
Setelah selesai makan di restauran yang juga terletak di dalam mall. Vindra mengajak Cinta pulang. Mengingat hari sudah semakin sore.
Di perjalanan pulang.
Vindra memberikan sebuah kotak kecil kepada Cinta. Cinta kebingungan, dia meraih kotak tersebut.
"Ini apa Vin?" Tanya nya sembari menoleh ke arah Vindra yang masih fokus menyetir.
"Buka saja...." Jawab Vindra menoleh sekilas kepada Cinta lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Cantik nya....apa ini buatku?" Cinta berdecak kagum melihat sebuah kalung liontin berwarna perak.
Vindra tersenyum sembari menganggukkan kepala nya. Manis sekali pikirnya senyuman tulus dari seorang Cinta. Sempat terlintas di benak Vindra jika suatu hari nanti dia akan bersedia berlutut di hadapan gadis itu. Untuk melamar nya menjadi istrinya kelak. Tapi kapan hari itu akan terjadi? Sedangkan mereka berdua saja belum lulus SMA. Tapi rasanya Vindra sudah tidak sabar lagi menunggu hari itu datang. Dia ingin Cinta menjadi satu-satunya pemilik hati nya.
"Apa kamu menyukainya?" Tanya Vindra.
__ADS_1
"Aku suka...." Jawab nya singkat masih dengan mata yang berbinar melihat kalung liontin tersebut.
Vindra pun menghentikan mobil lalu parkir di tempat yang telah di sediakan. Cinta nampak kebingungan. Dia mengedarkan pandangan nya keluar jendela memeriksa dimana mereka sekarang.
"Untuk apa kita kesini Vin?" Tanya nya bingung.
"Aku pengen minum air kelapa muda, haus " sahut Vindra tersenyum sembari keluar dari mobil.
Cinta mengikuti dan turun dari mobil. Tanpa aba-aba Vindra langsung meraih tangan Cinta, menautkan jarinya disela-sela jari Cinta.
"Oh itu dia...." Vindra tersenyum bahagia berhasil menemukan penjual es kelapa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Ia pun langsung menarik Cinta menghampiri penjual tersebut. "Pak saya pesan kelapa muda nya satu yah dengan dua sedotan...." Ucap Vindra ramah kepada penjual kelapa muda itu.
"Bagaimana kalau kita duduk di sana sambil menunggu...." Ajak Vindra. Cinta mengangguk setuju.
__ADS_1
Vindra pun mengajak Cinta untuk duduk di hamparan pasir putih di pantai itu. Cahaya jingga yang begitu indah menerangi langit sore itu. Hamparan pasir putih, suara deburan ombak, serta angin laut yang berhembus sepoi-sepoi hingga masuk ke dalam pori-pori kulit.
"Ini dia kelapa nya mas, silahkan...." Penjual kelapa muda itu memberikan kelapa pesanan Vindra tadi. "Terima kasih pak..." Sahut Vindra.
"Kenapa sih dari tadi kamu menatap ku seperti itu?" Vindra mengusap pucuk kepala Cinta sambil tersenyum lebar.
Vin, aku tidak perduli jika orang-orang berpikir aku ini terlalu egois....
Tapi memang ini kenyataan nya, aku tidak ingin berpisah dengan mu? Terkadang aku membingungkan mengapa aku seperti ini? Apa aku adalah salah satu wanita yang tidak tahu diri? Secepat ini aku bisa jatuh cinta lagi setelah kepergian Andra? Kehadiran mu sungguh membuat hati dan perasaan ku terhadap Andra saat itu goyah, apa ini sudah takdir?
Aku berharap ini memanglah takdir yang menyatukan kita....
"Hei, kok malah bengong?" Vindra menepuk pipi Cinta dengan pelan. Membuyarkan lamunan gadis itu.
Cinta tersenyum lebar, membuat Vindra semakin keheranan. Ada apa dengan gadis di hadapan nya itu. Apa yang sedang ia pikirkan.
__ADS_1
TBC.