More Than Friend (Lebih Dari Teman)

More Than Friend (Lebih Dari Teman)
Ch 78


__ADS_3

Setelah melajukan motornya dengan sangat kencang. Sebelum hujan turun membasahinya, Vindra telah sampai di rumahnya. Dia memarkirkan motornya sembarangan dan membuka helm lalu melemparkan nya begitu saja ke sembarang arah.


Vindra berjalan memasuki rumah nya dengan hentakan kaki yang keras. Audy sang mamah yang melihatnya pun menghampiri dan bertanya sebelum dirinya menaiki anak tangga.


"Vin, ada apa?" tanya Audy sembari memegang pundak sang anak.


Vindra menoleh dan menatap sang mamah dengan tatapan dingin. pandangan nya kosong dengan dada yang bernafas naik turun.


Dia pun berlalu begitu saja menaiki anak tangga. Tanpa menjawab dan tanpa menghiraukan Audy yang terus menatap penuh dengan rasa khawatir.


Pranggg....


Terdengar bunyi suara barang dan pecahan kaca di lantai, dari dalam kamar Vindra. Audy yang sengaja mengikuti sang anak ke kamarnya, tak sengaja mendengar. Dia pun semakin panik dan sontak menggedor pintu kamar Vindra dan berteriak memanggil nama anak nya itu beberapa kali.


"Vin!"


"Vindra!"


"Vindra, buka pintunya sayang! Kamu kenapa?"


Vindra tetap diam dan tak menjawab pertanyaan Audy dari luar kamarnya. Audy semakin panik ketika kembali mendengar suara barang yang terhempas kelantai. Wanita paruh baya itu menjadi kebingungan harus berbuat apa.


"Vindra, kalo kamu gak mau jawab mamah... baiklah terpaksa mamah buka paksa pintu kamar mu ini!!"


"Bi, tolong ambilkan kunci cadangan kamar ini!" perintah Audy pada pembantunya.


Pembantunya pun segera pergi menuruti permintaan Audy. Untuk mengambilkan kunci cadangan kamar Vindra. Namun tiba-tiba saja pintu kamar Vindra terbuka pelan.


"Vin, sayang kamu tidak apa-apa kan... kamu kenapa? Ada apa ini?" Audy bertanya sembari menyentuh pipi sang anak.


"Vindra gak apa-apa, mah...Vindra cuma minta tinggalkan Vindra sendiri untuk sekarang mah..." jawab Vindra dengan wajah lesu nya.


"Tidak Vin, mamah gak mau tinggalin kamu..."

__ADS_1


"Pliss mah, kali ini Vindra mau sendiri... kalau mamah gak mau, baiklah Vindra yang akan pergi untuk mencari ketenangan... "


Audy pun terdiam. Dia mengangguk menyetujui permintaan Vindra. Audy berpikir dari pada sang anak akan pergi lebih baik dia yang mengalah.


"Ok, mamah tinggalin kamu sendiri... tapi berjanjilah kamu tidak akan menyakiti dirimu sendiri, " ucap Audy dengan tatapan khawatir yang tanpa sadar ikut meneteskan air matanya.


Audy pun pergi.


Di dalam kamar. Vindra duduk dilantai sambil menyandarkan belakang nya di nakas samping tempat tidurnya.


Dia menunduk memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Entah apa yang harus dia lakukan. Dia bingung, dan ada rasa bersalah yang dia rasakan. Apakah ini jalan yang tepat, dia meninggalkan Cinta begitu saja di taman tersebut.


"Maafkan aku Cinta, aku meninggalkan mu bukan karena aku tidak menyayangi mu. Hanya saja aku tidak sanggup terus mendengar cacian mu, itu sangat menyakitkan, " lirih Vindra dengan suara serak akibat menahan amarah nya.


Dia menengadahkan kepala dan menatap bingkai foto dihadapan nya yang hancur berserakan dilantai. Dia lempar saat baru saja masuk kedalam kamarnya.


Vindra meraih bingkai tersebut yang kini sudah tidak memiliki kaca lagi, karena sudah hancur berkeping-keping. Di dalam bingkai tersebut terdapat foto dirinya dengan Cinta yang sedang bercanda ria tertawa.


Dipandangi nya dengan begitu lekat, sambil sesekali ia mengusap wajah Cinta yang tersenyum bahagia di foto tersebut.


Vindra menarik nafas panjang dan menutup matanya. Sambil memegangi dadanya yang terasa bagai tersayat-sayat sebuah belati, mengingat perkataan Cinta yang begitu menyakitkan nya.


Vindra mengusap kasar air matanya yang tanpa permisi mulai jatuh satu persatu. Kepalanya rasa ingin pecah. Semua kenangan-kenangan dirinya bersama Cinta. Terekam jelas bagaikan sebuah layar proyektor dalam pikiran nya. Mengingat itu semua membuat dirinya semakin tidak terkendali.


"ANJING, " teriaknya memaki dan melempar bingkai foto itu lagi ke arah dinding. Hingga benar-benar hancur berkeping-keping.


"BISA-BISANYA KAMU BERKATA SEPERTI ITU, CINTA. AKU TIDAK PERCAYA KAMU AKAN SANGAT MENYAKITIKU SEPERTI INI,,,,, AGGGHHHHH!!"


Tiba-tiba terdengar suara guntur yang begitu keras nya. Hujan pun turun begitu deras nya. Vindra pun tersadar dia menoleh ke arah jendela kamar menatap air hujan yang begitu derasnya turun.


Dia langsung kepikiran tentang Cinta. Apakah wanita itu sudah pulang dengan aman? Apakah dia tidak terkena hujan? Vindra masih sempat mengkhawatirkan sosok Cinta, yang dibilang sudah sangat menyakitinya.


"Apa perduli mu Vindra, dia bahkan tidak perduli bagaimana kata-kata nya menyakiti hatimu!!!" Vindra mencoba menyadarkan dirinya sendiri. Vindra pun membiarkan hujan semakin deras.

__ADS_1


Dia memilih untuk tegar dan mengikuti semua permintaan Cinta. Dia tidak akan menemui Cinta lagi, jika ini adalah jalan terbaik untuk mereka berdua. Walaupun begitu sulit, hati nya melepaskan Cinta yang sudah sangat dia cintai. Tapi Vindra tidak bisa apa-apa selain pergi dan menuruti permintaan kekasihnya itu.


"Aku akan mengakhiri ini, Cinta. Seperti yang kamu inginkan, " ucap Vindra dengan tatapan dingin menatap air hujan dari jendela kamarnya.


***


Dua hari telah berlalu sejak perpisahan mereka berdua yang begitu menyakitkan untuk keduanya.


Di bandara, Cinta berjalan sambil menarik tas koper dan memegang sebuah buku paspor di tangan kirinya. Dia melangkah dengan berat menghampiri seorang pria yang melambaikan tangan dan menunggunya di depan sana.


Di pandangi nya pria tampan yang memakai setelan jas itu. Wajah nya yang cerah dan tataan rambut yang rapi, dia berusia sekitar 22 tahun empat tahun lebih tua dari Cinta yang baru saja lulus SMA.


Cinta menoleh ke kanan dan kiri. Air matanya jatuh mengingat sosok Vindra. Ini adalah waktu terakhir kali dia berada di kota yang sama dengan Vindra. Sebentar lagi dia akan benar-benar pergi jauh dan tak akan pernah menemui Vindra lagi.


"Apa kabar mu?" sapa pria itu yang langsung memeluk Cinta tanpa basa basi.


Cinta hanya diam dan tidak membalas pelukan pria itu.


"Aku baik-baik saja, makasih ya kamu sudah membantuku, Rey."


"Sama-sama, sayang. Itu sudah tugas ku sebagai calon suamimu, aku harus membantu apapun itu masalahmu, " ucap pria tersebut sambil mengecup kening Cinta dengan lembut.


Calon suami? Rey? Siapa pria itu?


Dia adalah Reyvin Mahendra. CEO di salah satu perusahaan pertambangan batu bara logistic di Kalimantan Tengah. Reyvin, sudah mengenal Cinta dan keluarganya sejak mereka kecil. Karena orang tua mereka sudah menjodohkan mereka sejak kecil.


Akan tetapi Cinta memilih pergi dan tidak ingin terlalu bergantung pada Reyvin. Karena itu Cinta merantau dan hidup mandiri jauh dari nenek nya di kota kelahiran nya. Sejak orang tuanya meninggal 5 tahun yang lalu.


Tapi kini dia harus kembali. Karena nenek nya yang jatuh sakit, dan sedang koma. Cinta sudah menyepakati sebuah perjanjian. Bahwa dia bersedia menikahi Reyvin asalkan Reyvin mau membantu nenek nya yang sedang sakit.


"Ayo sayang, pesawat kita sebentar lagi berangkat..." Reyvin merangkul Cinta dan mengajak nya pergi.


Cinta hanya bisa diam dan mengikuti langkah Reyvin.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah melupakan kenangan ku di kota ini... selamat tinggal semuanya, selamat tinggal Vindra... aku akan selalu mengingat mu, "


To be continued...


__ADS_2