
Adam memukul meja dengan sangat keras sampai bunyinya terdengar nyaring, membuat orang yang ada di ruang keluarga dibuat sangat terkejut.
" Apa-apa an ini, apa kalian semua mau mempermainkanku hah ? " ujar Adam dengan nadanya yang tinggi, emosinya mulai tersulut melihat kejadian yang ada didepan matanya.
" Papa tenang ya jangan seperti ini, kita bicarakan dulu baik-baik, " ujar Aura dengan lembut berniat meredam amarah suaminya tersebut.
" Mama lebih baik diam, mama tidak tau masalahnya, kita sudah di permainkan oleh mereka, ini mengenai harga diri kita! " Ujar Adam, Aura yang dibentak pun hanya bisa diam.
" Tuan Adam jangan marah dulu kita bicarakan baik baik mengenai ini, dari awal kami meminta ijin untuk bertanya kepada putri kami tentang keputusan perjodohan ini dan tuan Adam menyetujuinya, saya minta maaf bila hal ini membuat tuan Adam begitu kecewa kepada kami, " Kali ini sebagai tuan rumah Fiky menimpali ucapan Adam, sekaligus ia berniat meminta maaf.
Adam menatap Fiky tidak percaya " Saya kira perjodohan ini akan tetap dilaksanakan meskipun putri anda tidak menginginkannya, bagaimana bisa keluarga besar yang bermarga Fabricia ini begitu tidak bisa menghargai kami, kami tau anda sangat mencintai putri anda, namun apa anda sudah berfikir tentang kami, disini kami merasa harga diri kami sudah kalian injak injak. "
" Bukan seperti itu tuan, sekali lagi dari saya pribadi sangat minta maaf, namun saya sendiri sebagai ayah tidak bisa banyak memaksa, jika putri saya sendiri ternyata sudah ada calonnya tanpa sepengetahuan saya dan istri saya, dari awal kita sudah sepakat untuk menanyakan hal ini kepada putri saya terlebih dulu," Fiky berbicara formal dengan Adam.
Fiky berbicara sangat hati hati, karena ia sangat tau bagaimana sikap Adam yang keras, begitupun ia juga berniat meredam tidak ingin masalah tersebut menjadi panjang.
Mengingat kesepakatan awal pertemuan, Keluarga Adinata menyetujui syarat yang diinginkan oleh keluarga Fabricia untuk bertanya kepada Rossa mengenai iya atau tidaknya perjodohan ini.
Aura dan Gesya selaku istri dari masing masing rekan kerja tersebut hanya terdiam, namun kali ini Gesya ikut angkat suara.
" Tuan Adam jeng Aura saya juga minta maaf kepada kalian semua tentang jawaban dan keputusan dari putri kami, yang sudah tidak bisa melanjutkan perjodohan ini, karena ternyata putri kami sudah mempunyai pilihan sendiri tanpa sepengetahuan dari kami, jadi saya minta maaf kepada tuan Adam dan jeng Aura mengenai keputusan dari putri kami, " Gesya berujar lembut, ia menatap Adam dan Aura bergantian.
__ADS_1
Melihat permohonan maaf yang tulus dari Gesya, sebenarnya Aura tidak tega ,namun ia tidak berani angkat suara melihat amarah suaminya yang sekarang.
" Alah semuanya tidak akan jadi begini kalau bukan gara-gara pria tengik ini, kau Alex putra dari Aryan si brengsek itu kan? " kali ini Adam menunjuk Alex. Ia menyalahkan laki laki tersebut.
Alex hanya sedikit tersenyum, " Ya saya anak dari Aryan, kenapa om? kedatangan saya disini tidak bermaksut membuat kerusuhan, saya hanya ingin berkata jujur apa adanya, sepertinya anda sangat kecewa, anda ini kecewa atau takut, takut bila anda tidak bisa menguasai keluarga ini? "
" Jaga ucapanmu brengsek, kurang ajar apa kau ingin menantangku! " balas Adam dengan emosi yang semakin berapi-api tatkala ia mendapat jawaban yang begitu menohok dari Alex.
" Saya tidak ada maksud untuk menantang anda, saya hanya berkata fakta," dengan santainya Alex menjawab ucapan dari Adam yang sedang tersulut emosi.
" Kau sama seperti papa mu si bajingan itu, " merasa kalah berdebat, akhirnya Adam beranjak dari duduknya dan mengajak istri beserta putranya untuk pulang.
" Mama, Rey ayo kita pulang, kita sudah tidak ada harga dirinya lagi disini, mereka semua hanya ingin mempermainkan kita saja "
Sementara Reyhan, laki laki itu terlihat begitu santai, karakter Reyhan memang dingin, ia hanya menyimak saja tanpa ikut berbicara sepata kata pun.
Fiky terkejut ketika mendengar perkataan yang Alex lontarkan kepada Adam.
Adam pun pulang dengan amarah yang meluap-luap, mereka tidak pamitan atau pun sekedar basa basi kepada pemilik rumah, bahkan mereka memilih langsung pergi begitu saja.
Pada akhirnya Fiky mulai bertanya kepada Alex, setelah keluarga Adinata sudah benar-benar meninggalkan rumah mereka.
__ADS_1
" Nak Alex, sebenernya ada apa dengan kalian? apa kamu kenal dengan Adam? " tanya Fiky dengan penasaran.
Tapi Alex hanya membalas senyuman, membuat kedua sepasang suami istri itu saling beradu pandangan dengan Alex yang hanya tersenyum.
" Ayo duduk dulu, lalu ceritakan semuanya ke om apa yang sebenarnya terjadi, " Ujar Gesya sambil mempersilahkan Alex untuk duduk dan Alex mengiyakan ucapan Gesya.
Setelah duduk akhirnya Alex menceritakan yang sesungguhnya tentang keluarga Adinata kepada Fiky dan Gesya, bahwa keluarga Adinata ingin menjodohkan salah satu anaknya dengan anak keluarga Febricia dengan maksud tertentu, yaitu agar mereka bisa menguasai Fabricia Group dan membuat martabat mereka menjadi lebih tinggi lagi. Namun yang lebih membuat Fiky terkejut lagi ternyata keluarga Adinata lah yang selalu meneror keluarga Wiliams.
Fiky pun sangat geram mendengar pernyataan dari Alex, fakta apa yang sudah Alex sampaikan membuatnya menyesal telah mengenal dan bersahabat dengan orang jahat seperti Adam, kini Fiky sudah menyadarinya.
" Dia tau yang sebenarnya, berarti selama ini dia juga memata-mataiku dan keluarga ku, hebat juga ternyata, " batin Rossa sambil melirik ke arah Alex.
Rossa merasa senang karena terhindar dari perjodohan ini, namun disisi lain ia bertanya tanya tentang Alex dibenaknya.
" Papa baru sadar, jadi selama ini papa sudah di hasut oleh Adam, pantas saja setiap papa meminta tolong mereka untuk menemukan keberadaan keluarga Wiliams, tetapi tidak ada jawaban sama sekali, ternyata aku sudah di kelabuhi oleh mereka! " seru Fiky dengan sangat geram.
" Sayang maafin papa ya, papa hampir saja menjodohkan kamu dengan anak yang sudah berani membodohi papa, maafin papa ya nak atas kebodohan papa yang hanya mementikan ego papa sendiri," ujar Fiky dengan sendu sambil menatap putri semata wayangnya. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah ia rencanakan terhadap putrinya.
" Tidak apa-apa pa, yang terpenting sekarang papa sudah tau semuanya, Rossa tidak marah justru Rossa senang pa, " ucapnya sambil tersenyum, lalu kemudian rossa mendekat ke papanya dan memeluk Fiky, dan di balas pelukan kembali oleh papanya.
Gesya yang melihat pun merasa terharu, matanya mulai berkaca-kaca ketika melihat suami dan putrinya berdamai.
__ADS_1
Alex pun ikut tersenyum hangat ia merasakan bahagia melihat keluarga sahabat papanya tersebut kembali harmonis.
***