
Malah hari di kamarnya.
Vindra tengah berdiri di balkon kamar menatap keindahan langit cerah bertabur bintang. Pikiran nya melayang memikirkan sosok Zahra yang baru saja dia temui. Sangat mirip bahkan sampai sentuhan tangan nya pun rasanya sangat sama waktu dia menyentuh Cinta.
Vindra menggelengkan kepalanya agar sadar. "Berhenti memikirkan wanita lain Vindra," ucap nya pada diri sendiri.
Tok.. tok... tok.
Vindra menatap ke arah pintu kamar nya. Audy sang mamah masuk dengan membawa nampan putih berisi segelas susu hangat.
Audy tersenyum sembari menaruh nampan tersebut di atas nakas, lalu menghampiri Vindra.
"Lagi ngapain?" tanya Audy.
"Gak lagi apa-apa. Cuma diem aja sambil liatin bintang, mah, " jawab Vindra sambil tertawa kecil.
"Ada-ada saja kamu ini, jangan melamun entar kesambet loh," ucap Audy seraya menyikut pelan lengan Vindra.
Vindra hanya tersenyum menanggapi perkataan sang mamah. Dia berbalik kembali menatap ke arah langit. Diikuti Audy yang berdiri disebelahnya.
__ADS_1
"Oh iya Vin... bagaimana persiapan pesta ulang tahun Raisa?" tanya Audy kembali.
"Semua nya sudah beres, mah. Mamah gak perlu khawatir, Vindra pasti urus semuanya dengan baik," jawab Vindra sekenanya.
"Mamah tuh seneng banget, Vin. Raisa itu anak nya baik dan sopan..." Wajah Audy nampak berbinar membicarakan sosok Raisa.
Namun, lagi-lagi Vindra hanya menanggapi perkataan sang mamah dengan tersenyum.
"...kamu jadi mau lamar dia di pesta itu kan Vin, " lanjut Audy semakin bersemangat.
Vindra diam tak menjawab dan malah menghindari tatapan sang mamah. Wajah ragu nya nampak begitu jelas.
Vindra pun berbalik menatap Audy. "Mah, apakah mungkin Vindra bisa bertemu Cinta lagi?"
Seketika pupil mata Audy membesar terkejut dengan perkataan Vindra.
"Kamu itu ngomong apasih Vin! Sudah tujuh tahun berlalu, kenapa kamu masih berharap hal yang gak mungkin? Kamu gak kasian sama Raisa yang selama ini nemenin kamu? Apa gak ada sedikit saja perasaanmu buat dia? Kamu jahat Vin," sergah Audy dengan kesalnya terhadap Vindra.
Audy berbalik membelakangi sang anak yang nampak terlihat gusar dan bimbang. Mencerna ucapan mamah nya yang ada benarnya.
__ADS_1
"Raisa...maafkan aku, " lirihnya pelan.
Terpintas sejenak wajah cantik Raisa wanita ceria dan manja itu. Yang kurang lebih selama dua tahun ini berada di sampingnya. Apakah ini sudah waktunya dia benar-benar melupakan Cinta? dan belajar membuka hati untuk Raisa. Walaupun jauh dalam lubuk hatinya dia masih sangat mencintai Cinta dan tidak bisa, bahkan tidak ingin untuk melupakan sosok tersebut.
"Maafkan Vindra, mah. Vindra gak ada maksud jahat ke Raisa, hanya saja... "
"Mamah gak mau dengar apapun itu alasan mu Vin, pokoknya kamu harus lamar Raisa di pesta ulang tahun nya nanti, " sambar Audy dengan cepat.
Audy pun meninggalkan Vindra sendiri.
Vindra mengusap wajah nya dengan kasar.
"Sadarlah, Vin. Dia itu Zahra bukan Cinta!"
Vindra masuk kedalam kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur. Dibuka nya laci nakas dan mengambil sebuah bingkai foto dari dalam nya.
Matanya mulai berkaca, namun tetap dia tahan agar tidak meneteskan air matanya yang berharga. Sambil menatap sendu dan mengusap wajah wanita yang berada dalam foto tersebut.
"Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kamu bahagia hidup tanpa aku? Karena jika kamu tidak bahagia, aku sangat tidak rela...bahkan aku berjanji akan menemukan mu lagi, karena kebahagiaan mu hanya padaku, Cinta."
__ADS_1
To Be Continued.