
Karena merasa sangat malu, Rossa sedari tadi hanya diam tidak berbicara sama sekali.
Kali ini mereka berdua sudah tertidur diatas Ranjang namun tidak ada yang membuka suara, malahan Rossa tidur dengan posisi sedang memunggungi suaminya, sedari tadi perempuan itu mengutuki dirinya, karena ia benar benar malu kepada Alex.
" Bagaimana bisa aku meletakkan tas kecil itu ditempat yang sama, mana punya suami kepoan lagi, " Batin Rossa.
Alex yang melihat jika Rossa tertidur dengan posisi memunggunginya hanya bisa menahan tawa, sesekali laki laki itu melirik kearah Rossa yang sedari tadi menutup mulutnya.
" Apa kau sudah tidur, " Alex mencoba membuka suaranya, berniat memecah keheningan.
Rossa tidak bergeming, ia segera berakting tertidur, " Tidak usah dibalas tidur lah Rossa karena itu lebih baik, " batin Rossa lagi.
Alex hanya menggelengkan kepalanya pelan.
***
Sementara itu di kediaman keluarga Fabrcia Agnes bangun pukul lima pagi lebih awal dari biasanya, karena adanya Queen yang menginap disana. Agnes turun dari ranjangnya dengan mata yg masih terkantuk, ia segera berjalan ke kamar mandi.
Setelah selesai Agnes segera keluar dari kamarnya untuk menuju kamar yang ditempati oleh Queen yang sedang menginap disana. Ia berjalan menuruni anak tangga dengan santai dan ketika sudah sampai gadis itu langsung mengetuk pintu kamar Queen.
Tok..tok..tok..
Suara pintu diketuk oleh Agnes berulang kali tapi tidak membuat orang yang di dalamnya itu menyahutinya. Agnes merasa tidak ada jawaban dari sahabatnya itu segera mengetuk pintu kamar tersebut kembali dengan disertai oleh panggilan darinya.
Tok..tok..tok..
" Queen apakah kau sudah bangun? " panggil Agnes. Namun, tetap sama masih tidak ada sahutan dari dalam, pada akhirnya Agnes berusaha membuka pintu kamar sahabat tersebut dan berhasil.
Ceklek.
Ternyata pintu kamar Queen tidak dikunci, membuat Agnes mengeryitkan keningnya heran.
" Apa Queen sudah bangun ya, " pikirnya kemudian, tanpa ragu lagi Agnes memasuki kamar Queen, namun ia tidak melihat batang hidung Queen disana, sampai ia mengecek ke dalam kamar mandi juga tidak ada.
Akan tetapi pada saat Agnes ingin keluar mencari Queen tiba tiba ia terkejut ketika tubuh Queen berdiri tepat dihadapannya.
" Astagaaaaa Queen.... " pekik Agnes sambil berteriak kaget. Dan itu membuat Queen langsung tertawa.
" Buahahahaha Agnes...kau ini lucu sekali kalau terkejut, " ujar Queen tertawa, namun Agnes masih memasang raut terkejutnya, beberapa saat kemudian raut wajah Agnes berubah datar karena ia merasa sedikit kesal.
" Tertawalah, tertawa sepuasmu Queen, kau ini suka sekali melihat temanmu seperti mau jantungan ya, " ujar Agnes masih diposisi sama. Dan Queen langsung menghentikan tawanya sambil meminta maaf.
__ADS_1
" Hehehe maafkan aku Agnes, aku tidak bermaksud mengagetkanmu, " tutur Queen dengan memasang wajah sok melas yang dibuat-buat.
Agnes yang melihat raut wajah sahabatnya tersebut masih dengan wajah ditekuknya, kali ini ia benar-benar kesal. Namun, Agnes tipe orang sangat tidak tegaan, ia pun cepat memaafkan Queen sambil menghela nafas pelan.
" Baik lah Queen, aku kesini mau mengajakmu untuk sarapan, kau sendiri dari mana? " tanya Agnes pernasaran.
" Ah iya terima kasih Agnes, itu aku tadi habis pemanasan diluar, biasalah kalau bangun tidur aku suka pemanasan olahraga sebentar untuk merilekskan badan biar sehat, "
" Yah jadi kamu habis olahraga ya, Queen kenapa tidak membangunkanku, kan aku juga mau, kalo disini tidak ada kak Rossa aku jarang sekali berolah raga. " sahut Agnes dengan mengecutkan bibirnya.
Queen terkekeh geli, " Tadi aku mau membangunkanmu tapi tidak jadi karena aku tak tega, kan semalam kita begadang dan pasti aku sudah mengganggu tidurmu bukan, jadi aku memilih membiarkanmu tidur aja. "
" Oh begitu ya, baiklah Queen tapi lain kali kalau kamu menginap disini lagi, jika sudah bangun jangan lupa panggil aku Queen, " ujar Agnes mengerti setelah mendengar penjelasan dari sahabatnya tersebut, dan Queen pun mengangguk mengiyakannya.
Setelah melakukan obrolan singkat tadi, Agnes langsung kembali ke kamarnya, begitu pula dengan Queen, mereka pun memilih mandi terlebih dulu. Setelah mandi kini Agnes dan Queen berjalan beriringan menuju ke meja makan, disana pun sudah ada bibi Moey yang sedang menyiapkan rapi sarapan pagi untuk mereka berdua.
" Selamat pagi bibi Moey, " sapa Agnes terlebih dulu sambil terseyum hangat, diikuti oleh Queen kemudian.
" Selamat pagi juga nona Agnes, nona Queen, mari sarapan non, nanti kalau ada sesuatu yang nona butuhkan lagi panggil saja bibi dibelakang ya non, " tutur bi Moey dengan sopan.
" Iya bi, terima kasih ya, " Balas Queen. Agnes pun hanya mengangguk saja.
Selepas hilangnya pandangan bibi Moey dimata kedua gadis itu. Agnes dan Queen segera mengambil lauk pauk kesukaan mereka masing-masing. Melihat Queen mengambil sedikit makanan membuat Agnes keheranan.
" Iya Agnes. "
" Kenapa sarapanmu dikit sekali, " tanya Agnes sambil memincingkan satu alisnya, kali ini ia begitu penasaran karena biasanya Queen makan diporsi banyak seperti didirinya dan juga Rossa.
Seketika Queen menghentikan tangannya yang hendak memegang sendok untuk ia suapkan ke dalam mulutnya.
" Hehe itu Agnes aku sekarang lagiiii diet, " jawab Queen membuat Agnes langsung tertawa ngakak.
" Hahahhaha Queen, aku tidak salah dengarkan? Kau lagi diet? " Queen manganguk membenarkannya.
" Ya ampun Queen sejak kapan kau mempunyai pikiran diet-diet seperti ini, badanmu pun sudah bagus tidak gemuk pula, kenapa ingin diet itupasti akan menyiksa dirimu sendiri Queen. " tutur Agnes.
" Hehe iya sih Agnes tapi kemarin aku mengecek berat badanku ternyata naik lima kilo, dan sekarang aku terlihat cuby, " jelas Queen kepada Agnes, dan pada akhirnya obrolan mereka berdua berhenti sampai situ. Mereka berdua segera melanjutkan sarapan paginya.
***
" Queen apa kau sebaiknya ikut aku ke rumah sakit untuk menjenguk om Fiky? " tanya Agnes, disaat mereka berdua berjalan beriringan menuju ke kamar masing-masing, akan tetapi Queen terlihat diam sejenak, sepertinya ia sedang berfikir.
__ADS_1
" Em Agnes, sebenarnya aku ingin sekali menjenguk om Fiky, tapi aku harus cepat pulang, karena nanti siang aku ada janji dengan seseorang dan itu teman kampusku, ini pun sangat penting sekali Agnes menyangkut pelajaran kuliahku. " tutur Queen.
" Em apa begini saja ya, setelah urusanku selesai nanti aku akan menelponmu untuk menjenguk om Fiky bagaimana? " sambung Queen kemudian, sekaligus menjelaskan alasan ia tidak bisa kerumah sakit.
" Oh begitu ya Queen, ya sudah tidak apa-apa, baiklah seperti itu juga boleh nanti kamari aku saja ya, aku pun nanti pasti dirumah sakit terus menjaga om Fiky. " ujar Agnes Queen mengangguk.
" Iya Agnes baiklah, terima kasih ya nanti aku akan mengabarimu, " Agnes menganguk mengiyakan ucapan sahabatnya tersebut.
Setelah itu Queen berpamitan pulang pada Agnes. Agnes mengantar Queen sampai ke teras rumah. Queen memasuki mobilnya kemudian terlihat menurunkan kaca mobilnya.
" Bye-bye Agnes aku pulang dulu ya, terima kasih, " ujar Queen sambil melambaikan tangan kepada Agnes, dan Agnes pun tersenyum antusias sambil membalas lambaian tangan Queen.
" Iya Queen hati-hati ya dijalannya, jangan mengebut, " tutur Agnes dan Queen membalas dengan ancungan jempol semangat.
Setelah hilangnya mobil Queen dari halaman kediaman Fabricia kini Agnes memilih hendak masuk lagi ke dalam rumah. Namun, niatnya terutungkan tatkala ia mendengar ponsel disakunya berdering.
Agnes yang mendengar itu segera mengambil ponsel tersebut dari sakunya dan melihat siapa yang sedang menelponnya.
" Papa. " gumam Agnes, setelah itu, dengan cepat ia menggeser tombol hijau dilayar ponsenya untuk menggangkat panggilan dari papanya tersebut.
" Halo pa? " sapa Agnes terlebih dulu.
" Halo sayang selamat pagi, bagaimana keadaanmu, apa baik-baik saja disana, maaf papa semalam tidak pulang karena papa menemani Fiky disini. "
" Selamat pagi juga papa, ah itu iya pa tidak apa-apa kok, semalem Agnes sudah ada temannya, dan seharusnya Agnes yang tanya keadaan papa bagaimana disana, juga keadaan om Fiky. "
" Papa baik-baik saja nak, keadaan Fiky juga semakin membaik, "
" Oh iya apa kamu susah sarapan sayang? "
" Alhamdulillah kalau begitu pa, sudah kok pa, habis ini Agnes mau kesitu boleh pa? "
" Bagus nak, boleh sekali sayang, nanti papa tunggu ya, kamu suruh saja pak Anto untuk mengantarmu kesini, "
" Tapi Agnes ingin naik mobil sendiri pa, " mendengar perkataan putrinya itu membuat Lovata menurutinya serta menghela nafas pelan.
" Hem ya sudah nak tidak apa-apa, tapi yang penting nanti kamu harus hati-hati menyetirnya, jangan mengebut, "
" Siap pa terima kasih banyak ya papa, Agnes sayang papa, kalau begitu Agnes mau siap-siap dulu kesana, bye-bye papa, "
" Hem iya nak, bye-bye, "
__ADS_1
Setelah itu panggilan mereka berakhir karena Agnes yang mengakhiri duluan, membuat Lovata menggelengkan kepalanya pelan disebrang sana, putrinya itu sedikit keras kepala, namun harta paling berharga yang ia punya saat ini hanyalah putrinya tersebut. Mamanya Agnes pun hilang ditelan bumi entah dimana.
***