
Rossa duduk di depan cermin, ia sedang mengeringkan rambutnya menggunakan Hair Dryer. Disaat menatap dirinya dicermin tiba-tiba saja ia teringat dengan kejadian yang dialaminya tadi siang, yang membuat wajah Rossa seketika berubah menjadi merah merona.
" Ah kenapa dengan perasan ku ini, setiap ingat kejadian itu jantungku selalu berdebar, heem tapi dia sudah seperti sosok malaikat yang selalu datang menyelamatkan ku di waktu yang tepat, " batin Rossa, gadis itu membayangkannya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tok tok tok... ketukan dari pintu kamar Rossa berhasil membuyarkan pikirannya.
" Nak ini mama, ayo kita makan malam, " ajak Gesya yang berada dibalik pintu.
" Iya, ayo ma, " balas Rossa sambil membuka pintu.
Gesya dan Rossa turun ke lantai bawah bersamaan. Rossa terkejut saat melihat ada seorang laki-laki yang ia kenal ikut makan malam bersama keluarganya.
" Hah dia kesini lagi? mau ngapain, " batin Rossa yang bertanya-tanya dengan kedatangan Alex.
Tanpa berbicara, Rossa ikut makan malam bersama dengan keluarganya dan juga Alex.
Gadis itu menatap Alex dengan tatapan tajam, tapi Alex menghiraukannya, Alex juga tidak sama sekali membalas tatapan Rossa, ia terlihat masih mengobrol bersama Fiky.
" Kamu kenapa nak? kamu kaget ya kenapa nak Alex datang kesini lagi? " tanya Gesya menatap ke arah Rossa sambil tersenyum.
" Ehh i iya mama, kenapa Pak Alex ada disini? " tanya Rossa sembari ikut duduk.
Tiba-tiba saja Alex menatap Rossa dengan tatapan sedikit tajam, namun Rossa malah mengernyitkan keningnya heran, ia tidak tahu apa maksud Alex menatapnya seperti itu.
" Loh bukannya kalian ini pacaran, tapi kenapa kamu panggil nak Alex masih dengan sebutan pak? " tanya Fiky, ia sedikit curiga dengan Rossa dan Alex, Fiky menatap Rossa dengan tatapan mengintimidasi.
" Aduh kenapa aku lupa, bodohnya aku, " batin Rossa sambil mengigit bibir bawahnya.
" Eh eh i ya pa anu, Rossa.. " sebelum Rossa menjelaskan Alex segera menyahutinya.
" Sayang, kamu lupa ya manggil aku harus seperti apa? " sahut Alex yang memotong perkataan Rossa, sambil mengedipkan sedikit matanya, yang artinya Alex memberikan isyarat.
" Jangan ditutup tutupi lagi di depan orang tua kamu bahwa kita ini sudah resmi berpacaran, " ujar Alex yang berbeda dari biasanya, membuat Rossa menjadi sedikit aneh saat mendengarnya.
" Eh i iya maaf aku lupa, " jawab Rossa dengan menundukkan kepalanya karena menghindari tatapan papanya.
Seketika tawa Fiky dan Gesya pecah bersamaan, mereka berdua tertawa ketika melihat tingkah laku dua anak muda yang ada di depan mereka saat ini.
" Hahaha sudah-sudah, kalian ini bagaimana sih mau ngelawak apa gimana? " tanya Fiky.
Tapi Alex hanya diam saja, ia malah tersenyum sambil melihat ke arah Fiky.
__ADS_1
" Begini Nak, Alex ini sengaja papa undang untuk makan malam bersama kita, itung-itung pesta kecil untuk merayakan jadian kalian tanpa sepengetahuan kami, " ucap Gesya dengan sedikit menggoda putrinya.
Uhuk uhuk.....! Rossa tersedak ketika sedang mengunyah makanan yang ada dimulutnya, tak kala ia mendengar penjelasan mamanya.
" Sayang hati-hati kalau makan, jangan buru-buru, " ujar Gesya sambil memberikan air putih kepada Rossa.
" Mama apaan sih Rossa tidak buru-buru, Rossa hanya tersedak saja, " balas Rossa setelah selesai meminum air putih pemberian dari mamanya.
Mereka berempat melanjutkan makan malam bersamanya, selesai makan dan berbincang-bincang, Alex berpamitan untuk pulang karena sudah larut malam.
" Om, tante saya pamit pulang dulu sudah larut malam " pamit Alex kepada kedua orang tua Rossa,
" Oh iyaa sudah nak, hati-hati di jalan, " sahut Fiky, dibalas anggukan dan senyuman oleh Alex.
" Pacarmu mau pulang, apa kamu tidak mau mengantarkannya sampai depan rumah sayang? " tanya Gesya dengan sedikit menggoda putrinya itu.
" Ah, apaan sih mama ini " balas Rossa dengan malu-malu.
" Ayo ikuti Alex, antarkan dia sampai depan rumah, " sambung Fiky yang ikut melangkahkan kakinya mengikuti Alex.
" I iya pa " kemudian Rossa berjalan mengikuti Alex dan papanya, tetapi Alex tidak menggubris Rossa.
" Om, Tante, Rossa, saya pamit pulang, mari. " ujar Alex, di balas anggukan oleh papa dan mamanya Rossa, ketika mobil Alex sudah tidak terlihat lagi, mereka bertiga kembali masuk ke dalam rumah.
" Mari. "
.
***
Di kediaman Adinata.
Adam masih kesal dan marah, ia meluapkan semua amarahnya kepada istri dan anak anaknya.
" Bodoh.! dasar bodoh.! "
Aura tetap diam, ia tidak menanggapi suaminya yang sedang terbakar oleh amarah, jika ia menjawab pasti akan kena imbas begitu pikirnya.
Clarissa kakaknya Reyhan yang tidak mengerti masalah sebenarnya pun ikut diam dan takut melihat tingkah papanya yang sedang marah.
Sementara Reyhan, laki laki itu tidak terlalu peduli dengan situasi di rumahnya.
__ADS_1
" Rencanaku untuk mendekati keluarga Febricia sudah gagal, berani beraninya anak si bajingan itu ikut campur urusanku, sampai berhasil menggagalkan rencanaku . " gerutu Adam semberi mengepakan kedua tangannya.
" Bisa bisa keluarga Febricia sudah tidak percaya lagi dengan keluarga kita, papa yakin pria itu bicara yang tidak-tidak pada mereka, papa tidak ingin bisnis kerja kita dengan mereka akan diputus begitu saja, kita jadi sulit untuk mengambil hati mereka lagi, argghhh ini semua gara-gara anak si bajingan itu, " ujar Adam.
Laki laki itu berbicara sendiri tidak ada yang menanggapi ucapannya. Pada akhirnya ia bertanya karena merasa kesal dengan istrinya yang dari tadi diam saja.
" Kenapa mama diam saja, jangan membuat ku semakin marah, beri aku masukan, atau jangan-jangan mama memihak mereka ya! " ucap Adam dengan nada tinggi ke istrinya.
" Tidak pa, mama hanya bingung harus bagaimana pa, sementara papa saja dari tadi marah marah terus, mama jadi tidak tau harus menjawabnya apa kalo papa saja seperti ini terus, " jawab Aura.
Akan tetapi jawaban Aura itu bukannya menenangkan malah semakin membuat amarah Adam menjadi jadi.
Arghhh... Praaankk.!!!
Adam membanting apa saja yang ada di dekatnya, keadaan rumah keluarga Adinata pun berantakan akibat Adam yang melampiaskan emosinya.
Di rasa sudah cukup melampiaskan amarahnya, Adam pergi begitu saja dari rumah tidak tahu kemana, semua yang ada dirumah tersebut hanya bisa menatap tubuh Adam yang mulai menjauh dari pandangan mereka.
" Ma, kenapa papa marah? " tanya Clarissa heran kepada mamanya.
" Papa mu seperti itu gara-gara perjodohan adik mu yang gagal, " balas Aura.
" Kenapa gagal ma, dan kenapa papa sampai semarah itu? " tanya Clarisa lagi, karena ia begitu penasaran.
" Karena anaknya tuan Fiky sudah mempunyai pacar jadi mereka membatalkan perjodohan itu, " jelas Aura kepada putrinya tersebut.
" Kok mama sama papa bisa tau kalau dia sudah punya pacar? "
" Iya tau lah, soalnya pacar putrinya tuan Fiky datang tepat waktu saat dia akan memberi keputusan perjodohan itu, "
" Hmm seperti apa laki-laki itu berani sekali dia, jika aku ada di posisi putri tuan Fiky pasti aku sangat bahagia, ah seandainya Alex begitu denganku pasti aku akan sangat lebih bahagia, " batin Clarissa sembari senyum-senyum sendiri membanyakan Alex yang melakukan hal seperti itu terhadapnya.
" Hey kenapa malah bengong, senyum senyum sendiri lagi? " tanya Aura seraya mengerutkan keningnya heran, karena merasa aneh dengan sikap Claris yang senyum-senyum sendiri.
" Eh mama, hehe tidak apa-apa kok ma, cuma lagi membayangkan sesuatu saja, " ujarnya sambil tertawa sendiri karena malu sudah ketauan oleh mamanya dia sedang melamunkan sesuatu.
" Claris juga takut ma, kalau papa sebegitu marahnya, liat rumah kita jadi berantakan seperti ini, " sambung Claris kembali dengan menoleh ke arah sudut rumahnya yang berantakan dan berserakan pecahan kaca dari guci dan gelas keramik.
Aura dan Claris pun mengamati setiap inci rumahnya yang berantakan, kemudian Aura menyuruh asisten asistennya untuk membereskan semua kekacauan ini sebelum suaminya datang kembali.
***
__ADS_1