
Pov Rossa.
Setelah mendapat panggilan dari orang misterius itu, gadis itu segera berlari menuju parkiran Mall sambil menangis, ia tidak peduli meskipun saat ini menjadi sorotan banyak pasang mata yang mengawasinya.
Rossa berlari dengan deraian air mata yang jatuh membasahi pipinya, sekarang yang ada pikiran Rossa hanya kedua orang tuanya berada di rumah sakit, Rossa menangis sesegukan setelah ia sampai di parkiran.
Queen dan Agnes juga ikut masuk mobil, saat ini yang mengemudikan ialah Rossa, namun segera di cegah oleh Queen, karena Rossa sedang berada di posisi panik jadi Queen yang mengambil alih kemudi, sesekali Agnes bertanya kepada Rossa namun Rossa tidak menjawabnya, kemudian Queen memberi kode kepada Agnes agar tidak bertanya lagi.
" Sebenarnya ada apa dengan kakak ini, ya tuhan semoga tidak terjadi apa-apa. " batin Agnes
Akhirnya mereka bertiga telah sampai di Rumah Sakit A.
Rossa berlari untuk mencari ruang ICU, tetapi ia kebingungan karena belum mengetahui letak ruangannya.
Rossa terlihat bertanya kepada suster yang sedang berjalan dengan membawa sebuah map di tangannya.
" Maaf sus, saya mau bertanya, ruangan ICU itu di sebelah mana ya? " tanya Rossa dengan mata yang sembab.
" Ruang ICU disebalah sana mbk, " ujar perawat tersebut sambil menunjukkan arah dengan tangannya.
" Mbk lurus saja nanti belok kanan setelah itu ada tulisan ruang ICU diatasnya, " sambungnya kembali.
Tanpa menjawab kembali ucapan suster itu. Rossa segera berlari lagi dengan di ikuti oleh Agnes juga Queen, setibanya di ruangan ICU Rossa melangkah kan kakinya dengan pelan, setelah melihat Alex bersama keluarganya yang sudah berada disana dengan mimik wajah yang khawatir.
__ADS_1
Alex dan keluarganya pun terkejut dengan kedatangan Rossa, kemudian Alex segera menghampirinya, ia memegang pipi Rossa untuk menyeka air matanya yang berjatuhan, namun Rossa pun segera menepis tangan Alex.
" Jadi kau sudah tau semua ini tapi kenapa tidak memberi tahu ku, " ujar Rossa dengan nada yang berat, karena gemetaran.
Ingin sekali Rossa marah kepada Alex. Namun ia sudah tidak punya tenaga lagi, Alex diam saja tanpa menjawab ucapan Rossa karena ia merasa berasalah.
Kemudian Rossa melangkahkan kakinya melewati Alex dengan langkah pelan menuju ruangan yang berada di depan matanya, dengan tangan gemetaran Rossa menghampiri kaca yang berada di pintu ruangan tersebut.
Melihat kedua orang tuanya terbaring lemah tidak berdaya dengan alat medis yang menempel ditubuh mereka, Rossa menjadi semakin Down.
Rossa tidak dapat menompa tubuhnya lagi, badannya terasa sangat lemas dan berhasil tidak sadarkan diri. Alex yang melihatnya segera menahan tubuh Rossa dengan cepat lalu membawanya di ruang sebelah sambil memanggil dokter.
Queen nampak terkejut setelah mengetahui Dosen tampan di kampusnya berada disana apalagi ia melihat Alex sedang menopang tubuh Rossa, dengan penasaran Queen pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Agnes.
" Em Agnes boleh aku bertanya? " tanya Queen. Namun, Agnes hanya diam, ia masih merasakan kesedihan yang dialami kakaknya, lalu Queen pun mengerti dengan kondisi saat ini dan kembali mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Agnes. Queen juga diam dengan duduk disebelah Agnes.
***
Rossa terlihat melamun seraya menggenggam erat tangan mamanya dan membelai wajah mamanya dengan deraian air mata yang tidak kunjung surut. Ia hanya bisa menerima takdir yang telah di berikan tuhan kepadanya, mencoba tabah menerima kanyataan saat ini.
Setelah beberapa saat tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka.
Rossa pun langsung menolehkan pandangannya ke arah pintu, dan ternyata Alex yang memasuki ruangan tersebut, seketika Rossa membuang pandangannya dan mengacuhkan kedatangan Alex. Alex tidak mempermasalahkan apa yang Rossa lakukan terhadapnya, ia tetap berjalan ke arah Rossa dengan tatapan iba.
__ADS_1
Rossa pun segera menyeka air matanya ia mendudukan tubuhnya dengan tegak, seolah-olah ia tegar dalam menghadapi situasi seperti ini.
" Ada apa kau kemari? " tanya Rossa sambil memegangi kembali tangan mamanya tanpa melihat ke arah Alex, ketika Alex membuka mulutnya akan berbicara, namun Rossa segera memotongnya.
" Apa kau belum puas sudah membuatku menderita? jika kemarin kau tahu orang tuaku seperti ini, kenapa tidak mengabari ku terlebih dulu? " ucap Rossa dengan kesal sambil menatap ke arah Alex dengan mata yang sembab.
Alex tidak bergeming, ia tidak bisa membalas perkataan Rossa karena ia tidak mau berdebat dan menambah situasi bertambah rumit. Alex duduk disofa ruang tersebut yang tidak jauh dari ranjang rawat pasien, ia menatap Rossa dengan tatapan sendu lalu setelah itu menundukan kepala.
Setelah mereka berdua diam tanpa ada yang berbicara kembali, tidak lama pintu pun terbuka lagi dan ternyata Agnes yang datang, sementara Queen, ia sudah pulang terlebih dahulu karena hari mulai larut malam dan besok pagi ia datang kembali, janjinya kepada Agnes.
" Kak Rossa, ayo kakak makan dulu, " ajak Agnes lirih lalu ia mendekat ke arah Rossa, Alex yang melihat kedatangan Agnes dan ajakannya kepada Rossa hanya melihatnya sekilas lalu kembali menundukan kepalanya lagi.
" Kakak tidak lapar, kau jangan khawatirkan kakak kalian keluar saja biar aku sendiri yang menemani kedua orang tuaku. " balas Rossa tanpa melihat ke arah Alex atau pun Agnes.
Mendapatkan jawaban Rossa yang seperti itu, Agnes merasa sedih dengan apa yang dialami dan di rasakan oleh kakaknya saat ini, lalu air matanya pun kembali menetes tanpa ia sadari.
" Kalau kakak tidak lapar ayo sebaiknya kita pulang dulu, kakak juga butuh istirahat, biar om sama tante dijaga oleh kak Alex dan keluarganya atau nanti bibi Moey nanti yang datang kesini menggantikkan kakak sementara, " jelas Agnes dengan lembut sambil mendekat ke arah Rossa.
Namun, pada saat Rossa ingin menjawab ucapan Agnes tiba-tiba mama Gesya yang belum sadar dari tidurnya mengalami kejang-kejang, sontak raut wajah rossa menjadi panik.
" Mama.. mama kenapa? Tolong.. tolong mamaku, mama bangun! " ucap Rossa sambil berteriak, ia kembali menangis.
Spontan Alex terkejut serta ikut panik lalu ia segera berlari keluar dari ruangan tersebut untuk mencari Dokter, padahal disamping tempat tidur Gesya sudah disediakan tombol khusus untuk memanggil Dokter ketika keadaan pasien darurat. Namun, sangking paniknya mereka bertiga sampai melupakan tombol khusus itu.
__ADS_1
Alex segera bergegas keluar ruangan untuk memanggil Dokter, ketika ia membuka pintu beruntung pada saat yang bertepatan Dokter dan suster yang sedang berjaga melewati ruangannya.
***