
Tak terasa seminggu sudah berlalu sejak hilang nya kabar Cinta sang kekasih. Vindra berdiri di balkon kamarnya. Melamun menatap area perumahan nya sambil jarinya mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
"Kemana lagi aku harus mencari mu? Sebenarnya kamu kemana, Cinta?" lirihnya dengan sendu.
Vindra menghela nafasnya dan berbalik menyandarkan punggung nya pada pagar balkon. Sesaat kemudian ketika dia sedang diam memikirkan sosok sang kekasih Tiba-tiba ponsel yang terus ia genggam bergetar.
Matanya berbinar perasaan sedih nya seketika berubah. Menatap nama kesayangan yang tercantum dilayar ponsel tersebut.
"Cinta, sayang kamu dimana?"
Vindra mengangguk mendengar perkataan Cinta kemudian langsung memutuskan panggilan tersebut. Vindra segera meraih jaket kulitnya dan kunci motor yang tergeletak di atas tempat tidur. Kemudian keluar menuruni anak tangga.
"Vin, kamu mau kemana?" tanya Audy sang mamah ketika melihat anak nya itu tergesa-gesa menuruni tangga.
Vindra menoleh ke arah Audy dengan senyuman nya. Dia mencium kening sang mamah.
"Vindra mau ketemu Cinta, mah..." jawabnya semringah.
Audy terdiam, tersenyum menatap kepergian Vindra. "Hati-hati, Vin. "
Vindra melajukan motornya di siang itu menuju tempat pertemuan nya dengan Cinta. Ditatap nya langit cerah saat itu lalu tersenyum. Dengan dada yang terus berdebar dipacu oleh rasa rindu yang terpendam.
Tanpa menyadari angin menyapu setetes air mata bahagia di wajahnya kala itu. Yang Vindra pikirkan hanyalah Cinta, dia rindu ingin memeluk tubuh kekasihnya tersebut.
"Aku tidak akan melepaskan mu kali ini, Cinta."
Vindra memarkirkan motornya secara sembarangan. Lalu berlari memasuki taman tersebut. Dia menatap sekeliling sambil beberapakali meneriaki nama Cinta.
Vindra menoleh kearah belakang saat mendengar suara langkah kaki mendekat padanya. Seketika bibirnya yang pucat membentuk sebuah senyuman lega. Akhirnya dia menemukan Cinta, yang selama seminggu menghilang tanpa penjelasan jelas
"Sayang, kamu kemana saja... aku sangat merindukanmu, aku mencari mu ke mana-mana," ucapnya sambil mendekap erat tubuh Cinta.
Menghirup aroma khas tubuh sang kekasih dengan begitu dalam. Tanpa sadar air matanya menetes.
__ADS_1
Vindra meregangkan pelukan nya. Tangan nya menyentuh pipi Cinta yang kala itu hanya diam menatapnya.
"Aku sangat merindukan mu." Kecupan hangat mendarat di kening Cinta.
"Apa kamu tahu betapa aku sangat mengkhawatirkan mu," ucapnya kembali dengan tatapan penuh haru.
Netra coklatnya yang indah terus meneteskan butiran bening bercahaya. Yang sontak membuat hati Cinta begitu sakit. Melihat kekasihnya yang selalu kuat, selalu tersenyum walau ada masalah apapun. Tapi sekarang karena dia laki-laki hebat itu menangis seperti anak bayi.
"Sakit sekali rasanya... ya allah, apakah aku sanggup menyakitinya? Aku tidak akan sanggup meninggalkan lelaki baik sepertinya... aku sangat mencinta nya, tapi mengapa kau memberikan ku pilihan seperti ini.. "
Tangan nya mengambang mengusap lembut air mata di wajah Vindra. Hatinya bagai tersayat melihat sang kekasih menangis karena dirinya.
Namun, sesaat kemudian dia tersadar. Cinta melepaskan rengkuhan tubuh Vindra. Dia menjauh dan membalikan tubuhnya. Tangan nya bergetar mengepalkan rasa takut. Bibir manisnya membungkam tak ingin berucap. Akan tetapi itulah tujuan nya dari awal bertemu dengan Vindra. Cinta ingin mengakhiri semuanya.
"Aku mau kita putus, jangan temui aku lagi Vin... "
Deg...
Seketika itu juga mata Vindra membulat, masih belum bisa mencerna perkataan sang kekasih. Dia pun mendekat dan mencoba meraih tangan Cinta. Akan tetapi ditepis oleh Cinta dengan sedikit kasar.
"Apa kamu bilang? Aku tidak mendengarnya dengan jelas? " suara Vindra mulai bergetar takut akan kata-kata yang keluar dari mulut Cinta tidak salah dia dengar.
Vindra menggelengkan kepalanya, sambil mengusap wajahnya. "Ayo kita pulang, aku antar... " ajak Vindra.
Cinta pun menoleh dan menatap Vindra dengan datar.
"Jangan sentuh aku Vin, aku mau kita putus. Aku sudah gak mau pacaran sama kamu lagi... sudah jelaskan!!" ucap Cinta dengan tegas.
Lagi-lagi Vindra menggeleng dan menatap Cinta dengan tidak mengerti. Dia berusaha mendekat dan memeluk kembali Cinta.
"Kamu pasti lelah makanya kata-kata mu melantur kaya gini... ayo kita pulang ke rumahku saja, mamah pasti sudah masak makanan enak, " ajak Vindra kembali.
"AKU BILANG JANGAN SENTUH AKU, VIN... APA KURANG JELAS KATA-KATA KU TADI? AKU MAU PUTUS!!!"
__ADS_1
Vindra terdiam menatap kekasih nya itu. Ini pasti bohong, ini pasti mimpi. Dia pun memilih berbalik membelakangi Cinta yang terus mengeluarkan kata-kata menyakitkan.
"Jangan hubungi aku lagi, Vin. Aku sudah gak mau pacaran sama kamu, dari awal kamu itu hanya pelampiasan saja buat ku... aku tidak pernah benar-benar punya perasaan sama kamu."
Cinta memegangi dadanya yang mulai sesak dengan kata-kata nya sendiri. Kata-kata gila yang harus dia ucapkan untuk membuat Vindra membencinya.
"Kamu itu bukan Andra... kamu datang saat Andra sudah tiada, aku tidak pernah benar-benar mencintaimu, selama ini hanyalah sandiwara ku saja...."
"Dan asal kamu tahu, kamu itu-"
Cinta memutuskan kata-kata nya, tidak sanggup dia berkata lagi. Tapi harus dia selesaikan.
"Kamu hanya sebagai penggan--"
Vindra berbalik dan meneriaki Cinta untuk diam.
"DIAM!!! Sudah Cinta hentikan..." Vindra menaruh jari telunjuknya di mulut Cinta.
"Aku bisa mendengar semuanya dengan jelas... aku juga sudah mengerti semuanya, aku sadar kok aku siapa. Kamu mau kita putus? Baiklah, kalau itu mau mu..."
Vindra mendekat dengan wajah datar nya ke wajah Cinta.
"Kita putus, dan aku tidak akan menemui mu lagi," ucapnya dengan dingin membuat Cinta tersentak dan dada nya bagaikan dipukul dengan sangat keras.
Lalu Vindra bergegas pergi meninggalkan Cinta yang masih mematung setelah bahu kanan nya ditabrak oleh Vindra. Dia menoleh kearah Vindra menatap bahu tegap itu semakin menjauh.
Cinta menatap lagi cerah yang seketika menjadi mendung. Terdengar suara motor Vindra yang terdengar meninggalkan kawasan tersebut.
Seketika itu juga guntur memecahkan keheningan hatinya yang membatu. Air hujan turun membasahi tubuhnya kala itu. Cinta terduduk disalah satu bangku taman. Dia menatap ke sekitarnya.
Air matanya pun mulai menetes bersamaan dengar air hujan yang membasahi wajah cantiknya. Cinta menangis hingga tersedak.
Lagi? Kedua kalinya cintanya kandas ditempat itu. Berakhirnya cinta yang baru saja dia mulai. Baru saja dia membuka hatinya kembali untuk Vindra. Laki-laki yang sangat sempurna untuk dirinya yang bukan siapa-siapa. Vindra yang selalu membuatnya tersenyum membuatnya bahagia setiap waktu. Hingga melupakan rasa sakit kehidupan yang dia rasakan.
__ADS_1
Akan tetapi, semuanya sudah berakhir. Kisah cinta yang baru saja dia mulai itu kini sudah hancur. Dan dia menghancurkan nya sendiri. Dia membuat Vindra merasakan sakit yang begitu dalam dengan kata-kata jahatnya.
To Be Continued...