
Seiring berjalannya waktu lusa pun tiba. Hari ini adalah hari dimana keluarga Wiliams terbang ke negara yang sesungguhnya ia berasal. Aryan Wiliams dan juga istrinya Zeline Wiliams sangat bahagia sekali, karena sebentar lagi mereka berdua akan bertemu dengan sahabatnya yang sudah bertahun tahun lamanya tidak bertemu.
Pesawat pribadi milik keluarga Wiliams pun mendarat dengan sempurna dan selamat di bandara, mereka segera turun dari pesawat, mereka juga sudah ditunggu oleh supir pribadi yang diutus Alex untuk menjemput kedua orang tuanya.
" Selamat siang tuan besar, " sapa seorang laki-laki berumur 45 tahun itu dengan sopan, dia adalah Joni supir yang diutus Alex untuk menjemput kedua orang tuanya dibandara.
" Siang, "
Kemudian Aryan dan istrinya masuk ke mobil yang sudah di bukakan oleh sopir, setelah kedua majikannya masuk sang sopir pun kembali ke tempat kemudinya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan mereka.
***
Mereka pun akhirnya sampai di kota A, dan mobil berhenti tepat berada di halaman di depan rumah yang terlihat sangat megah dan mewah, tetapi bukanlah rumah mewah yang dulu mereka tempati bertahun tahun yang lalu, karena rumah tersebut sudah di jual sebab sering banyaknya teror, akhirnya mereka pindah dan membeli tempat tinggal yang baru dengan jarak tidak jauh dari rumah keluarga Fabricia, dan tidak ada satu pun orang lain tahu kalau rumah tersebut milik keluarga Wiliams, selain asisten-asisten mereka yang di bayar mahal untuk mengunci mulutnya rapat-rapat mengenai informasi kediaman mereka.
" Pa kita sudah sampai? " tanya Zeline dengan menatap suaminya, Aryan mengangangguk, lalu Zeline dan Aryan turun dari mobil setelah sang sopir membukakan pintu mobil untuk mereka.
" Iya ma ayo kita masuk, ini rumah kita yang baru, " tutur Aryan dengan melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut.
Keduanya pun akhirnya masuk ke dalam rumahnya yang megah, mereka berdua sudah di sambut oleh asisten-asistennya.
" Selamat datang tuan besar dan nyonya besar, " sapa asisten dengan menundukkan kepalanya sopan.
" Iya, " saut Zeline.
" Mari saya antar ke kamar tuan besar dan nyonya besar, " ujar salah satu asisten rumah tangganya yang bernama bi Ijah, dengan menundukkan kepala sopan.
" Iya bi, terima kasih, "
***
Di kediaman keluarga Febricia mereka semua sibuk dengan tugas masing-masing, setelah mendapat kabar kalau keluarga Wiliams akan datang ke negara mereka hari ini, mereka juga langsung ingin bertemu dengan keluarga Febricia. Gesya, salah satu orang yang paling sibuk saat ini, ia menata jamuan makan malam dan lain sebagainya, yang sedang disiapkan asistennya tidak lain bibi Moey.
Sementara Fiky masih di kantor, ia menelpon sang istri untuk mengabari kalau akan kembali kerumah secepatnya.
Rossa yang baru pulang dari kampusnya merasa sangat lelah dan langsung masuk ke dalam kamarnya, sehingga ia tidak sadar orang yang ada dirumahnya saat ini sedang sibuk. Rossa langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
" Aduh, aku capek sekali, jika setiap hari harus berhadapan dengan dosen gila itu.... Arghhh lama-lama aku bisa gila gara gara dia, sebenarnya mau dia itu apa sih. " gerutu Rossa dengan kesal
Akhirnya Rossa pun tertidur karena kelelahan dengan urusan di kampusnya. Tidak lama kemudian saat Rossa tertidur, tiba- tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.
Tok tok tok....
Tetapi Rossa tetap tidak bangun juga, karena ia sudah tidur dengan pulasnya, masih tidak ada jawaban dari Rossa akhirnya pintu kamarnya itu diketok kembali.
Tok tok tok...
" Sayang! " panggil Gesya dari balik pintu, dan tetap sama sekali tidak ada jawaban dari Rossa. Gesya yang begitu penasaran itu berniat mencoba membuka pintunya.
Ceklek.
Ternyata pintu kamar putrinya tersebut tidak di kunci dan Gesya pun langsung masuk kedalam kamar Rossa.
" Astaga anak ini, pantas saja di panggil tidak ada jawaban, " ujar Gesya, wanita itu mencoba membangunkan putrinya tersebut.
" Sayang bangun hey. " sambil menepuk-nepuk pipi Rossa pelan.
" Ayo bangun sayang kamu mandi dulu terus makan kebawah nanti malam kita kedatangan tamu, "
" Emmh iya ma iya. " jawab Rossa, tapi ia tidak bangun atau pun membukakan matanya, gadis itu tetap berada di posisi semula tidurnya.
Gesya yang melihat tingkah putrinya itu hanya bisa menggeleng kepalanya heran.
" Ya sudah mama tunggu di bawah, habis ini keluarga Wiliams akan datang kerumah kita. " imbuh Gesya dan berlalu dari dalam kamar Rossa.
Rossa yang mendengar ucapan dari mamanya itu seketika terkejut, yang awal raut mukanya masih mengantuk langsung menjadi segar dan sesaat gadis itu membelalakkan matanya dengan sempurna.
" Apa keluarga Wiliams akan kemari? " ujar Rossa terkejut.
" Apa apaan ini, jangan jangan dosen itu tidak bermain main dengan ucapannya, " geturu Rossa, dengan raut wajahnya sedikit pias.
Pada akhirnya, dengan malasnya dan masih ngantuk pun Rossa segera bergegas ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap nanti malam.
__ADS_1
***
Dua jam berlalu, waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, dimana keluarga Williams datang menuju kediaman keluarga Febricia.
Rossa yang berada di kamarnya terlihat sedang berdandan dibantu oleh mamanya. Rossa sangat cantik dan elegan dengan balutan dres panjang dan sangat indah yang sangat pas, cocok untuk lekuk tubuh Rossa yang ideal, dan sedikit polesan make up tipis di wajah Rossa.
" Mama kenapa sih pakai beginian, ngapain Rossa berdandan kayak gini coba, risih tau nggak ma. " protes Rossa dengan begitu ketus, karena gadis itu tidak terlalu suka berdandan berlebihan, meskipun ia menggunakan make up natural. Namun, pakaiannya itu yang menjadi masalah karena baginya itu sangat berlebihan.
" Ah anak mama sudah cantik sekali, biarin hari ini kamu berdandan kayak gini, apa kamu tidak tau kalau keluarga Williams datang dan akan melamarmu nak, kan seharusnya kamu senang akan dilamar oleh pacarmu sendiri bukan? " blas Gesya lembut dengan menata rambut putrinya didepan cermin.
Sontak membuat rossa sangat terkejut. " Ma maksud mama itu apa ya? "
" Ya maksud mama kamu sama Alex akan bertunangan hari ini sayang. "
Degggg ... Jantung rossa berdetak sangat kencang.
" Astaga dia mau melamarku hari ini, apa aku sedang mimpi, " batin Rossa yang masih tidak percaya.
" Mama bohong kan, iya kan dia itu se..."
Kemudian Rossa terdiam sejenak, gadis itu menutup mulutnya rapat, ia tersadar dengan ucapannya yang hampir saja keceplosan kepada mamanya.
" Kalau sampai mama tahu aku cuma pacar bohongan si dosen gila itu pasti mama dan papa akan marah dan kembali akan menjodokan ku dengan laki-laki lain. Argggghhh.. kenapa nasibku sial banget sih, aku harus bagaimana ya tuhan, " batin Rossa yang kembali tidak tenang.
" Kenapa nak, dia itu apa? " tanya mamanya penasaran.
" Ehem tidak apa-apa kok ma, tidak jadi hehe. " balas Rossa dengan raut sedikit sedih.
" Kamu tidak suka dengan tunangan kamu ini nak? "
" Eh tidak kok ma, Rossa suka karena Rossa akan dilamar oleh pacar Rossa sendiri. " ujar Rossa dengan bohong sambil tersenyum dengan terpaksa.
" Ya sudah kalau begitu, ayo turun nak, pasti keluarga Williams sudah sampai, mereka menunggu kita di bawah, " ajak Gesya sambil menggandeng tangan putrinya itu untuk membawanya ke ruang keluarga.
***
__ADS_1