
Malam ini udara begitu sangat dingin, menandakan suasana yang mengkhawatirkan menjadi sebuah pertanyaan di sunyinya malam.
Alex bergegas pulang dari kampusnya setelah selesai meeting sengan pihak rektor kampus. Namun, ponselnya bunyi dipertengahan langkahnya menuju parkiran, dan yang meneleponnya ialah Fiky.
" Halo om, " sapa Alex terlebih dahulu.
" Halo nak Alex, kamu sedang dimana? Apakah kamu bersama dengan Rossa? Rossa belum pulang, om dan tante sudah mencarinya tapi nihil tidak ada yang tau Rossa dimana, apakah dia bersama dengan mu nak? " tanya Fiky dengan khawatir.
Alex terdiam sesaat, wajahnya menjadi dingin, tak lama kemudian, laki-laki itu membuka suaranya kembali.
" Rossa tidak bersamaku om, tapi om Fiky tenang saja saya akan berusaha membantu mencari Rossa," jelas Alex yang mencoba menenangkan Fiky.
" Baiklah nak om percaya padamu, tolong bantu cari putri om, om sudah menyuruh banyak orang suruhan om untuk mencari Rossa namun mereka belum ada yang menemukan keberadaan Rossa, " balas Fiky, ia begitu sangat mencemaskan putrinya sampai tidak segan menyuruh orang suruhannya bergerak dengan banyak.
" Baik om. " balas Alex, kemudian telepon pun berakhir.
" Ini pasti ulah si brengsek itu lagi! " guman Alex dengan suara tertahan akibat mencoba menahan luapan amarahnya
Kemudian Alex mencoba menelepon Rossa, tapi yang menjawab suara operator jaringan bukan Rossa sendiri.
Maaf nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi.
Berulang kali Alex mencoba menelepon Rossa namun sia sia haslinya tetap sama, sampai ia akhirnya berdecak kesal.
" ****.....Sial! "
kemudian ia melacak mini GPS yang ia pasangkan ditas Rossa beberapa hari yang lalu, beruntung ia cerdas, dan waspada dihari sebelumnya.
Setelah lumayan lama Alex menemukan keberadaan Rossa sekarang, ia melihat Rossa di bawa pergi kesebuah daerah tempat terpencil yang berbukit dan juga kota kosong tidak berpenghuni, disekitarnya hanya ada hutan belantara yang jarang di masuki oleh orang. Setelah Alex mengetahui keberadaan Rossa tiba tiba ia menjadi sangat geram.
" Kurang ajar berani sekali dia membawa Rossa ketempat sepi tidak berpenghuni. " gumam Alex sambil mengepalkan kedua tangannya, lalu ia dengan segera menelepon seseroang.
Tuut...tuut...tuut !
" Halo tuan? " sapa si penelepon.
" Segera turunkan beberapa orang dan pergi ke daerah kota kosong dekat bukit XX untuk memata-matai disana, jika di tengah hutan ada rumah kosong segera kabari kembali! " perintah Alex dengan tegas lalu ia mematikan teleponnya. Pikiran Alex begitu kacau bercampur jadi satu antara khawatir, menyesal, dan emosi terhadap orang yang memperlakukan Rossa seperti itu.
" Jika sampai terjadi apa-apa dengan Rossa aku tidak akan memaafkan diriku. " gumamnya sambil berjalan ke arah parkiran, tapi tidak lama kemudian ponselnya bunyi.
__ADS_1
Ting.
Bunyi pesan masuk dari orang yang Alex suruh, isi pesan itu foto-foto dimana tempat itu dan disana pun di rumah kosong ada sebuah mobil hitam yang terparkir, Alex yang melihat dan mempelajari tempat yang barusan dikirim dari orang suruhannya langsung yakin, bahwa Rossa ada disana.
" Kamu tunggu disitu dulu jangan kemana-mana dan jangan sampai ada orang lain yang lihat, tunggu aku disana dan juga tunggu aba-aba kapan bergeraknya. " balas Alex kemudian ia segera masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Rossa diikat di sebuah ruangan di dalam rumah kosong tersebut dengan mulut yang dilakban hitam, gadis itu tak bisa berkata dan bergerak, ia hanya bisa menangis.
" Emm eemm emm, " teriakan minta tolong Rossa yang tidak bisa didengar oleh siapapun.
" Ada apa dengan semua ini? Kenapa aku seperti ini? Apakah aku benar sedang diculik dan apakah mimpi ku yang semalam benar-benar nyata, oh tuhan tolonglah aku, " lirih Rossa dalam hatinya sambil Menangis sesegukan.
Ketika di sela taengisnya, ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah dirinya.
" Siapa yang datang, jangan-jangan orang jahat itu lagi, atau mungkin orang yang mau melepaskan ku dan menyelamatkan ku. "
Kemudian muncul seseorang dengan memakai sebuah topeng terlihat secara samar oleh Rossa karena ruangan itu gelap dan hanya ada sedikit penerangan dari celah ruangan yang berlubang.
" Emm emm. " Rossa mencoba brontak kembali dengan suara yang tidak jelas, hanya itu yang bisa Rossa lakukan saat ini,
" Mau apa kau gadis cantik. " ucap laki-laki tersebut dengan suara yang keras, lalu ia jongkok dan mencengkram dagu Rossa terlihat mata wanita itu sembab karena menangis sejak tadi, tubuh Rossa pun gemetaran, wajahnya terlihat sangat pucat saat laki-laki itu memperlakukannya seperti itu.
" Menangis lah sampai kau puas, lalu aku akan segera memiliki mu hahaha, " sambung laki-laki itu kembali sambil tertawa.
" Cih kau pikir siapa, sampai kau ingin memiliki ku, sampai aku mati pun, aku tidak akan sudi dimiliki oleh mu! " batin Rossa yang tidak bisa berkata karena mulutnya masih dilakban.
" Hussttt... sudah jangan nangis lagi sayang, kau tau sekarang kau harus membayarnya hahaha, " ucap pria bertopeng itu dengan tawanya yang mengerikan.
Kemudian dengan perlahan pria itu mendekati Rossa, " Kau ingin tahu siapa aku? " lalu ia memegang wajah Rossa.
" Baiklah aku akan memberikan mu kesempatan untuk berbicara, " sambungnya kembali, dengan perlahaan ia membuka lakban hitam yang menempel di mulut Rossa. Setelah terlepas Rossa langsung berucap dengan nada tinggi.
" Sebenarnya siapa kamu! Apakah sebelumnya aku pernah bertemu dan dekat dengan mu! Tidak bukan! Dan apa tujuanmu menyekapku, salahku apa? " teriak Rossa di sertai isak tangis dan tubuh yang bergetar melawan rasa takutnya saat ini.
" Tolong..Tolong..Tolong..! " teriak Rossa kembali, namun laki-laki yang ada di hadapan Rossa itu malah menertawakannya.
" Hahaha silahkan berteriak sekencang mungkin sayang, kalau perlu sampai suaramu habis, tak akan ada yang mendengarkan mu hahaha. "
__ADS_1
Mendapat jawaban seperti itu Rossa kembali berteriak dengan keras di depan pria itu.
" Pergi jangan sentuh aku dan jangan mendekat! "
Ketika mobil orang suruhan Alex dan beberapa rombongan lain suruhan keluarga Wiliams dan juga Fabricia tiba tidak jauh dari rumah kosong itu, mereka langsung memasuki posisi masing-masing secara diam, mereka sudah merencanakan strategi yang baik dan tepat sebelum beregerak secara bersamaan masuk ke rumah kosong tempat Rossa di sekap.
***
Plakkkk!!!!
Suara tamparan laki-laki itu mendarat di pipi Rossa, membuat Rossa menjadi diam dan langsung membeku merasakan sakit dipipinya dan takut.
" Beraninya kau meneriakiku seperti itu."
Pipi Rossa memerah dan sedikit bengkak karena tamparan keras yang dilakukan oleh laki-laki itu, tetapi Rossa tak menundukkan kepalanya sedikit pun,
" Aku tidak akan sudi untuk kau miliki, lebih baik aku mati dari pada harus hidup dan tinggal bersama orang brengsek sepertimu. " batin Rossa sambil menatap tajam laki-laki itu.
Dengan perlahan laki-laki itu menyentuh Rossa dengan lembut tapi Rossa brontak dengan sekuat tenaganya walau hanya bisa menggoyang tubuhnya sedikit karena diikatan dengan kuat tangan dan kakinya, tapi ia selalu mencobanya.
Srekkk... pakaian Rossa di robek dengan oleh pria itu, membuat tubuh Rossa bagian atas sedikit terlihat.
" Apa kau bisa diam jika tidak, aku akan melakukannya dengan kasar, " ucap pria itu dengan tatapan tajam,
Dan laki-laki itu menunjukan tatapan penuh dengan nafsu saat melihat tubuh Rossa bagian atas yang sedikit terbuka, sebelum ia melanjutkan aksinya tiba-tiba terhenti karena mendengar semua penjaga yang ada rumah kosong itu riuh oleh deru suara mobil mendekat.
Dari kejauhan muncul seseorang berjalan di depan lampu mobil yang begitu terang dan diikuti dua orang di belakangnya.
Penjaga dirumah kosong itu terkejut dan terganggu dengan cahaya lampu dari mobil tersebut, mereka menggunakan kedua telapak tanganya menutupi matanya karena silau oleh cahaya lampu mobil yang mengarah ke penjaga yang ada dirumah kosong itu.
Salah satu dari mereka terkejut saat menyadari siapa yang datang membawa rombongan yang begitu banyak dari mereka, ia adalah anak dari keluarga Wiliams, Alex Jordan Wiliams, Alex yang sudah mengepalkan tangannya sedari tadi dengan sorot mata yang tajam penuh amarah, wajah dinginnya nampak seperti iblis, membuat penjaga itu panik dan segera mendekat ke temannya, namun sebelum ia sampai dan mengucapkan satu kata pun Alex sudah mendaratkan pukulan ke penjaga tersebut.
Bugh Bugh Bugh!!!
Pukulan Alex mendarat di perut dan wajah penjaga tersebut sampai jatuh tersungkur, penjaga lain yang baru menyadarinya langsung melakukan perlawan, tapi Alex sudah siap dan sigap oleh serangan secara bersama-sama dari pengaja rumah kosong itu dan di bantu oleh orang suruhannya, mampu membuat para penjaga itu jatuh tersungkur tanpa sisa.
Semua penjaga yang kalah itu mencoba untuk lari sekuat mereka karena ketakutan, tetapi nihil mereka tidak ada yang bisa kabur karena sudah dikepung, strategi Alex berjalan dengan lancar mereka semua tertangkap tanpa ada yang lolos satu pun.
Lalu Alex segera berjalan menuju ruangan yang tertutup namun tidak di kunci.
__ADS_1
Brakkkk!!!