
Saat mereka semua sedang asyik mengobrol, Vindra hanya diam menundukan kepala nya. Merasa begitu malas dan bosan. Bahkan dia sempat berpikir jika ada Cinta pastinya dia tidak akan merasa seperti ini.
Beberapa saat kemudian, Elang menggebrakan meja sambil cekikikan dengan teman sebelahnya. Tapi Vindra tetap tidak menghiraukan nya.
Dia hanya mendengarkan saja percakapan Elang dengan teman-temannya dan Mey.
"Lihat bro....Gila bening banget" ucap Elang dengan semangat.
Mendengar ucapan Elang, Mey pun menoleh ke arah mata Elang tertuju. Mata Mey membulat dan merasa tak percaya jika yang sedang di puji oleh Elang adalah Cinta.
"Kenapa? Lo suka sama cewek gituan?" tanya Mey dengan songong nya. Seakan-akan mengatakan jika dirinya lebih baik dari Cinta.
"Whhoaa....sepertinya ada yang jeles broo" sahut salah satu teman Elang.
Elang hanya tersenyum, pandangan matanya tidak bisa berhenti memandang Cinta di ujung sana. Postur tubuh nya yang tinggi dan berisi, serta lekukan tubuh Cinta benar-benar sudah membuat Elang terpana.
Mey memutar bola matanya malas, saat melihat Elang yang tak berkedip memandang Cinta. "Cihhh.....cewek kaya gitu gua yakin harga dirinya semurah penampilan dan pekerjaan nya" ucap Mey dengan penuh tekanan.
Elang mengerinyit heran dan menatap Mey dengan penuh tanya. "Maksud kamu apa?" tanya nya.
Mey tersenyum miring. "Masa kamu gak ngerti.....coba aja kamu ajak dia kencan semalam, aku yakin dia bakal terima..." ucap Mey terkekeh.
"Kalau gitu gua taruhan satu juta jika dia bakal nolak lo bro...." sahut salah satu teman nya.
"Bener gua ikut, gua tambahin jadi dua juta...jika lo berhasil ngajak tuh cewek ambil nih semua....tapi jika lo kalah, lo yang bayar kita berdua hahaha" ucap teman Elang yang satu nya lagi sambil tertawa renyah.
"Ok...gua di pihak Elang, jika Elang kalah gua yang bakal bayar lo berdua" ucap Mey percaya diri.
Elang pun tersenyum miring sambil memegang bibir bawah nya. Dia mengangguk pada Mey, "Gua terima tantangan kalian....lihat baik-baik" ucap nya.
Elang langsung beranjak dan menghampiri Cinta, entah apa yang di obrolkan nya. Elang berhasil mengajak Cinta ke meja mereka.
Cinta terkejut saat melihat Mey saat itu, dengan wajah songong Mey membuat Cinta semakin kesal terhadapnya. Cinta menatap Elang dengan penuh tanya.
"Gimana kalau gua borong semua barang dagangan lo, tapi dengan satu syarat" ucap Elang pada Cinta.
Cinta semakin heran melihat Mey dengan kedua lelaki di samping Elang tertawa cekikikan. "Maksud kakak gimana yah? Aku gak ngerti?" tanya Cinta.
Sontak Vindra langsung menengadahkan kepalanya, saat mendengar suara yang begitu familiar buat nya. "Cinta...." lirih Vindra.
"Vindra?" ucap Cinta yang juga terkejut. Keduanya pun saling melempar pandang.
"Maksudku.....aku beli semua barang mu itu, tapi kamu harus mau temanin aku malam ini" ucap Elang sembari meraih tangan Cinta dan menarik gadis itu hingga terduduk di pangkuan nya.
Cinta terkejut dengan yang dilakukan Elang, dia pun hendak beranjak tapi Elang mengunci pinggang nya dengan tangan kekarnya. "Lepaskan aku..." ucap Cinta kesal.
"Jangan bergerak, bagaimana jika kamu bangunkan yang ada di bawah sana.....apa kamu mau bertanggung jawab sayang" ucap Elang berbisik di telinga Cinta.
Melihat sikap Elang seperti itu kepada Cinta, membuat Vindra geram. Tanpa sadar dia mengepalkan tangan nya, ingin sekali dia menonjok wajah tengil Elang.
"Hentikan, kamu sudah keterlaluan bro" ucap Vindra serius, dia mencoba untuk tenang.
Mendengar Vindra berkata seperti itu membuat mereka semua terkejut. Karna sedari tadi Vindra hanya diam, tapi kenapa sekarang dia mengeluarkan suara.
__ADS_1
Elang tak menghiraukan ucapan Vindra, dia masih terus mengganggu Cinta. Membuat Vindra semakin panas dan tidak sabar.
"Aku bilang hentikan, dan lepaskan juga tangan mu itu dari tubuh nya...." bentak Vindra menatap tajam Elang.
Elang mengerinyit heran. Dia pun melepaskan Cinta dari pelukan nya. "Ada apa dengan mu bro?" tanya Elang.
"Benar Vin, kamu kenapa? Kok tiba-tiba marah-marah sih, sini duduk lagi" ucap Mey sembari meraih tangan Vindra, hendak membuatnya duduk kembali.
Tapi Vindra menepis tangan Mey dengan kasar, "Lepas....jadi cewek yang kalian bicarakan sedari tadi adalah dia" cetus Vindra sambil menunjuk Cinta.
"Hey bro tenang dulu, ada apa sebenarnya?" sahut salah satu teman Elang, mencoba untuk menenangkan Vindra.
Cinta hanya diam tertegun menatap Vindra. Vindra pun mendekati Cinta dan merangkul pundak nya. "Ayo kita pulang...." ajak Vindra.
Namun saat hendak melangkah tangan Cinta di tahan oleh Elang. "Mau kemana? Kita bahkan belum senang-senang...." ucap Elang lagi dengan tengil nya.
Vindra menghela nafas nya dengan pelan, dia menahan emosi nya sedari tadi. Dia pun melepaskan tangan Elang yang memegang lengan Cinta dengan kasar.
"Vindra....kamu kok gitu sih? Elang ini kan teman kamu?" ucap Mey yang kesal dengan sikap Vindra.
"Memang nya apa hubungan mu dengan cewek cantik ini bro, kenapa kamu sampe emosi begini" tanya Elang dengan santai nya sembari masih sempat-sempat nya menyentuh dagu Cinta.
Vindra dan Cinta pun saling melempar pandang, "Dia pacarku, jadi jangan pernah mengganggu nya lagi" ucap Vindra masih menatap Cinta, begitu pun sebaliknya.
Vindra pun meraih tangan Cinta, lalu menarik nya keluar dari dalam cafe itu. Semua pengunjung cafe nampak sedang membicarakan kegaduhan yang di buat oleh Vindra dan Elang.
Wajah Mey terlihat sangat kesal saat Vindra menarik Cinta keluar dari cafe. Sedangkan dua teman Elang berbisik-bisik membicarakan siapa gadis tadi yang membuat Vindra marah saat Elang menggoda nya. Tapi tidak dengan Elang, dia malah tersenyum miring. Sepertinya gadis itu begitu menarik, sampai-sampai seorang Vindra menjadi antusias.
Keadaan di luar cafe.....
"Kenapa?" tanya Vindra.
Cinta hanya diam dan langsung berbalik badan, membelakangi Vindra yang kebingungan. Dia tidak menjawab pertanyaan Vindra, melainkan malah hendak melangkah pergi.
Vindra mengerinyit, ada apa dengan gadis itu. Kenapa raut wajah nya berubah dan tidak menjawab pertanyaan nya. Vindra bertanya-tanya di dalam pikiran nya.
"Mau kemana? Mau masuk kesana lagi? Biar bisa di godain lagi sama cowok-cowok disana" cetus Vindra berkacak pinggang sembari menyibak rambut depan nya kebelakang. Vindra masih sangat kesal dan ditambah sikap aneh Cinta, membuatnya semakin naik darah.
Seketika itu juga Cinta berbalik dan menatap tajam Vindra. "Apa? Ada yang salah dengan wajah ku....." ucap Vindra ketus dengan raut wajah yang kesal.
Cinta pun menghela nafas perlahan, berusaha untuk sesabar mungkin. "Aku harus kembali menyelesaikan pekerjaan ku Vin, agar bisa cepat pulang...." jelas Cinta dengan nada lembut dan senyuman yang dipaksa nya.
Vindra pun tersadar, saking kesalnya dia sampai lupa jika Cinta sedang bekerja. Wajah nya merah padam karna malu. "Hmm...baiklah pergi sana, tapi ingat jangan terlalu centil di depan cowok-cowok" ucap nya sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
Sebelum Cinta menjawab dia langsung berlalu begitu saja meninggalkan gadis cantik itu. Cinta hanya tersenyum pasif, menurutnya sikap Vindra yang kesal sangat lucu dan menggemaskan.
"Ada-ada saja...." Cinta menggeleng-geleng kan kepalanya menatap kepergian Vindra. Lalu dia juga kembali masuk ke dalam cafe tersebut, untuk menyelesaikan pekerjaan tentunya.
Tepat pukul delapan malam.....
Cinta telah menyelesaikan pekerjaan nya. Dia pun kembali menghampiri dua rekan nya yang kini sedang berdiri menunggunya di depan mobil.
"Cin ini upahmu untuk hari ini....makasih yah" ucap salah satu rekan nya itu, sembari memberikan sebuah amplop putih kecil kepadanya.
__ADS_1
"Makasih kak...." Cinta pun menerima amplop tersebut sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita pergi duluan yah...." ucap rekan nya itu lagi dengan tersenyum penuh arti.
Cinta bingung dengan ucapan rekan nya itu. "Maksudnya pergi duluan kak?" tanya nya.
"Hmm...pura-pura gak ngerti lagi, sudah jelas kamu udah di tungguin tuh sama pacarmu...hihihi" sahut rekan yang satunya lagi sambil cekikikan. Dia menunjuk ke arah seberang sana.
Cinta pun mengikuti arah tunjukan dari rekan nya itu. Seketika matanya membulat mendapati sosok Vindra yang tengah duduk di pinggiran trotoar sambil memainkan ponsel nya. "Vindra...." lirih Cinta.
"Dari tadi loh dia nungguin, pergi gih sana...sayang banget kalau cowok ganteng di anggurin gitu...yah gak hihihi" ucap nya sembari menyenggol lengan Cinta lalu masuk kedalam mobil dengan tertawa meledek.
Cinta pun tersenyum paksa, "Kalau begitu hati-hati kak....sampai besok" ucap nya sambil melambaikan tangan.
Cinta pun menyeberangi jalanan dengan hati-hati. Menghampiri Vindra di seberang jalan sana. "Vindra...." sapanya.
Mendengar suara Cinta, Vindra pun mendongak ke arah sumber suara itu. Ternyata seseorang yang di tunggu-tunggu nya sedari tadi, kini tengah berdiri di hadapan nya. Cepat-cepat Vindra langsung berdiri, sambil membersihkan celanan belakang nya yang kotor.
"Sudah selesai kerjanya?" tanya Vindra.
"Hmm kamu dari tadi nungguin aku disini?...." tanya Cinta balik sembari menunduk malu.
Vindra menatap Cinta lekat, sunggingan senyuman pun tercipta di sudut bibir nya. "Kenapa menunduk? Aku sengaja menunggu mu...".
Vindra pun meraih dagu Cinta lalu menegakan pandangan gadis cantik itu. Kini wajah merah Cinta nampak begitu jelas. Mereka pun saling menatap.
Deg...deg...deg
Jantung nya berdetak dengan kencang, kenapa saat ini Cinta merasa Vindra begitu tampan. Apa mungkin karna beberapa hari tidak bertemu. Bertemu sih tapi tidak saling menyapa.
Begitu pun dengan Vindra, dimatanya saat ini gambaran wajah Cinta ada bunga-bunga cantik di sekeliling nya. Ilusi apa yang telah merasuki fikiran nya saat ini. Sungguh aneh dan sangat membingung kan nya.
Tanpa sadar Vindra semakin mendekatkan wajah nya hingga kini tertinggal beberapa centi lagi dengan wajah Cinta. Bahkan aroma mint dari mulut Cinta bisa tercium dengan jelas oleh hidung nya.
Tin...Tin...Tin....Tin...
Suara klakson mobil mengejutkan dan menyadarkan keduanya. Mereka pun langsung memalingkan wajah masing-masing ke arah berlawanan.
Vindra menutup mata dan menggaruk-garuk kepalanya, lalu menghebus nafas lega nya. Sedangkan Cinta menggigit bibir bawah nya yang terasa mengering. Kini wajah keduanya menjadi merah merona.
"Huh....Vindra kenapa sih kamu selalu seperti ini jika di hadapan nya" gumam Vindra di dalam hati.
"Apa yang sedang ku pikirkan....kenapa suasana nya jadi canggung gini sih, sumpah risih banget" gumam Cinta.
"Em...kalau gitu, ayo aku antar pulang" ucap Vindra dengan kecanggungan yang luar biasa.
"Iya..." jawab Cinta singkat tanpa menatap Vindra.
Akhirnya Vindra pun mengantar kan Cinta pulang dengan selamat sampai kost-kostsan nya.
.
.
__ADS_1
TBC.