
Zoi dan Pak Nio landing dengan selamat di bandara pulau yang sangat terkenal dengan keindahan pantai dan banyak wisatawan asing nya itu teman Pak Nio datang menjemput untuk mengantarkan Zoi dan Pak Nio kerumahnya yang sudah disewa oleh Pak Nio.
Sesampainya dirumah yang sejuk lekat dengan nuansa alam dibalut dengan furnitur berwarna coklat kayu membuat Zoi terpukau dengan rumah sederhana dan tidak terlalu luas ini.
"Nah ini Zoi rumah ini juga ada paviliun kecilnya yang tadi didepan itu saya sudah sewa rumah ini berikut paviliun nya jadi kamu tinggal disini dan saya akan tinggal di paviliunnya" ucap Pak Nio.
"Engga engga mana boleh seperti itu ini kan rumah yang disewa Pak Nio jadi Pak Nio yang menempati rumah ini saya yang dipaviliun depan, lagipula rumah ini terlalu besar untuk saya" Zoi merasa tidak enak.
"Tapi Zoi" Pak Nio tetap membujuk Zoi.
"Sutttt,,, saya udah cape banget nih Pak Nio bisa antar saya ke paviliun nya?" pinta Zoi.
Pak Nio pun mengantar Zoi ke paviliun dihalaman rumahnya itu tidak terlalu kecil sangat sederhana dan bersih paviliunnya sepertinya memang rumah yang disewakan disini memang terawat dengan baik.
"Zoi wajah kamu sedikit pucat apa kamu sakit?" Pak Nio sedikit khawatir.
"Tidak Pak Nio sepertinya akhir-akhir ini saya sering merasa lelah engga tau kenapa kepala saya juga pusing" jawabnya.
"Yasudah kamu istirahat ya besok baru saya akan ajak kamu berkeliling disini sebelum berkas-berkas perpindahan kampus kamu selesai kita bisa anggap ini liburan kan" seru Pak Nio.
"Setuju" Zoi tersenyum semu hatinya tetap merindukan Boss muda di manapun itu.
Zoi dan Pak Nio pun beristirahat setelah kelelahan menempuh perjalanan panjang sampai Zoi belum sempat menelepon tantenya untuk memberikan kabar, ya Zoi memang sudah bicarakan keputusannya berpisah dengan Boss muda bukan hanya pada Boss besar namun juga Tante Mia dan Om Biaz pun sudah dikabari ya.
Hari-hari berlalu begitu saja tak terasa sudah satu bulan sejak Zoi pindah ke pulau ini Zoi kini sudah memiliki pekerjaan sebagai waiters disalah satu restoran dekat rumahnya dan sudah mulai kembali melanjutkan kuliahnya begitu juga dengan Pak Nio sudah aktive mengajar diUniversitas yang sama dengan Zoi.
Sejak bangun pagi hingga sore hari setelah pulang kerja Zoi merasa sangat mual dan sering muntah bahkan Zoi sering pingsan akhir-akhir ini akhirnya sebelum pergi kekampus Zoi memutuskan untuk memeriksakan keadaannya diklinik terdekat.
__ADS_1
Ketika diklinik Dokter menyarankan Zoi untuk USG karena gejalanya mirip dengan magh kronis ketika dilakukan USG Dokter tersenyum pada Zoi.
"Gimana Dok apa lambung saya bermasalah?" Zoi keheranan Dokter tersenyum begitu.
"Tidak kok ini bukan penyakit magh kronis ini malah berkah selamat ya kamu kamu sedang hamil" perkataan Dokter yang seketika membuat Zoi merasa tersambar petir.
Bagaimana bisa dia hamil disaat dia sudah pergi meninggalkan Boss muda dan Boss muda pun pasti sudah hidup bahagia dengan Claudia lalu bagaimana ini Zoi bingung, sedih tapi juga bahagia Zoi bahagia karena apa yang selama ini dia inginkan akhirnya menjadi kenyataan dan sedih Zoi hamil tanpa ada sosok seorang suami disampingnya.
Dokter memberitahukan Zoi sudah hamil delapan Minggu pantas saja Zoi selama ini merasa pusing mual dan gampang sekali lelah karena sibuk bersosialisasi dengan lingkungan baru Zoi sampai lupa sudah dua bulan ini dia tidak datang bulan.
Zoi pergi kuliah dan mengikuti perkuliahan dengan selesai meskipun Zoi kepikiran terus setiap detik tentang kehamilannya, apa Zoi harus memberitahukan pada Boss muda ataukah Zoi akan mengurus ini sendiri Dosen pun selesai mengajar Zoi melangkah dengan lamunannya.
Darrr....... Pak Nio mengagetkan.
"Pak Nio" dengan datarnya Zoi bicara.
Didalam mobil Zoi hanya terdiam dan menundukkan wajahnya serta memainkan kuku dijari jemarinya.
"Ada apa si Zoi cerita aja" Pak Nio penasaran dengan diamnya Zoi.
"Tadi saya keklinik untuk cek kenapa saya mudah lelah dan sering mual serta pusing" jawabannya.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu saya Zoi saya kan bisa antar kamu! lalu bagaimana apa sakit serius?" Pak Nio sampai memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dan menatap wajah Zoi karena khawatir.
Zoi mengeluarkan foto USG kehamilannya pada Pak Nio "ini" jawabnya.
"Foto USG ini saya tahu tapi ini berarti kamu sakit apa Zoi? sejenak Pak Nio berpikir, astaga apa kamu hamil Zoi?" Pak Nio sedikit tidak percaya.
__ADS_1
Zoi pun menganggukkan kepalanya.
"Sudah dua bulan usia kandungannya, saya berpikir untuk memberitahukan Boss muda tentang kehamilan saya ini" Zoi menghela nafas.
"Mana bisa begitu Zoi kamu sudah memutuskan untuk pergi dari hidup Pak Han lagipula dia pasti sudah menikah dengan Claudia kan? lebih baik kamu tidak usah memberitahukan Pak Han" bujuk Pak Nio yang tidak mau kehilangan Zoi.
"Tapi Pak Nio" Zoi berusaha menolah untuk setuju.
"Saya bisa jadi ayah untuk anak kamu Zoi, sungguh kehamilan kamu tidak akan merubah perasaan saya terhadap kamu saya tetap mencintai kamu Zoi" Pak Nio mengatakan rasa cintanya.
"Maaf Pak Nio ini terlalu cepat lagipula saya tidak ingin membahas hal seperti itu dulu baru satu bulan saya meninggalkan Boss muda dan rasa cinta sama terhadap Boss muda masih tetap sama.
"Ya kamu benar Zoi baru satu bulan sejak kamu pergi jauh dari hidup Pak Han seharusnya saya tidak mengungkapkan perasaan saya terlalu cepat begini, saya hanya ingin kamu tahu kalau kamu tidak akan sendirian membesarkan bayi yang ada dikandungan kamu Zoi" Pak Nio berusaha meyakinkan Zoi untuk tetap bersamanya.
"Iya Pak Nio lagipula Boss muda pasti sudah melupakan saya dan hidup bahagia bersama Claudia.
Ya itulah keyakinan kuat yang ada dipikiran Zoi bahwa Boss muda pasti sudah menikahi Claudia dan tidak akan pernah kembali padanya Zoi meyakinkan dirinya bahwa dia bisa menjaga kandungannya sendirian serta mampu membesarkan anaknya sendirian.
Sejak hamil Pak Nio sangat telaten manjakan Zoi setiap hari libur Pak Nio akan mengajak Zoi jalan-jalan agar pikirannya bisa fresh, setiap pagi dan malam Pak Nio selalu menyiapkan susu untuk ibu hamil dan mengantarkannya ke paviliun, buah-buahan tak luput dari pandangan Pak Nio untuk membelikannya untuk Zoi.
Zoi memang merasa bersyukur disaat seperti ini Pak Nio senantiasa ada disampingnya tapi entah kenapa Zoi sama sekali tidak bisa menyukai Pak Nio dihati Zoi hanya ada Boss muda seorang.
"Zoi hari ini kamu senam untuk Ibu hamil kan? saya antar kamu ya?" Pak Nio merasa bahagia bisa mengantar Zoi senam.
"Pak Nio tolong jangan terlalu baik pada saya, saya takut mengecewakan Pak Nio nantinya" Zoi merasa tidak enak.
"Zoi saya melakukan semua ini karena saya tulus sayang sama kamu dan calon anak kamu, saya tidak meminta balasan apapun kok dan satu hal lagi saya akan sabar menunggu kamu mencintai saya seperti saya mencintai kamu" jawaban Pak Nio benar-benar membuat Zoi merasa semakin bersalah.
__ADS_1