My Lecturer Holy Love

My Lecturer Holy Love
BAB 42


__ADS_3

Malam yang penuh haru.


Desiran angin malam dari luar pun terasa menusuk pori pori kulit, suara langit bergemuruh disertai dengan kilatan petir yang bersautan, dan sampai saat ini belum ada tanda rintik hujan akan jatuh. Terlihat seorang gadis yang menangis histeris berada di luar ruangan dengan mata yang sembab dan sedikit bengkak, sesekali ia pingsan, setelah mendapat kabar jika kedua orang tuanya sedang terbaring lemah di atas ranjang rawat ruangan ICU dengan kondisinya yang sangat kritis, semua orang terdekatnya juga ikut berkumpul di RS A dengan diiringi tangisan masing-masing.


Di dalam ruangan yang serba putih, Rossa berusaha mengerjapkan matanya untuk bangun, kepalanya terasa berat, sesekali ia memanggil nama papa dan mamanya, setelah ia berhasil membuka matanya, ia melihat seseorang pria yang tidak asing baginya tertidur dengan posisi duduk di sebelahnya sambil memegang tangan Rossa.


Sontak Rossa pun terkejut ia menjauhkan tangannya dengan pelan, setelah Rossa benar-benar tersadar, ia ingat apa yang barusan terjadi dan kini ia pun segera bangun dengan cepat, lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan dan meninggalkan Alex yang sedang tertidur sendirian dikursi yang ada disamping ranjang.


Rossa dengan lemasnya duduk tersungkar di depan pintu ruangan ICU kedua orang tuanya. Rossa sedang merenungkan dirinya dengan kembali menangis, semua orang yang melihat Rossa pun ikut sedih, bahkan mereka juga meneteskan air mata.


Dokter pun keluar dari ruangan ICU, Rossa yang melihatnya dengan segera bangun untuk menghampirinya, kali ini Rossa ditemani oleh banyak orang-orang terdekatnya bahkan keluarga Wiliams pun ada disana.


" Dok bagaimana keadaan papa dan mama saya? Tolong sembuhkan kedua orang tua saya dok, tolong dok saya tak mungkin bisa hidup tanpa mereka dok! " ucap Rossa sambil menangis sesegukan dan sekali mengayun-ayukan tubuh sang dokter dengan kasar, namun dokter belum membalasnya, ia hanya diam dan menatap Rossa dengan tatapan iba.


" Maaf nona, saya hanya bisa membantu sesuai kemampuan saya, saya akan berusaha semaksimal mungkin, tetapi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa jika takdir sudah berkehendak lain. " jawab dokter


Rossa terdiam mencerna penjelasan dari Dokter, seketika ia berhenti dari tangisannya dan berganti dengan tatapan kosong.


Zeline pun mendekat, ia melangkahkan kakinya ke arah Rossa dengan uaraian air mata. Rossa kembali bicara saat melihat Zeline mendekat ke arah dirinya.


" Tanteee, tolongin mama sama papaku, tante aku tidak bisa hidup tanpa mereka berdua, selama ini mereka lah yang sudah merawatku dengan penuh kasih sayang, tante tolong bilang sama dokter ini suruh sembuhkan kedua orang tua Rossa, tante Rossa sangat sayang mereka, ayo tante tolongin Rossaa... " lagi-lagi Rossa menangis sangat histeris, Zeline yang mendengar perkataan Rossa sembari menangis ia kemudian memeluk Rossa dengan sangat erat.


" Sayang sabar ya, orang tua mu pasti sembuh kok, kamu jangan khawatir ada tante, om Wiliams dan Alex yang akan selalu menemani kamu, " tutur Zeline pelan sambil mengusap belakang kepala Rossa dengan lembut.


Zeline juga belum bisa berhenti dari tangisannya, air matanya terus tumpah membasahi pipinya.

__ADS_1


Zeline merasakan apa yang Rossa rasakan, begitu hancurnya saat melihat orang yang disayangi terbaring lemah tidak berdaya.


" Tuhan ini kah takdirku yang engkau berikan? setelah engkau memberiku kebahagiaan yang tidak aku sangka, tapi kenapa? kali ini engkau merengut semua kebahagiaanku, tuhan tolong sembuhkan kedua orang tuaku yang sedang terbaring lemah, jika aku boleh memilih tolong selamatkan mereka dan ambilah aku sebagai ganti mereka, aku bersedia tuhan tolong aku. " batin Rossa.


Semua orang yang melihat kedua orang tersebut juga ikut merasakan kesedihan itu, Agnes dan Queen juga tidak bisa berkata kata, mereka berdua hanya berpelukan satu sama lain sambil menangis.


" Queen, keadaan om sama tante bagaimana? Kasihan kaka Rossa, bagaimana ini Queen? " ucap Agnes yang sedang berada dipelukanan Queen.


Queen pun juga ikut menangis melihat semua keadaan didepan matanya, bahkan ia juga tidak bisa membayangkan jika ia berada di posisi sahabatnya.


" Aku harus menghubungi papa, " tutur Agnes sambil melepaskan pelukannya dari Queen, lalu ia segera merogoh ponselnya disaku namun tidak ada.


" Ah ponselku ada dimobilmu, " ucap Agnes menatap Queen


***


" Astaga, " ujar Alex, kemudian ia segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Hatinya terasa tersayat saat ia melihat kesedihan dimata Rossa, bahkan jika Alex boleh memilih, ia lebih baik memilih dirinya yang tersakiti dari pada ia harus melihat orang yang membuatnya nyaman saat bersamanya tersakiti.


Pov Alex.


Alex dan sekertaris Lee kini berada di dalam mobil, untuk melakukan perjalanan ke RS A, wajah Alex terlihat sangat pias, sesekali ia mendesis bahkan mengeluarkan umpatan-umpatan untuk dirinya sendiri, mereka menempuh perjalanan kurang lebih sekitar dua jam.


Setibanya di rumah sakit Alex segera keluar, ia mengambil ponselnya kembali dan melihat arahan lokasi dari si penelpon tersebut, kemudian Alex segera melangkahkan kakinya, asisten Lee yang dilanda kebingungan hanya mengikuti langkah bos mudanya saja, karena ia tak berani bertanya takutnya menambah Alex semakin marah.

__ADS_1


Langkah kaki Alex berhenti di depan ruangan ICU, kemudian seorang pria paruh baya menghampirinya.


" Apakah anda yang bernama tuan Alex? " tanya si pria tersebut.


" Benar, apakah anda tadi yang menelponku? " tanya balik Alex sambil menatap pria yang berada di depannya.


" Iya tuan, saya yang menelpon anda, tadi saya menemukan nomor tuan diponsel bapak-bapak yang barusan kecelakan bersama istrinya. " tuturnya dan Alex pun terdiam sesaat.


" Ada apa dengan calon mertua saya, kenapa bisa jadi seperti ini? "


" Maaf tuan saya tadi sedang berjualan di pinggir jalan, waktu tuan itu membeli minuman di tempat saya, namun pada saat ia kembali dan memberi saya uang lebih, tuan dan istrinya melanjutkan mobilnya kembali, tiba tiba dari arah berlawanan ada truk yang sedang oleng dan mengenai mobil tuan itu, " jelas pria paruh baya tersebut kepada Alex.


Sesekali Alex menggeram sambil meremas rambutnya sendiri dengan kasar.


" Ahhh bagaimana jika Rossa tahu, mungkin dia akan sangat syok, " batin Alex.


" Lalu bagaimana keadaaannya sekarang? " tanya Alex kepada pria tersebut.


" Saya kurang faham, sepertinya istrinya mengalami pendarahan yang hebat, dan tuan itu kondisinya saat ini sangat kritis, "


Asisten Lee yang sendari tadi diam kemudian mengerti maksud dari Alex yang begitu khawatir dan buru-buru meninggalkan pekerjaannya dikantor, ia dibuat melongo dengan penjelasan orang paruh baya yang berada di depan bos mudanya.


Tidak lama Alex pun mengambil ponselnya dan mengabari kedua orang tuanya.


***

__ADS_1


__ADS_2