
Boss muda langsung mencari Zoi masuk kedalam kelas nya tapi ternyata kelas sudah kosong sama sekali tidak ada mahasiswa satu pun.
"Kemana kamu Zoi? apa kamu sudah pulang kerumah?" tanya Boss muda dalam hatinya.
Boss muda segera mencari mahasiswa lain untuk bertanya karena seharusnya jam perkuliahan masih berlangsung saat ini.
"Mas kok kampus sudah sepi begini ya bukanya selesai itu setengah sembilan malam?" tanya Boss muda.
"Oh iya Mas sudah pada pulang kebanyakan mahasiswa nya, soalnya kalau akhir bulan begini memang sering selesai lima belas menit lebih cepat" jawab salah satu mahasiswa.
"Oh gitu, yasudah makasih ya" ucap Boss muda.
Boss muda buru-buru masuk kedalam mobil diambilnya handphone miliknya untuk menelpon Zoi, sementara Pak Nio dan Zoi baru saja tiba di cafe untuk minum coffee bersama, Zoi tak menyadari handphone nya bunyi sejak tadi.
"Sial engga diangkat lagi, Zoi pasti ngambek nih sama saya kenapa si kamu engga mau ngerti apa yang saya maksud Zoi kamu selalu salah paham dasar wanita mau nya dimengerti tapi ga mau mengerti, Aaaaaaa pusing pusing" celetuk Boss muda sambil memukul-mukul stir mobilnya.
Zoi dan Pak Nio mengobrol sembari menikmati satu gelas ice coffee disertai desert tiramisu cake favorit Pak Nio.
"Zoi ini desert kesukaan saya kamu pasti suka deh, cobain ya" ucap Pak Nio sembari memotong tiramisu cake itu lalu hendak menyuapi Zoi.
Tak disangka Zoi malah mengambil potongan cake itu dengan sendok miliknya agar Pak Nio tidak menyuapinya.
Batin Pak Nio sabar-sabar namanya juga usaha kalau saat ini belum berhasil siapa tau nanti akan ada sedikit harapan untuk saya, apalagi sikap Boss muda yang selalu menyakiti Zoi saya harap Zoi secepatnya meninggalkan laki-laki itu.
"Emmmmm enak banget" ucap Zoi sambil memakan cake itu.
"Kamu suka Zoi?" tanya Pak Nio.
"Iya tentu saja suka sekali" jawab Zoi.
"Saya jadi ingin menjadi tiramisu cake itu, disukai sama kamu" ucap Pak Nio sambil menatap wajah cantik nan imut Zoi.
Zoi pun tersipu malu, dan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Zoi saya mendapat penawaran untuk menjadi dosen disalah satu universitas dipulau indah, saya berencana menerima tawaran itu karena sejak kecil saya ingin tinggal dipulau indah itu" ucap Pak Nio.
"Wah saya juga suka pulau indah itu yah nanti saya gak bisa melihat Pak Nio lagi dong?" jawab Zoi.
"Kamu pernah kesana?" tanya Pak Nio.
"Pernah tapi hanya sekali, waktu itu Boss muda mengajak saya bulan madu kesana tempatnya indah sekali saya suka dan ingin kesana lagi" jawab Zoi.
"Kalau begitu ikutlah dengan saya dan tinggalkan Boss muda" ucap Pak Nio dengan sungguh-sungguh.
"Ah engga Pak Nio bukan itu maksudnya, saya tidak mungkin" jawab Zoi.
"Kenapa tidak mungkin Zoi buka mata kamu berapa banyak dia menyakitimu berapa banyak dia mengecewakan kamu?" tanya Pak Nio.
Zoi pun terdiam sesaat memikirkan kata-kata Pak Nio, memang benar Boss muda seringkali menyakiti nya tapi Zoi selalu percaya bahwa Boss muda tak pernah sengaja melakukan itu.
"Saya sangat mencintai Boss muda" jawab Zoi singkat namun menyakiti hati Pak Nio.
"Seberapa banyak pun Boss muda menyakiti saya, saya akan tetap mencintai nya dia adalah cinta pertama bagi saya" jawab Zoi.
"Jika saya yang bertemu kamu terlebih dahulu apa kamu bisa mencintai saya Zoi?" tanya Pak Nio.
"Tidak ada yang bisa menggantikan rasa cinta saya terhadap Boss muda sekalipun kita bertemu duluan, jadi saya mohon Pak Nio sebaiknya mencari wanita lain yang jauh lebih baik dari saya tolong jangan berharap lagi terhadap saya" ucap Zoi.
Pak Nio yang mendengar jawaban Zoi seteguh itu merasa sangat heran bagaimana bisa ada wanita setulus Zoi yang meskipun telah disakiti berkali-kali namun dia tetap teguh mempertahankan perasaannya.
"Tolong izinkan saya menunggu kamu Zoi, saya percaya kamu akan lelah menghadapi dia jika terus menerus seperti ini" ucap Pak Nio.
Setelah selesai minum coffee bersama dan mengobrol banyak hal Pak Nio pun mengantar Zoi pulang kerumah Boss muda.
"Apa kamu tak ingin pergi ketempat lain saya bisa antar kamu kerumah Boss besar" ucap Pak Nio.
"Tida usah saya tidak mau kalah dari Claudia dan jika saya sembunyi dan menjauh dari Boss muda itu akan semakin menguntungkan Claudia, saya tidak akan biarkan itu" jawab Zoi tersenyum.
__ADS_1
Tibalah Zoi didepan rumah Boss muda, didepan gerbang Boss muda tengah mondar-mandir layaknya setrikaan panas kesana kemari sambil melihat jam tangannya, lampu mobil Pak Nio pun menyoroti wajah Boss muda lalu berhenti didepan Boss muda.
Zoi dan Pak Nio turun dari mobil Pak Nio pun tersenyum menatap Zoi.
"Bagus ya kamu Zoi saya jemput kamu kekampus tapi kamu tidak ada rupanya kamu asik pacaran sama pebinor ini" ucap Boss muda.
"Saya memang akan jadi pebinor" jawab Pak Nio dengan santainya.
Boss muda yang sudah cemburu dan kesal dengan Zoi pergi bersama Pak Nio pun langsung meninju pipi Pak Nio.
Bughhhhtttttt...
"Boss muda cukup, apa-apaan si" teriak Zoi yang langsung menghampiri Pak Nio dan memegang pipinya.
Boss muda pun menarik tangan Zoi agar Zoi tidak menyentuh pipi Pak Nio, namun dengan kasar Zoi membanting tangan Boss muda.
"Lepasin saya, ayo Pak Nio kita masuk kedalam saya akan obati memar Pak Nio" ucap Zoi.
"Zoi tunggu, ini rumah saya dan saya tidak izinkan laki-laki ini menginjakkan kakinya dirumah saya" ucap Boss muda dengan tegas.
"Baik kalau begitu saya permisi untuk ikut pulang kerumah Pak Nio dan mengobati lukanya" jawab Zoi.
"Aaa apa? Zoi kamu eghhtttt yasudah obati dan cepat suruh dia pulang" ucap Boss muda.
Pak Nio pun tersenyum melihat Zoi menggandeng tangannya masuk kedalam rumah Boss muda, sementara Boss muda mengikuti dari belakang Zoi sama sekali tak menganggap ada Boss muda disitu.
Kacang,,,,, kacang emangnya enak dikacangin.
Dengan sangat lembut Zoi mengompres memar dipipi Pak Nio hingga kini keduanya berhadapan sangat dekat, Boss muda yang melihat adegan itu benar-benar dibuat kesal dengan sikap Zoi yang seolah-olah tak menganggapnya ada saat ini.
"Pak Nio besok pagi juga sudah tidak akan memar lagi kok, jadi jangan khawatir ya dan maafkan saya semua gara-gara saya" ucap Zoi.
"Engga kok Zoi seribu tinjuan bahkan akan sangat membuat saya bahagia jika akhirnya saya bisa sedekat ini sama kamu" jawab Pak Nio.
__ADS_1