan oleh Cinta....Bapak jangan malah tertawa seperti itu" Ucap Vindra dengan tegas nya. Membuat kepala sekolah tersentak dan menelan salivanya.
"Vindra, kamu tidak perlu takut, saya pasti akan menjaga Cinta dengan baik...." Mey mencoba meyakinkan Vindra dengan menyentuh pundak lelaki itu lembut.
Vindra menunjuk Mey tepat di depan wajah nya. Memberikan nya ancaman jika sampai terjadi sesuatu kepada Cinta. Vindra tidak akan melepaskan Mey.
"Vin....sudah" Cinta menggandeng Vindra menjauh dari kerumunan itu. Ia merasa tidak enak dengan sikap Vindra kepada semua orang.
"Aku bisa menjaga diriku Vin, kamu tidak perlu mengkhawatirkan diriku....." Cinta menggenggam tangan Vindra dan mengelus pipinya dengan lembut.
Vindra diam menatap senyuman di wajah kekasih nya itu. Lalu ia ikut tersenyum sambil mengangguk. "Baiklah, tapi hati-hati, tetap bersama dengan grup mu jangan sampai terpisah...."
"Iya sayang iya, bawel banget sih...." Cinta mencubit hidung mancung Vindra.
"Aku begini karena gak mau kamu kenapa-kenapa....apalagi kamu tidak tahu daerah sini." Ucap Vindra.
"Iya aku tahu, lagian kan cuman sekedar beli bahan makanan di pasar terdekat....itu pun ramai-ramai bersama anggota grup yang lain....kamu gak usah khawatir yah....." Ucap Cinta lagi, mencoba membuat kekasih nya itu semakin yakin.
__ADS_1
"Iya...." Jawab Vindra singkat.
"Senyum dong, jangan gitu...." Cinta meraih wajah Vindra, mengarahkan nya menghadap dirinya.
Vindra pun tersenyum singkat dengan terpaksa. Sebenarnya perasaan nya sangat tidak enak. Membiarkan Cinta pergi keluar dari resort Vindra tidak pernah setuju. Tapi mau bagaimana lagi, jika Cinta juga berdecak ingin pergi. Vindra hanya bisa menuruti nya dan berharap tidak ada yang terjadi kepada kekasih nya itu.
***
Sebelum pergi ke pasar bersama anggota grup nya. Cinta di perintahkan untuk membantu memasang tenda terlebih dulu.
Namun ketika sedang menyatukan pipa-pipa tenda. Tiba-tiba saja seseorang yang tidak di undang datang. Orang itu datang-datang langsung menyentuh tangan Cinta.
"Cinta, sini aku bantu...." Ucap orang itu, pria tampan yang tak lain adalah Elang.
Sontak Cinta terkejut, dia langsung refleks menarik tangan nya. Membiarkan Elang mengambil pipa yang sedang dia pasang tadi.
"Kak Elang?" Lirih Cinta dengan suara yang bergetar. Dia teringat akan kejadian waktu itu. Saat Elang ingin memperkosa nya.
"Kenapa? Gak usah takut, aku hanya ingin membantumu" Elang tersenyum lebar dengan tatapan sendu nya kepada Cinta.
Tangan Elang menjulur ingin menyentuh wajah Cinta yang peluh nya menetes di pipi gadis itu. Tapi sebelum tangan nya menyentuh wajah Cinta. Tangan nya terlebih dulu di tepis kuat. Oleh Vindra yang tiba-tiba datang.
"Kalau loe mau bantu pasang, yah silahkan pasang sekalian semuanya...." Vindra menatap Elang dengan sinis. "Ayo kita pergi dari sini....." Vindra merangkul Cinta hendak membawanya pergi.
"Jangan pernah loe berani mendekati Cinta lagi, atau loe akan tau akibat nya...." Vindra menunjuk wajah Elang dengan kasar nya.
Elang tersenyum miring. "Tenang bro, gw hanya niat ingin membantu kok...."
"Halah, mulut loe tuh busuk Lang....gw gak akan pernah percaya lagi dengan omongan laki-laki ban**at seperti loe...." Vindra menyenggol pundak kiri Elang. Lalu berlalu membawa Cinta menjauh dari pria brengsek itu.
TBC.
Note : Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar☺️☺️
__ADS_1
Vote dan beri hadiah Author supaya Author nya semangat untuk up💪🏻💪🏻