My Lecturer Holy Love

My Lecturer Holy Love
BAB 65


__ADS_3

Ketika Alex sedang buru buru pergi bekerja, kini Rossa sedang sendirian, entahlah Rossa sendiri sebenarnya ingin bertanya kepada suaminya, karena sudah membawanya ke Villa bukan ke rumah papa Fiky.


" Aku harus ngapain disini, ini sungguh membosankan jika aku hanya berdiam diri dikamar, " Rossa berbicara sendiri seraya menatap langit langit kamarnya, mengingat ponselnya entah jatuh dimana, dari semalam Rossa mencari namun belum juga menemukannya.


Sengaja Alex tidak memberikan ponsel istrinya sampai mereka pulang ke Indonesia, bahkan Alex memiliki rencana jika Rossa tidak boleh memegang ponselnya untuk sementara waktu sampai berita mengenai mereka sudah selesai.


Kini Rossa berdiri, ia berjalan untuk keluar dari kamarnya.


Rossa menatap kesembarang arah, interior Villa itu masih tetap sama, dimana waktu itu ia telah ditolong dan dibawa kemari oleh Alex setelah insiden beberapa bulan yang lalu.


Rossa berjalan menuju ke dapur, ia berniat mengambil air minum, dan disana ia bertemu dengan bi Salma.


Wanita paruh baya yang masih setia mengurus Villa suaminya dengan baik.


" Nyonya, " Bi Salma menyapa Rossa, istri dari majikannya.


" Bibi, " sepertinya Rossa sedikit canggung ketika bi Salma memanggilnya dengan sebutan nyonya.


" Ada yang bisa bibi bantu Nyonya? " Bibi Salma bertanya seraya tersenyum hangat.


Melihat senyum bi Salma mengingatkan Rossa akan sosok ibu. Ia sangat Rindu mamanya.


Rossa tersenyum, " Tidak bibi, Rossa hanya mau ambil air minum, "


Dengan cepat bi Salma segera mengambilkan air minum untuk Rossa, dan segera memberikannya.


" Nyonya Rossa, kenapa anda turun, bila anda butuh sesuatu panggil saja saya, saya siap melayani anda dan Tuan Alex, " tutur bibi Salma.


" Ah iya bibi, saya hanya bosan dikamar makanya saya keluar dari kamar kebetulan saya juga lagi haus, "


Rossa meletakkan Gelas yang sudah kosong di tempat yang disediakan.


" Baik nyonya, tetapi lain kali kalau nyonya membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk panggil saya ya, "


Mendengar ucapan bi Salma, Rossa hanya mengangguk seraya tersenyum hangat.


" Oh iya bibi lagi mau masak apa? " Rossa bertanya ketika bi Salma hendak menyalakan kompor.


" Saya mau masak rendang Nyonya, Tuan menyukai Rendang, "


Mendengar perkataan bi Salma membuat Rossa sejenak berfikir, bahkan sampai saat ini Rossa belum mengetahui apa yang disukai atau tidak disukai oleh suaminya, Rossa merasa belum becus jadi istri.


" Apakah bisa saya bantu bi? " Kali ini Rossa membernaikan diri untuk membantu bi salma. Alih alih sambil belajar memasak, karena sebelumnya Rossa belum bisa memasak.


Bibi Salma sedikit terkejut, " Jangan nyonya, biar saya saja, lebih baik nyonya istirahat saja karena semalam kan nyonya baru datang. "

__ADS_1


" Tidak bi, saya sudah lebih baik kok, lagian saya tidak merasa capek, emm begini saja deh bi, anggap saja saya membantu bibi ini untuk belajar, karena saya belum bisa memasak bi, " Rossa menjelaskan seraya menunjukan deretan gigi putihnya yang rapi.


Melihat tingkah majikannya tersebut membuat bibi Salma menatap tidak percaya, biasanya majikan itu tidak ingin belajar bersama pelayan, tidak sedikit dari mereka lebih memilih untuk kursus masak pribadi.


Bibi Salma menjawab dengan senang hati, " Baiklah Nyonya jika nyonya ingin melakukkannya saya tidak bisa menolak, " dengan senang hati bibi Salma mempersilahkan Rossa untuk membantu masak serara belajar.


Dengan rasa gembira Rossa melakukannya dengan semangat.


.


.


Disaat mereka sedang memasak, Rossa bertanya.


" Bi apa Rossa boleh tanya? " Rossa bertanya seraya memotong beberapa sayuran yang sudah disiapkan.


" Boleh Nyonya, silahkan! " Bi Salma menjawab dengan baik.


" Apa hal yang disukai dan tidak disukai oleh suamiku bi, yang bibi tau saja selama kerja dengannya? " dengan polosnya Rossa bertanya seperti itu kepada bi Salma.


Seketika bi Salma terkejut, sebenarnya Rossa bisa saja tanya langsung kepada Alex, akan tetapi ia sangat malu lebih tepatnya gengsi.


" Hehe jangan terkejut begitu bi, aku hanya tanya soalnya masih banyak yang tidak aku ketahui tentang suamiku, karena kami pengantin baru dan pernikahan kami juga mendadak, kami dijodohkan oleh orang tua kami bi, " Rossa berniat menjelaskan kepada bi Salma.


Rossa sendiri tidak mengerti bagaiman bisa ia cepat akrab dengan bi Salma. Malah bibi Moey yang sudah membantu merawatnya dari kecil sampai dewasa tidak seakrab ini, mereka hanya sebatas pelayan dan anak majikan saja, meskipun bibi Moey sangat baik kepadanya. Namun Rossa tetap menganggap bibi Moey orang tuanya juga.


" Awalnya aku mau dijodohkan dengan rekan bisnis papa, tapi tidak jadi karena tuan Alex datang saat itu juga. " lanjut Rossa.


Tentu lagi lagi bibi Salma terkejut. " Benarkah itu Nyonya? " Rossa mengangguk membenarkan.


" Iya, tapi waktu itu papa dan mama ku sangat bahagia, karena tuan Alex menjelaskan kepada orang tuaku tentang hubungan kita, dan terlebih lagi orang tua tuan Alex sendiri juga sahabat papa dan mamaku.. Malah sebelum sepengetahuan kami orang tua ku dan orang tua tuan Alex sudah berniat menjodohkan kami dari kecil. " mendengar hal itu bibi Salma tersenyum bahagia.


" Maka dari itu, aku belum sepenuhnya tau tentang suamiku bi, "


Akhirnya bi Salma mengerti, " Wah nyonya, memang ya dunia itu sempit, berawal dari rencana perjodohan ternyata memang jodohnya. "


Rossa sedikit tersenyum, " Ya begitulah bi, "


Kemudian bibi Salma memberitahu yang wanita tersebut ketahui selama bekerja dengan keluarga Wiliams.


***


Berita beredarnya Alex dan Rossa sudah sampai media, bahkan papa Fiky, papa Aryan dan mama Zeline, sudah mengetahui adanya berita skandal tentang putra dan putri mereka.


Tidak hanya itu keluarga Adinata pun ikut menyaksikan berita tersebut, tentu respon Adam berbeda dengan yang lain, pria itu malah senang.

__ADS_1


Adam tertawa " Hahaha baru saja keluarga mereka bahagia, eh tidak lama sudah mendapat skandal seperti ini. "


" Sepertinya itu karma buat mereka karena telah mempermainkan keluarga kita, " sambungnya.


Adam memutar kursi kerjanya, saat ini ia sedang berada dikantor, hari ini Adam merasa moodnya jauh lebih baik.


" Aku yakin jika berita ini tidak juga reda, aku sangat yakini mereka berdua pasti berpisah, " Adam berujar dengan dipenuhi oleh rasa percaya diri.


Sementara disampaing Adam, ternyata sudah ada Reyhan yang sedari tadi hanya menatap dan mendengarkan celotehan papanya.


" Tapi siapa dalang dari semua berita ini, bahkan aku sendiri belum mempunyai rencara seperti ini, sepertinya dia harus kita cari, dan kita jadikan dia pathner kita, "


Reyhan masih diam, laki laki itu tidak berbicara sepatah kata pun, karena ia faham bagaimana tabiat papanya, ia hanya bisa menuruti kemauan papanya.


" Kenapa kau diam saja Rey, apa kau tidak merasa bahagia mendengar berita ini? " kali ini Adam bertanya kepada putranya karena sebenarnya Adam sedang merasa diabaikan.


" Aku? Jika papa senang aku juga senang, " jelas Reyhan dengan singkat.


" Rey rey, kau ini sudah dewasa, kau bukan anak kecil lagi.. Papa tau sebenarnya kau menyukai putri Fiky itu kan? " mendengar perkataan papanya Reyhan terkejut bukan main.


Akan tetapi Reyhan tidak ingin menampakkan rasa keterkejutannya.


Sejenak Adam menatap Reyhan, ekspresi Reyhan tidak berubah, datar dan dingin.


" Papa tau semuanya. " Adam berdiri berniat mendekati Reyhan untuk membisikkan seauatu.


" Putri Fiky adalah cinta pertamamu dari kecil kan? "


Reyhan sangat terkesiap, ia menatap papanya heran.


" Kenapa? Kau heran dengan papa? "


" Bagaimana papa bisa tau? "


Adam tersenyum sinis, " Reyhan reyhan apa sih yang papa tidak tau tentang dirimu, kau kan putraku jelas aku tau semuanya tentang mu dan yang sudah kau lakukan sejauh ini, "


Degg.


Reyhan terdiam, ia sungguh tidak percaya papanya mengetahui semua aktivitasnya, berarti selama ini Reyhan sudah dimata mata-i?


" Apa papa memata-mataiku? " Reyhan bertanya dengan dingin.


Adam mendesis malas, " Kau tidak perlu tau, yang jelas aku tau semua Aktivitas mu. "


Percuma kekeuh bertanya kepada Adam, kini Reyhan memilih diam kembali.

__ADS_1


***


__ADS_2