
Pov Fiky.
Saat Fiky sedang terbaring lemah di ruang VIP Rumah Sakit A, dengan di dampingi oleh Dokter Lovata beserta kedua perawatnya, tiba-tiba tangan Fiky bergerak kemudian perlahaan lahan Fiky membuka matanya, perawat yang melihatnya pun segera memanggil Dokter Lovata.
" Dok, pasien sadar, " ucap salah satu perawat seketika Dokter Lovata terkejut dan langsung menoleh, lalu ia segera memeriksa Fiky.
Saat Fiky membuka matanya perlahan, pertama kali yang ia lihat ialah Dokter Lovata, ia tidak melihat istri maupun Rossa di sebelahnya.
" Lo...Lovata, " ucap lirih Fiky.
" Iya kak, ada apa? kakak jangan banyak bergerak dulu, biar tubuh kakak cepat pulih. " jelas Dokter Lovata yang masih sibuk memeriksa kakak iparnya tersebut.
" Ke..Kemana istri dan putri ku? " tanya Fiky, sontak membuat Dokter Lovata terdiam, ia bingung harus menjelaskan apa.
" Emm kak Gesya dan Rossa baik-baik saja, ayo kembali lah istirahat, kau harus banyak-banyak istirahat sekarang ini kak. " tutur Dokter Lovata.
" Tidak, aku mau bertemu dengan mereka sekarang. " ucap Fiky dengan sedikit berontak,
Pada saat ia akan bangun dari tidurnya, tiba-tiba dadanya terasa sedikit sesak, Dokter Lovata yang melihat Fiky sesak segera menghentikannya.
" Cukup kak, jangan banyak bergerak dulu, kamu belum sembuh total, " ujar Dokter Lovata.
" Tidak ya tidak, aku mau bertemu mereka sekarang, " ucap Fiky masih besikeras ingin bertemu dengan istri dan anaknya.
Namun Dokter Lovata diam, kemudian ia menghembuskan nafasnya pelan. Fiky yang menatap Dokter Lovata menghembuskan nafas menjadi sedikit ragu dan ia mengernyitkan dahinya.
" Kenapa kau diam, kemana mereka semua cepat beritahu aku! " seru Fiky dengan suara yang meninggi, meskipun saat ini ia masih terbaring lemah.
" Ehemm maafkan aku, aku tidak bisa memberi tahu mu sekarang kak, putrimu sendiri yang memintanya, kamu juga belum sembuh tolong mengertilah, kamu istirahat saja terlebih dahulu. " tutur Dokter Lovata dengan wajah yang sendu.
" Kau tidak mau mengatakannya dengan jujur? baiklah aku akan berjalan sendiri untuk mencari mereka, " ujar Fiky dengan sedikit kesal kepada Lovata, saat Fiky akan bergerak turun, tiba-tiba ia pun terjatuh dari ranjangnya.
__ADS_1
Bughhh..!! Fiky terjatuh dan meringis menahan kesakitan.
" Kak Fiky, kenapa kau ini sangat keras kepala sekali, " ucap Dokter Lovata dengan sedikit ketus.
Kemudian ia segera kembali mengangkat tubuh kakak iparnya dengan pelan ke atas ranjang dan dibantu oleh perawat yang sendari tadi melihatnya.
" Baiklah aku akan memberitahu mu yang sebenarnya.. " kemudian Dokter Lovata terdiam karena enggan untuk melanjutkan ucapannya, matanya sudah tidak bisa dibohongi, hatinya sakit bahkan ia memilih menemani kakak iparnya karena tidak kuasa melihat jenazah kakaknya dikebumikan, Lovata merasa gagal menjadi adik, itu yang ia rasakan.
" Sebenarnya apa? " tanya Fiky penasaran.
" Kak yang sabar ya, sebanarnya aku juga sama sakitnya kak, kalau kak Gesya telah tiada. " jelas Dokter Lovata dengan menundukkan kepalanya, lagi lagi air matanya berhasil lolos dari pelupuknya.
" Apaaaaa.!! " teriak Fiky terkejut, seketika ia syok dan wajahnya berubah semakin pucat.
" Kau berbohong kan? in tidak mungkin Lovata, kau jangan berbohong, " imbuh Fiky dengan matanya yang mulai memerah.
" Tidak kak, aku tidak berbohong, makanya anakmu menyuruh ku untuk menjagamu dan merahasiakan ini semua kepadamu agar kau tidak syok, tapi kau memaksa ingin tau, aku sama sakitnya dia kakak kandungku. "
Dokter Lovata hanya menundukkan kepalanya, tangisnya pecah setelah beberapa menit mereka saling terdiam, tiba-tiba Fiky membuka suaranya lagi.
" Baiklah jika benar istriku sudah tiada, kau antarkan aku ke pemakaman Gesya, aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya sebeum jenazahnya di kebumikan. " ucap Fiky lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
Dokter Lovata hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian ia segera memersiapkan alat untuk bisa membawa Fiky pemakaman kakaknya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dimana semua orang sudah pulang dirumah masing masing, hanya ada Rossa dan orang-orang yang terdekatnya, serta sang papa di samping Rossa yang duduk mengunakan kursi roda yang didampingi oleh Dokter Lovata.
Saat kepergian Gesya, Rossa dan Fiky sangat begitu terpukul, bahkan sering kali mereka meneteskan air matanya.
" Kalian yang sabar, tuhan lebih sayang kepada Gesya, " ucap Aryan dengan mengusap pelan pundak sahabatnya. Fiky terdiam lalu menoleh ke arah Aryan dengan tatapan sendu.
__ADS_1
" Istriku Yan, " ujar Fiky lirih sambil menatap makam istrinya tersebut, semerbak bunga segar tercium dari sana, tanah khas kuburan yang merah terlihat masih basah karena sedari pagi hujan rintik-rintik. Namun, sekarang sudah reda.
" Sudah jangan bersedih Fik, mari kita ikhlaskan Almarhum Gesya, biar istrimu tenang di alam sana, " tutur Aryan, lalu di balas anggukan pelan oleh Fiky.
Rossa hanya diam dengan di dampingi Alex disampingnya, gadis itu menatap makam mamanya dengan tatapan kosong.
" Ya sudah ayo kita pulang saja, kita doakan Gesya di rumah, " sambung Aryan dan semua menyetujuinya. Dokter Lovata segera kembali untuk mendorong kursi roda milik Fiky, sahabatnya tersebut.
Namun, sebelum mereka melanjutkan langkahnya untuk pulang tiba-tiba Fiky berbicara untuk menghentikan langkah mereka semua.
" Tunggu! " seru Fiky, sontak semua orang yang mendengar ucapannya itu langsung menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Fiky.
" Ada apa pa? " tanya Rossa.
" Papa minta satu permintaan terhadapmu nak, " balas Fiky menatap putrinya tersebut.
" Iya papa katakan saja, Rossa akan mengabulkan apapun permintaan papa, asal papa bisa sembuh seperti semula, " ucap Rossa dengan tersenyum hangat, ia menatap papanya dengan mata yang masih sembab akibat kebanyakan menangis.
Lalu Fiky bergantian mengalihkan pandangannya kepada Alex yang masih berdiri di belakang Rossa.
" Nak Alex! " panggil Fiky kepada Alex.
" Iya om, " balas Alex sambil mendekat ke arah Fiky, kini Alex dan Rossa terlihat berdekatan, kemudian Fiky segera meraih tangan kedua anak tersebut bersamaan.
" Besok hari pernikahan kalian, papa minta lanjutkan ya, jangan di tunda, ini permintaan terakhir papa, " ucap Fiky membuat Rossa dan semuanya terkejut oleh perkataan terakhir pria paruh baya itu, sementara Aryan dan Zeline hanya diam, mereka belum barani membuka suaranya.
" Hust.... Papa tidak boleh bicara seperti itu, pokoknya tidak boleh papa harus sembuh, masalah pernikahan Rossa papa jangan memikirkannya dulu ya, papa kan masih sakit, Rossa mau merawat papa dulu, papa jangan bicara seperti itu lagi, " balas Rossa dengan tatapan sendu menatap sang papa.
" Tidak nak! "
" Kamu ingat dengan perkataan mama mu tidak, beliau ingin putrinya yang cantik ini segera menikah. Namun, mamamu sudah pergi terlebih dahulu, jangan kamu tunda lagi ya nak, papa mohon, papa menginginkan kalian menikah besok, papa mohon sekali lagi, " tutur Fiky dengan wajah pucatnya, dia berusaha memohon kepada putrinya tersebut agar tidak menunda pernikahannya, karena pria itu ingin mengabulkan permintaan terakhir istrinya tercinta.
__ADS_1
***