More Than Friend (Lebih Dari Teman)

More Than Friend (Lebih Dari Teman)
Ch 25


__ADS_3

‍‍*****


Mereka berdua pun memulai acara belajar bersama tersebut. Tetapi tidak terlihat seperti sedang belajar bersama, melainkan seperti orang-orang yang berada diperpustakaan umum. Saling cuek dan tidak berkata sepatah kata pun.


Sesekali Vindra melirik kearah Cinta, begitu pun sebalik nya. Kecanggungan sudah benar-benar menghampiri keduanya.


"Huh..." Vindra menghela nafas nya panjang.


Vindra mulai merasa bosan, dia menutup buku yang dibacanya. Kemudian merebahkan kepalanya diatas buju tersebut. Kini pandangan Vindra tertuju pada Cinta.


Vindra tersenyum melihat raut wajah gadis itu. Raut wajah Cinta yang serius membaca, membuat Vindra tertegun. Dia merasa hari ini Cinta terlihat sangat cantik, dari mulai bangun tidur gadis itu terlihat begitu mempesona dimata Vindra.


"Cantik...." gumam Vindra tanpa sadar.


Matanya tidak bisa lepas terus memandang gadis yang kini ada disampingnya itu. Cinta merasa jika saat ini Vindra sedang menatapi dirinya. Membuat hati Cinta berdebar sangat hebat, dia mulai merasa gugup. Bahkan pipi Cinta kini merona merah.


"Kenapa malah menatap ku, bukan nya belajar" ucap Cinta sedikit gugup, tetapi dia mencoba untuk sesantai mungkin.


Vindra tersentak kaget, dia langsung memutar kepalanya kearah sebaliknya. Malu sekali rasanya kedapatan memandangi Cinta. Entah apa yang ada difikiran Cinta saat ini tentang nya.


"Siapa yang menatapmu, aku hanya sedang.....sedang......sedang melihat kearah sana" Vindra sangat gugup, sehingga asal saja menjawab. Malahan tanpa sadar Vindra menunjuk sebuah lukisan Absrak yang sedikit mengerikan gambarnya.


Cinta melongo melihat kearah jari Vindra menunjuk. Dia bergidik ngeri melihat lukisan absrak disana. Kembali Cinta menatap Vindra dengan tatapan menyelidik.


"Apa lagi? memangnya ada yang salah dengan lukisan itu?" Vindra semakin menyolot.


"Hmm...aneh aja" Cinta pun memilih cuek dan kembali membaca bukunya.


Vindra menghela nafas lega, dia bingung kenapa dirinya harus gugup. Bukan Vindra namanya jika gugup di depan seorang gadis. Malah seharusnya gadis itu yang jadi gugup dan salah tingkah.


Beberapa saat kemudian, kebosanan yang dirasa vindra semakin mengusai dirinya. Berdiam diri membaca buku, sungguh kegiatan yang menyebalkan bagi Vindra.


Vindra kembali melirik Cinta, dia tersenyum miring. Kemudian Shhtttt... Vindra menarik buku yang sedang dibaca oleh Cinta.


Cinta menatap tajam Vindra yang menyeringai, tidak merasa bersalah telah mengganggu dirinya. "Berikan gak...." Cinta mengulurkan tangan nya didepan Vindra.


Vindra menggeleng dengan wajah tak berdosa nya. Cinta menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya perlahan. Mencoba untuk tenang dan tidak tersulut emosi.


Melihat Cinta seperti itu, Vindra semakin menjadi. Dia pun menatap Cinta dengan wajah mengejek. Mengedipkan mata dan menggigit bibir bawah nya sendiri.

__ADS_1


"Udah deh...aku lagi gak pengen main-main tau" ucap Cinta.


"Siapa juga yang mau main-main....." sahut Vindra.


Cinta tak banyak mulut dia langsung menyerang Vindra, berusaha merebut buku nya kembali. Namun Vindra tetap kekeuh, dia menghindar dengan sempurna. Kemudian terjadilah aksi saling rebut diantara keduanya.


Mereka berlarian kesana kemari memutari rak-rak buku diruang itu. Layak nya anak kecil yang tengah bermain. Keduanya nampak sangat nyaman dan tidak ada kecanggungan.


Sesekali Cinta tertawa, saat Vindra bertingkah kocak. Begitu pun Vindra yang merasa senang bisa membuat Cinta nyaman dan tertawa lepas seperti itu.


Tiba-tiba, Brukk.....


Punggung belakang Cinta menabrak sebuah rak buku, dengan susunan buku-buku tebal yang berat. Karna guncangan buku-buku itu pun berjatuhan hendak menimpa Cinta dibawahnya.


Tetapi dengan sigap Vindra mendekap Cinta kedalam pelukan nya. Menyembunyikan kepala Cinta didada bidang Vindra. Buku-buku itu pun berjatuhan mengenai Vindra.


"Aggh...." Vindra meringis pelan, merasa sakit dibagian kepala dan punggung nya. Sedangkan Cinta  menggeliat berusaha melepaskan dekapan Vindra.


Setelah buku-buku itu berhenti berjatuhan, Vindra pun melonggarkan pelukan nya. Membuat Cinta bisa sedikit leluasa bergerak.


Cinta mendongak sedikit menatap sendu wajah Vindra. "Kenapa? Lagi-lagi kamu menolong dan bersedia terluka demi aku?" lirih Cinta menatap lekat mata Vindra.


Keduanya pun saling menatap lama....


"Kenapa? Menatap wajah cantik mu, membuat ku merasa aneh? Seperti ada sesuatu yang panas didalam diriku...." Bathin Vindra.


Tanpa sadar Vindra semakin mendekatkan wajah nya kewajah Cinta. Sungguh dia sudah kehilangan akal sehat, Vindra tak bisa membohongi dirinya sendiri. Jika saat ini dia begitu tergoda dengan mata lentik, hidung mancung, dan bibir merah sensual milik Cinta.


Sedangkan Cinta tanpa sadar malah menutup matanya. Isyarat memberi lampu hijau untuk Vindra. Segera Vindra mengecup dan melu**t bibir Cinta dengan lembut.


Awal nya Cinta sedikit ragu, tetapi akhirnya dia ikut terbuai dengan permainan Vindra. Dia pun membalas dengan lembut juga tentunya.


Ciuman mereka semakin memanas, tiada henti. Sesekali keduanya menarik nafas masing-masing kemudian berlanjut. Kini tangan Vindra melingkar erat dipinggul ramping Cinta. Begitu pun sebaliknya, Cinta melingkarkan tangan nya dileher Vindra.


Tok....tok...tok


Ketukan pintu membuat Vindra dan Cinta terkejut dan sadar. Keduanya pun langsung melepaskan diri dan memalingkan wajah masing-masing. Merasa sangat malu dan canggung tentunya.....


"Maaf...." ucap Vindra sebelum berlalu meninggal kan Cinta, yang masih terdiam memegangi bibirnya.

__ADS_1


Vindra kembali kemeja tempat mereka belajar tadi. Untuk mengambil ponselnya sekaligus melihat siapa yang tadi mengetuk pintu.


Ternyata itu Bi Wulan. "Maaf den, bibi sudah siapkan makan siang. Sebaiknya den Vindra dan non Cinta makan siang dulu baru lanjut belajarnya...." ucap Bi Wulan sopan.


"Baiklah, makasih yah bi!! Bentar Vindra kesana" jawab Vindra tersenyum. Bi Wulan pun pamit undur diri, kembali meninggalkan ruang belajar.


Setelah kepergian Bi Wulan, Vindra menghela nafas nya panjang. Kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malah terasa sakit akibat buku-buku tadi, yang baru terasa.


"Agghh.....sakit juga sekalinya, tadi gak kerasa saking keenakan heheh" Vindra meringis kesakitan tapi langsung berubah terkekeh mengingat kejadian tadi.


Tiba-tiba saja Vindra terkejut saat merasa ada sentuhan tangan seseorang dipunggung belakang nya. Sontak Vindra langsung menangkap tangan tersebut. Saat dia menoleh ternyata itu adalah tangan Cinta.


Vindra pun melepaskan tangan Cinta. "Ma...maaf, aku gak maksud..." Vindra kembali gugup.


"Hmm..." Cinta menunduk malu kini wajah nya semerah buah tomat.


"Bagaimana dengan punggung mu? Pasti itu sakit coba aku lihat..." Cinta memutar tubuh Vindra hingga membelakangi dirinya. Vindra hanya diam menurut saja.


"Dimana yang sakit? Apa disini?" tanya Cinta cemas.


"Aggh...." ringis Vindra saat Cinta menyentuh punggung belakang bagian atas nya yang dekat leher.


"Maaf.....pasti sakit yah!! Sini aku obati" ucap Cinta yang hendak berlalu pergi mencari kotak P3K.


Sebelum Cinta pergi Vindra menarik tangan nya, lalu menggeleng kan kepala. "Nanti saja, yang penting sekarang kamu makan dulu" ucap Vindra.


"Tapi ini juga penting, kamu terluka karna aku" wajah Cinta seperti merasa bersalah.


"Kamu belum sarapan sedari pagi, sedangkan sekarang sudah waktunya makan siang!! Jika kamu sakit sapa yang repot? Pasti aku kan...." ucap Vindra.


"....ayo, kita makan bersama Bi Wulan sudah menyiapkan nya dari tadi" lanjut Vindra, sembari menarik Cinta keruang makan.


Mendengar ucapan Vindra, Cinta pun mengangguk. Menuruti saja apa perkataan, lelaki dihadapan nya itu. Mereka berdua memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum melanjutkan kegiatan belajar yang sempat terhenti.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2