
Flashback beberapa tahun yang lalu.
Waktu itu dikediaman Fabricia, mengadakan acara syukuran atas kelahiran putri mereka, dihadiri oleh beberapa teman bisnis dari Fiky, terutama keluarga Williams, saat itu mereka berencana pulang dari acara kelahiran Rossa.
Setibanya dirumah, mereka sangat dibuat terkejut, karena terjadi hal yang tidak terduga tatkala melihat rumah mereka sangat berantakan, kaca rumah mereka pecah berserakan, dan ada salah satu dinding yang ditulisi dengan tulisan warna merah terbuat dari darah.
" Pergi dari sini atau aku akan menghancurkan keluargamu satu persatu "
Ketika Aryan melihat tulisan tersebut membuat emosinya langsung tersulut, karena ia tidak terima dengan orang yang sudah berbuat lancang terhadap dirinya dan keluarganya.
" Siapa yang berani membuat teror di rumahku! " Seru Aryan dengan dipenuhi oleh amarah.
Kemudian Aryan segera mencari asisten-asisten rumahnya, tapi tidak ada satupun yang berhasil ia temui, sampai mencari para asistennya ke segala penjuru rumah, dan pada Akhirnya ia menemukan mereka semua di sekap di dalam gudang.
Aryan segera melepaskan mereka semua, mereka langsung menjelaskan apa yang sudah terjadi dirumah itu, selesai mendengar kejadian teror yang menimpa mereka, Zeline istri Aryan langsung terlihat bergitu syok.
Pada keesokan harinya Aryan beserta keluarga langsung pindah di negara B karena menuruti kemauan sang istri dan tentunya untuk melindungi anak semata wayangnya yaitu Alex.
Saat mereka berpindah ke negara B mereka lupa memberi kabar kepada keluarga Fabricia bahwa mereka sudah pindah dan pada akhirnya mereka kehilangan kontak dengan keluarga Fabricia.
Flashback of.
___
" Bagaimana kabar papa dan mama mu nak Alex? " tanya Fiky
" Alhamdulillah papa dan mama baik baik saja om, papa selalu mencari kabar keberadaan om dan tante, tapi tidak pernah ketemu, " jawab Alex.
" Iya nak kita sama-sama kehilangan kontak waktu ada kejadian beberapa tahun lalu, jadi setelah kejadian itu kami tidak pernah saling mengabari lagi, bahkan om terkejut ketika kalian sudah tidak tinggal disini lagi, " Fiky menjelaskan dambil mengingat kejadian dulu.
Selain itu Alex juga menceritakan kronologi yang sebenarnya terjadi, mengenai insiden yang dialami Rossa tadi siang kepada Fiky, membuat Fiky yang mendengarnya sangat terkejut, bahkan ia hampir salah tersulut emosi.
Beberapa saat kemudian Gesya menghampiri mereka yang tengah asik mengobrol membahas Rossa.
" Nak Alex terima kasih ya, tante senang bisa bertemu denganmu kembali, sudah sangat lama tante dan om tidak bertemu denganmu dan juga keluargamu, " tutur Gesya yang datang setelah mengantarkan Rossa dikamarnya.
__ADS_1
" Iya tante, Alex juga senang bisa bertemu dengan tante dan om lagi, " jawab Alex.
" Sekali lagi tante berterima kasih sama kamu, karena sudah mau menolong putri tante, "
" Iya sama-sama tante, saya juga masih tidak percaya bisa bertemu dengan keluarga Fabricia yang di telah cari oleh papa saya selama bertahun-tahun dan saya juga tidak menyangka bahwa Rossa itu adalah putri dari om dan tante " tutur Alex.
Mereka bertiga lanjut ngobrol dan bercerita sampai larut malam.
" Om tante tidak terasa sudah sangat malam, Alex mau pamit pulang dulu ya karena ini sudah sangat malam, tidak enak bertamu malam malam begini " ujar Alex sekaligus berniat pamit kepada kedua orang tuanya Rossa.
" Tidak apa-apa nak Alex, baiklah nak Alex boleh pulang, sekali lagi terima kasih sudah menolong Rossa, " tutur Gesya seraya tersenyum hangat.
" Iya tante sama-sama, " ujar Alex sembari menyalami Fiky dan Gesya.
" Sekarang kamu tinggal dimana nak Alex? " tanya Fiky seraya berjalan beriringan dengan Alex.
" Saya tinggal di kota B om tidak jauh dari sini, dan saya tinggal di villa pribadi saya karena papa saya yang menyuruhnya, takut ada teror lagi seperti dulu lagi, " tutur Alex menjelaskan alasan ia tinggal di Villa bukan di perumahan.
Fiky mengangguk mendengar penjelasan dari Alex pertanda laki-laki itu mengerti, Fiky pun mengantar Alex sampai teras rumahnya, dan mobil yang di kendarai oleh Alex sudah mulai perlahan keluar meninggalkan kediamannya.
Setelah keperginya Alex. Fiky masuk kedalam rumah sembari menutup pintunya, laki laki itu hendak berjalan menuju kamar Rossa. Namun ternyata ia melihat istrinya itu baru saja keluar dari kamar putrinya.
" Rossa baik-baik saja kok pa, dia sudah tidur, "
" Ya sudah ma kalau dia sudah tidur, biarkan dia beristirahat, ayo kita tidur, " ajak Fiky kepada istrinya.
" Papa dan Alex akan mencari siapa yang ingin melukai Rossa, besok papa akan mengutus Yoga untuk mengurus semuanya, " sambung Fiky kembali, laki laki itu berjanji tidak akan mengampuni siapa yang berani melukai putrinya tersebut, dia berbicara dengan sambil menahan amarahnya.
" Baik pa, ayo sebaiknya kita lekas tidur, " tutur Gesya sembari mengelus pundak suaminya itu, agar tidak menjadi emosi.
***
Rossa bangun dari tidurnya seperti biasa, selesai mandi ia turun ke lantai bawah untuk menemui papa dan mamanya sarapan.
" Eh sayangnya mama udah bangun? " sapa Gesya sambil menatap hangat putrinya tersebut.
__ADS_1
" Mama ini, Rossa udah gede tau, jangan di panggil begituan kayak anak kecil aja, " balas Rossa dengan sedikit kesal.
Seketika Gesya tertawa melihat tingkah Rossa, bi Moey yang baru saja mengantarkan lauk pauk ke meja makan ikut tersenyum pula melihat tingkah putri majikannya tersebut.
" Hahaha kamu ini masih kami anggap seperti anak kecil, karena kamu belum menikah dan belum memberikan papa dan mama mu ini cucu," sambung Fiky sambil tertawa. Ia sengaja ikut menggoda Rossa.
" Papa ini apaan sih masih pagi juga udah bicara kemana mana, Rossa tidak mau membahas itu, lagian Rossa juga mau nentuin pilihan Rossa sendiri. " jawab Rossa.
" Oke oke kamu bisa tentuin pilihan kamu sendiri, tapi papa ada syarat sama kamu, " ujar Fiky, dan seketika Rossa menatap papanya itu penasaran.
" Syarat? syarat apa itu pa? " tanya Rossa penasaran.
" Papa kasih kamu waktu satu bulan, kamu harus punya pacar, dan mengenalkannya kepada papa dan mama, setelah itu perjodohan dengan putra keluarga Adinata akan kami batalkan, Bagaimana? " tutur Fiky yang berniat menantang putrinya itu sambil tersenyum.
" Ah papa ini, ada ada saja sih, " ujar Rossa.
" Kenapa sayang, kamu tidak mau? mendingan kamu menyutujui syarat dari papa saja, dari pada kamu di jodohin sama papa hayo, mending kamu cari sendiri mumpung papa memberi kamu waktu, " saut Gesya.
" Hem tapi kan ma waktu satu bulan itu sedikit, tidak mungkin Rossa bisa mendapat pacar dalam waktu satu bulan, "
Fiky dan Gesya tidak membalas ucapan Rossa karena mereka tahu jika pembicaraan ini diteruskan. Rossa akan tambah kesal kepada mereka.
Bagaimana Rossa bisa punya pacar, gadis itu saja jarang bergaul dengan laki-laki karena bagi Rossa mereka semua bermata keranjang, dan Rossa membenci hal itu.
Hari ini sangat beruntung karena Rossa libur kuliah, kondisinya pun belum sehat seratus persen tetapi gadis itu sudah terlihat bosan karena tidak ada kegiatan yang ia kerjakan di rumah.
" Pa, Rossa ikut papa di kantor ya, Rossa ingin melihat papa bekerja, sekaligus untuk belajar Rossa pa," ujar Rossa saat gadis itu melihat papanya bersiap bersiap ke kantor.
" Kamu kan belum sembuh total, masih butuh istirahat jadi di rumah saja, kapan-kapan saja ikut papa ke kantor ya, " jawab Fiky sambil melihat Rossa.
" Tidak pa, Rossa sudah sembuh kok, obat yang Rossa minum kemarin itu benar-benar manjur, Rossa beneran udah sembuh, " balas Rossa semangat sambil memutarkan tubuhnya, membuat Gesya dan Fiky tersenyum.
" Wah semangatnya, obatnya yang manjur atau orangnya yang buat kamu jadi sembuh begini hayoo, " goda Gesya kepada putrinya tersebut sambil tersenyum genit.
" Mama apaan sih, dia itu cuma Dosen Rossa, ga usah aneh-aneh deh ma " jawab Rossa ketus.
__ADS_1
" Sudah-sudah masih pagi, jangan ribut, " sahut Fiky.
" Ya sudah kamu boleh ikut papa, biar sekalian kamu bisa belajar di kantor, lagian suatu hari nanti kamu juga yang bakal mewarisi bisnis papa, buru ganti bajunya dulu kalau mau ikut papa ke kantor, " tutur Fiky menjelaskan kepada Rossa dan seketika itu pula Rossa dengan semangat menyambut antusian apa yang di ucapkan papanya, gadis itu segera berlari menuju kamarnya untuk bergati pakaian. Fiky dan Gesya hanya mengelengkan kepalanya saat melihat tingkat putri tersebut.