
Rossa keluar dari perpustakan setelah melihat Reyhan sudah keluar terlebih dahulu dari sana, akan tetapi pada saat Rossa hendak melewati pintu tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang.
" Ikut aku. " ujar Alex sembari menggandeng tangan Rossa, tidak lama kemudian ia melepaskan genggaman tangan tersebut, rautnya seperti orang kesal.
" Mau kemana? " tanya Rossa, ia merasa heran dengan tingkah Alex.
Namun Alex tidak menjawabnya, berjalan tanpa menoleh ke arah Rossa bahkan tanpa berbicara sepatah kata pun, akhirnya Rossa hanya menurut mengikutnya dari belakang.
" Baiklah aku akan ikuti dia, sepertinya ini kesempatanku untuk berbicara dengan dia, aku akan mengakhiri semuanya hari ini juga. " gumam Rossa dalam hatinya.
Jam menunjukkan pukul lima sore dimana para mahasiswa dan Dosen lainnya banyak yang sudah pulang, dan juga kampus tampak sepi, tak ada orangpun disana, selain satpam yang lagi menjaga di gerbang halaman. Rossa berjalan mengikuti langkah Alex yang panjang, sesampainya diparkiran Rossa tetap mengikut Alex, masuk ke dalam mobil tersebut.
Kali ini Rossa benar benar merasa ada yang aneh dengan Alex, meskipun Alex tripikal orang yang dingin namun kali ini laki-laki itu terlihat begitu berbeda.
" Ada apa sih dengannya kenapa seolah-olah ingin menerkamku saja, "
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, lalu Rossa membuka suara untuk memecahkan keheningan di dalam mobil tersebut.
" Aku mau bica.. " Belum selesai Rossa berbicara tapi sudah dipotong oleh Alex.
" Apa yang kau lakukan dengan laki-laki itu di ruang perpustakaan tadi? "
Rossa pun terkejut mendengar perkataan Alex, ternyata Alex tahu jika Rossa berduaan di ruang perpustakaan dengan Reyhan tadi.
" Apa yang kau maksud? " tanya Rossa seolah ia tidak tahu apa-apa.
Tapi Alex diam dia malahan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hal itu membuat Rossa ketakutan.
" Tolong berhenti turunkan aku! " ucapnya dengan sedikit berteriak, lalu Alex menghentikan mobilnya secara tiba tiba, Rossa terkejut.
" Apa yang kau lakukan, apa kau ingin membunuhku? " tanyanya dengan marah.
Rossa ingin sekali memaki-maki laki-laki yang ada di sampingnya saat ini.
Alex tidak menoleh kearah Rossa sama sekali, ia tetap fokus ke arah depan dengan ekspresi datar.
" Jauhi dia atau aku akan bilang ke papamu untuk memindahkanmu ke kampus lain. "
" Apa mksudmu itu kenapa sekarang kau sudah berani mengaturku, dan jadi orang yang suka mengadu. Hey, kau ini hanya dosenku, kau ini hanya tunangan bohonganku saja, dan tolong! kita berhenti sampai sini saja, aku tidak mau nerusin drama bodoh ini lagi. " ujar Rossa dengan kesalnya, kali ini Rossa berhasil mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini ia pendam, namun Alex pun tetap tenang dan santai, kemudian Alex menoleh ke arah Rossa yang sedang menatapnya sedari tadi.
" Tidak, aku tidak akan melepaskanmu, bahkan mengakhiri semua ini, " balas Alex, membuat Rossa yang mendengarnya semakin dibuat kesal dengan jawaban dari Alex, ia merasa tidak puas seperti sedang dipermainkan.
__ADS_1
" Kenapa? apa kau belum puas sudah membuat ku menderita dengan kelanjutan semua ini! aku tidak mencintai mu dan kau pun sebaliknya juga tidak mencintaiku, lalu untuk apa lagi kita melanjutkan drama ini! "
" Sekali lagi aku hanya ingin memperingatkan mu, jangan dekat dekat dengan dia lagi, dan apa kau lupa tadi kau sampai berpelukan dengannya di depan mataku? "
Kali ini Alex tetap fokus pada tujuannya, untuk memberi peringataan kepada Rossa, dan sama sekali dia tidak ingin menjawab ucapan Rossa barusan, karena Alex tau Rossa itu perempuan yang sifatnya keras kepala.
Degg...
Detak jantung Rossa berdetak dengan cepat ia membeku sesaat, ia tidak habis pikir apa yang selalu di lakukannya selama ini Alex mengetahuinya.
" Bahkan dia tahu kalau Reyhan tadi memeluk ku, apa dia sedang memata matai ku. " batin Rossa,
" Apa kau sedang memata matai ku? " tanya Rossa
" Tidak. " jawab Alex singkat.
" Tapi kenapa kau tahu semuanya? " tanya Rossa lagi.
" Apa kau tidak tahu kalau aku tadi juga ada disana? " kali ini jawaban dari Alex membuat Rossa terkejut dan diam tidak bisa berkata-kata lagi.
" Hah dia disana? Lalu kenapa aku tidak melihatnya? " batin Rossa yang benar-benar dibuat bingung oleh Alex.
***
Setelah mengantarkan Rossa ke rumahnya, kini Alex kembali menuju Villanya, ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar di tempat tidurnya sambil memijat tengkuk hidungnya dengan pelan, dan tiba-tiba Alex bangun, kemudian berjalan menuju sofa kamarnya sambil membuka laptopnya.
Drttt Drttt Drttt..
Suara ponsel Alex bergetar, membuat perhatian laki-laki itu langsung menatap ponselnya yang berada diatas meja, lalu Alex meraih ponsel itu untuk mengangkatnya tanpa melihat siapa yang sedang meneleponnya.
" Hallo Lex, " sapa Aryan disebrang sana.
" Oh papa, hallo pa ada apa? "
" Besok kamu datang ke rumah Fiky, kita akan membahas pernikahan mu dengan Rossa, biar lebih cepet lebih baik, bukan begitu? " perkataan Aryan itu berhasil membuat Alex berhenti dari aktivitasnya. Alex kembali terlihat bersemangat sambil menyunggingkan sedikit senyumnya.
" Maksud papa kita ke rumah om Fiky untuk membahas pernikahan kami? " tanya Alex memastikan, dan Aryan membahas dengan berdehem disebrang sana.
" Baik lah pa, Alex besok kesana. "
" Oke, " balas Aryan lalu panggilan berakhir.
__ADS_1
Kini mood Alex yang tadinya buruk sekarang sudah berubah bersemangat lagi, laki-laki itu kembali meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
" Hallo bro, ada apa? " sapa seorang pemuda disebrang sana.
" Zo kau dimana, temui aku di tempat biasa. "
" Oke bro, "
" Oh yaa kabari David sama Arka juga jangan lupa, " ujar Alex. Zovan mengiyakannya kemudian panggilan mereka berakhir.
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak tau apa yang sekarang ia rasakan yang jelas raut wajahnya sedang bahagia. Alex menuju cafe yang biasa mereka tongkrongi.
Ketika Alex sudah sampai dicafe milik Zovan, terlihat seorang laki-laki sudah menunggunya duduk di sana. Alex berjalan mendekati sahabatnya itu.
" Tos dulu, hahahaha. "
" Wah bro kayaknya ada yang sedang mendapat kabar gembira nih, " goda Zovan kepada Alex.
" Kabar apaan, gue biasa aja, disini gue cuma mau ajak kalian kumpul saja, kita semua sudah lama tidak kumpul seperti ini. " ujar Alex menawari.
" Haha iya benar, kita sudah lama tidak kumpul padahal baru minggu kemarin kita kumpul, " sahut Zovan.
Alex yang mengingatnya langsung terdiam.
" Apa yang mau lo sembunyiin dari kita semua bro sepertinya memang ada kabar baik, haha kasih tau kita lah, " sambung Zovan.
Alex mendesah pelan, enggan menjawab pertanyaan sahabatnya itu yang ia rasa privasinya.
" Sudah lah Zo, kita tidak akan dikasih tau kalau bukan Alex sendiri yang memberi tahu, " sahut Arka, " kebetulan kali ini Arka lagi cuti, jadwal kerjanya sedang kosong, makanya dia menyempatkan waktu untuk kumpul bersama sahabatnya.
" Kalian ini kenapa jadi membully Alex, nanti yang ada kita tidak jadi ditraktir, " David menimpali sambil melirik ke arah Alex.
Sedari tadi Alex hanya diam saja, sudah biasa pertemanan mereka saling bully, namun bukan serius semua ini hanyalah candaan semata, yang sudah menjadi salah satu rutinitas mereka.
" Terserah deh lo semua mau bilang apa, yang jelas gue disini pengen ngajak kumpul doang, " Kali ini Alex menjawabnya, dan membuat teman temannya tertawa.
" Oke deh, gue panggilin pelayan untuk menyiapkan minuman yang sepesial untuk kita semua "
Tak lama kemudian pelayan pun datang ke meja mereka, dan memberikan hidangan yang sepesial.
Ditengah acara teman teman Alex, kini ponsel Alex berbunyi beberapa pesan grup sepertinya ramai masuk disana namun tidak ia hiraukan, karena Alex merasa biasa ponselnya berbunyi ramai, akibat pesan grup dari murid muridnya di Whattsap.
__ADS_1