My Lecturer Holy Love

My Lecturer Holy Love
BAB 57


__ADS_3

Cahaya bulan dan bintang yang bersinar terang menghiasi langit yang kelam malam ini. Sorot lampu warna warni pun menyinari jalanan kota Paris, kini Alex dan Rossa berjalan beriringan setelah mereka berdua sampai di tempat yang mereka inginkan.


Alex dan Rossa disambut oleh pelayan, kedua pasangan pengantin baru itu mendapat pelayanan yang begitu nyaman, dua pelayan disana sudah bersiap menarik kursi untuk diduduki oleh Alex dan Rossa, membuat keduanya segera menduduki kursi tersebut, setelah itu kedua pelayan tersebut menundukkan badannya dengan sopan untuk berundur diri.


Suara Alunan musik khas Perancis yang romantis berhasil membuat Rossa tenang, moment yang ia dapat kali ini begitu manis.


Restoran berbintang yang ada disana membuat Rossa lebih kagum lagi, dekorasinya begitu cantik dan elegan, warna dinding-dindingnya berdominasi ke-emasan, serta dinding langit yang ada didalam itu berwallpaper kota paris yang cantik, sedikit berbeda dengan dinegaranya, pelayanannya pun memang sangat ala bangsawan.


Rossa merasa puas dengan liburannya kali ini, sampai tanpa disadari olehnya, gadis itu perlahan lahan bisa mengikhlaskan mama tercintanya. Alex sengaja ingin membuat Rossa bisa perlahan merelakan mamanya, Alex hanya mau Alm. Mertuanya bisa tenang di alam sana dan agar Rossa sendiri tidak terus berlarut-larut dalam kesedihannya.


Hidangan direstoran berbintang itu adalah masakannya gastronomi, diracik begitu sepesial dengan sajian yang menawan, sampai-sampai Rossa yang melihatnya itu agak sayang untuk memakannya, saking cantiknya hiasan makanan tersebut.


" Waaa cantiknyaaa, " gumam Rossa lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Alex, ia tersenyum sambil memandangi wajah cantik milik istrinya.


" Kamu menyukai semua ini? " tanya Alex. Rossa mengangguk membenarkan.


" Tentu, bagiku ini pertama kali aku menginjakkan kaki dikota paris, waktu itu aku ingin sekali liburannya kesini bersama teman-temanku, tapi papa sama mamaku melarang aku untuk berpergian jauh. Sebenarnya aku ingin sekali berliburan seperti ini, hanya liburan saja dan tidak lebih, namun papaku tetap besikeras melarang ku sampai akhirnya aku marah, akan tetapi dibalik kemarahanku waktu itu aku juga berusaha ingin menghargai larangan mereka-- "


" Lama kelamaan aku menyadari kenapa mereka semua melarangku, karena mereka menyayangiku dan tidak ingin aku kenapa-kenapa. Aku merasa sangat beruntung karena waktu itu mereka melarangku karena aku adalah anak satu satunya mereka, dan sebelumnya aku sendiri punya kakak kata papa, tapi kakakku sudah meninggal-- "


Rossa menghela napas sejenak, dia kembali mengingat bagaimana dirinya begitu kekeuh ingin liburan bersama teman-temannya dan dia sedikit membuat papanya kecewa karena ulah dari keinginannya itu.


" Sekarang aku menyesal, aku pernah membantah ucapan mereka berdua, apalagi kepada mama, " sebulir air mata lolos dari pelupuk mata Rossa.


" Andai waktu bisa ku putar, aku akan berusaha menjadi anak yang baik dan berbakti untuk mereka, namun semuanya sekarang sudah pupus, nasi sudah menjadi bubur, aku belum bisa membahagiakan mamaku, tapi mamaku pergi meninggalkan kita semua. "


Alex yang mendengarkan ucapan isi hati Rossa yang panjang lebar itu memilih diam mendengarkan, dengan diiringi oleh suara Alunan musik mellow yang begitu menyentuh hati.


Perlahan Alex menyentuh tangan Rossa dan menggenggamnya, seolah ia memberikan kekuatan kepada istrinya, hatinya sungguh gundah dan sakit, ia ikut merasakan perasaan campur aduk sedih yang dirasakan oleh istrinya, hatinya luluh begitu saja ketika mendengarkan isi hati Rossa.


" Ikhlaskan mama, mama akan bahagia disana percayalah, mama akan selalu berada disisi tuhan, beliau tidak akan suka jika terus melihat putrinya yang dia sayang menangis berlarut larut, itu pasti membuat mama sedih. "

__ADS_1


" Sekarang coba ikhlaskan mama, kembalilah seperti Rossa yang dulu. Rossa yang ceria, dan selalu tertawa lepas tanpa beban, Rossa yang kuat dan tidak lemah, " sambung Alex kembali dengan begitu lembut dan dengan tatap yang teduh juga dalam.


Mendengar perkataan suaminya yang ia rasa begitu sangat langka itu membuat Rossa menatapnya, mata cokelat yang indah milik mereka berdua itu bertatapan, tatapan yang penuh makna tapi sulit diartikan. Suasana hening menyelimuti mereka berdua hanya terdengar suara alunan musik mellow khas perancis saja.


Tanpa disadari oleh mereka datanglah seorang pelayan dengan membawa sebuah kue terakhir dinampannya.


" Excusez-moi monsieur, mademoiselle, " (Permisi tuan, nona) " ujar pelayan tersebut sambil menunduk hormat.


Membuat Rossa dan Alex yang masih saling bertatapan dan berpegangan tangan itu berubah gugup. Rossa langsung menarik dan menjauhkan tangannya yang sempat digenggam oleh suaminya tersebut.


" Eh iya. "


Pelayan tersebut memberikan sebuah kue cantik berwarna merah muda itu didepan mereka.


" Ini adalah makanan terakhir yang anda pesan tuan, selamat menikmati, jika ada yang anda butuhkan lagi, silakan panggil kami kembali, saya pamit permisi. " tutur pelayan tersebuat sambil tersenyum ramah lalu mengundurkan diri kembali ke tempatnya. Alex dan Rossa mengangguk mengiyakan.


Setelah ketiga hidangan sudah disajikan. Kini hidangan terakhir ialah sebuah kue, kue itu didesain begitu cantik tapi kecil, seperti mirip dengan cupcake yang berdominasi full buah dan cream strawberry yang terlihat begitu sepesial, sehingga membuat Rossa benar-benar sangat sayang untuk memakannya.


" Benarkan kue ini untukku? " tanya Rossa memastikkan dan Alex pun mengangguk dengan tersenyum.


" Baiklah terima kasih banyak, aku akan memakannya, " ujarnya kembali sambil tersenyum senang.


Entah setelah menikah perlahan-lahan Rossa bisa menerima kehadiran Alex, ternyata sikap asli laki-laki itu sangat hangat bahkan sungguh diluar dugaan Rossa.


Tangan mungil itu bergerak lincah mangambil sebuah pisau dan garpu yang sudah disiapkan disisinya, membelah tengah kue kecil itu dengan pelan, setelah terbuka Rossa tidak bisa menahan keterkejutannya.


" Apa ini? " tanya Rossa sambil menaikan satu alisnya ke atas.


Alex yang mendengar pertanyaan dari istinya malah terkekeh geli. " Ambil dan lihatlah, " perintah Alex sambil tersenyum yang sulit diartikan.


Satu kotak hitam berhasil diambil oleh Rossa, karena penasaran Rossa segera membukanya. Ia sampai tidak jadi untuk memakan kue sepesial tersebut. Di ambil dan dibukanya perlahan kotak itu oleh Rossa, setelah berhasil dibuka ia begitu terkejut tatkala melihat isi dari kotak hitam kecil itu.

__ADS_1


Ia sempat menganga karena melihat isi kotak itu, sebuah kalung berlian disertai batu permata yang begitu cantik berwarna blue peach mengkilap, seketika Rossa langsung menatap suaminya tersebut.


" Apakah ini untukku? " tanya Rossa, namun yang ia dapat dari Alex hanya raut wajahnya yang mulai datar.


" Bukan, itu untuk pelayan, " Alex berkata dengan acuh, membuat Rossa mengernyitkan keningnya halus, ia sedikit kesal dengan jawaban suaminya itu.


" Ya sudah kalau ini untuk pelayan, kau kasih saja ini ke dia. " ujar Rossa sambil menyodorkan kotak hitam yang berisi kalung cantik tersebut.


" Mbak--- " Rossa berniat memanggil pelayan itu, namun Alex lebih sigap karena terkejut oleh tindakan Rossa, ia segera bangun dari duduknya lalu membekap pelan mulut Rossa.


" Shuuuutt.. "


" Heyy, apa yang kau lakukan! " pekik Rossa tidak terima.


" Dasar kau ini, kenapa tidak peka. Kue ini aku berikan untukmu, sudah jelas bukan kalau kotak ini untukmu, dan kalung yang ada didalamnya ini pun untukmu. " ujar Alex sambil gelengkan kepala heran. Mendengar perkataan Alex itu membuat Rossa diam sejenak.


" Tapi kata kau tadi, kalung ini bukan untuk ku kan? "


Mendengar jawaban dari istrinya yang ia rasa begitu menyebalkan itu, membuat Alex sedikit kesal. Namun disisi lain laki-laki itu sangat begitu gemas dan ingin menertawakannya.


" Ya sudah apa kata mu saja, yang jelas kue yang berisikan kotak kalung itu aku berikan khusus untukmu. Jika kau tidak menyukainya tidak apa-apa berikan saja kepada pelayan. Berarti kau tidak menghargai aku sebagai suamimu! " ujar Alex penuh penekaan dikahir kalimat tersebut, membuat Rossa diam dan mencerna ucapan dari suaminya itu.


Rossa pun sedikit malu dengan ucapannya sendiri dan tersenyum karena merasa bahagia.


" Dasar gadis tidak peka. " gumam Alex dalam hati sambil menahan tawa.


Rossa pun kembali mengambil kotak itu dan membuka dengan cepat, lalu mengeluarkan kalung itu dari dalam kotak. Ia memandangi kalung berlian dengan mata yang berbinar karena senang. Alex yang melihat tinggkah intrinya itu hanya bisa menggelekan kepalanya, ia benar-benar heran dengan sikap Rossa yang menurutnya begitu sensitif dan juga cepat kembali ceria.


" Kau menyukainya? " tanya Alex, Rossa pun mengangguk dengan semangat.


" Sini aku pakaikan. " sambung Alex sembari mengambil kalung berlian itu dari tangan Rossa dan berjalan ke belakang Rossa. Alex pun memakaikan kalung itu dileher jenjang Rossa dengan perlahan, setelah selesai Alex berjalan duduk kembali sambil memandangi istrinya itu yang sedang memegang kalung berlian dari batu pertama berwarna blue peach itu, dengan senyum yang masih terus merekan dibibir manis Rossa.

__ADS_1


***


__ADS_2