
Setelah keberangkatan Rossa ke kampus, di kediaman keluarga Fabricia mereka sedang kedatangan tamu dari keluarga Adinata, rekan bisnis Fiky Fabricia.
Mereka semua sedang asik menikmati jamuan makan siang yang sudah disajikan, selesai makan bersama mereka semua kembali berkumpul dan berbincang-bincang di ruang tamu.
" Terima kasih atas jamuan makan siangnya tuan Fiky dan jeng Gesya, " ucap Aura Adinata istri dari Adam Adinata, wanita itu mengucapkan kata terima kasih dengan sangat tulus.
" Iya sama-sama jeng Aura, itu sudah menjadi kewajiban kami jika kedatangan tamu sepesial seperti anda, " balas Gesya dengan tersenyum hangat.
" Oh ya, kalau begitu kita langsung ke intinya saja sekarang tuan Fiky dan nyonya Gesya. Tentang bagaimana pembahasan perjodohan anak kita? " tanya Adam Adinata, sambil menatap ke arah Fiky dengan serius, keluarga itu berencana ingin menjodohkan anaknya dengan keluarga Fabricia.
" Kalau saya dan istri saya setuju saja, akan tetapi kami belum membicarakan hal ini kepada putri kami, " Tutur Fiky sopan.
" Namun, jika tuan Adam berkenan ijinkan kami berbicara terlebih dahulu kepada putri kami, untuk jawabannya mau atau tidaknya menerima perjodohan ini, kita akan bertemu kembali di lain waktu? " sambung Fiky yang bergantian menatap istrinya tersebut.
" Iya benar, kami perlu waktu untuk membicarakan tentang perjodohan ini dengan putri kami, bagimana tuan Adam dan jeng Aura, anda tidak keberatan-kan? " balas Gesya dengan diseringai senyum hangatnya.
Adam dan Aura hanya terdiam sesaat, setelah itu mereka berasamaan mengangguk mengiyakan.
" Baiklah kalau begitu tidak apa-apa, memang benar juga apa yang tuan Fiky dan nyonya Gesya katakan kami perlu menunggu jawaban putri tuan dan nyonya jika putri tuan setuju dengan perjodohan ini , tuan dan nyonya Fiky bisa menghubungi kami kembali untuk membahas lebih lanjut tentang perjodohan anak kita, dan tentu agar pertunangan mereka untuk disegerakan biar kita cepat jadi besan, " ucap Adam Adinata diringi tawa darinya, sehingga membuat yang lain ikut tertawa juga.
Beberapa saat kemudian setelah selesai bertamu keluarga Adinata berpamitan untuk pulang.
***
Rossa pulang ke rumah di jemput oleh pak Anto, sesampainya di rumah, gadis itu terlihat sangat lelah, ia langsung menuju ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
" Astaga, sepertinya Dosen tadi sengaja mengerjaiku dan ingin membuatku malu dikelas, apa salahku dengan dia coba, oh tuhan kenapa aku harus di pertemukan dengan orang seperti dia sih. " Batin Rossa dengan kesal sembari menatap lurus dinding kamarnya, sedari tadi gadis itu menggerutu tidak jelas, merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan sedikit memejamkan matanya tanpa mengganti pakaian.
Tok tok tok!! terdengar suara pintu kamar Rossa di ketuk dari luar.
" Astaga siapa sih, " ujar Rossa lirih, sebenarnya gadis itu enggan bangun dari ranjangnya.
" Sayang ini mama, kamu cepet keluar gih, kamu dipanggil oleh papamu, papa sudah menunggumu di bawah, dan lagian ini sudah waktunya kamu makan sayang, " ujar Gesya sembari berdiri di depan pintu kamar putrinya yang masih tertutup.
" Eh mama ya, iya mah bentar Rossa mau mandi dulu ya, habis ini Rossa turun kok, " balas Rossa dengan setengah berteriak didalam kamarnya.
__ADS_1
" Ya sudah mama tunggu dibawah ya sayang, jangan lama-lama, "
" Iya ma. "
Setelah menjawab ucapan Gesya. Rossa segera bangun dari ranjangnya dengan lesu menuju ke kamar mandi.
Selesai dengan mandinya. Rossa mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk di depan cermin, kini wajahnya yang lesu berubah terlihat lebih segar, tak memakan waktu lama Rossa keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk menemui kedua orang tuanya.
" Ada apa papa memanggilku?? " tanya Rossa seraya mendekat ke arah kedua orang tuanya di ruang keluarga.
" Iya nak, ada beberapa hal penting yang harus kami bicarakan padamu, tetapi sebelum itu kamu makan dulu, " balas Gesya sambil tersenyum.
Rossa pun paham, tak banyak bicara gadis itu menurutinya.
Selesai dengan makan siangnya Rossa kembali menghampiri kedua orang tuanya di ruang keluarga.
" Apa yang papa sama mama mau omongin ke Rossa? "
" Duduk dulu sayang! " seru Gesya sambil menatap putrinya tersebut.
" Silahkan di minum tuan, nyonya dan nona Rossa, " ujar bibi Moey dengan berjongkok setelah meletakkan minumannya diatas meja.
" Iya bibi terima kasih, bibi boleh kembali, " ucap Gesya.
Fiky segera meletakkan korannya yang di pegangnya sedari tadi, laki-laki itu mengambil kopi yang telah disajikan oleh bi Moey, dan meminumnya sedikit.
Setelah menaruh kopinya kembali Fiky menatap sang istrinya, tanpa kode apapun Gesya sudah paham, wanita itu tersenyum dan mengangguk samar ke suaminya.
" Begini nak, kita langsung ke intinya saja, " ucap Fiky yang membuat Rossa menjadi lebih penasaran lagi.
" Ada apa Pa, katakan saja. "
" Sebeneranya kami berencana mau menjodohkan kamu sama putra rekan kerja papa nak. "
Sontak Rossa langsung terkejut setelah mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh papanya tersebut, matanya terbelalak sempurna, gadis itu juga terbatuk-batuk ketika tengah asik meneguk es jeruk peras yang ada ditangannya.
__ADS_1
" Uhuk Uhuk. "
" Sayang pelan-pelan, " Gesya mengelus punggung putrinya itu dengan sedikit khawatir.
" Apa..! dijodohkan ? " tanya Rossa dengan tak percaya, tanpa sadar gadis itu telah menggunakan nada tinggi saat berbicara dengan orang tuanya, ia juga sedikit gemetaran.
" Rossa sayang pelanin suara kamu di depan papa , " Gesya.
" Tapi ma, Rossa tidak mau dijodohin ma, Rossa mau kuliah dulu terus kerja ma, Rossa ingin merasakan hasil jerih payah Rossa sendiri, Rossa gak mau nikah muda, kenapa main jodoh-jodohin Rossa begini sih, pokoknya Rossa gamau nikah dulu pa, ma titik. " Ucap Rossa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Sayang kamu tidak langsung menikah, kamu bisa kerja dulu, kita melakukan ini untuk kebaikan kamu sendiri, dia anak om Adam, dia baik nak, dia juga sudah memiliki pekerjaan sendiri dari papanya nak, papa gak bakal salah jodohin anaknya sendiri. " Fiky berusaha menjelaskan kepada putrinya.
Rossa tidak lagi bisa menahan air matanya.
" Pokoknya Rossa tidak mau pa,ma, biar Rossa nentuin pilihan Rossa sendiri, " ucap Rossa dengan lirih, gadis itu berlari pergi menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, lalu menutup pintunya dengan keras.
BRAKKK!!!
" Sayang! " panggil Gesya yang ingin mengikuti langkah putrinya itu. Namun Fiky segera menghentikannya.
" Biar dia tenang dulu ma, dia pasti masih syok, kita kasih dia waktu, keputusan ini kan juga untuk kebaikan dia sendiri sayang, " tutur Fiky dengan memeluk istrinya.
" Tapi pa, Rossa! "
" Hustttt! Rossa biar menenangkan diri dulu, mama juga tenanglah, biar dia berpikir dulu, kalau begitu kita kasih saja putri kita waktu, kalau Rossa sudah mempunyai pacar dalam jangka satu bulan ini, maka kita batalkan saja perjodohan ini gimana, " tutur Fiky yang berniat menenangkan istrinya tersebut, Gesya seketika menatap suaminya itu.
" Tapi pa, Rossa anaknya tidak mudah bergaul dengan laki-laki, mama tahu banget Rossa itu seperti apa. "
" Makanya kita kasih putri kita waktu dulu sayang, apakah dia bisa mencari pengganti perjodohan ini atau tidak, jika dia tidak bisa mencari cari pacar dalam satu bulan ini maka kita terpaksa jodohin dia dengan anak pak Adam ma, bagaimana? " Fiky bertanya kepada istrinya.
Pada akhirnya Gesya menyutujui ucapan suaminya, bagaimanapun juga wanita itu tidak bisa membantah ucapan sang suami.
" Papa dan mama kenapa jahat, apa salah Rossa sampai Rossa mau dijodohin segala, Rossa ingin mandiri dan nentuin pilihan Rossa sendiri, kenapa Rossa selalu kayak di kekang kayak gini sih, kenapa? semua diatur oleh kalian, hiks. " Rossa menangis sesegukan dikamarnya, tetapi lama-kelamaan gadis itu kelelahan sendiri sampai ia tertidur pulas.
***
__ADS_1