My Lecturer Holy Love

My Lecturer Holy Love
BAB 39


__ADS_3

Hari ke 3 mendekati pernikahan.


Setelah selesai sarapan bersama pagi ini dengan tenang dan tidak ada riuh seperti pagi-pagi sebelumnya apa yang selalu Rossa lakukan yang selalu terburu-buru, kedua orang tua Rossa berpamitan kepada Rossa dan Agnes, karena mereka menghadiri rapat yang harus dihadirinya diluar kota.


" Sayang, papa sama mama berangkat dulu ya, kita hanya setengah hari saja, kamu di rumah sama Agnes, kalau ada apa-apa segera panggil bibi Moey dan pak Anto ya, " jelas Gesya menatap ke arah Rossa lalu bergantian menatap Agnes sambil senyum dengan hangat.


" Iya, mama dan papa hati-hati ya, tenang aja mama jangan khawatir Rossa dan Agnes kan sudah besar, iya kan Nes? " ucap ketus Rossa mengarah kepada Agnes yang sendari tadi diam saja.


" Ah iya kak, benar. " balas Agnes dengan semangat mengiyakan kakaknya, walau sebenarnya ia sedikit terkejut.


" Ya sudah papa sama mama berangkat dulu ya nak, jaga diri kalian baik baik kalau ada apa apa bisa hubungi nak Alex saja, kita mungkin tidak sampai sehari kok, " tutur Fiky yang kini menatap Rossa dengan lembut.


" Kenapa papa sama mama selalu ingat dosen gila itu saja sih? " batin Rossa malas.


" Em iya pa, ma, hati-hati nanti dijalannya ya dan juga disana, " ucap Rossa mengalihkan pembicaraan dengan mata berkaca-kaca, karena ia tidak mau membalas Alex hari ini, yang hanya Rossa fikirkan ialah kepergian kedua orang tuanya menuju luar kota.


" Iya sayang, kamu juga hati hati dirumah ya, kalau ada apa apa hubungi nak Alex, pasti dia langsung datang hihi, " ujar Gesya berniat menggoda putrinya terlebih dahulu sebelum berangkat.


" Ih Mama apaan sih, " ujar Rossa, ekspresinya berubah sedikit kesal.


" Hehe Mama cuma bercanda sayang, " Gesya terkekeh.


" Ya sudah kalian jaga diri dirumah ya, papa sama mama berangkat dulu yang pasti kalau ada apa apa hubungi kami atau cari bibi Moey atau pak Anto, " sambung Fiky seraya memberi masukan putri putrinya tersebut.


" Baik Pa, baik om, " sahut Rossa dan Agnes bersamaan.


" Jangan lupa kabari kita kalau sudah sampai, " sambung Rossa. Fiky dan Gesya menganggukinya.

__ADS_1


Akhirnya kedua orang tua Rossa pun berangkat tanpa di temani oleh supir, Rossa dengan berat hati mengantar kedua orang tuanya sampai teras rumahnya.


Gesya dan Fiky pun akhirnya masuk kedalam mobil dan mobil mereka pun perlahan beranjak meninggalkan halaman rumah, Gesya melambaikan tangan sambil tersenyum hangat kepada Rossa dan Agnes lalu dibalas lambaian tangan oleh keduanya, tidak terasa air mata Rossa pun lolos dari pelupuk matanya melewati wajah cantiknya, ia benar-benar khawatir dan seperti ada yang hilang dari kehidupannya. Rossa masih berdiri dengan matanya yang terus mengawasi mobil orang tuanya sampai tak terlihat dari pandangannya, lalu suara Agnes membubarkan lamunan Rossa.


" Kak Rossa? " panggil Agnes sambil menatap kepada Rossa, kemudian Rossa pun sadar dari lamunannya karena panggilan Agnes itu.


" Eh iya apa Nes? " ketus Rossa sambil menghapus air matanya lalu menatap Agnes


" Kakak tidak kuliah? " tanya Agnes yang ingin mengalihkan suasana Rossa saat ini, karena Agnes tahu pasti diamnya Rossa sedang memikirkan orang tuanya yang berangkat ke luar kota.


" Menurutmu bagaimana? " balas Rossa dengan mengernyitkan dahinya menatap agnes.


" Em tidak kak, " jawab Agnes yang mengalihkan pandangannya, ia tidak berani menatap Rossa yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


" Nah kau itu sudah tahu? aku cuti satu minggu. " jelas Rossa kepada Agnes, kemudian Rossa segera berlalu masuk kedalam rumah dengan diikuti Agnes dari belakang.


***


" Ahhhhh, kenapa pikiranku jadi buntu begini sih. " ucap Reyhan dengan kesal, ia tak henti hentinya memukul kepalanya sendiri.


" Rossa kau harus ingat, aku tidak akan melepaskan mu begitu saja, kau harus menjadi milikku! "


"Arkhh.. Sekarang Rossa juga sudah mengambil cuti selama satu minggu, jadi aku tidak bisa ngawasinya secara langsung seperti saat dikampus. " sambung Reyhan kembali sembari mengepalkan tangannya.


Kemudian Reyhan bangun dari duduk santainya ia segera kembali kedalam kamarnya, saat ia membuka pintu ternyata ponselnya berdering, Reyhan pun segera mengambil ponselnya dan mengangkatnya.


" Hallo tuan muda, " sapa seorang pria disebrang sana yang tengah menelpon Reyhan.

__ADS_1


" Ada apa? " ucap Reyhan dengan nada dinginnya.


" Saya sudah mengawasi kediaman Fabricia, sekarang kedua orang tua gadis itu pergi keluar kota tuan, gadis itu sekarang hanya tinggal bersama adik perempuannya. " jelasnya.


" Oke baik kalau begitu, kau awasi saja terus gerak geriknya, lalu kau kabari aku kembali jika sudah mendapatkan berita selanjutnya, " jelas Reyhan kemudian ia segera mematikan teleponnya.


" Rossa dengan adik perempuan? adik siapa? yang mana? dia kan anak tunggal? " gumam Reyhan sambil berkacak pinggang,


Reyhan dibuat heran dengan penjelasan orang suruhannya yang mengatakan bahwa Rossa saat ini bersama dengan adik permpuannya, yang Reyhah tau Rossa tidak mempunyai adik atau pun kakak.


Reyhan bergegas mandi dan setelah selesai ia berganti pakaian, lalu ia segera keluar dari kamarnya, seperti biasa jika pikirannya sedang kacau, ia biasa melampiaskannya dengan minum yang berakohol bersama teman-temannya.


Saat ia hendak turun dari kamarnya yang berada dilantai atas, namun suara panggilan mamanya menghentikan langkahnya.


" Rey, kau mau kemana? " tanya Aura yang sedang bersantai dengan anak perempuannya diruang keluarga, seketika itu pun Reyhan menoleh.


" Reyhan mau ke rumah temen, " balas Reyhan dingin.


" Tidak, mama tidak akan mengijinkan mu keluar kali ini, kamu di sini saja temani mama sama kakak mu, sebentar lagi papa mu akan pulang dari luar kota, jika kamu tidak ada dirumah bisa-bisa papa mu memarahi mama dan kakak mu. " jelas Aura yang masih duduk di sofa sambil menatap Reyhan.


Seketika Reyhan terdiam, ia mencerna kata-kata mamanya yang ada benarnya juga, lalu Reyhan menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian tanpa menjawab ucapan dari mamanya, ia membalikan badan dan kembali lagi ke kamarnya.


Aura yang melihat tingkah putranya hanya bisa menggeleng kepalanya pelan dan Claris yang melihat pun sedikit terkekeh.


" Kenapa kamu ketawa? " tanya ketus Aura kepada putrinya tersebut, sontak pertanyaan dari mamanya itu membuat Clarissa menghentikan tawanya.


" Itu loh ma, lihat putra mama satu satunya, sifatnya hampir mirip sama papa. " goda Claris kepada mamanya, Aura yang mendengar ucapan Claris hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan pelan.

__ADS_1


***


__ADS_2