My Lecturer Holy Love

My Lecturer Holy Love
BAB 26


__ADS_3

Hari sudah beranjak ke malam, tapi Alex masih berada diruangan kerjanya, ia berdiri sambil menatap keluar jendela kaca besar di kantornya yang berada dilantai atas, sambil melihat pemandangan malam diluar sana, dengan wajahnya yang dingin dan sangat serius, ia masih memikirkan kejadian kemarin, ia masih mencari pelaku yang sesungguhnya karena orang-orang yang ia tangkap tidak mau berkata dengan jujur.


Ketika masih asik dengan pikirannya, tiba-tiba pintu ruangan kerjanya ada yang mengetuk,


Tokk..tokk..tokk..


" Masuk. "


Orang yang mengetuk pintu itu ternyata asisten Lee, salah satu orang kepercayaan Alex,


" Ada apa Lee? " tanya Alex.


" Maaf bos menganggu, sebelum membunuh para sampah sampah itu kita apakan terlebih dahulu, saya dan semua tim sudah mengintrogasinya sampai mengancam akan membunuh mereka, tapi tidak ada yang mau mengaku dengan jujur siapa dalang di balik semua ini, mereka lebih memilih mati. " ujar sekretaris Lee


" Sudah ku duga! " dengus Alex sambil kembali berjalan duduk di kursi putarnya.


" Dan masalahnya kita juga tidak mempunyai bukti yang kuat kalau keluarga Adinata dalang dari semua ini. " ujar sekretaris Lee.


Dengan cepat Alex menoleh ke arah sekretaris Lee dengan tatapan dingin lalu berdiri kembali mendekati ke arah jendela kaca besar yang ada diruangannya.


" Benar-benar mustahil jika tidak ada keterlibatan keluarga Adinata, karena mereka selama ini selalu mengusik keluarga ku untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan, sementara saat ini mungkin mereka semua juga sudah tahu jika aku sudah melamar anak dari keluarga Fabricia! "


Asisten Lee diam ia tak bisa berbicara lebih lagi, karena aura yang keluar dari Alex benar-benar mengerikan membuat siapa saja yang melihatnya akan membungkam mulutnya rapat.


" Tetap ancam mereka sampai mengaku, dan jangan sampai salah satu dari mereka melarikan diri, biar besok aku yang menangani sampah sampah itu! "


" Siap bos. " balas asisten Lee, lalu ia segera keluar dari ruangan kerja Alex.


***

__ADS_1


Di lain sisi.


Ketika Rossa bangun, tidak ada orang disekitarnya, dia menatap kesembarang arah lalu menghadap ke atas dengan tatapan kosong, ia masih merasakan saat Alex memeluknya kemarin malam itu seperti mimpi tapi nyata, ketika Rossa bergerak ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


" Awhhhh.. " Rossa merintih kesakitan, bertepatan dengan pintu kamar rawatnya terbuka.


" Nak kamu sudah bangun? " tanya mama Gesya saat wanita itu terlihat baru saja membuka pintu kamar rawat Rossa.


Gesya segera masuk melihat putrinya sudah sadar itu merasa sangat bahagia, kemudian mendekat ke arah Rossa dengan tersenyum lebar.


" Em mama, Rossa sekarang ada dimana? " tanya Rossa dengan sedikit bergerak mencoba untuk bangun.


" Awww.. " pekik Rossa saat merasakan sakit di wajahnya, tak hanya tubuhnya yang ia rasakan namun wajahnya juga sakit karena bengkak akibat kejadian kemarin yang menimpanya, dan Rossa teringat ketika ia sedang diculik oleh laki-laki bertopeng.


" Sayang, jangan banyak bergerak dulu kamu belum sembuh, kamu masih sakit nak. " ucap mama Gesya sambil membantu Rossa mengambilkan bantal dan membiarkan Rossa untuk bersandar diranjangnya.


" Hati-hati sayang jangan bergerak, sebentar mama mau ambilkan makan dulu untuk mu, waktunya kamu makan dan barus minum obat, " sambung Gesya, kemudian Gesya berjalan mengambilkan makanan yang sudah disiapkan oleh suster barusan. Gesya pun segera menyuapi Rossa dengan telaten, setelah habis makanan yang ada ditampaan tangan mamanya itu. Rossa pun segera meminum obatnya yang di siapkan oleh dokter.


" Iya mama terima kasih, " balas Rossa pelan.


Pada saat ini secara fisik maupun mental, ia benar-benar kacau setelah kejadian yang menimpanya kamaren, dan yang paling diingat oleh Rossa adalah perbuatan yang di lakukan laki-laki bertopeng itu, andai saja Alex tidak datang tepat waktu Rossa tidak tau masa depannya akan seperti apa nantinya.


Tubuh Rossa tiba-tiba bergetar sambil melihat ke sembarang arah, gadis itu sangat ketakutan ketika ia kembali mengingat kejadian kemarin.


" Kamu kenapa sayang? " ucap Gesya panik, ia sangat begitu khawatir dengan keadaan putrinya saat ini.


Kemudian Gesya dengan segera memencet tombol yang ada didinding sebelah Rossa, itu adalah tombol khusus untuk memanggil Dokter, karena Rossa di tanya pun tidak menjawab membuat Gesya panik, tidak lama kemudian dokter pun datang, dan langsung menangani Rossa.


" Bagaimana keadaan putri saya dok? " tanya Gesya sambil melihat Rossa yang sudah tertidur, akibat suntikan obat tidur yang diberikan oleh suster.

__ADS_1


" Sepertinya nona Rossa masih trauma bu, jangan sampai dia memikirkan kejadian yang menimpanya kemarin lalu bu, dan coba lah untuk menghiburnya, " jelas dokter.


" Baik dok terima kasih. " jawab mama Gesya dengan perasaan yang sedikit lega.


Tidak lama kemudian Fiky datang bersama Aryan dan Zeline. Zeline membawa buah tangan untuk diberikan kepada Rossa.


Pintu ruang inap Rossa terbuka, Gesya yang melihatnya pun segera menatap ke arah tersebut.


" Mama, " sapa Fiky, Gesya pun segera menghampiri mereka.


" Iya pa, eh ada tuan Aryan dan jeng Zeline, mari duduk, " ajak Gesya selang beberapa menit dokter dan suster keluar dari sana.


" Bagaimana kedaan Rossa jeng? " tanya Zeline matanya menatap ke arah Rossa yang ternyata masih memejamkan matanya.


" Rossa, tadi dia sempat sadar, "


Ucapan Gesya membuat Fiky bahagia, " Benarkan Rossa sempat sadar Ma, lalu bagimana kata Dokter ma, ?


Gesya memasang raut wajah sendu, Fiky yang melihat perubahan raut istrinya yang sendu menjadi heran, serta bertanya tanya.


" Tadi Rossa sadar sementara pa, namun Rossa mengalami kejang, mama segera panggil dokter, kata dokter putri kita mengalami trauma berat, " jawab Gesya, membuat Fiky, Aryan dan Zeline terkejut


Fiky merasa sedih, karena terjadi hal mengerikan terhadap putri semata wayangnya, ia merasa gagal menjadi seorang ayah untuk melindungi putrinya, bahkan hatinya merasa tersayat ketika melihat fisik putrinya yang banyak luka.


Fiky mendekat ke arah Rossa yang masih terbaring lemah, mengusap pelan rambut Rossa dengan penuh kasih sayang, " Maafin papa ya nak, " lirihnya. Gesya mengusap pundak Fiky, ia sama seperti suaminya, hatinya seperti disayat sayat


Setelah itu bergantian dengan Aryan dan Zeline mendekati Rossa, suasana sendu sangat terasa disana, beberapa waktu yang lalu baru saja mereka merasakan hari bahagia selesai merayakan tunangan putra dan putri mereka sekarang mereka kembali merasakan kesedihan.


Selesai menjenguk Rossa, kini Aryan dan Zeline berpamitan untuk pulang karena hari sudah larut malam.

__ADS_1


" Fiky, Gesya saya dan istri saya mau pamitan pulang, besok saya dan istri saya kesini lagi ya, " ujar Aryan berpamitan kepada kedua orang tua Rossa. Fiky dan Gesya membalas hangat ucapan Aryan, lalu mereka berdua mengantarkan sampai kedepan runangan Rossa.


***


__ADS_2