
" Lepaskan tangan mu, aku tidak suka disentuh. " perintah Alex dingin sambil menggerak-gerakkan tangannya dan menatap Claris dengan tatapan membunuh. Claris pun dengan segera melepaskan tangannya.
" Kenapa sih kamu itu selalu dingin begini saat bertemu denganku, aku kurang apa Alex? " Claris sangat kesal dengan sikap Alex terhadapnya. Ia mengucapkan itu sambil menyipitkan matanya ke arah Alex, mencoba mencari tau apa yang Alex inginkan.
Namun, Alex diam tidak menjawab bahkan mengacuhkannya tanpa melihat atau pun apa terhadap Claris.
Alex baru sadar bahwa dari tadi ia dan Claris ada yang mengawasi dari kejauhan, dan ketika Alex hendak mendekati mobilnya akan tetapi niatnya urungkan, tat kala Alex melihat seorang wanita yang dari tadi mengawasinya.
Melihat Rossa berdiri menatapnya, Alex langsung menyunggingkan sedikit senyumnya, kemudian Alex berjalan menuju ke tempat Rossa yang sedang terpaku menatapnya. Clarissa yang melihat Alex berjalan menjauhinya, ia pun mengejar dan mengikuti Alex dari belakang sambil berlari kecil.
" Eh tunggu, Alex kamu mau kemana? Aku ikuuutt.. " ucap Clarissa sambil setengah berteriak.
Laki-laki itu sama sekali tidak merespon ucapan Clarissa. Ia tetap berjalan mendekati Rossa, sontak membuat Claris langsung menghentikan langkahnya saat ia tahu tujuan Alex kemana, karena yang Claris lihat Alex sedang berjalan menuju seorang perempuan yang sedang berdiri menatap ke arahnya.
" Eh dia kesini mau ngapain, ah aku harus segera pergi. " gerutu Rossa sambil mengembalikkan badannya.
Akan tetapi, sebelum Rossa pergi dari tempat itu langkahnya terhenti, saat ia merasakan tangannya di tarik oleh tangan seorang.
" Mau kemana? " tanya Alex
" Lepaskan! "
" Tidak, kau harus ikut pulang denganku, dan aku tidak menerima penolakan! " ucap Alex sambil menatap tajam Rossa, dan Rossa tidak mengucapkan sepatah kata pun atau menolak apa yang di ucapkan Alex.
Clarissa yang melihat kejadian itu didepan matanya tak jauh dari tempat ia berdiri, membuat dirinya begitu kesal. Ia terlihat sangat kesal dengan pemandangan yang sedang ia tonton, gadis itu merasa seolah-olah Alex sedang menyuguhkan sesuatu untuknya agar segera menjauhinya, gadis itu menatap Alex dan Rossa dengan tajam sambil mengepalkan kedua tangannya.
Emosi Claris semakin menjadi-jadi, saat ia melihat Alex merangkul pundak Rossa ketika berjalan ke arah mobil Alex sambil melewatinya. Claris yang melihat kejadian itu pun hanya bisa terdiam. Claris juga tidak tau siapa wanita yang di rangkul oleh Alex, karena sebagian tertutupi oleh tubuh Alex.
" Sial, siapa wanita itu, berani sekali dia merebut Alex dari ku. " Ujar Claris dengan emosi yang seakan ingin meledak.
Alex tanpa berbicara sepatah kata pun langsung mendekati mobil Rossa, karena ia memilih menggunakan mobil Rossa agar menghindari Clarissa, Alex terlihat membukakan pintu untuk Rossa. Rossa menuruti apa yang di maksud oleh Alex walaupun perasaannya masih dengan rasa sedikit kecewa.
Akhirnya Rossa dan Alex sama-sama masuk ke dalam mobil, kemudian Alex pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan parkiran kampusnya. Claris yang melihat itu hanya bisa mematung dan membisu.
Clarissa saking kesalnya menghentakan kakinya dengan kasar, sambil mengerucutkan bibirnya. Ia memilih pergi meninggalkan tempat tersebut, akan tetapi pada saat gadis itu hendak membukan pintu mobilnya, ponselnya tiba-tiba bunyi.
Drt drt drt...!
__ADS_1
Bunyi ponsel Claris menggema didalam tasnya, membuat Claris mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil, gadis itu segera mengambil ponselnya untuk ia lihat siapa yang sedang menelponnya tersebut.
" Mama? " gumamnya sambil mengerutkan keningnya heran, tidak biasa mamanya menelpon dijam seperti ini.
Clarissa segera menggeser tombol hijaunya untuk mengangkat panggilan dari mamanya itu.
" Iya ma, halo? " sapa gadis itu terlebih dulu.
" Claris cepat pulanglah! " tanpa basa-basi Aura berbicara setengah berteriak disebrang sana, lalu panggilan pun berakhir membuat Clarissa terkejut sekaligus langsung tergesa-gesa memasuki mobilnya untuk segera pulang.
Dikediaman keluarga Adinata.
Di rumah mewah milik Adinata dengan penjagaan yang ketat mulai dari gerbang utama, sampai halaman selalu di jaga oleh satpam sampai 24 jam, dan di dalam rumah pun tak ada asisten yang berani bergerak sedikitpun jika tuan besarnya ada di rumah, terlihat suasana yang sangat mencekam di dalamnya. Di dalam rumah tersebut semua anggota keluarga Adinata berkumpul mereka menciptakan suasana yang begitu mencekam dan hening, tidak ada satu pun yang ingin membuka suaranya sebelum tuan Adam berbicara terlebih dahulu.
Terlihat Adam menunjukan sorot mata dan eskpresi yang tajam dan mengerikan, semua orang cemas dan bertanya-tanya dalam hatinya, tapi tidak untuk putra bungsunya yang bernama Reyhan ia masih begitu santai saat melihat papanya seperti itu, suasana saat ini tidak merubah ekspresi Reyhan sedikit pun karena dari dulu ia di didik oleh papanya dengan keker jadi sekarang ia sudah tidak keget jika tahu sifat papanya yang mudah marah.
" Ada apa ini kenapa suasananya jadi begini, ada apa dengan papa? " batin Claris dengan wajah pucat dan tubuhnya bergetar saat melihat ekspresi papanya.
Mereka yang ada di ruang pertemuan itu belum mengetahui jika keluarga Fabricia dengan keluarga Wiliams kembali menjadi satu seperti dahulu, dan yang paling Adam benci dari kedua keluarga itu adalah kedua anaknya sudah melakukan pertunangan.
" Emm pa sebenarnya ada apa? " tanya Aura, istrinya Adam mecoba memberanikan diri bertanya kepada suaminya walau dengan nada gemetar dan takut, sebenarnya ia juga tidak kaget dengan marah suaminya. Namun, hari ini amarah suaminya itu sangat berbeda dari beberapa hari yang lalu.
Clarissa dengan perlahan memegang tangan sang mama dan mamanya membalas cengkraman tangan anak perempuannya itu.
" Ma, kenapa mama malah bertanya saat suasana papa seperti itu. "
Setelah Claris menyelesakan ucapannya, tiba-tiba Adam berteriak, sambil membanting gelas yang berisikan air minum di depannya.
" Arkkkkhhhhhh!!!....Berengsek!!!.....Prankkk!!! "
Ia melemparkan apa saja yang ada di seluruh meja ruang keluarganya dan di saksikan oleh orang-orang yang ada di ruangan pertemuan keluarga besarnya itu.
" Apaa kalian tidak tahu kalau anak Fabricia yang mau papa nikahkan dengan Reyhan sekarang malah dilamar oleh anak Williams.! " ucap Adam dengan mata memerah dan suara yang meninggi menatap keluarganya.
Tidak ada yang berani menjawab ucapan Adam, mereka membisu seribu kata, dan mereka terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Adam itu.
Adam berdecak ia segera mengambil ponselnya yang ada di saku kemudian menelepon seseorang.
__ADS_1
" Halo tuan besar bagaimana? " ujar seseorang disebrang sana.
" Segera perintahkan mereka untuk bergerak sekarang. Cepat! " perintah Adam dengan orang tersebut. Lalu sambungan telepon itu pun langsung ditutup oleh Adam.
Adam diam dengan nafas yang tersenggal-senggal akibat amarahnya yang besar. Kepalanya sudah panas memikirkan apa yang sudah terjadi, dan orang yang ada di ruang pertemuan itu pun turut diam tidak ada yang berani mengelurkan suaranya satu pun.
...(Adam Pov)...
Waktu Adam berada di kantor ia menerima pesan singkat dari orang suruhanya yang bertugas memata-matai keluarga fabricia.
Ting.
Bunyi suara pesan pun terdengar, terlihat ada satu pesan yang masuk disana. Adam segera meraih ponselnya yang berada diatas meja itu dan langsung membaca isi pesan tersebut.
Ia mendapat kabar jika keluarga Fabricia dan Wiliams kembali bersatu, bahkan anak dari kedua keluarga itu sudah melaksanakan pertunangan anak mereka.
" Sial!! " ucapan Adam dengan berdecak kesal.
" Panggil sekretaris Arif ke ruanganku segera! " perintah Adam saat laki laki itu terlihat menekan tombol di iphonenya, ia menghubungi petugas kantornya.
" Baik tuan, " balas seseorang disebrang sana.
Tak lama kemudian seseorang yang dipanggil Adam itupun segera menuju ruangan kantornya.
Tok Tok Tok.
" Masuk. " ucap Adam dengan santainya sambil duduk di kursi putar.
Ceklek... Seseorang membuka pintu dengan perlahan.
" Ada apa tuan memanggil saya? " tanya sekretaris Arif.
" Siapkan rencana kedua kita, " ujar Adam tegas dan Arif langsung mengangguk, mengiyakan.
" Baik tuan, akan saya laksanakan. "
Setelah selesai, Arif langsung keluar dari ruangan kerja bosnya itu, dan tak lama kemudian Adam pun bergegas pulang ke rumahnya.
__ADS_1
***