
Setelah dua jam berlalu Boss muda tiba didepan rumah yang tadinya dihuni oleh Zoi dan Pak Nio, disana anak buah Boss muda masih setia menunggu kedatangan Boss muda, ada yang tengah menghi*sap satu batang ro*kok, ada yang berjongkok memainkan aspal jalanan, dan ada yang menunggu didalam mobil.
Tak lama Boss muda tiba dengan seorang supir, Boss muda langsung turun dari mobil secara tergesa-gesa. Para anak buah Boss muda berkumpul dan menundukkan kepala mereka pada Boss muda.
"Dimana isteri ku?" tanya Boss muda dengan napas beratnya.
Anak buah Boss muda tak ada yang berani menjawab dan hanya diam seribu bahasa serta menundukkan kepalanya.
"Ahhh, sial!!!! Kenapa kalian membiarkan laki-laki itu membawa isteri ku? Bodoh kalian semua, tidak berguna!!!" kesal Boss muda yang langsung memegangi kepalanya yang hampir pecah memikirkan Zoi.
"Aku membayar kalian bukan hanya untuk diam!!! Bagaimana nasib ku tanpa Zoi, kalian tau aku sudah terlalu tersiksa selama ini. Apa kalian mau Boss kalian mati secara perlahan?" teriak Boss muda dengan mata memerah.
"Breng*sek,,z breng*sek!!!!" gerutu Boss muda sambil menendang salah satu mobil anak buahnya yang terparkir disitu.
Dugg,, duggg,,, dugggg, tendangan Boss muda ke body mobil.
Boss muda mulai tidak kuasa menahan tangisannya, tubuh dia pun jatuh terduduk diatas aspal dan dia pun menangis didepan semua anak buahnya.
Hikzzzzz, hikzzzzz, hikzzz Isak tangis Boss muda pecah.
Seseorang turun dari mobil yang barusan ditendang oleh Boss muda berkali-kali dan sangat keras.
"Heuh, kalian benar-benar anak buah yang tidak bisa diandalkan. Kenapa kalian biarkan laki-laki cengeng itu menendang-nendang mobil. Kalian tidak tau aku isteri dari Boss muda kenapa ada orang yang berani menendang mobil saat aku berada didalamnya," kata Zoi yang sebenarnya sejak tadi menunggu kedatangan Boss muda didalam mobil anak buahnya.
Ketika Pak Nio membawa Zoi pergi, ditengah perjalanan Zoi menangis tidak sanggup bila harus berpisah kembali dengan Boss muda. Sehingga Pak Nio tidak tega dan memutar kembali mobil miliknya dan mengantarkan Zoi kembali ke anak buah Boss muda.
Zoi yang dasarnya memang jahil meminta anak buah Boss muda jangan ada yang bilang dulu kalau Zoi berada didalam mobil yang kacanya gelap itu.
__ADS_1
"Suara wanita itu???" kata Boss muda yang kemudian menengok ke arah Zoi.
Zoi tersenyum lalu menangis kembali bisa melihat suaminya lagi, Boss muda tak kuasa untuk bangkit lagi dan hanya terus terdiam melihat wajah isterinya yang sudah sangat dia rindukan.
Zoi menghampiri Boss muda lalu ikut bertekuk lutut dijalanan dan memeluk Boss muda, Boss muda menyambut hangat pelukan dari isterinya itu. Mereka berdua menangis bersama disaksikan oleh semua anak buah Boss muda yang bertato, badan kekar tapi melihat adegan romantis didepan mata mereka seperti ini, membuat mereka pun melow dan ikut terisak-tangis.
Zoi kembali diboyong ke kota oleh Boss muda. Boss besar yang mendapatkan kabar ketemunya Zoi langsung pergi ke rumah Boss muda untuk menyambut kedatangan menantu kesayangannya itu.
Didalam private jet Boss muda tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Zoi, sambil sesekali menci*um kedua tangan Zoi. Para anak Boss muda yang menyaksikan kemesraan itu sampai merasa sedih apalah daya jiwa jomblo mereka meronta-ronta menyaksikan adegan-adegan seperti itu.
Tiba di bandara kota, Zoi akhirnya kembali menghirup dan menginjakkan kakinya di kota penuh kenangan ini.
Sesampainya di rumah Boss muda, Zoi sudah disambut oleh pelukan dari ayah mertuanya itu.
"Zoi, akhirnya Papah bisa bertemu kamu kembali, nak!" kata Boss besar yang meneteskan air matanya melihat Zoi kini kembali ke hadapannya.
"Maafin Zoi ya Pah," kata Zoi.
"Pah, udah Pah!! Han saja belum memeluknya selama itu," kata Bosa muda.
Boss besar pun melepaskan pelukannya dari Zoi, sambil menggandengnya masuk ke dalam rumah.
"Zoi, Papah senang kamu baik-baik saja," kata Boss besar.
Zoi pun tak kuasa menahan tangisannya, sembari mengeluarkan foto USG bayinya.
"Kamu hamil Zoi?" kata Boss muda yang langsung melihat foto USG itu.
__ADS_1
"Saya pikir akan melahirkan dan membesarkan anak ini seorang diri," kata Zoi yang kembali mengingat saat-saat dirinya mengetahui hamil ketika sudah pergi dari kota ini.
"Papah ikut bahagia untuk kalian berdua," kata Boss besar.
"Suami macam apa aku Pah, bahkan disaat isteri aku mengetahui kehamilannya aku tidak ada disampingnya," kata Boss muda.
"Ini semua bukan salah kamu sepenuhnya Han. Ini semua karena ulah ular betina itu. Dia yang sudah menyebabkan penderitaan ini hadir dalam rumah tangga kalian," kesal Boss besar.
"Maksud Papah apa?" tanya Zoi.
"Zoi, Claudia sudah mengakui segalanya didepan Papah dan Han. Dia sengaja menjebak Han padahal Han sama sekali tidak menyentuhnya pada saat itu," kata Boss besar.
"Jadi selama ini Boss muda tidak pernah menikahi Claudia?" tanya Zoi.
"Aku lebih baik mati daripada harus menikahinya," kata Boss muda.
"Han, besok kamu suruh Claudia minta maaf dihadapan Zoi, suruh dia bertekuk lutut dihadapan Zoi!! Kalau tidak Papah sendiri yang akan menyeretnya ke dalam penjara!" kesal Boss besar.
"Iya Pah, Han akan menyuruh anak buah Han untuk memanggilnya besok! Tapi tidak bisakah Papah pulang sekarang?" tanya Boss muda.
"Apa kamu barusan mengusir Papah?" tanya Boss besar.
"Pah, mengertilah sedikit!" rengek Boss muda.
Mendengar Boss muda bersikap seperti itu Zoi hanya tersenyum.
"Baiklah Papah akan pulang ke rumah Papah. Anak durhaka kamu Han!! Besok sore kita ke rumah sakit ya Zoi, Papah ingin dengar detak jantung cucu kesayangan Papah!" kata Boss besar.
__ADS_1
"Iya Pah, besok Han dan Zoi pasti ajak Papah. Sekarang mari Han antar kedepan!" ujar Boss muda.
Membuat Boss besar kesal diusir gara-gara Boss muda ingin berduaan dengan Zoi.