
Suara bel Villa terdengar berbunyi, bibi Salma dan juga Rossa yang mendengarkan sama sama bernajak dari duduknya.
" Nyonya, biarkan saya saja yang membukakan pintu, "
" Tidak usah bi, biar Rossa aja ya, bibi lanjutkan dulu saja masaknya, "
Tanpa membantah ucapan dari istri majikkannya tersebut, Bi Salma menurutinya, kemudian wanita paruh baya tersebut kembali pada aktifitas dapurnya.
Rossa berjalan menuju ke arah pintu, disana ia dengan santainya membuka pintu tersebut.
" Selemat siang nyonya Alex, " suara khas dari seseorang yang Rossa sudah hafal sekarang. Ya siapa lagi jika bukan suaminya.
" Ya selamat siang juga, " Rossa menjawab dengan malu malu, ketika mendengar suaminya menyebutnya dengan nama nyonya Alex, ah bagaimana bisa ia jadi salting begitu.
" Arghhh, kenapa pipiku tiba tiba terasa panas sekali, ya tuhan aku maluuuuu, "
Melihat ekspresi istrinya yang berubah menjadi merah tomat, Alex langsung tersenyum jahil.
" Em, sudah selesai kerjaannya? " mencoba mencairkan suasana, Rossa berusaha mengalihkan pembicaraan, pun tanpa Rossa sadari mereka berdua masih berdiri didepan pintu.
" Sebelum aku menjawabnya, memangnya kamu tega membiarkan suami tercintamu ini tetap berdiri didepan pintu seperti ini dan tidakkah kamu mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu nyonya Alex? " ujar Alex, dengan senyumannya yang jahil.
Setelah sadar kini Rossa segera menepi dari pintu agar suaminya tetsebut bisa segera masuk.
" Ah ya ayo kita masuk dulu, "
Alex berjalan melewati Rossa namun pandangan Alex tidak lepas dari paras cantik Rossa.
Merasa sangat malu, kini Rossa berniat kembali menuju kamarnya, dan berlalu meninggalkan Alex begitu saja, namun ketika ia hendak melangkah, tiba tiba saja tangannya ditarik oleh Alex.
" Mau kemana? " Alex mencoba menarik tangan Rossa, hingga mereka berdua akhirnya sama sama jatuh ke sofa yang ada disebelahnya.
Mereka berdua saling beradu pandang, mata mereka sama sama menatap satu sama lain, dan kebetulan disana juga tampak sepi.
Rossa yang sudah sadar hendak menjauhkan tubuhnya dari tubuh Alex karena posisi Rossa saat ini sedang menindih tubuh Alex, dengan refleks Alex kembali menarik pinggang Rossa sehingga tubuh mereka berdua semakin dekat.
" Astaga kenapa bisa seperti ini, " Rossa yang sedari tadi menahan malu kini tidak bisa menyembunyikan rasa malunya lagi.
__ADS_1
" Kamu mau kemana? Kenapa mau meninggalkanku padahal aku baru pulang kerja. "
Dengan sedikit gugup akhirnya Rossa menjawab, " Ah, aku tadi hanya ingin ke kamar saja, "
Alex membalasnya dengan tersenyum, kemudian membisikkan sesuatu ditelinga Rossa.
" Seharusnya tadi kamu melayani aku, " mendengar ucapan tersebut, kini tubuh Rossa terasa beku.
" Me-melayani? "
" Iya melayani, bukankah itu kewajiban suami istri, hum? "
Sebelum Rossa menjawab dengan pelan Alex mendekatkan wajahnya ke arah bibir Rossa.
Ketika Alex hendak melancangkan aksinya, tiba tiba saja bibi Salma datang dengan membawa nampan ditangannya.
" Astaga, " suara bibi Salma mengagetkan Rossa dan juga Alex, Bibi Salma yang Refleks menutup matanya langsung berbalik arah, sedangkan Alex dan Rossa segera beranjak dari sofa.
Dengan suasana sedikit canggung, Alex mencoba mencairkan suasana.
" Bi Salma? " Alex memanggil bi Salma yang masih berbalik.
" Tidak usah minta maaf bi, kita juga salah karena kita tidak melihat keadaan sekitar, ya sudah saya mau ke kamar dulu sama istri saya, nanti minuman itu bi Salma antar ke kamar aja ya, " jelas Alex.
" Baik tuan, " setelah menjawab ucapan bi Salma, kini Alex kembali menggenggam tangan Rossa dan membawa istrinya tersebut menuju kamar.
Sedari tadi Rossa diam saja, karena rasa malunya berubah menjadi dua kali lipat, " Astaga kenapa bisa bibi Salma melihatnya sih, aku kan jadi tambah malu. "
Rossa menggerutu didalam hatinya, sedari tadi perempuan itu mengutuki suaminya dengan rasa yang amat kesal.
***
Disisi lain.
Fiky terdiam dikamarnya setelah beberapa saat lalu ia mendengar berita scandal di kampus Emory yang menimpa putri dan menantu kesayangannya.
Namun sebelum itu Fiky juga ikut membantu mencari tau siapa dalang dibalik masalah tersebut, Fiky juga sudah saling bertukar kabar dengan menantuanya, Alex.
__ADS_1
" Aku yakin, aku tidak salah menyerahkan tanggung jawabku kepada Alex, karena aku yakin dia laki laki yang sangat bertanggung jawab, aku harap mereka berdua bisa hidup tentram sampai maut memisahkan mereka. "
" Aku juga yakin, karena aku percaya dengan pepatah mengatakan jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dia putra Wiliams, dan Williams sendiri sahabat terbaik aku dan Alm. Istriku. "
Disaat Fiky sedang asik dengan lamunannya sendiri, pintu kamarnya terdengar diketuk oleh seseorang dari luar.
Tok tok tok....
" Ya masuk! "
Dokter Lovata memasuki kamar Fiky, kemudian menutupnya kembali, disana Lovata membawa nampan yang berisi makanan dan obat obatan.
" Kak Fiky waktunya kau minum obat, "
Tanpa ada rasa penolakkan, Fiky pun mengangguk menurutinya.
" Terima kasih Lovata, aku bersyukur masih ada kamu yang mau merawatku, "
Lovata tersenyum.
" Tidak apa apa kak, aku ikhlas rawat kakak, bagaimanapun juga kak Fiky ini suami dari kakak kandungku, jadi aku akan berusaha merawatmu sama seperti kakakku sendiri. "
Mendengar jawaban dari Lovata kini Fiky merasa terharu, seharusnya dia sangat bersyukur bukan? disayang oleh orang orang terdekatnya dan dijauhkan dari orang orang yang jahat kepadanya.
" Sekali lagi terima kasih Lovata, "
" Iya kak sama sama, kau tidak usah memikirkan aku yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu, "
" Jika kau sembuh dengan cepat kau bisa membantu menjaga putri dan menantumu yang sedang dihadapkan dengan masalah, aku yakin dengan sembuhnya kakak, mereka juga akan merasa bahagia. "
Lovata sengaja memberi masukan (support sistem) dan nasehat lagi kepada Fiky, karena Lovata melihat Akhir-akhir ini Fiky merasa putus asa, apalagi setelah kepergian istrinya, Fiky terus terpuruk karena merasa bersalah.
Dan lovata sendiri tidak akan membiarkan Fiky menyerah begitu saja, karena Lovata juga masih membutuhkan bantuan Fiky untuk menyelidiki khasus kematian kakak tercintanya.
" Baik Lovata, aku harus semangat karena aku ingin sembuh dan berkat kau yang selalu memberikanku nasehat dan support yang baik, "
Dokter Lovata yang mendengar jawaban Fiky akhirnya bisa menghela nafas lega, ia kembali tersenyum dan memberikan makanan serta obat-obatan yang sudah ia siapkan sebelumnya.
__ADS_1
***